Ifishdeco Targetkan Penjualan Bijih Nikel 2 Juta Ton di Tahun 2021

NIKEL.CO.ID PT Ifishdeco Tbk (IFSH) mendongkrak target penjualan bijih nikel pada tahun ini. IFSH membidik volume penjualan bijih nikel hingga 2 juta metrik ton (MT) pada 2021, naik lebih dari dua kali lipat dibandingkan realisasi pada 2020.

Sekretaris Perusahaan Ifishdeco Christo Pranoto membeberkan, pada tahun lalu, penjualan bijih nikel IFSH mencapai 781.767 MT. Angka itu mencapai 98% dari target tahun 2020 yang sebesar 800.000 MT.

Realisasi penjualan tahun 2020 jauh lebih rendah dibandingkan realisasi 2019 yang mencapai 2.264.400 MT. Christo menjelaskan, ada sejumlah alasan mengapa realisasi penjualan IFSH anjlok pada 2020.

Pertama, adanya penghentian izin ekspor pada akhir tahun 2019. Sehingga, pada 2020 penjualan terbatas pada pasar domestik yang mana pangsa pasarnya lebih mini dibandingkan pasar ekspor.

Kedua, pelaku usaha menunggu terbitnya aturan tata niaga nikel terkait pengaturan Harga Patokan Mineral (HPM). Aturan yang ditetapkan oleh Kementerian ESDM tersebut membuat harga bijih nikel di dalam negeri bisa lebih baik.

Selanjutnya, realisasi penjualan tahun lalu juga dipengaruhi oleh faktor pandemi covid-19 dan cuaca ekstrem.

“Pandemi covid-19 yang mempengaruhi mobilitas operasional. Juga cuaca ekstrem dengan musim hujan yang panjang,” terang Christo, Minggu (31/1/2021).

Pada 2021, IFSH berencana untuk kembali mendongkrak penjualan ke level 2 juta MT. Hal itu sudah disetujui dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pada tahun ini.

Christo bilang, kenaikan kinerja pada 2021 diharapkan datang dari tren kenaikan harga bijih nikel melalui HPM yang berbasis pada harga nikel London Metal Exchange (LME).

“Khususnya harga pasar bijih nikel diharapkan akan memiliki tren meningkat dengan adanya sentimen pasar terhadap potensi peningkatan kebutuhan bijih nikel dalam produksi baterai untuk kendaraan listrik,” terangnya.

Lebih lanjut, rencana peningkatan volume penjualan didorong dengan proyeksi kenaikan permintaan pasar domestik seiring dengan penambahan smelter baru yang beroperasi maupun dari peningkatan kapasitas produksi smelter eksisting.

Selain itu, sambung Christo, kinerja IFSH pada tahun ini akan ditunjang dengan peningkatan daya tampung jetty, serta penambahan kontraktor yang akan mendukung produktivitas penambangan.

Untuk mendukung target penjualan 2 juta MT tersebut, IFSH akan mengalokasikan belanja modal alias capital expenditure (capex) sebesar Rp 9 miliar. Capex itu digunakan untuk perbaikan jetty, pembelian alat laboratorium, kendaraan dan peralatan operasional.

Rencana ekspansi

Christo menyampaikan, IFSH juga tetap mengusung rencana ekspansi termasuk dalam lahan tambang baru.

“Tetap dijalankan yang dilakukan dengan prinsip kehati-hatian,” katanya.

Contohnya ialah PT Patrindo Jaya Makmur, yang saat ini telah menjadi bagian dalam group IFSH. PT Patrindo ini direncanakan akan segera berproduksi dan berpotensi menambah volume bijih nikel IFSH hingga 500.000 MT.

Selain itu, strategi bisnis IFSH pada 2021 ialah dengan optimalisasi eksploitasi cadangan bijih nikel pada lahan Izin Usaha Pertambangan (IUP) milik IFSH, dengan memperhatikan ketersediaan cadangan.

Hal itu penting untuk memastikan ketersediaan dalam memenuhi kebutuhan smelter IFSH di bawah anak usahanya, yakni PT Bintang Smelter Indonesia (BSI).

Dari sisi hilirisasi, IFSH juga masih berfokus untuk menyelesaikan proyek smelternya. Untuk smelter Blast Furnace, saat ini PT BSI dalam penjajakan kerjasama dengan perusahaan smelter dari China yang memiliki teknologi atau peralatan untuk memodifikasi smelter Blast Furnace miliki PT BSI.

“Sehingga smelter Blast Furnace dapat berproduksi dengan lebih efisien. Kalau memang jadi berkontrak dengan partner yang memiliki teknologi efisien, diharapkan akhir 2021 atau awal 2022 bisa mulai produksi komersial,” sebut Christo.

Untuk proyek smelter dengan teknologi rotary kin electric furnace (RKEF), hingga sekarang IFSH masih dalam proses mencari pendanaan baik dari lokal maupun luar negeri. Hal itu dilakukan untuk dapat merealisasikan kerjasama dengan mitra strategis dalam membangun dan mengoperasikan smelter RKEF tersebut.

