Beranda Berita Nasional Perluas Target Pasar Hilir Nikel, Akuisisi Saham MBMA Sudah Capai 60 Persen

Perluas Target Pasar Hilir Nikel, Akuisisi Saham MBMA Sudah Capai 60 Persen

639
0
Ilustrasi hilirisasi. (foto: Freepik.com)

NIKEL.CO.ID, 27 JUNI 2023- PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) semakin giat memperbesar dan memperluas target pasar di sektor hilir nikel. Anak usaha PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) ini telah menyelesaikan akuisisi produsen nikel dalam matte, yakni PT Huaneng Metal Industry (HNMI). Akuisisi 60% saham HNMI oleh MBMA berlaku efektif per 31 Mei 2023 dengan total nilai transaksi US75 juta.

Proses akuisisi dilakukan dengan dua cara. Pertama penerbitan 27.527 saham baru HNMI yang seluruhnya diambil oleh MBMA. Kedua, pembelian saham HNMI dari Plenceed International Industrial Limited dan Perlux Limited dengan total 36.989 saham dijual ke MBMA.

Dengan transaksi ini, MBMA menguasai 60% saham HNMI. Sedangkan 40% sisanya dipegang oleh Plenceed International Industrial Limited. Sebagai informasi, HNMI telah memproduksi nikel matte sejak 2022 dan mempertahankan tingkat produksi tahunan sebesar 50.000 ton nikel dalam matte nikel.

Nikel matte adalah produk perantara untuk memproduksi nikel sulfat, yang merupakan komponen integral dari rantai nilai baterai. Secara historis, nikel matte telah mencapai margin yang lebih tinggi daripada Nickel Pig Iron (NPI), dengan tingkat pembayaran per ton nikel dasar yang lebih tinggi. Sehingga akuisisi mayoritas saham HNMI diproyeksikan akan memperkuat posisi keuangan MBMA.

Selain akuisisi, MMBA juga meningkatkan kinerja dengan membangun pabrik pengolahan baru alias smelter. MBMA tercatat memiliki sejumlah pipeline proyek smelter nikel.

Direktur Utama MBMA, Devin Antonio Ridwan mengatakan, saat ini MBMA memiliki dua pabrik pengolahan (smelter) dengan teknologi Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) yang menghasilkan nickel pig iron (NPI). Kedua smelter ini dijalankan oleh PT Cahaya Smelter Indonesia dan PT Bukit Smelter Indonesia.

Masing-masing smelter ini memiliki kapasitas 19.000 ton nikel per tahun, sehingga mencapai 38.000 ton. Ada lagi smelter RKEF yang masih dalam tahap pembangunan, dengan kapasitas 50.000 ton.

“Sehingga kapasitas RKEF maksimal 88.000 per tahun,” ujar Devin, dikutip dari laman Ferroalloy, Selasa (27/06/2023).

Selain itu, MBMA juga berencana membangun smelter nikel dengan teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL) berkapasitas masing-masing 120.000 ton yang akan dibangun di kompleks Indonesia Konawe Industrial Park (IKIP).

Pembangunan pabrik ini akan dilakukan dalam dua tahap, dengan tahap pertama beroperasi sebanyak 60.000 ton. Pabrik ini akan mengekstraksi limonit dari tambang Sulawesi Cahaya Minerals (SCM), yang merupakan salah satu sumber daya nikel terbesar di dunia menurut Joint Ore Reserves Committee (JORC).

“IKIP HPAL akan mendapatkan bahan baku limonit dari tambang SCM yang memiliki tambang terdekat (dengan pabrik pengolahan), sehingga nantinya biayanya menjadi sangat murah,” lanjut Devin.

Pada tanggal 16 Maret 2023, Merdeka Battery Materials menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Ningbo Brunp Contemporary Amperex Co., Ltd., yang merupakan perusahaan afiliasi dari Contemporary Amperex Technology Co., Limited (Brunp CATL).

Nilai investasi HPAL tahap pertama sekitar US1,28 miliar yang akan dibiayai dari dana initial public offering (IPO) sebesar 18%. MBMA juga memiliki proyek Acid Iron Metal (AIM) I yang merupakan joint venture antara MBMA Group dan Tsingshan group di Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). 

Proyek ini memproses bijih pirit (besi sulfida) tingkat tinggi dari Tambang Tembaga Wetar untuk menghasilkan logam, seperti pelet besi, tembaga, emas dan perak, serta asam sulfat dan uap.

Proyek AIM I diharapkan mulai beroperasi pada paruh kedua tahun 2023 dengan kapasitas produksi asam terpasang sebesar 1,2 juta ton per tahun pada tahun 2024. Keseriusan menggarap proyek AIM I dibuktikan MBMA dengan mengucurkan pinjaman kepada PT Merdeka Tsingshan Indonesia. 

Merdeka Tsingshan Indonesia merupakan perusahaan yang dikendalikan oleh MBMA yang sahamnya dimiliki oleh MBMA secara langsung dan tidak langsung melalui PT Batutua Pelita Investama sebesar 80,00%.

Pinjaman yang dilakukan pada 20 Juni 2023 itu bernilai US$ 50 juta. MBMA sebagai kreditur yang juga bertindak sebagai perusahaan pengendali Merdeka Tsingshan Indonesia, setuju untuk menyediakan pendanaan hingga US$ 50 juta, ditambah tingkat referensi Secured Overnight Financing Rate (SOFR) 3 bulan dan margin 5,26%.

Dengan demikian, setelah perjanjian berlaku, Merdeka Tsingshan Indonesia dapat menggunakan dana pembiayaan yang diberikan oleh MBMA untuk membiayai sebagian kebutuhan belanja modal Merdeka Tsingshan Indonesia yang timbul dari pembangunan proyek AIM I. (Lili Handayani)