Beranda Berita Nasional SMM Akan Gelar Konferensi Rantai Industri Nikel dan Kobalt Indonesia

SMM Akan Gelar Konferensi Rantai Industri Nikel dan Kobalt Indonesia

887
0

NIKEL.CO.ID, 19 MEI 2023-Shanghai Metals Market (SMM) kolaborasi dengan Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) akan menyelenggarakan 2023 Indonesia Nickel and Cobalt Industry Chain Conference selama dua hari, mulai tanggal 30-31 Mei 2023 di Hotel Shangrila, Jakarta Pusat.

Acara 2023 Indonesia Nickel and Cobalt Industry Chain Conference (Konferensi Rantai Industri Nikel dan Kobalt Indonesia 2023-red) mengangkat tema “The New Ecology of Nickel and Cobalt Industry Under Globalization”.

Mengutip dari situs metal.com (SMM), disampaikan latar belakang diselenggarakannya konferensi. Diinformasikan bahwa pada 2022, penjualan global NEV (Neighborhood Electric Vehicle) mencapai 10,65 juta unit, naik 63,6% YoY di China.

Industri NEV di China terus tumbuh secara eksplosif, mempertahankan posisi pertama selama delapan tahun berturut-turut. Sedangkan Indonesia membawa gelombang lain seiring berkembangnya industri NEV China. Indonesia juga memainkan peran penting sebagai salah satu negara penghasil nikel dan kobalt terbesar dunia. 

Untuk lebih mempromosikan pertukaran wawasan industri nikel dan kobalt di Cina dan Indonesia, serta membantu memahami situasi industri terkini dan tren perkembangan NEV, Shanghai Metals Market (SMM) bekerja sama dengan APNI akan mengadakan “Konferensi Rantai Industri Nikel dan Kobalt Internasional 2023”  di Jakarta, Indonesia pada 30-31 Mei 2023.

Konferensi ini akan menghadirkan lebih dari 20 pembicara, dan sekitar 300 delegasi dari seluruh dunia yang membahas topik hangat yang meliputi: bijih nikel, industri kimia, produk antara atau intermediatte, proses pembuatan baterai untuk kendaraan listrik, hingga industri Original Equipment Manufacturer (OEM).

Sebagai informasi, SMM adalah perusahaan riset pasar logam China yang didirikan pada 1999. Hingga saat ini SMM telah menerbitkan harga spot penilaian harian (Harga SMM) lebih dari 100 logam dasar, logam mulia, logam minor, logam daur ulang, bubuk logam, senyawa, semi, paduan, dan tanah jarang selama lebih dari 10 tahun.

Sementara APNI adalah asosiasi yang mewadahi para pelaku pertambangan bijih nikel di sektor hulu. APNI dibentuk oleh Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara (Ditjen Minerba), Kementerian ESDM pada 6 Maret 2017.

APNI mempunyai visi: Menjadi organisasi asosiasi terbaik yang menciptakan nilai-nilai unggul dan program program kerja yang mampu mensinergikan seluruh pelaku pertambangan nikel indonesia dan menjadi kebanggaan bagi seluruh pemangku kepentingan pertambangan nikel di Indonesia, pemerintah dan masyarakat Indonesia umumnya. (Syarif)