Beranda Maret 2024 IMA Prediksi Kebutuhan Nikel Dunia Capai 4 Juta Ton Lebih di 2040

IMA Prediksi Kebutuhan Nikel Dunia Capai 4 Juta Ton Lebih di 2040

1520
0
Direktur Eksekutif Indonesian Mining Association (IMA), Djoko Widajatno. (foto: Lili Handayani/Nikel.co.id)
Direktur Eksekutif Indonesian Mining Association (IMA), Djoko Widajatno. (foto: Lili Handayani/Nikel.co.id)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA- Asosiasi Penambang Indonesia atau Indonesian Mining Association (IMA) menyampaikan prediksi kebutuhan nikel dunia akan menyentuh angka hingga 4 juta ton lebih di tahun 2040 mendatang.

Direktur Eksekutif IMA Djoko Widajatno menjelaskan, berdasarkan laporan Indonesian Mining Outlook Year 2023, permintaan kebutuhan EV akan meningkat secara signifikan dalam 2 dekade. Permintaan nikel global akan melampaui 4 juta ton pada 2040.

“Sentimen Internasional ini seolah-olah nikel ini turun kebutuhannya. Ternyata tidak, gitu,” terang Djoko saat dihubungi Nikel.co.id, Senin (25/3/2024).

Djoko juga menyebutkan, dari study yang dilakukan Wood Mackenzie, kebutuhan bahan baku nikel masih didominasi baku baja nirkarat atau stainless steel yang mencapai 1,9 juta ton.

Sementara, kebutuhan nikel untuk baja nirkarat tidak meningkat signifikan dari capaian sebanyak 1,65 juta ton para 2019.

Akan tetapi, kebutuhan nikel untuk bahan baku baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) diestimasikan meningkat signifikan dari 163.000 ton pada 2019 menjadi 1,22 juta ton di tahun 2040 nanti.

Sebanyak 48% kebutuhan nikel dunia yang diperkirakan mencapai 4 juta ton pada 2040 digunakan untuk baja nirkarat, 30% untuk baterai, 4% untuk pengecoran 3% untuk baja paduan, 5% untuk pelapisan, dan 10% untuk paduan nonbesi.

Lebih lanjut, Djoko memaparkan, pabrik pengolahan berbasis high pressure acid leaching (HPAL) terus bertumbuh sejak 2021 dan membutuhkan sekitar 115.000 ton nikel per tahun.

Kebutuhan untuk smelter HPAL tersebut diproyeksi makin melesat pada 2027 guna memenuhi permintaan baterai untuk EV. Pada 2030, dibutuhkan tambahan cadangan nikel sekitar 230.000 ton per tahun.

Namun, cadangan nikel diproyeksikan menurun sekitar 200.000 ton per tahun pada 2029—2040, padahal dunia membutuhkan cadangan baru mencapai 1,7 juta ton pada 2040. 

“Ya, sementara ini kebutuhan dari nikel cobalt, kemudian hasil daripada HPAL ini ya akan naik ya. Karena apa? yang punya sumber besar ya Indonesia. Sehingga kalau kita lihat itu kan, tinggal kita berani gak bermain dengan harga,” tutur dia. (Lili Handayani)