Jokowi akan Bangun Kawasan Industri Hijau Terbesar di Dunia

NIKEL.CO.ID – Menteri Koordinator (Menko) Bidang Maritim dan Investasi (Marves) Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan melakukan peletakan batu pertama (groundbreaking) proyek kawasan industri hijau di Kalimantan Utara pada Oktober 2021.

Luhut mengatakan proyek tersebut akan menjadi kawasan industri hijau terbesar di dunia yang dibangun di lahan seluas lebih dari 20 ribu hektare (Ha). Ia bilang proyek ini merupakan kerja sama antara perusahaan asal Tiongkok Tsingshan Group dan perusahaan asal Australia Fortescue Metal Group Ltd.

“Saya kira proyeknya sangat besar dan Presiden akan groundbreaking pada Oktober tahun ini. Itu nanti merupakan the biggest green industrial park in the world,” kata Luhut, dalam acara Media Group News Summit Series bertajuk Indonesia Green Summit 2021, Selasa, 27 Juli 2021.

Adapun investasi yang digelontorkan untuk proyek ini sebesar USD100 miliar untuk hampir 10 tahun mendatang. Ia menjelaskan nantinya produk yang dihasilkan di kawasan tersebut yaitu produk ramah lingkungan mengikuti permintaan dunia.

“Setelah 2030 atau lebih awal pun orang sudah meminta produk clean energy, itulah sebabnya seperti di Kalimantan Utara mega proyek (dibangun),” tutur Luhut.

Proyek ini sejalan dengan rencana pemerintah untuk mengembangkan dan memproduksi baterai lithium untuk kendaraan listrik. Indonesia, kata Luhut, memiliki cadangan yang cukup untuk menjadi pemain utama di industri baterai. Misalnya saja nikel, cadangannya di Indonesia merupakan yang terbesar yakni 21 juta ton.

“Mobil listrik akan membutuhkan nikel, kebutuhan nikel untuk mobil listrik akan semakin tinggi,” ujar Luhut.

Lebih lanjut, kawasan industri ini akan berlokasi dekat dengan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Sungai Kayan dengan kapasitas 11 ribu megawatt (MW) yang investasinya berasal dari Fortescue Future Industries (FFI) Pty Ltd, anak usaha Fortescue Metals Group.

Investasi yang digelontorkan FFI sebesar USD12 miliar hingga USD14 miliar. PLTA ini terintegrasi dengan pabrik amonia ramah lingkungan.

Sumber: medcom.id

Read More

Profesor LIPI Buat Teknologi Ekstraksi Titanium dan Nikel

NIKEL.CO.ID – Profesor Riset Rudi Subagja dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengembangkan teknologi proses ekstraksi titanium, nikel dan tembaga. Teknologi ini bisa mendukung kemandirian industri nasional.

“Telah dikembangkan teknologi proses untuk memanfaatkan dan meningkatkan nilai tambah bijih ilmenit, nikel laterit kadar rendah, serta bijih tembaga malasit yang dimiliki Indonesia,” kata Rudi, Selasa (27/7/2021).

Rudi membacakan naskah orasi profesor risetnya berjudul “Pengembangan Teknologi Proses Ekstraksi Titanium, Nikel, dan Tembaga untuk Kemandirian Industri Nasional”. Rudi menuturkan Indonesia memiliki sumber daya mineral yang tersebar di beberapa daerah.

Mineral itu mempunyai peranan penting untuk memenuhi hajat hidup orang banyak. Namun, sumber daya mineral tersebut belum dimanfaatkan secara optimal karena masih terbatasnya kemampuan teknologi.

Untuk mengatasi permasalahan itu, Rudi mengembangkan teknologi proses ekstraksi untuk dapat memanfaatkan sumber daya mineral Indonesia. Khususnya bijih ilmenit, nikel laterit kadar rendah dan malasit.

