Tag: #Tambang Minerba

  • Begini Rencana Besar Industri Nikel RI

    NIKEL.CO.ID – Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menginstruksikan kabinetnya untuk tak lagi menjual “tanah air” alias barang mentah, melainkan harus diproses terlebih dahulu menjadi barang jadi.

    Dengan mengolah barang mentah menjadi barang jadi, maka nilai tambah bagi negara pun akan berlipat-lipat. Bahkan, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) industri pertambangan setelah adanya hilirisasi ini akan melonjak menjadi Rp 1.000 triliun per tahun dari saat ini sekitar Rp 40 triliun per tahun.

    Oleh karena itu, saat ini pemerintah tengah menyusun Grand Strategi Komoditas Minerba (GSKM). Adapun salah satu komoditas tambang yang akan disusun peta jalan untuk GSKM ini yaitu nikel.

    Nikel merupakan unsur logam penting dalam komponen sel baterai yang digunakan untuk mobil listrik.

    Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM Ridwan Djamaluddin mengatakan, komoditas nikel jika didorong sampai produk hilir, maka peningkatan nilai tambahnya bisa 4-5x lipat.

    “Pengolahan bijih nikel, jika kita turunkan lebih hilir diperkirakan menghasilkan peningkatan nilai tambah hingga 4-5x,” ungkapnya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR RI, Selasa (28/09/2021).

    Ridwan pun menjabarkan peta jalan (roadmap) untuk komoditas mineral nikel ini. Pertama adalah peningkatan ketahanan cadangan dan optimalisasi produk bijih nikel yang dilakukan melalui peningkatan eksplorasi, kemudian peningkatan sumber daya jadi cadangan.

    “Konversi sumber daya jadi cadangan artinya meningkatkan statusnya,” ujarnya.

    Lalu, pemerintah akan melakukan inventarisasi bijih nikel kadar rendah (limonit) yang dihasilkan dari penambangan saprolit (bijih nikel kadar tinggi di atas 1,7%), lalu melakukan penambangan saprolit dan limonit secara bersamaan untuk menurunkan biaya.

    “Ini agar jangan sampai ambil saprolit, tapi limonitnya terbuang sebagai limbah. Kita juga melakukan verifikasi dan standarisasi sumber daya dan cadangan untuk mengetahui limonit dan saprolit lebih baik,” lanjutnya.

    Selanjutnya, peta jalan yang kedua adalah peningkatan, optimalisasi dan efisiensi industri pengolahan pemurnian. Secara rinci, ini dapat dilakukan melalui percepatan pembangunan pabrik hidrometalurgi, pengembangan pabrik nikel sulfat (NiSO4), baik dari jalur hidrometalurgi maupun pirometalurgi.

    Kemudian, dilakukan pembatasan jumlah pabrik feronikel (FeNi)/ Nickel Pig Iron (NPI) dan mendorong produksi nikel kelas 1, seperti nikel sulfat yang bisa diolah lagi menjadi katoda sel baterai.

    Lalu, pemanfaatan Sisa Hasil Pengolahan dan Pemurnian (SHPP) proses pirometalurgi

    seperti slag dan asam sulfat, maupun hidrometalurgi berupa logam tanah jarang (LTJ), endapan besi, dan mendorong penguasaan teknologi termasuk Engineering, Procurement, and Construction (EPC) pabrik.

    Peta jalan selanjutnya adalah pengembangan industri fabrikasi, manufaktur, dan peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Ini dilakukan dengan melakukan peningkatan penyerapan domestik produk nikel kelas 2 (FeNi/NPI) melalui pengembangan industri stainless steel dan konversi nikel kelas 2 ke nikel kelas 1 seperti berupa nickel matte dan Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) dan nikel sulfat.

    Lalu, dilakukan substitusi impor dan pemenuhan kebutuhan domestik stainless steel dengan mengembangkan industri stainless steel tipe 200, pengembangan industri katoda tipe Nickel Manganese Cobalt (NMC), pengembangan industri sel baterai berbahan baku nikel untuk kendaraan listrik.

    “Kemudian dilakukan pengembangan industri nikel untuk bahan baku teknologi EBT dan untuk super alloy,” lanjutnya.

    Peta jalan yang terakhir adalah optimalisasi penggunaan produk dalam negeri dan pencanangan sistem daur ulang. Secara rinci upaya yang dilakukan yakni optimalisasi penggunaan produk dalam negeri untuk mengurangi impor dan untuk pengembangan industri hilir.

    Kemudian, sistem daur ulang juga harus dibangun sebagai upaya untuk mengurangi ketergantungan pada sumberdaya alam yang tidak terbarukan.

    Perlu diketahui, pengolahan dan pemurnian nikel yang sudah berjalan di Indonesia antara lain menghasilkan produk NPI (Nickel Pig Iron), feronikel, nickel matte, stainless steel, slab dan hot rolled coil (HRC), serta MHP (Mixed Hydroxide Precipitate).

