Harga Nikel Dunia Bergantung pada Indonesia!

NIKEL.CO.ID – Harga nikel dunia kini masih berada pada level tinggi, meski dalam sepekan ini ada penurunan harga. Berdasarkan harga nikel di pasar London Metal Exchange (LME) pada perdagangan kemarin, Rabu (18/08/2021), harga nikel berada di US$ 19.019 per ton.

Harga nikel tertinggi terjadi pada 30 Juli 2021 yang mencapai US$ 19.892 per ton, lalu pada 13 Agustus 2021 sempat menyentuh US$ 19.650 per ton sebelum akhirnya menunjukkan penurunan.

Harga nikel menunjukkan tren positif yang terus meningkat terutama sejak akhir Mei 2021, di mana pada 24 Mei 2021 sempat berada pada titik terendah di posisi US$ 16.780 per ton.

Lalu, bagaimana ke depannya? Apakah harga nikel akan terus semakin naik?

Menurut Steven Brown, konsultan independen di industri pertambangan, tren kenaikan harga nikel di pasar internasional akan bergantung pada Indonesia. Pasalnya, fluktuasi harga akan bergantung pada suplai dan permintaan. Adapun pasokan nikel dunia kini mengandalkan pasokan dari Indonesia.

“Ada banyak forecast terkait harga, saya rasa nggak akan naik terlalu jauh dari saat ini karena masih bergantung supply dan demand. Yang jelas demand pasti akan meningkat jauh karena ada mobil listrik dan sebagainya, tapi tampaknya suplai juga seimbang kalau dilihat terutama dari perkembangan di Indonesia. Suplai bisa keep up dengan demand. Tapi itu semua tergantung dari Indonesia,” jelasnya kepada CNBC Indonesia, Kamis (19/08/2021).

“Jadi di luar Indonesia sama sekali gak keep up dengan demand. Jadi ini semua sangat bergantung pada satu negara (Indonesia),” ujarnya.

Dia mengatakan, pada semester I 2021, pasokan nikel hanya bertumbuh di Indonesia, termasuk untuk produk Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), yakni meningkat 320 ribu ton atau naik 140% secara tahunan (year on year) dibandingkan periode yang sama 2020. Jumlah tersebut belum termasuk dari produksi nikel PT Vale Indonesia.

Sementara di luar Indonesia secara global, pasokan nikel justru menurun 265 ribu ton atau turun 26% dibandingkan periode semester I 2020.

Ini menunjukkan pasokan nikel dunia hanya meningkat dari Indonesia, sehingga tak ayal bila pasokan nikel dunia bergantung pada Indonesia.

“Luar biasa memang. Total produksi nikel meningkat hanya karena Indonesia,” ujarnya.

Dia mengatakan, peningkatan pasokan nikel ini terutama dari smelter di sejumlah kawasan industri nikel seperti di Morowali, Sulawesi Tengah ada PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), lalu Weda Bay, Halmahera Tengah, Maluku Utara ada PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara ada Harita Group, serta di Konawe, Sulawesi Tenggara terdapat PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI).

Lantas, apakah benar harga nikel termasuk ke dalam era super siklus?

Menurutnya, hal ini masih diperdebatkan banyak pihak, karena ada yang menganggap ini akan masuk era super siklus, tapi ada juga yang mengatakan masih jauh dari super siklus.

Pasalnya, harga nikel dunia tertinggi sempat menyentuh US$ 50 ribu per ton, sementara kini baru sekitar awal US$ 20 ribu per ton.

Super siklus nikel sebelumnya dipicu karena perkembangan industri di China, namun kini lebih didorong pada transisi energi ke energi baru terbarukan, seperti peningkatan penggunaan kendaraan listrik, pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan. Transisi energi ini akan memakan banyak nikel, sehingga permintaan nikel ke depan pasti akan terus meningkat.

“So far suplai nikel masih bisa seimbang dengan permintaan walaupun ke depannya ada dua kelompok, ada yang merasa demand melebihi suplai di masa mendatang, ada yang lain yang merasa supply dan demand tetap seimbang, jadi masih debatable apakah sudah mau supercycle atau tidak,” tuturnya.

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) 2020 dalam booklet bertajuk “Peluang Investasi Nikel Indonesia”, Indonesia disebut memiliki cadangan nikel sebesar 72 juta ton Ni (nikel). Jumlah ini merupakan 52% dari total cadangan nikel dunia yang mencapai 139.419.000 ton Ni.

Data tersebut merupakan hasil olahan data dari USGS Januari 2020 dan Badan Geologi 2019.

Sumber: CNBC Indonesia