Dari penelitian metalurgi ekstraksi yang dilakukan, Rudi mampu menghasilkan teknologi untuk membuat Titanium dioksida (TiO2) dari ilmenit Indonesia dan meningkatkan kandungan nikel dalam bijih nikel laterit kadar rendah Indonesia. Dia juga berhasil membuat logam nikel dengan kemurnian 99,7 persen, dan membuat logam tembaga dari bijih malasit.

“Teknologi proses pengolahan mineral yang dihasilkan menjadi modal dasar untuk menciptakan kemandirian industri nasional guna memanfaatkan dan meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral Indonesia, melengkapi mata rantai industri nasional, serta mengurangi ketergantungan impor TiO2, logam nikel dan tembaga,” ujar Rudi.

Rudi mengatakan penelitian tersebut dapat dijadikan rekomendasi untuk secara bersama-mengembangkan beberapa industri. Industri tersebut yakni pembuatan TiO2 dari ilmenit Indonesia dengan menggunakan teknologi proses dekomposisi ilmenit dengan Natrium hidroksida (NaOH).

Selain itu, juga rekomendasi industri pengolahan bijih nikel laterit kadar rendah menjadi konsentrat nikel dengan menggunakan teknologi thermal upgrading. Hasil penelitian itu juga bisa dimanfaatkan untuk pengembangan industri pengolahan malasit menjadi logam tembaga dengan proses pelarutan asam sulfat, dilanjutkan dengan proses pemurnian larutan, dan electrowinning untuk mendapatkan logam tembaga.

Sumber: REPUBLIKA

Read More

Bahlil: Pabrik Baterai Mobil Listrik Dibangun Agustus

NIKEL.CO.ID – Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengatakan groundbreaking tahap satu pabrik baterai mobil listrik PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC) dan Konsorsium LG asal Korea Selatan (Korsel) dimulai Agustus 2021.

“Insyaallah di bulan Agustus ini groundbreaking tahap pertama untuk pabrik baterai mobilnya. Ini menjadi yang pertama di Indonesia, bukan kacang goreng,” kata Bahlil dalam konferensi pers virtual, Selasa (27/7/2021).

Selain itu, Bahlil juga mengungkap pabrik mobil listrik yang dibangun perusahaan asal Korea Selatan, Hyundai Group ditargetkan pada Februari 2022 sudah mulai produksi.

“Pabrik mobil Hyundai yang nilai investasinya US$ 1,5 miliar ini dibangun terus, bulan dua atau tiga tahun 2022 itu sudah menghasilkan mobil listrik,” jelas Bahlil.

Sebagai informasi, Bahlil sebelumnya pernah mengungkap pabrik baterai mobil listrik mulai dibangun Juli 2021. Namun memang disebutkan pula paling lambat Agustus akan dibangun.

“LG ini sudah mulai groundbreaking bulan Juli, paling lambat Agustus awal kita sudah kita bangun, ini bukan cerita dongeng, ini sudah kita lakukan,” jelasnya dalam Rakornas dengan HIPMI secara virtual, Sabtu (19/6/2021).

Sementara pabrik mobil listrik Hyundai akan menjadi pusat basis produksi pertama Hyundai di kawasan ASEAN. Sales Director Hyundai Mobil Indonesia Erwin Djajadiputra pernah mengungkap pihaknya bisa mulai produksi mobil listrik akhir tahun ini.

“Sudah hampir mencapai 90% dan akan selesai kurang lebih di bulan Juli ini di mana di akhir tahun ini kita sudah bisa mulai memproduksi,” ujar dia Senin (12/4/2021).

Sumber: detik.com

Read More

LIPI: Terbatasnya Penguasaan Teknologi, Indonesia Belum Optimal Kelola Sumber Daya Alam

NIKEL.CO.ID – Peneliti Utama Metalurgi Proses Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Dr. Ir. Rudi Subagja menilai, walaupun memiliki banyak sumber daya, Indonesia belum melakukan pengolahan secara optimal karena terbatasnya penguasaan teknologi. Ia mengharapkan melalui risetnya terkait ekstrasi titanium, nikel dan tembaga, dapat mendukung kemandirian industri Indonesia.