“RKEF target financial close akhir 2021, kemungkinan bisa produksi akhir 2023 atau awal 2024,” pungkas Christo.

Sumber: KONTAN

Read More

Ribuan Lubang Tambang Tak Direklamasi? Begini Data ESDM

NIKEL.CO.ID – Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) mencatat pada 2020 ada sebanyak 3.092 lubang tambang yang tidak direklamasi di Indonesia, termasuk 814 di antaranya terdapat di Kalimantan Selatan.

Hal tersebut disampaikan oleh Koordinator Jatam Merah Johansyah, Jumat (29/01/2021).

Bagaimana data versi pemerintah? Apakah data Jatam tersebut sama dengan data pemerintah?

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, realisasi reklamasi pada 2020 mencapai 9.694 Hektar (Ha), melampaui target tahun 2020 yang sebesar 7.000 Ha.

Jumlah lahan yang direklamasi pada 2020 tersebut disebutkan meningkat dari 2019 yang tercatat sebesar 7.626 Ha.

“Adapun target reklamasi untuk 2021 sebesar 7.025 Ha,” ungkap keterangan Ditjen Minerba Kementerian ESDM yang dipublikasikan di situsnya, dikutip Jumat (29/01/2021).

Adapun realisasi pendanaan jaminan reklamasi dan pascatambang pada 2020 yakni 93,42% untuk pemenuhan penempatan jaminan reklamasi dan 92,68% pemenuhan penempatan jaminan pascatambang.

Berdasarkan Undang-Undang No.3 tahun 2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara (UU Minerba), pemegang IUP/ IUPK wajib melaksanakan reklamasi dan pascatambang hingga tingkat keberhasilan 100%.

Pengaturan sanksi pidana penjara lima tahun dan denda hingga Rp 100 miliar bagi pihak yang tidak melaksanakan reklamasi dan atau pascatambang serta menempatkan jaminan reklamasi dan atau pascatambang.

Pada Peraturan Pemerintah No.78 tahun 2010, sanksi administrasi bagi perusahaan yang melanggar ketentuan kewajiban penempatan jaminan reklamasi dan atau jaminan pascatambang dan pelaksanaan reklamasi dan atau pascatambang.

Sanksi administrasi berupa peringatan, penghentian sementara kegiatan hingga pencabutan izin.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Data Pengangguran AS Menurun Berdampak Positif Pada Naiknya Harga Logam Dasar di Shanghai

NIKEL.CO.ID – Harga Logam nonferrous di SHFE sebagian besar naik pada sesi perdagangan hari Jumat (29/01/2021) pagi, menahan kenaikan semalam, karena release pertama kali AS untuk tunjangan pengangguran turun pada pekan yang berakhir pada 23 Januari lalu.

Logam dasar Shanghai semua ditutup lebih tinggi dalam perdagangan semalam (28/01/2021). Tembaga bertambah 0,26%, aluminium menguat 0,68%, seng 0,41%, timbal menguat 0,52%, nikel menguat 0,55% dan timah naik 0,89%.

Kompleks LME, kecuali aluminium dan timbal, juga mengalami kenaikan. Tembaga naik 0,78%, seng naik 0,68%, nikel naik tipis 0,06% dan timah menguat 1,18%, sedangkan aluminium turun 0,3% dan timbal turun tipis 0,02%.

Tembaga: Tembaga LME tiga bulan naik ke sesi tertinggi $ 7.928 / mt sebelum memangkas beberapa kenaikan untuk berakhir pada $ 7.904 / mt pada hari Kamis.

Kontrak tembaga SHFE 2103 yang paling banyak diperdagangkan melonjak ke sesi tertinggi 58.460 yuan (US$ 9.047,43)/ mt sebelum melepaskan beberapa keuntungan untuk ditutup 0,26% lebih tinggi pada 58.150 yuan (US$ 8.999,46)/ mt dalam perdagangan semalam.

Jumlah orang yang melamar tunjangan pengangguran AS pada akhir Januari turun ke level terendah dalam tiga minggu, tetapi PHK masih tinggi di awal tahun baru karena ekonomi bergumul dengan lonjakan musim dingin dalam pandemi virus corona. Klaim pengangguran awal yang diajukan secara tradisional melalui negara bagian turun 67.000 menjadi 847.000 yang disesuaikan secara musiman dalam tujuh hari yang berakhir 23 Januari lalu, kata pemerintah pada Kamis (28/01/2021). Tiga indeks saham utama AS semuanya ditutup lebih tinggi, dan indeks dolar AS pada satu titik jatuh ke sekitar 90,4, yang mendorong kontrak berjangka tembaga.

