Beranda Nikel Hilirisasi Melesat, Hulunisasi Macet, Ini Pandangan APNI 

Hilirisasi Melesat, Hulunisasi Macet, Ini Pandangan APNI 

732
0
Sekretaris Umum Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), Meidy Katrin Lengkey saat menjadi salah satu nara sumber dalam acara Clossing Bell di CNBC Indonesia. (foto: tangkapan layar CNBC Live)

NIKEL.CO.ID, 11 MEI 2023-Sekretaris Umum Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), Meidy Katrin Lengkey mengungkapkan, pabrik pengolahan bijih nikel di Indonesia lebih banyak memproduksi barang setengah jadi atau intermediate  product, seperti NPI dan MHP. Belum ada produsen yang memproduksi baterai NMC (Nickel, Mangan, Cobalt).

Meidy Katrin Lengkey mengutarakan, sudah banyak beredarnya kendaraan listrik di Indonesia semuanya menggunakan baterai LFP (Lithium, Ferro, Phosphate), impor dari negara lain. Harga kendaraan listrik pun masih terbilang mahal.

Ia mengaku setuju dengan program pemerintah memberikan bantuan subsidi bagi masyarakat yang ingin menkonversi atau membeli kendaraan listrik. Langkah ini, selain membantu masyarakat yang ingin menggunakan kendaraan listrik, sekaligus untuk mendukung program green energy

“Pemerintah perlahan-lahan ingin mengganti energi berbasis fosil menuju electric vehicle. Namun, apakah infrastrukturnya sudah mendukung bagi masyarakat yang ingin menggunakann EV. Apakah fasilitas charging stationnya mudah dijangkau oleh pengguna EV?” tanya Meidy saat menjadi narasumber Clossing Bell di CNBC Indonesia, Kamis (11/5/2023).

Dari sisi hulu, bilangnya, Indonesia mempunyai banyak raw material nikel untuk diproduksi baterai listrik. Indonesia sampai saat ini menempati sepuluh besar produsen nikel di dunia.

“Saya saat ini ada di Singapura, sebagai pembicara di konferensi yang diselenggarakan Mining Investmen Asia. Dalam konferensi ini juga dibahas mengenai mineral kritis untuk new energi ke depan. Karena itu, bagaimana Pemerintah Indonesia memberikan bantuan atau insentif untuk pelaku hulu, seperti yang diberikan pemerintah kepada pelaku industri hilir,” paparnya.

Ia mengungkapkan, produksi yang dihasilkan penambang nikel di sektor hulu trennya mengalami penurunan. Hal ini dampak harga pasaran nikel yang terus menurun, sehingga mengurangi semangat penambang untuk memacu hasil tambang nikelnya.

Meidy menyebutkan, kapasitas produksi penambang nikel pada 2021 sekitar 721.000 ton lebih. Hingga April 2023 terjadi penurunan produksi sebesar 100.000 ton. Faktor penurunan produksi bijih nikel ini juga ada faktor ekonomi dunia yang sedang tidak menentu, hingga berimbas ke Indonesia.

“Persoalan lain, produk-produk Indonesia dari bahan baku nikel yang masuk ke Amerika Serikat kemungkinan tidak akan mendapatkan bantuan insetif pajak, karena ada ketentuan IRA,” bilangnya.

Kondisi-kondisi seperti ini, kata Meidy, harus lebih serius diperhatikan Pemerintah Indonesia.  Karena itu, harus dilebih didorong berdirinya industri yang memproduksi barang jadi di Indonesia. Bukan hanya industri yang mengolah bijih nikel menjadi prekursor, katoda, dan anoda, namun sudah memproduksi sel baterai hingga battery pack.

Menurutnya, jika Indonesia sudah memproduksi baterai listrik buatan dalam negeri, tentu akan memberikan multiplier effect, baik untuk negara, masyarakat, dan tentu saja pengusahanya. (Lili Handayani/SBH)