“Industri Indonesia akan tersokong dengan adanya pemanfaatan dan peningkatan nilai tambah sumber daya mineral. Semakin lengkapnya mata rantai industri nasional dan tentunya, dalam jangka panjang akan mengurangi ketergantungan impor TiO2, logam nikel dan tembaga,” kata Rudi dalam pembacaan orasi ilmiah sebagai profesor riset LIPI, Selasa (27/7/2021).

Ia menyatakan, teknologi proses pengolahan mineral yang dihasilkan akan menjadi modal dasar untuk menciptakan kemandirian industri nasional.

“Dengan memanfaatkan teknologi, maka dari ilmenit Indonesia dapat diperoleh Titanium dioksida (TiO2) dengan kandungan 95-98 persen. Dapat juga meningkatkan kandungan nikel pada bijih nikel laterit kadar rendah yang biasanya memiliki kandungan 1-2 persen akan menjadi nikel dengan kadar 99,7 persen dan membuat logam tembaga dari bijih malasit,” ucapnya.

Ia menguraikan, untuk pembuatan TiO2 dari ilmenit Indonesia, yang dilakukan adalah mengaplikasikan teknologi proses dekomposisi ilmenit dengan natrium hidroksida (NaOH) yang dilanjutkan dengan proses pelarutan dengan asam sulfat (H2SO4) dan proses hidrolisis larutan titanyl sulfat (TiOSO4).

“Sementara untuk industri pengolahan bijih nikel laterit kadar rendah menjadi konsentrat nikel dengan kadar lebih tinggi, akan menggunakan teknologi termal upgrading dan pembuatan senyawa nikel serta logam nikel akan menggunakan teknologi hydro dan elektrometalurgi,” ucapnya lagi.

Rudi menyebutkan pengembangan penelitian metalurgi ekstraksi ini akan mampu untuk menyokong program rencana induk pembangunan nasional Indonesia 2015 – 2035.

“Hasil penelitian ini menghasilkan beberapa rekomendasi pada pemangku kepentingan yaitu kerja sama dengan pihak industri akan mengembangkan produk turunan ilmenit dan nikel laterit, pemanfaatan monasit secara optimal, pengembangan ilmenit dam nikel laterit untuk implant material, pengembangan urban minning process, ekstraksi logam dari lumpur anoda dan pengembangan proses geohydrometalurgi,” ujarnya.

Ia menyatakan semua hasil penelitian ini tidak akan bisa mendukung kemandirian industri nasional tanpa ada dukungan dari para pemangku kepentingan.

“Dengan adanya komitmen, kerja sama, dukungan dan keterlibatan para pemangku kepentingan yang diwujudkan dalam kebijakan akan menjadi modal dasar bagi para peneliti untuk lebih mendalami penelitian. Misalnya kebijakan keringanan, kemudahan perizinan dalam implementasi hasil penelitian dan peningkatan keberpihakan BUMN,” pungkasnya.

Sumber: cendananews.com

Read More

Faisal Basri: Nikel Indonesia 90 Persen Dinikmati China

NIKEL.CO.ID – Ekonom Faisal Basri menyatakan Indonesia hanya menikmati 10 persen keuntungan dari nikel sementara 90 persen diangkut ke China.

“Dari proses pengolahan dari biji nikel hingga produk smelter, maksimum yang tinggal di wilayah Republik Indonesia ini hanya 10 persen. Sementara 90 persen dinikmati China,” kata Faisal Basri dalam perbincangan di Channel Refly Harun, Selasa (27/7/2021).

Menurut pengajar Universitas Indonesia ini, Indonesia menjadi ektensi Pemerintah China untuk mendukung industrialisasi di Tiongkok.

