Beranda Berita International Kebutuhan Bahan Baku Manufaktur dan EV Meningkat, Harga Nikel Menggeliat

Kebutuhan Bahan Baku Manufaktur dan EV Meningkat, Harga Nikel Menggeliat

478
0
Perdagangan Cincin (The Ring) di London Metal Exchange (LME). Foto: LME

NIKEL.CO.ID, 5 Januari 2023- London Metal Exchange (LME) melalui perdagangan The Ring (Cincin) menawarkan harga nikel pada sesi perdagangan Kamis ini (5/12/2023) pukul 11.40 waktu London di angka US$ 29.750 per ton, setelah kemarin, pukul 17.00 waktu London transaksi jual-beli nikel ditutup di harga US$ 33.645 per ton.

Mekanisme perdagangan Cincin merupakan lantai perdagangan terbuka di LME. Cincin merupakan pusat dari proses penemuan harga. Jadi, harga resmi LME ditemukan di lantai perdagangan. Namun, hanya anggota Kategori 1 yang dapat berdagang di Cincin.

Dalam perdagangan Cincin, diberlakukan sesi dering dan waktu perdagangan. Setiap Logam LME diperdagangkan dalam sesi Ring lima menit yang sangat likuid yang mewakili penawaran dan permintaan global. Perdagangan di Ring dimulai pukul 11.40 dan ditutup pukul 17.00 waktu London.

Untuk tawaran dan penawaran nikel dibagi dalam dua sesi dering. Dering sesi pertama dari pukul 11.40-12.25 (Cincin 1)  waktu London. Kemudian dilanjutkan pukul 12.30-13.15 (Cincin 2) waktu London.

Perdagangan Cincin 1 dan 2 merupakan sesi pertama sebelum makan siang. Harga resmi LME yang digunakan sebagai acuan dalam kontrak fisik, yang ditetapkan selama Cincin 2.

Dering sesi kedua, untuk Cincin 3 dimulai pukul 15.00-15.30 waktu London. Cincin 3 merupakan sesi perdagangan sesi kedua setelah makan siang. Sesudahnya ditentukan pembatasan perdagangan nikel dari pukul 15.50-17.00 waktu London.

Perdagangan dering berjalan bersamaan dengan platform LME lainnya, LMEselect dan pasar telepon antar kantor.

Pembukaan harga nikel yang ditawarkan LME Kamis ini terbilang masih tinggi. Menurut Analis Mirae Asset Sekuritas, Juan Harahap, seperti dilansir Kontan, harga nikel akan cenderung naik sepanjang tahun 2023, seiring banyaknya sejumlah sentimen yang membayangi komoditas logam ini. Salah satu sentimen yang membayangi harga nikel adalah potensi terjadinya resesi.

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Mirae Asset Sekuritas, harga nikel mengalami koreksi setiap kali  periode resesi.  Misal, pada resesi Amerika Serikat (AS) pada tahun 1990, 2001, 2008, dan 2020, terjadi penurunan harga nikel dengan kisaran antara 7,4% sampai 67,4% dengan rata-rata penurunan 32,5%, dan penurunan terbesar terjadi selama resesi tahun 2008.

Juan memperkirakan adanya kenaikan permintaan nikel di China tahun 2023, didukung oleh kenaikan aktivitas manufaktur seiring pemulihan konsumsi baja nirkarat China. China mencatat kenaikan produksi stainless steel sebesar 31,7% year-on-year (YoY) menjadi 2,4 juta ton pada Oktober. Kenaikan ini terjadi karena pemerintah China telah melonggarkan beberapa aturan terkait Covid-19 yang ketat.

Sentimen dari sektor nikel juga datang dari pengembangan nikel untuk segmen kendaraan listrik atau electric vehicle (EV). Juan mencatat, Indonesia telah mengembangkan proyek High Pressure Acid Leaching (HPAL) untuk membuat bahan baku kendaraan listrik. Saat ini, terdapat tujuh proyek HPAL di Indonesia, dan berpotensi mulai berproduksi pada tahun 2022 hingga 2025 untuk menghasilkan nikel kelas 1.

Berdasarkan laporan Badan Energi Internasional, Juan melihat perkembangan industri electric vehicle (EV) akan terus meningkat seiring dengan rencana banyak negara untuk melarang penjualan mobil berbasis fosil. (Syarif)

Artikulli paraprakDirencanakan Menghasilkan 13.500 TNi, Progres Kontruksi Pabrik Feronikel Halmahera Timur Antam 98%
Artikulli tjetërAnggota DPR Kritik Perppu Ciptaker Soal Klausul Royalti Nol Persen