Beranda Nikel Tacolo, Kiamat Kecil bagi Perusahaan Tambang Nikel Modal Pas-pasan

Tacolo, Kiamat Kecil bagi Perusahaan Tambang Nikel Modal Pas-pasan

1724
0
Kawasan pertambangan tipe Laterisasi Hidrous Mg-Silikat yang mengandung Garnierite.

NIKEL.CO.ID, 30 Desember 2022-Geoexplor Nickel. Istilah ini cukup menakutkan di kalangan penambang nikel. Dalam bahasa lokal disebut “tacolo”, bagi pemodal kuat sering dianggap “uang sekolah”, namun bagi pemodal pas-pasan merupakan kiamat kecil.

Salah satu tipe laterisasi yang sering membuat penambang “tacolo” adalah tipe Hydrous Mg Silicate dengan ciri lapukan yang tebal, umum di daerah punggungan dan ada di semua titik konsentrasi IUP (Kolaka, Konawe Utara, Konawe Selatan, Morowali, Morowali Utara).

“Profil laterit ini cenderung memiliki striping ratio yang besar, sehingga usaha untuk mengupas top soil dan limonit sangat besar. Biaya operasional tinggi pada tahapan ini, terutama untuk bahan bakar minyak (BBM) dan rental alat berat,” kata Praktisi Nikel, Hasanuddin Nurdin kepada nikel.co.id, baru-baru ini.

Pada zona limonit, diutarakan Hasanuddin Nurdin, kandungan Fe >25%, Co 0.04-0.14%, MgO <7% dengan kadar nikel 1.2-1.5%. Cukup ideal jika dikomersialkan dalam bentuk lowgrade dengan acuan MgO <7%.

“Namun sayangnya, saat ini belum ekonomis karena serapan smelter dan harga jual masih rendah,” ungkap QAQC Nickel Laterite Advisor ini.

Praktisi Nikel, Hasanuddin Nurdin

Ia melanjutkan, pada zona saprolit yang menjadi incaran penambang, sayangnya kadar Ni pada profil seperti ini masih didominasi oleh middle grade (1.5-1.7%Ni). Memasuki zona rocky saprolite, setempat terdapat garnierit, namun belum cukup untuk menaikkan grade ke posisi high, malah seringkali menurunkan Ni, menaikkan kadar SiO2 dan MgO karena sudah didominasi batuan.

“Di sini penyebab penambang “tacolo”, karena cut of grade yang dicari ada, namun volumenya terbatas,” ujarnya.

Hasanuddin Nurdin menjelaskan mengapa bisa “tacolo”.  

“Kondisi ini disebabkan data awal masih minim (test pit, pengeboran dangkal) tidak dilakukan sebelum mulai menambang. Mengandalkan pengamatan visual dan tren menambang di sekitarnya tanpa mempertimbangkan “ilmu amblas bumi” (profil laterite dari hasil pengeboran). Ini juga salah satu rIsiko menambang gaya “GSM” (Geser Sedikit Mati),” jelasnya. (Syarif).