“Harusnya sebagian besar (keuntungan) ke kita. Kalau hitungan korporasi hitungannya berapa modal yang disetor. Kita punya biji timah, kita punya tanah, kita punya tenaga kerja,” ujarnya.

“Kalau misalnya di kasus minyak di masa lalu, itu bagi hasilnya 85 persen untuk Pemerintah dan 15 persen untuk kontraktor setelah segala biaya ditanggung oleh Pemerintah. Namanya cost recovery,” kata Faisal Basri.

“Seluruh ongkos dihitung dulu dan ditangung Pemerintah kemudian 85 persen masuk ke Pemerintah,” jelasnya. “Memang cost revovery-nya naik terus karena semakin lama minyaknya semakin dalam dan makin sulit didapat. Yang penting tambahan pendapatn kita lebih besar dari ongkos,” tambahnya.

Baterei Mobil Listrik

Sejumlah pembangunan smelter di Morowali atau Konawe, kata Faisal Basri mengusung tema sama sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) atasnama membangun baterei untuk mobil listrik. Padahal, sambung Faisal Basri, sampai saat ini belum ada perusahaan yang membangun baterei mbil listrik di Indonesia.

“Yang mereka lakukan adalah mengolah biji timah menjadi sebagian besar NPI (Nickel Pig Iron),” ujarnya. “Kira-kira sudah diolah 20-25 persen,” sambungnya.

“Jadi ini masih di hulu nih belum di hilir. Katanya hilirisasai,” ujar Faisal Basri. Sebagian besar Pig Iron diekspor ke China untuk diolah lebih lanjut di China.

“Mereka bisa membeli biji nikel dengan harga sepertiga atau seperempat harga internasional. Makanya mereka berbondong-bondong datang ke sini. Karena kalau pabriknya tetap di China mereka membeli dengan harga 100 misalnya per ton atau per kilogram kalau mereka pindahkan pabriknya ke Indonesia mereka bisa dapatkan harga 25-35 saja,” papar Faisal Basri.

Kenapa bisa begitu? Menurut Faisal Basri karena ekspor biji nikel dilarang. Akibatnya harga turun. Ditambah lagi kadar nikel juga dicek. Dan surveyornya bukan dari Indonesia atau Sucofindo melainkan mereka ditunjuk oleh pembeli atau trader yang menjadi kaki tangan China di Indonesia.

“Petambang biji nikel tidak boleh jual langsung melainkan harus lewat trader. Intinya kenapa harus pakai calo. Mereka ini kaki tangan (China) di dalam negeri,” ujarnya.

“Kalau surveyor menyebutkan kadar nikel itu di bawah ketentuan, mereka kasih penalti. Turunkan lagi harganya. Mereka tidak mengikuti harga pokok yang ditentukan pemerintah. Mereka ngancam-ngancam, mereka akan pindah ke Filipina. Karena di Filipina juga banyak nikel,” ujarnya.

Nikel yang diekspor ke China, kata Faisal Basri diolah menjadi sendok, garpu, pisau, jadi lembaran baja tahan karat high quality dan kemudian kita impor lagi,” jelas ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) ini.

Faisal Basri menyatakan telah memberikan data yang ditemukannya itu ke Menteri Koordinator Investasi dan Maritim Luhut Binsar Pandjaitan dan juga kepada Menteri BKPM Bahlil Lahadalia. Faisal Basri mengaku mendapat data tersebut secara pribadi dari China dan juga di dalam negeri.

“Saya dapatkan sendiri data dari China dan dalam negeri. Saya dapatkan sendiri, sekretaris pun tidak tahu,” ujarnya.

Sumber: elangnews.com

Read More

Setelah Tiga Kali Mangkir, Kejati Sultra Tetapkan Direktur PT Toshida Indonesia Jadi DPO

NIKEL.CO.ID – Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulawesi Tenggara (Sultra) terus berusaha untuk menuntaskan kasus korupsi pertambangan. Setelah menetapkan daftar Pencarian Orang (DPO) terhadap tersangka Direktur PT Toshida Indonesia La Ode Sinarwan Ode, kejaksaan melacak keberadaannya.

