Beranda Berita Nasional Hilirisasi Nikel Perlu Beradaptasi dengan Perkembangan Teknologi Baterai Global

Hilirisasi Nikel Perlu Beradaptasi dengan Perkembangan Teknologi Baterai Global

128
0
Ilustrasi EV (Foto: Istimewa)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA – Ambisi Indonesia menjadi pemain utama dalam industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV) menghadapi tantangan baru di tengah pesatnya inovasi teknologi baterai dunia. Kondisi tersebut menuntut strategi hilirisasi nikel tidak hanya berfokus pada peningkatan investasi, tetapi juga mampu mengikuti perubahan kebutuhan pasar global.

“Dari beberapa kali diskusi dengan para narasumber, banyak sekali teknologi baru yang muncul. Jangan sampai kebijakan kita terlambat beradaptasi dengan teknologi yang baru,” ujar peneliti Pusat Riset Ekonomi Industri, Jasa, dan Perdagangan (PREIJP) BRIN, Sigit Setiawan, dalam keterangan resmi yang dikutip redaksi, Jumat (26/6/2026).

Sigit menjelaskan, hasil penelitian BRIN memperlihatkan bahwa industri EV berkembang ke arah yang semakin beragam. Tidak ada satu teknologi baterai yang diperkirakan akan mendominasi sepenuhnya karena setiap teknologi memiliki keunggulan, karakteristik, dan pangsa pasar yang berbeda.

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah IKLAN-OK-International-Critical-Minerals-Summit-Indonesia-2026-1024x341.jpg

Situasi itu menjadi tantangan bagi Indonesia yang dalam beberapa tahun terakhir mengembangkan industri EV dengan bertumpu pada hilirisasi nikel. Ketika investasi di sektor tersebut terus berjalan, pasar global justru mulai memberi ruang lebih besar bagi teknologi baterai yang tidak seluruhnya bergantung pada nikel.

“Indonesia membangun ekosistem industri EV berbasis nikel melalui hilirisasi, sementara pasar EV global dan domestik secara bersamaan mulai beralih ke teknologi baterai lain,” katanya.

Salah satu inovasi yang mulai menarik perhatian adalah sodium-ion battery. Teknologi ini menggunakan sodium yang ketersediaannya lebih melimpah sehingga dinilai berpotensi menawarkan biaya produksi yang lebih kompetitif untuk aplikasi tertentu.

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah IKLAN-online-DTI-1024x341.jpg

Selain sodium-ion, perkembangan baterai solid-state, lithium ferrophosphate (LFP), dan lithium manganese ferrophosphate (LMFP) juga menunjukkan bahwa arah industri baterai global semakin beragam. Khusus LFP, penggunaannya terus meningkat karena menawarkan biaya produksi yang lebih rendah, umur pakai yang panjang, serta tidak memerlukan nikel sebagai material utama.

“Dominasi LFP dan perkembangan LMFP di segmen EV utama serta penyimpanan energi secara langsung dapat mengurangi permintaan nikel,” ujarnya.

Perubahan teknologi tersebut perlu menjadi perhatian karena berpotensi mempengaruhi investasi yang telah dibangun pada industri berbasis nikel. Jika arah perkembangan teknologi tidak diantisipasi, industri dapat menghadapi berbagai risiko, mulai dari kelebihan kapasitas produksi, tekanan terhadap harga nikel, hingga menurunnya nilai aset.

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah IKLAN-OK-Indomachinary-11-13-Agustus-1024x341.jpg

Tantangan Indonesia juga berkaitan dengan upaya meningkatkan daya saing industri baterai nasional. Proses produksi baterai membutuhkan energi dalam jumlah besar, standar manufaktur yang tinggi, dan efisiensi biaya. Sementara itu, kondisi iklim tropis membuat fasilitas produksi memerlukan pengendalian suhu dan kelembapan yang lebih ketat, di saat pasar global semakin menuntut proses manufaktur yang menggunakan energi rendah karbon.

Karena itu, Indonesia dinilai perlu memperkuat kemampuan riset, inovasi, teknologi manufaktur, serta pengembangan komponen pendukung kendaraan listrik, termasuk perangkat lunak dan sistem manajemen baterai. Pengembangan berbagai pilihan teknologi baterai, mulai dari berbasis nikel, LFP, sodium-ion, hingga pemanfaatan bahan baku alternatif seperti mangan, juga dipandang penting agar industri nasional lebih siap menghadapi perubahan pasar.

“Yang dibutuhkan bukan hanya memperkuat satu komoditas, tetapi membangun ekosistem industri yang inovatif dan fleksibel. Jangan sampai kita hanya membangun industri untuk teknologi yang sudah mulai berubah. Yang harus dibangun adalah ekosistem yang mampu mengikuti perkembangan teknologi,” pungkasnya. (Tubagus)