Prospek Trinitan Metals and Minerals (PURE) Bisa Terangkat Pengembangan Baterai Kendaraan Listrik

NIKEL.CO.ID – PT Trinitan Metals and Minerals (PURE) melihat potensi bisnis yang besar dari pengembangan ekosistem mobil listrik di Indonesia. Saat ini PURE sedang mengembangkan teknologi pengembangan baterai Litium.

Direktur Utama Trinitan Metals and Minerals Widodo Sucipto mengatakan, pada Agustus 2020, PURE mendirikan entitas anak  bernama PT Hydrotech Metal Indonesia (HMI) yang berfungsi sebagai pusat penelitian dan pengembangan teknologi khususnya pengolahan logam dan mineral.

HMI bertanggung jawab atas pengembangan teknologi Step Temperature Acid Leach (STAL), yang merupakan teknologi i pengolahan bijih laterit kadar rendah yang telah dipatenkan untuk mengekstrak nikel dari berbagai laterite ore. Teknologi ini dikembangkan khusus menyesuaikan kondisi tambang nikel di Indonesia dengan kebutuhan modal dan biaya operasional yang kompetitif.

Tidak hanya itu, HMI juga mengembangkan teknologi hilirisasi nikel serta mengoptimalkan nilai dari produk sampingan yang terkandung dalam laterite Ore.

“Ke depannya HMI sebagai motor penggerak pengembangan dalam rantai nilai baterai berbasis nikel,” ujar Widodo dalam paparan publik secara virtual, Kamis (22/7/2021).

Widodo menyebutkan, kontribusi HMI terhadap penyediaan baterai kendaraan listrik akan sangat besar karena pihaknya akan menyediakan bahan baku seperti nikel, kobalt, dan lainnya yang dibutuhkan dalam pembuatan battery lithium ion.

“Adapun target perusahaan terhadap HMI ke depannya adalah bisa membantu kinerja PURE dengan mendapatkan investor-investor pembangunan yang akan menggunakan teknologi STAL. Ini merupakan salah satu upaya kami memperbaiki finansial di tahun ini,” ujarnya.

Asal tahu saja, kinerja PURE di 2020 terkontraksi karena imbas pandemi Covid-19. Tercatat pendapatan PURE turun hingga 70% yoy dari yang sebelumnya Rp 452,12 miliar menjadi Rp 136,31 miliar di 2020. Seiring penurunan penjualan, PURE mencatatkan rugi bersih senilai Rp 98,74 miliar.

Widodo mengatakan, di tahun lalu bisnis PURE terdampak pandemi Covid-19 karena adanya pembatasan dalam memperoleh bahan baku dan penjualan. “Lockdown dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sangat merugikan perusahaan,” ujarnya.

Selain itu, pandemi juga berdampak pada harga bahan baku serta kurs. Faktor modal kerja juga tergerus akibat kerugian sehingga pihaknya mencari alternatif fasilitas lain dalam  mendapatkan tambahan modal kerja.

Pada kuartal I 2021 penjualan PURE juga belum begitu membaik. Di akhir Maret 2021 PURE mencatatkan penjualan senilai Rp 7,83 miliar, perolehannya jauh lebih kecil dibandingkan penjualan pada Maret 2020 yang senilai Rp 86,4 miliar. Adapun PURE juga mencatatkan rugi bersih senilai Rp 6,34 miliar.

Sumber: KONTAN