Asisten Intelejen Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara Noer Adi mengatakan, saat ini pihaknya telah mengatongi surat penangkapan terhadap DPO La Ode Sinarwan Ode. Hasil pelacakan, posisi terakhir tersangka berada di Jakarta.

Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara Sarjono Turin mengatakan Direktur PT Toshida Indonesia La Ode Sinarwan Oda  sudah berstatus buronan karena selalu  mangkir saat dipanggil jaksa terkait kasus korupsi pertambangan di Sulawesi Tenggara.

La Ode Sinarwan Oda merupakan salah satu tersangka korupsi tambang. Tiga tersangka lain telah ditahan.

Sarjono menambahkan La Ode Sinarwan Oda telah ditetapkan  sebagai tersangka kasus korupsi pertambangan bersama Mantan Plt Kadis Pertambangan Sultra Buhardiman, mantan Kepala Bidang Minerba Yusmin dan seorang Genera Manajer  PT Toshida Indonesia bernama Umar.

Ketiga tersangka telah dimasukkan ke penjara. Sejak jadi tersangka La Ode Sinarwan Oda telah dipanggil sebanyak tiga kali, namun mangkir.

Panggilan pertama 17 Juni, kedua 23 Juni dan panggilan terakhir awal Juli. Tersangka melalui kuasa hukumnya beralasan sakit, sehingga  tidak pernah menghadiri panggilan.

Kasus yang melibatkan keempat tersangka terkait dengan penyalahgunaan kawasan hutan dan persetujuan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB)  PT Toshida Indonesia. Mereka dijerat pasal 2 ayat 1 dan pasal 3 ayat UU Tipikor  no 31 /1999 seperti diubah dengan UU no 20/2001 dengan ancaman hukuman seumur hidup dan atau paling lama 20 tahun penjara.

Penyelidikan kasus korupsi tambang berawal pada 2007, saat  PT Toshida mendapat IUP Pertambangan bijih nikel seluas 5.265,70 hektare  dari Bupati Kolaka. Pada 2010, lagi-lagi, perusahaan diberi izin IUP Operasi Produksi dengan luasan yang sama.

Namun, sampai sekarang PT Toshida dengan sengaja tidak memenuhi kewajiban perusahaan, yakni membayar pajak senilai total Rp190 miliar.

Sumber: Media Indonesia

Read More

Luhut Bantah Tudingan Soal TKA dari China yang Tak Kompeten Masuk RI

NIKEL.CO.ID – Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan (LBP) membantah tudingan soal penggunaan tenaga kerja asing (TKA) asal China yang dinilai tak berkompeten namun leluasa masuk ke Indonesia.

LBP juga membantah bahwa ada jutaan TKA asal China yang masuk ke Indonesia.

Ia menegaskan hanya ada kisaran 30 ribu TKA di Indonesia, namun hanya berkisar belasan ribu TKA yang berasal dari China.

“Saya mau undang baik-baik orang (yang mengatakan ada jutaan TKA asal China di RI) itu baik-baik supaya ditunjukkan dimana. Karena itu kan pembohongan,” kata Menko Marves saat di wawancara presenter Andy F Noya di acara TV, Minggu (25/7/2021).

Menteri Luhut menjelaskan pemerintah ingin mengekspor row material seperti nikel menjadi barang turunan untuk mendapatkan nilai tambah.

Contohnya dalam bentuk lithium baterai, selain itu barang turunan tersebut juga bisa kembali di daur ulang.

Setelah ia melakukan survei, hanya negara China yang bisa melakukan itu. Dia juga menilai bahwa China juga memiliki teknologi yang maju dan bersedia melakukan transfer ilmu dan teknologi kepada Indonesia.

