Beranda Asosiasi Pertambangan PR SDG BRIN Usul Pemerintah Buat Sararan Antara untuk Menuju Produsen Baterai...

PR SDG BRIN Usul Pemerintah Buat Sararan Antara untuk Menuju Produsen Baterai dan Kendaraan Listrik Dunia

942
0

NIKEL.CO.ID, 9 Desember 2022 – Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Sumber Daya Geologi BRIN, Prof. Dr. Haryadi Permana menyarankan pemerintah untuk membuat strategi sasaran antara dalam mewujudkan Indonesia menjadi produsen baterai listrik dan kendaraan listrik terbesar di dunia. 

Hal itu menjawab pertanyaan dari nikel.co.id di acara zoom meeting bertema: Nikel Indonesia-Kajian Komprehensif daru Sumber Daya Geologi hingga Potensi Hilirisasi Produk Turunannya yang diselenggarakan oleh BRIN, pada Jumat (9/12/2022). 

“Jadi saya menyarankan ada sasaran-sasaran antara, misalkan hal-hal kecil dulu yang ada di kehidupan kita sehari-hari. Entah itu mainan atau peralatan olahraga. Selain itu juga menghasilkan keuntungan diputar balik menjadi ke arah kendaraan roda dua. Baru nanti untuk baterai kendaraan roda empat,” jawab Hariyadi.

Menurutnya, hal itu sebenarnya sudah beberapa kali ia sarankan karena untuk langsung ke industri baterai besar memerlukan infrastruktur yang kuat dari industri hulu nikel terlebih dahulu.

“Kalau kita langsung loncat bisa-bisa kita dibikin main-main. Lalu industrinya tidak kuat, itu hanya cita-cita saja nantinya. Karena menyangkut supply and demand,  dan lainnya,” ujarnya.

Sementara Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Metalurgi dan Material BRIN, Pof. Dr. Efendi, S.T.,M.T., berpandangan ke depan harus sudah menyiapkan industri daur ulang dari baterai itu sendiri.

“Saya terkejut ketika setelah Tesla mengakuisisi seluruh industri pengolahan limbah baterai. Ini kan dia sudah punya strategi ke depan, suatu hari ketika misalkan row materialnya itu sudah tercukupi, tidak perlu impor lagi dari Indonesia, tetapi mengambil dari baterai-baterai yang sudah ada,” tuturnya. 

Ia menegaskan, hilirisasi industri nikel harus sudah paralel antara keinginan Indonesia menjadi produsen baterai listrik maupun kendaraan listrik terbesar di dunia dengan industri pengolahan limbah (recycle).

“Karena keniscayaan suatu saat juga akan jenuh pasar itu, juga harga-harga akan turun di suatu saat nanti,” tegasnya.

Hariyadi berharap bahwa harusnya ada dari perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang ditunjuk pemerintah untuk membiayai dan mengakomodir hasil temuan dari para periset dan rekayasa dari yang terkecil saja, mulai dari industri mainan anak-anak hingga industri olahraga. 

Setelah semua industri tersebut memberikan keuntungan terhadap pendapatan negara dan mampu mandiri, sehingga tidak memerlukan modal dari kas negara lagi, maka pemerintah dan swasta mulai melakukan kebijakan untuk memajukan industri antara tersebut.

“Itulah harapan saya sebetulnya, karena kalau lihat di televisi yang pakai itu (baterai seperti alat) olahraga, yang dunia entertaint dulu. Karena, kalau sudah menyangkut ke kendaraan itu kan ada masalah perizinan, persaingan, dan lain-lain,” ungkapnya.

Ketua Kelompok Riset Baja dan Paduan Logam Spesial BRIN Efendi menambahkan, yang pertama harus ada good will dari pemerintah. Pemerintah sendiri sudah mulai membuka jalur dan memberikan kemudahan untuk menjadikan Indonesia sebagai produsen terbesar baterai dan kendaraan listrik di dunia.

Hal ini tampak ketika pemerintah kalah gugatan oleh Uni Eropa (UE) di WTO dalam kebijakan larangan ekspor raw material nikel. Namun pemerintah tetap jalan, salah satunya dengan membuat kebijakan ekspor produk olahan nikel akan dikenakan pajak. Karena itu, mau tidak mau, bijih nikel diolah di dalam negeri sehingga memberikan nilai tambah. 

Menurut dia, Indonesia sudah mampu membuat desain baterai EV dan Indonesia menjadi produsen baterai EV maupun kendaraan listrik terbesar di dunia adalah perjalanan panjang.

“Artinya, Indonesia harus bisa membuat baterai listrik yang handal, salah satunya dengan membuat seri NMC 811(kandungan nikel 80%, mangan 10%, dan cobalt 10%),” ujarnya. 

Efendi menjelaskan bahwa Indonesia sudah mampu menguasai pembuatan baterai EV. Ini dapat dilihat dari grafik antara jalur hidrometalurgi yang menghasilkan MHP untuk bahan baku prekursor baterai listrik. 

“Kalau tentang misal produsen electic vehicle itu tergantung regulasi pemerintah. Apakah kita akan membuat mobil sendiri atau ekspor juga salah satu opsi,” katanya. (Shiddiq)