    Sumber: CNBC Indonesia

  • Peran Strategis Harta Karun Tambang Naikkan Daya Saing RI

    Peran Strategis Harta Karun Tambang Naikkan Daya Saing RI

    NIKEL.CO.ID – RI memiliki anugerah sumber daya yang melimpah di sektor pertambangan, baik batu bara dan mineral. Agar meningkatkan nilai tambah yang lebih besar bagi negara, arah kebijakan untuk sektor pertambangan mineral dan batu bara ini yaitu melalui hilirisasi atau pembangunan industri komoditas tambang.

    Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ego Syahrial mengatakan beberapa tambang mineral seperti nikel, lithium, hingga logam tanah jarang (LTJ) atau rare earth element dan juga batu bara memiliki peran di dalam mendorong daya saing negara ini.

    Dalam acara Puncak Bulan Hari Jadi Pertambangan dan Energi, Kamis (30/09/2021), dia mengatakan, upaya pemerintah mendorong hilirisasi di sektor mineral, utamanya untuk komoditas nikel yang bisa diolah menjadi baterai kendaraan listrik.

    “Dari tahun ke tahun sumber daya minerba berperan penting dalam perekonomian nasional. Pemanfaatan mineral diarahkan terus untuk nilai tambah. Utamanya nikel, material komponen baterai kendaraan listrik,” ungkapnya.

    Menurutnya, komoditas mineral juga bisa menjadi sumber energi serta material pendukung Energi Baru Terbarukan (EBT), seperti mineral radioaktif uranium dan thorium yang bisa jadi penghasil energi bersih berupa Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).

    “Mineral lain nikel, lithium, LTJ komponen penyumbang baterai dan penyimpanan energi dan komponen elektronika, smart grid system, nilai tinggi,” ujarnya.

    Tak hanya sektor mineral, menurutnya batu bara juga memiliki peran strategis dalam mendorong kedaulatan dan kemandirian energi, serta menaikkan daya saing ekonomi nasional.

    Dia mengatakan, batu bara juga didorong untuk peningkatan nilai tambah, seperti melalui proyek gasifikasi.

    “Hilirisasi seperti gasifikasi kita harapkan mendapatkan manfaat lebih dari batu bara kalori rendah yang dimiliki Indonesia dan dapat direalisasikan,” imbuhnya.

    Begitu juga dengan “harta karun” super langka, seperti logam tanah jarang.

    Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Ridwan Djamaluddin sempat mengatakan saat ini pemerintah telah membentuk tim bernama tim pengembangan industri berbasis logam tanah jarang. Selain itu, pemerintah juga tengah menyusun Instruksi Presiden (Inpres) untuk mempercepat pengembangan dan hilirisasi logam tanah jarang.

    “Tim pengembangan industri berbasis logam tanah jarang dan penyusunan Inpres percepatan hilirisasi LTJ. Bapak, Ibu, dan teman-teman yang berminat partisipasi pada kesempatan lain, mari bersama-sama susun regulasi ini,” tuturnya.

    Sementara itu, Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Eko Budi Lelono mengatakan, untuk mengeksplorasi logam tanah jarang ini lebih lanjut, pemerintah akan menggandeng negara-negara yang sudah menguasai teknologinya, seperti China.

    Dia mengatakan, Badan Geologi punya beberapa kegiatan sebagai upaya mengembangkan LTJ ini, di antaranya eksplorasi, menyediakan informasi keterdapatan sumber LTJ yang bersumber dari berbagai penelitian, pelaku usaha, dan institusi lainnya.

    “Juga rencana kerja sama dengan negara-negara yang kuasai teknologi tanah jarang seperti Tiongkok. Di sana ada Badan Geologi sejenis China Geological Survey,” ujarnya.

    Sumber: CNBC Indonesia

  • Stop Ekspor ‘Tanah Air’, RI Bisa Raup Rp 1.000 Triliun per Tahun

    Stop Ekspor ‘Tanah Air’, RI Bisa Raup Rp 1.000 Triliun per Tahun

    NIKEL.CO.ID – Pemerintah terus mendorong hilirisasi di sektor pertambangan demi meningkatkan nilai tambah bagi negara. Bukan tanpa alasan, semakin hilir produk yang dihasilkan, maka kontribusinya buat negara bisa berkali-kali lipat lebih tinggi.

    Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ridwan Djamaluddin dalam acara Peluncuran dan Bedah Buku ‘TAMASYA: Tambang Mensejahterakan Masyarakat’, Kamis (23/09/2021).

    Ridwan mengatakan, keberadaan industri tambang memberikan manfaat kepada pemerintah. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sektor pertambangan kini rata-rata setiap tahunnya Rp 40 triliun.

    Namun demikian, angka penerimaan negara ini menurutnya bisa naik berlipat-lipat hingga Rp 1.000 triliun per tahun bila industri hilir semua komoditas tambang ini terbangun dan semua produk yang dihasilkan merupakan produk jadi dan bernilai tambah besar.