“Indonesia beruntung, pas teknologi mereka (China) sudah naik, kita datang dan mereka pas butuh. Sekarang ada 7 integrated industri di Indonesia Timur yang membuat teknologi industri Timur jadi naik, yang dulu 70 persen ekonomi Indonesia hanya di Jawa dan Sumatera,” kata Luhut.

“Sekarang 3 ekonomi Indonesia yang surplus itu semua di Indonesia Timur. Morowali mungkin 7 persen, di Halmahera sekian belas persen. Karena industri tadi,” lanjutnya.

Luhut mengatakan ingin melihat ada lompatan besar di industri nikel, namun menurutnya investasi yang menguntungkan tersebut malah yang dihebohkan oleh masyarakat.

Padahal ia berharap teknologi riset produk turunan nikel juga ada di Indonesia, dimana China siap melakukan investasi dan transfer ilmu maupun teknologi itu serta tanpa menambah beban hutang.

Tidak seperti Amerika, China menurutnya merupakan negara yang mudah diajak investasi dan tanpa mengajukan syarat yang rumit.

Sedangkan negara seperti Amerika misalnya, kerap mengajukan syarat yang rumit dan ujung-ujungnya tidak jadi melakukan investasi.

“Negara yang mau diajak investasi dan gak minta macam-macam cuma China,” ujar Luhut.

Ia mengklaim bahwa TKA asal China yang datang ke Indonesia adalah tenaga kerja ahli yang melakukan transfer ilmu dan menyiapkan tenaga kerja yang dapat memimpin di industri kedepannya.

Luhut juga membantah TKA asal China yang masuk di Indonesia merupakan tentara ataupun intel yang mau mengambil alih kekuasaan di Indonesia.

“Saya tidak percaya kalau ada orang menjajah negara kepulauan seperti Indonesia (sekarang ini). Yang saya percaya hanya 2, dia menjajah secara ekonomi dan secara teknologi. Itu sebabnya saya mau ada teknologi transfer. Presiden sama pemikirannya,” ujar Luhut.

“Uni Eropa membawa kita ke WTO agar barang row material kita dibawa ke sana. Saya bilang, kapan kami menyelesaikan masalah kemiskinan kami kalau kami tidak punya nilai tambah itu,” pungkasnya.

Sumber: tribunnews.com

Read More

Ini Daftar Daerah di RI Penyimpan Harta Karun Nikel Terbesar

NIKEL.CO.ID – Indonesia ternyata pemilik harta karun nikel terbesar di dunia. Indonesia disebut memiliki cadangan nikel sebesar 72 juta ton Ni (nikel) atau setara 52% dari total cadangan nikel dunia yang tercatat mencapai 139.419.000 ton Ni.

Data tersebut merupakan hasil olahan data dari USGS Januari 2020 dan Badan Geologi 2019, dikutip dari booklet bertajuk “Peluang Investasi Nikel Indonesia” 2020 yang dirilis Kementerian ESDM.

“Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, artinya Indonesia berperan penting dalam penyediaan bahan baku nikel dunia,” tulis keterangan data tersebut.

Lantas, daerah mana saja yang menyimpan harta karun nikel terbesar di Tanah Air? Berikut daftarnya, mengutip sumber yang sama dari data Kementerian ESDM 2020 tersebut.

1. Sulawesi, tepatnya di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara

Sebesar 77% wilayah di daerah ini berpotensi pembawa mineralisasi dan belum ada Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP).

Adapun cadangan bijih nikel di Sulawesi ini mencapai 2,6 miliar ton bijih.

Banyaknya sumber daya nikel di daerah ini tak ayal banyak Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang diterbitkan. Hingga September 2020 tercatat IUP nikel di Sulawesi Tenggara mencapai 154 IUP dan 1 pemegang Kontrak Karya (KK), lalu 85 IUP di Sulawesi Tengah, dan 3 IUP di Sulawesi Selatan.

