Ketika Elon Musk Lebih Kepincut Tambang Nikel Kontroversial di Kaledonia Baru

NIKEL.CO.ID – Kabar Tesla Inc. setuju untuk bermitra dengan tambang nikel di Kaledonia Baru menyisakan banyak pertanyaan termasuk alasan perusahaan Elon Musk belum kunjung membuat kesepakatan dengan Indonesia.

Dilansir dari Tempo.co Senin (8/3/2021), Tesla disebut telah setuju untuk bermitra dengan tambang nikel di Kaledonia Baru pada Kamis (4/3/2021). Langkah itu disebut-sebut sebagai upaya untuk mengamankan lebih banyak sumber daya nikel yang menjadi kunci dalam produksi baterai lithium-ion di mobil listrik.

Tesla akan membantu tambang di Kaledonia Baru dengan produk dan standar keberlanjutan. Perseroan akan membeli nikel untuk produksi baterai menurut sebuah perjanjian dengan pemerintah Kaledonia Baru.

Kaledonia Baru merupakan produsen nikel terbesar keempat di dunia. Tesla diperkirakan akan menjadi penasihat industri di Tambang Goro, yang dimiliki oleh raksasa pertambangan asal Brasil, Vale.

Kabar Tesla bermitra dengan Kaledonia Baru ini seolah menjadi jawaban kegelisahan Elon Musk yang disampaikan lewat akun Twitter resminya akhir Februari 2021. Bos Tesla itu mengungkapkan nikel menjadi perhatian terbesar dalam meningkatkan produksi baterai lithium-ion.

Dengan pertimbangan keterbatasan itu, Elon Musk memilih beralih menggunakan katoda berbahan baku besi untuk mobil keluaran Tesla tipe standard range.

“Jumlah besi (dan lithium) sangat melimpah,” ujarnya dalam cuitan yang diunggah lewat akun Twitter-nya 26 Februari 2021.

Dilansir melalui electrek.co, Kaledonia Baru merupakan wilayah teritori kecil Prancis di Samudra Pasifik. Lokasi itu diyakini memiliki sebanyak 25 persen nikel dunia.

Tambang Goro dimiliki dan dioperasikan oleh Vale. Perusahaan asal Brazil itu mengambil alih pada 2007 dengan nilai transaksi miliaran dolar Amerika Serikat (AS).

Vale berharap dapat meningkatkan produksi hingga 40.000 ton nikel per tahun. Sayangnya, ambisi itu harus terhalang konflik.

Tambang Goro dikabarkan menghadapi masalah dengan penduduk setempat. Konflik berujung kepada sabotase tehadap tumpahan limbah lingkungan karena penggunaan teknologi high-pressure acid leach (HPAL).

Vale dikabarkan merugi karena konflik itu karena produksi tidak stabil dan masa depan yang tidak pasti. Dengan demikian, perseroan mencari pembeli selama setahun lebih.

Berbagai laporan juga menyebut telah terjadi kerusuhan besar di wilayah Tambang  Goro sejak Vale dan Prancis memutuskan untuk menjual tambang nikel ke Trafigura pada Desember 2020. Keputusan itu memicu mogok dan protes dari kelompok pro-kemerdekaan sehingga Vale harus menutup situs tersebut.

Berdasarkan kesepakatan yang diteken Kamis (4/3/2021), 51 persen saham dalam operasi Vale dapat dipegang oleh otoritas Provinsi Kaledonia Baru dan kepentingan lokal lainnya. Adapun, Trafigura diperkirakan memiliki 19 persen saham atau kurang dari 25 persen yang direncanakan dalam perjanjian penjualan awal dengan Vale.

Tesla tidak akan memiliki saham. Produsen mobil listrik hanya akan mengamankan rantai pasokan baterai listriknya saat meningkatkan produksi.

“Tugas kami sekarang adalah menyelesaikan setiap dan semua item yang belum terselesaikan untuk memungkinkan transaksi secara resmi diselesaikan,” kata Vale dilansir dari Tempo.co.

Rayu Tesla

Di lain pihak, pemerintah terus mengejar komitmen perusahaan-perusahaan multinasional seperti Tesla dalam pengembangan baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) battery di Indonesia. Sebelumnya, Indonesia Battery Holding (IBH) telah mencapai kesepakatan awal dengan LG Chem dan CATL.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menuturkan pengembangan industri EV battery sebagai bagian dari program Indonesia tumbuh. Pasalnya, Indonesia merupakan negara dengan potensi kebutuhan EV battery tinggi di masa depan sekaligus negara penghasil bahan-bahannya.

“Kami tak lupa menjaga potensi daripada pengembangan EV battery, Indonesia salah satu negara yang punya kebutuhan EV battery ini, menjadi yang sangat dibutuhkan. Indonesia juga salah satu produsen nikel terbesar, juga salah satu produsen terbesar untuk bauksit, copper juga termasuk,” katanya dalam diskusi virtual, Selasa (23/2/2021).

Dengan demikian, melihat berbagai komponen dasar membuat EV battery dapat ada di Indonesia membuat pemerintah agresif mengejar pengembangan industri baterai mobil listrik dalam negeri. Pemerintah juga sudah mencapai kesepakatan dan melakukan penandatanganan kerja sama konsorsium BUMN dalam pengembangan EV battery.

“Kami juga terus mengadakan pembicaraan dengan perusahaan-perusahaan besar lainnya dari Jepang dari Amerika Serikat, termasuk juga yang sering dibicarakan di publik Tesla,” urainya.

Sementara itu, Indonesia sudah membuat konsorsium bentukan BUMN yang dinamai Indonesia Battery Corporation dan menandatangani komitmen kerja sama pengembangan EV battery di Indonesia bersama dengan CATL (Contemporary Amperex Technology) produsen baterai asal China dan LG Chem produsen baterai asal Korea Selatan.

“Hal-hal ini dapat membuat Indonesia tumbuh dengan program yang jelas seperti EV battery ini juga pertumbuhan Indonesia tak hanya untuk 1 tahun tapi untuk 20 tahun yang akan datang berdasarkan kekuatan sumber daya alam Indonesia,” katanya.

Sebelumnya, Staf Khusus Kementerian BUMN Arya Sinulingga mengatakan rencana investasi perusahaan milik Elon Musk di Negeri Bollywood itu adalah untuk membangun pabrik mobil listrik. Di sisi lain, pendekatan Pemerintah Indonesia dengan Tesla bukan untuk rencana investasi pabrik.

Menurutnya, dari sisi Kementerian BUMN, penjajakan yang dilakukan dengan Tesla adalah untuk investasi di bidang baterai kendaraan listrik atau sistem penyimpanan energi (electric storage system/ESS).

“Jadi, ketika kemarin dikatakan Tesla itu ke India ya, kami enggak merasa kecolongan karena kita bukan ingin membangun pabrik mobil listrik gitu,” ujarnya dalam acara Prospek Pembentukan Holding Baterai, Kamis (4/3/2021).

Sebagai gambaran, ESS bekerja layaknya powerbank raksasa yang dapat menyimpan tenaga listrik dalam skala besar, bahkan mencapai ratusan megawatt (MW).

Tesla memang sudah memiliki pengalaman dalam pengembangan ESS di Australia. Fasilitas baterai raksasa milik Tesla di Negeri Kanguru sudah berjalan sejak 1 Desember 2017, tepatnya di Hornsdale, Australia.

Artikel ini telah tayang di Bisnis.com dengan judul “Kala Elon Musk Lebih Kepincut Tambang Nikel Kontroversial