    “Pemerintah mendapatkan manfaat dari industri pertambangan karena Penerimaan Negara Bukan Pajak Minerba setiap tahunnya rata-rata Rp 40 T. Kalau ditambahkan industri pengolahannya, kontribusi Rp 1.000 triliun per tahun, industri pertambangan dan industri pengolahannya sangat signifikan,” jelasnya.

    Dia menegaskan, industri pertambangan menumbuhkan ekonomi secara nasional. Namun demikian, menurutnya manfaat tidak hanya dipetik oleh pemerintah saja, tapi juga bagi masyarakat.

    “Kami menegaskan bahwa kegiatan pengembangan masyarakat ini upaya industri pertambangan bahwa industri ini sejahterakan, ini investasi jangka panjang,” paparnya.

    Dalam hal ini, imbuhnya, ada 180.000 orang yang bekerja langsung di industri tambang. Jika dikalikan jumlah keluarga dari masing-masing yang terlibat di pertambangan empat orang, maka ada 700.000 orang yang terdampak langsung oleh industri pertambangan.

    Sampai Juli 2021 PNBP di sektor ESDM terbesar berasal dari SDA Migas sebesar Rp 47,58 triliun, lalu SDA Minerba sebesar Rp 33,57 triliun, SDA Panas Bumi sebesar Rp 0,79 triliun, dan lainnya sebesar Rp 1,20 triliun.

    Adapun target PNBP Sektor ESDM pada 2021 ini sebesar Rp 121,20 triliun, terdiri dari Migas Rp 75 triliun, Minerba Rp 39,10 triliun, Panas Bumi sebesar Rp 1,44 triliun, dan sektor lainnya sebesar Rp 5,66 triliun.

    Sumber: CNBC Indonesia

  • Produksi Minerba Berjalan Normal di Tengah Pandemi, Begini Rinciannya

    Produksi Minerba Berjalan Normal di Tengah Pandemi, Begini Rinciannya

    NIKEL.CO.ID –  Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pastikan aktivitas kegiatan produksi sektor mineral dan batu bara (minerba) tetap berjalan normal di tengah pandemi Covid-19.

    Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Percepatan dan Tata Kelola Minerba Irwandy Arif mengatakan bahwa pandemi Covid-19 telah mempengaruhi seluruh sektor, termasuk ESDM. Meski demikian, secara umum sektor ESDM tetap dapat berkontribusi dengan seluruh kegiatan produksi migas dan minerba yang berjalan normal.

    Realisasi produksi batu bara pada Juni 2021 mencapai 51,6 juta ton, naik 9,4 persen secara bulanan (month to month/mtm).

    “Total akumulasi [produksi batu bara] sampai semester I/2021 mencapai 285,7 juta ton, atau setara dengan 45,72 persen dari target sebesar 625 juta ton,” katanya dalam webinar Tambang dan Energi Bakti untuk Negeri, Senin (16/8/2021).

    Selain batu bara, produksi beberapa mineral logam utama, seperti katoda tembaga, nikel matte, feronikel, dan nikel pig iron juga mengalami kenaikan pada tahun lalu.

    Realisasi produksi katoda tembaga pada 2020 sebesar 269.050 ton, naik 49,3 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sementara itu, sampai dengan semester I/2021, realisasi produksinya mencapai 142.940 ton.

    Lalu produksi nikel matte pada 2020 tercatat mencapai 91.740 ton atau naik 27,39 persen dibandingkan dengan 2019. Sampai dengan semester I/2021, realisasi produksi nikel matte mencapai 38.000 ton.

    Realisasi produksi olahan bijih nikel lainnya, yakni ferro nikel, tercatat mencapai 1,48 juta ton pada 2020 atau naik 28,5 persen dibandingkan dengan realisasi pada 2019.

    Untuk enam bulan pertama tahun ini, kata dia, realisasi produksi feronikel telah mencapai 807.590 ton.

    Produksi nikel pig iron juga mengalami kenaikan dari 781.020 ton pada 2019 menjadi 860.480 ton pada 2020, sedangkan hingga semester I/2021 telah mencapai 447.150 ton.

    “Sementara itu, mineral logam lainnya mengalami penurunan, seperti emas, timah, dan perak. Bahkan produksi mineral timah sampai semester I/2021 tidak melebihi 50 persen dari capaian produksi tahun lalu,” ujarnya.

    Kementerian ESDM sendiri mencatat realisasi produksi emas sepanjang 2020 mencapai 66,19 ton atau turun 39,2 persen dibandingkan dengan realisasi sepanjang 2019, dan realisasi produksi sampai dengan semester I/2021 mencapai 37,21 ton.

    Kemudian, realisasi produksi perak tahun lalu mencapai 338,1 ton atau turun 30,6 persen dibandingkan 2019, sedangkan hingga semester I/2021 realisasinya mencapai 193,91 ton.

    Realisasi produksi timah sepanjang tahun lalu hanya mencapai 54.270 ton atau turun 28,9 persen dibandingkan 2019, dan realisasi produksinya sepanjang semester I/2021 baru mencapai 15.580 ton.

    Sumber: bisnis.com