Ada tiga kawasan industri nikel di Sulawesi yakni:
1. Kawasan Industri Morowali
2. Kawasan Industri Konawe
3. Kawasan Industri Bantaeng.

2. Maluku, baik Maluku maupun Maluku Utara

Terdapat 43% wilayah potensi pembawa mineralisasi dan belum ada WIUP. Diperkirakan memiliki cadangan bijih nikel hingga 1,4 miliar ton bijih.

Maluku Utara menjadi daerah paling banyak pemegang IUP nikel di kawasan Maluku ini yaitu 44 IUP dan 1 KK, sementara Maluku hanya terdapat 2 IUP nikel.

Di Maluku Utara terdapat satu kawasan industri khusus nikel yakni di Weda Bay, Halmahera Selatan, Maluku Utara.

3. Papua, termasuk Papua dan Papua Barat

Terdapat 98% wilayah potensi pembawa mineralisasi dan belum ada WIUP. Papua diperkirakan memiliki cadangan bijih nikel mencapai 0,06 miliar ton bijih.

Ada tiga IUP dan 1 KK di Papua Barat, dan 1 IUP dan 1 KK di Papua. Namun tidak ada kawasan industri khusus nikel di Papua maupun Papua Barat.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Tujuh Fakta Menarik Nikel, Bahan Baku Baterai Mobil Listrik

NIKEL.CO.ID – Perusahaan mobil listrik asal Amerika Serikat, Tesla, dikabarkan meninggalkan Indonesia dan mencapai kesepakatan dengan perusahaan Australia untuk memasok nikel yang dipakai untuk pembuatan baterai.

Indonesia merupakan salah satu negara dengan sumber daya bijih nikel yang melimpah. Menurut pemetaan Badan Geologi tahun 2020, Indonesia memiliki 11.887 juta ton bijih nikel dan 4.346 juta ton cadangan bijih.

Nikel adalah salah satu jenis logam yang memiliki warna putih keperakan. Logam ini merupakan hasil tambang yang berasal dari sisa makhluk hidup atau tubuhan yang telah terkubur di tanah dalam waktu yang sangat lama.

Selain fakta-fakta di atas, ternyata nikel memiliki beberapa fakta menarik yang lain. Melansir dari laman Livescience, berikut ini tujuh fakta menarik dari nikel:

1. Dinamai ‘iblis tembaga’

Penemu pertama bijih nikel adalah para penambang di Jerman pada tahun 1600-an. Mereka keliru mengira bijih nikel sebagai bijih tembaga jenis baru dan mencoba mengekstraksinya namun gagal. Karena frustasi, mereka menyebutnya sebagai menamai bijih tersebut dengan kupfernickel atau “setan tembaga” dalam mitologi Jerman.

Pada 1751, Baron Axel Fredrik Cronstedt mengganti nama kupfernickel menjadi nikel. Ia merupakan ahli kimia asal Swedia yang menemukan fakta bahwa nikel merupakan unsur baru dengan sifat yang berbeda dari tembaga.

2. Merupakan unsur terbanyak ke-2 di inti bumi

Nikel adalah unsur terbanyak ke-5 di kerak bumi. Nikel bisa ditemukan dengan konsentrasi 100 kali lipat di perut bumi. Oleh karena itulah, nikel diyakini sebagai unsur terbanyak ke-2 di inti bumi setelah besi.

3. Mempunyai peran penting dalam industri material

Nikel memiliki banyak manfaat. Umumnya digunakan sebagai lapisan luar untuk logam yang lebih lunak. Nikel banyak dijadikan pilihan dalam pembuatan super aloy (campuran logam super) karena mampu menahan suhu yang sangat tinggi.

Nikel dapat digunakan untuk memproduksi stainless steel, peralatan militer, koin, baterai, hingga komponen elektronik.

