Beranda Berita Nasional Dirjen Minerba Sebut Esensi Pengurangan Karbon Tak Kurangi Industri Pertambangan

Dirjen Minerba Sebut Esensi Pengurangan Karbon Tak Kurangi Industri Pertambangan

513
0

NIKEL.CO.ID, 21 MARET 2023 – Direktur Jenderal Mineral dan Batubara, Ridwan Djamaluddin mengatakan, esensi dari upaya pengurangan karbon untuk mencapai net zero emission 2060 di sektor pertambangan tidak akan mengurangi industri pertambangan, bahkan akan semakin banyak mineral yang akan digunakan.

Hal itu disampaikan Dirjen Minerba, Ridwan Djamaluddin dalam acara Human Capital Summit 2023: “Human Capital Development Towards Net Zero Emissions 2060” yang diselenggarakan Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (KESDM) di Breakout Room 2, di Jakarta Convention Center (JCC), Selasa (21/3/2023).

“Esensinya ketika kita sedang menuju net zero emission, kita sebetulnya akan mengarah makin banyak mineral yang akan digunakan,” kata Ridwan yang diikuti nikel.co.id.

Menurutnya, pengurangan energi untuk transisi energi dalam menuju net zero emission tidak akan mengurangi industri pertambangan. Justru akan sangat membutuhkan banyak mineral, untuk baterai listrik, mobil listrik. Semua akan banyak membutuhkan mineral-mineral lain.

Ridwan mengutarakan, dunia internasionl saat ini sedang melaksanakan program net zero emission. Untuk melaksanakan hal itu, maka harus dilakukan sesuai dengan kemampuan.

“Jangan dipaksakan untuk dihentikan, misalnya menghentikan semua PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) kita, karena nanti industri kita akan mati,” imbaunya.

Menurut Ridwan, ada sekitar 60 persen pembangkit listrik mati dan selesai. Namun sebetulnya bila diubah penggunaan bahan bakarnya menjadi energi baru, maka pembangkit listrik akan tetap hidup.

“Cuma bagaimana kita menggunakan bahan bakarnya saja itu secara mineral, termasuk industri minerba untuk mendukung tumbuhnya energi baru dan terbarukan,” jelasnya.

Kemudian, dia menjelaskan bahwa Indonesia harus mempunyai perencanaan menuju net zero emission di tahun 2060 dan harus dipersiapkan secara matang dan baik.

“Sekali lagi kalau kita pakai kesiapan Indonesia dalam hal ini adalah kita betul-betul menyiapkan satu kemampuan kita untuk membuat perencanaan global yang baik. Jangan sampai kita net zero, net zero, kadang-kadang dibilang 2060, ada yang bilang 2056, ada yang paksa kita 2045. Nah kita akan buat perencanaan yang baik,” jelasnya.

Selain itu, ia mengatakan ada aspek ke ekonomian ketika Indonesia menuju net zero emission 2060 dan bila dibenturkan, maka ini akan timbul permasalahan.

“Hal ini tentunya perlu pendalaman pendalaman. Ujungnya adalah masalah biasa ketergantungan kita atau kelemahan kita pada penguatan ekonomi,” imbuhnya.

Ridwan menekankan ada usaha yang seharusnya bisa dilakukan bersama dan dilakukan sesuai dengan kemampuan sendiri. Dia memperlihatkan usaha yang bisa dilakukan secara bersama seperti nikel. Nikel merupakan komoditas primadona yang sedang diupayakan secara maksimal pemanfaatannya dan Indonesia saat ini sudah memproduksi sepertiga dari produksi dunia. Hal ini sangat bagus dan luar biasa.

Karena itu, dirinya meminta pihak terkait untuk memanfaatkan nikel dengan sebaik-baiknya dengan segala upaya, dan yang penting jangan sampai nanti tertinggal teknologinya. (Shiddiq)