Begini Rencana Besar Industri Nikel RI

222

NIKEL.CO.ID – Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menginstruksikan kabinetnya untuk tak lagi menjual “tanah air” alias barang mentah, melainkan harus diproses terlebih dahulu menjadi barang jadi.

Dengan mengolah barang mentah menjadi barang jadi, maka nilai tambah bagi negara pun akan berlipat-lipat. Bahkan, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) industri pertambangan setelah adanya hilirisasi ini akan melonjak menjadi Rp 1.000 triliun per tahun dari saat ini sekitar Rp 40 triliun per tahun.

Oleh karena itu, saat ini pemerintah tengah menyusun Grand Strategi Komoditas Minerba (GSKM). Adapun salah satu komoditas tambang yang akan disusun peta jalan untuk GSKM ini yaitu nikel.

Nikel merupakan unsur logam penting dalam komponen sel baterai yang digunakan untuk mobil listrik.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM Ridwan Djamaluddin mengatakan, komoditas nikel jika didorong sampai produk hilir, maka peningkatan nilai tambahnya bisa 4-5x lipat.

“Pengolahan bijih nikel, jika kita turunkan lebih hilir diperkirakan menghasilkan peningkatan nilai tambah hingga 4-5x,” ungkapnya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR RI, Selasa (28/09/2021).

Ridwan pun menjabarkan peta jalan (roadmap) untuk komoditas mineral nikel ini. Pertama adalah peningkatan ketahanan cadangan dan optimalisasi produk bijih nikel yang dilakukan melalui peningkatan eksplorasi, kemudian peningkatan sumber daya jadi cadangan.

“Konversi sumber daya jadi cadangan artinya meningkatkan statusnya,” ujarnya.

Lalu, pemerintah akan melakukan inventarisasi bijih nikel kadar rendah (limonit) yang dihasilkan dari penambangan saprolit (bijih nikel kadar tinggi di atas 1,7%), lalu melakukan penambangan saprolit dan limonit secara bersamaan untuk menurunkan biaya.

“Ini agar jangan sampai ambil saprolit, tapi limonitnya terbuang sebagai limbah. Kita juga melakukan verifikasi dan standarisasi sumber daya dan cadangan untuk mengetahui limonit dan saprolit lebih baik,” lanjutnya.

Selanjutnya, peta jalan yang kedua adalah peningkatan, optimalisasi dan efisiensi industri pengolahan pemurnian. Secara rinci, ini dapat dilakukan melalui percepatan pembangunan pabrik hidrometalurgi, pengembangan pabrik nikel sulfat (NiSO4), baik dari jalur hidrometalurgi maupun pirometalurgi.

Kemudian, dilakukan pembatasan jumlah pabrik feronikel (FeNi)/ Nickel Pig Iron (NPI) dan mendorong produksi nikel kelas 1, seperti nikel sulfat yang bisa diolah lagi menjadi katoda sel baterai.

Lalu, pemanfaatan Sisa Hasil Pengolahan dan Pemurnian (SHPP) proses pirometalurgi

seperti slag dan asam sulfat, maupun hidrometalurgi berupa logam tanah jarang (LTJ), endapan besi, dan mendorong penguasaan teknologi termasuk Engineering, Procurement, and Construction (EPC) pabrik.

Peta jalan selanjutnya adalah pengembangan industri fabrikasi, manufaktur, dan peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Ini dilakukan dengan melakukan peningkatan penyerapan domestik produk nikel kelas 2 (FeNi/NPI) melalui pengembangan industri stainless steel dan konversi nikel kelas 2 ke nikel kelas 1 seperti berupa nickel matte dan Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) dan nikel sulfat.

Lalu, dilakukan substitusi impor dan pemenuhan kebutuhan domestik stainless steel dengan mengembangkan industri stainless steel tipe 200, pengembangan industri katoda tipe Nickel Manganese Cobalt (NMC), pengembangan industri sel baterai berbahan baku nikel untuk kendaraan listrik.

“Kemudian dilakukan pengembangan industri nikel untuk bahan baku teknologi EBT dan untuk super alloy,” lanjutnya.

Peta jalan yang terakhir adalah optimalisasi penggunaan produk dalam negeri dan pencanangan sistem daur ulang. Secara rinci upaya yang dilakukan yakni optimalisasi penggunaan produk dalam negeri untuk mengurangi impor dan untuk pengembangan industri hilir.

Kemudian, sistem daur ulang juga harus dibangun sebagai upaya untuk mengurangi ketergantungan pada sumberdaya alam yang tidak terbarukan.

Perlu diketahui, pengolahan dan pemurnian nikel yang sudah berjalan di Indonesia antara lain menghasilkan produk NPI (Nickel Pig Iron), feronikel, nickel matte, stainless steel, slab dan hot rolled coil (HRC), serta MHP (Mixed Hydroxide Precipitate).

Sumber: CNBC Indonesia