4. Terkandung dalam meteroit

Meteorit adalah batu luar angkasa yang jatuh ke bumi. Kebanyakan meteorit memiliki kandungan logam nikel-besi. Bangsa Mesir Kuno sering memanfaatkan batu meteorit kaya nikel ini untuk membuat alat-alat kecantikan. Hal tersebut dibuktikan dengan penemuan manik-manik dari meteroit pada sebuah makam berusia 5 ribu tahun di tepi barat Sungai Nil.

5. Satu dari empat unsur logam yang bersifat feromagnetik

Nikel memiliki sifat feromagnetik. Artinya, nikel dapat ditarik oleh magnet ataupun dibuat menjadi magnet. Magnet Alnico yang terbuat dari kombinasi aluminium (Al), nikel (Ni) dan kobalt (Co) adalah magnet permanen yang sangat kuat. Magnet ini mampu mempertahankan daya magnetnya bahkan ketika dipanaskan sampai bersinar merah.

6. Dapat menyebabkan alergi

Alergi nikel merupakan salah satu penyebab paling umum dari alergi kontak dermatitis. Bagi sebagian orang, bersentuhan langsung dengan logam nikel dapat mengakibatkan gatal-gatal atau ruam pada kulit. Alergi ini biasanya berkaitan dengan perhiasan yang terbuat dari emas putih.

7. Merupakan unsur penting yang diperlukan tanaman untuk hidup

Kita dapat menemukan unsur nikel dalam berbagai macam sayuran, buah-buahan, hingga kacang-kacangan. Hal ini lantaran nikel adalah unsur yang cukup penting bagi kesehatan tanaman.

Meski begitu, nikel bisa sangat berbahaya jika masuk ke dalam tubuh manusia dalam jumlah besar. Paparan nikel yang berlebihan dapat meningkatkan risiko kanker paru-paru, fibrosis dan penyakit lainnya.

Sumber: tempo.co

Read More

Kelanjutan Investasi Smelter Tsingshan Belum Pasti

NIKEL.CO.ID – Nasib rencana investasi smelter perusahaan asal China, Tsingshan kini belum menemui kepastian pasca tak jadi menggandeng PT Freeport Indonesia (PTFI).

Freeport Indonesia memastikan tidak akan melanjutkan rencana kerja sama dengan Tsingshan usai tak mencapai kata sepakat.

Menanggapi kondisi ini, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pun belum bisa memastikan kelanjutan investasi smelter Tsingshan yang sedianya bakal dibangun di Weda Bay, Halmahera tengah.

“Belum ada informasi ke (Ditjen) Minerba,” ungkap Direktur Jenderal Mineral dan Batubara, Ridwan Djamaluddin, Jumat (23/7/2021).

Seperti diketahui, PTFI memastikan bakal melanjutkan proyek smelter di Manyar, Gresik. PTFI  telah meneken kontrak kerja sama untuk kegiatan engineering, procurement, dan construction (EPC) proyek smelter Manyar dengan PT Chiyoda International Indonesia pada Kamis (15/7/2021) lalu. Nilai investasi diperkirakan mencapai US$ 2,7 miliar.

Dalam catatan Kontan, Freeport tertarik untuk kerjasama dengan Tsingshan lantaran perusahaan asal China itu akan membiayai sebagian investasi (capex) yang diperlukan untuk membangun smelter.

Tsingshan pun disebut memiliki teknologi yang bisa menekan capex sehingga lebih efisien. Hal ini dapat mengatasi keluhan Freeport yang selama ini digembar-gemborkan proyek smelter yang merugikan secara keekonomian.

Dari sisi pembiayaan, Tsingshan disebut siap untuk menanggung 92,5% biaya proyek, sedangkan 7,5% sisanya akan ditanggung oleh Freeport.  Adapun, kapasitas yang akan dibangun sebanyak 2,4 juta ton dengan biaya sekitar US$ 2,5 miliar.

Sumber: KONTAN

Read More