Tembaga LME diperkirakan diperdagangkan antara $ 7.860-7.940 / mt hari ini, dan tembaga SHFE antara 57.900-58.400 yuan (US$ 8.960,77 – 9.038,15)/ mt, sedangkan tembaga spot akan diperdagangkan dengan premium 10-90 yuan (US$ 1,55 – 13,93)/ mt.

Aluminium: Aluminium LME tiga bulan turun 0,3% menjadi $ 1.981,5 / mt pada hari Kamis. Kontrak aluminium paling aktif SHFE 2103 bertambah 0,68% menjadi ditutup pada 14.910 yuan (US$ 2307,51)/ mt dalam perdagangan semalam, dengan open interest turun 1.862 lot menjadi 162.779 lot.

Inventaris sosial ingot aluminium primer di delapan area konsumsi di China, termasuk surat perintah SHFE, meningkat 13.000 mt dari Kamis lalu menjadi 682.000 mt pada 28 Januari.

Aluminium LME kemungkinan akan diperdagangkan antara $ 1.980-2.000 / mt hari ini, dan aluminium SHFE antara 14.600-14.950 yuan (US$ 2.259,54 – 2.313,70)/ mt, sementara premi spot akan terlihat pada 10-60 yuan (US$ 1,55 – 9,29)/ mt.

Seng: Seng LME tiga bulan naik 0,68% menjadi ditutup pada $ 2.589 / mt pada hari Kamis setelah mencapai titik terendah baru pada tahun 2021 di $ 2.552 / mt di awal sesi, dengan minat terbuka kehilangan 616 lot menjadi 231.000 lot. Stok seng di gudang yang terdaftar di LME turun 700 mt atau 0,42% menjadi 293.800 mt. Dolar AS yang melemah, naiknya indeks saham utama AS dan klaim tunjangan pengangguran yang lebih rendah dari perkiraan mendorong selera risiko di pasar. Seng LME diperkirakan akan berfluktuasi antara $ 2.560-2.610 / mt hari ini.

Kontrak seng SHFE 2103 yang paling banyak diperdagangkan berakhir 0,41% lebih tinggi pada 19.590 yuan (US$ 3.031,80)/ mt dalam perdagangan semalam. Kemungkinan akan bergerak antara 19.300-19.800 yuan (US$ 2.986,92 – 3.064,30)/ mt hari ini, sementara premi spot untuk domestik 0 # Shuangyan akan terlihat pada 180-190 yuan (US$ 27,86 – 29,40)/ mt terhadap kontrak Februari.

Nikel: Kontrak nikel SHFE 2104 yang paling banyak diperdagangkan diselesaikan 0,55% lebih tinggi pada 132.400 yuan (US$ 20.490,59)/ mt dalam perdagangan semalam, dengan bunga terbuka meningkat 11.000 lot menjadi 128.000 lot. Apakah kontrak bisa stabil di atas 133.000 yuan (US$ 20.583,45)/ mt hari ini akan dipantau.

Timbal: Timbal LME tiga bulan memantul ke level terendah lebih dari satu minggu di $ 2.007,5 / mt ke tertinggi intraday di $ 2.047 / mt sebelum melepaskan beberapa kenaikan untuk mengakhiri 0,02% lebih rendah pada $ 2.027,5 / mt pada hari Kamis. Saham-saham utama LME memperpanjang penurunan, menyusut 3.025 mt menjadi 10.415 mt.

Kontrak utama SHFE 2103 yang paling likuid naik 0,52% menjadi 15.445 yuan (US$ 2.390,31)/ mt dalam perdagangan semalam.

Timah: Timah LME tiga bulan naik 1,18% menjadi $ 23.070 / mt pada hari Kamis, dan diperkirakan akan bergerak antara $ 22.000-24.000 / mt hari ini karena kekhawatiran tentang pasokan timah kemungkinan akan mendukung harga timah dalam jangka pendek.

Kontrak timah SHFE 2103 yang paling likuid ditutup 0,89% lebih tinggi pada 173.120 yuan (US$ 26.792,54)/ mt dalam perdagangan semalam, dengan open interest naik 1.895 lot menjadi 31.061 lot. Kemungkinan akan berfluktuasi antara 170.000-175.000 yuan (US$ 26.309,68 – 27.083,49)/ mt hari ini.

Sumber: SMM News

Read More

Investasi dan Pertaruhan Sumber Daya Alam

Oleh: Prima Gandhi *)

HIDUP yang tidak dipertaruhkan tidak akan pernah dimenangkan. Apa yang dikatakan Sutan Syahrir, perdana menteri pertama Republik Indonesia dirasa cocok menggambarkan asa sebuah peristiwa bersejarah terkait investasi sektor sumber daya alam (SDA) Indonesia di Seoul, Korea Selatan, beberapa waktu lalu.

Kepala Badan Kordinasi Penanaman Modal (BKPM) melakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan LG Energy Solution, perusahaan baterai kendaraan listrik asal Negeri Ginseng pada 18 Desember 2020. MoU ini meliputi kerja sama proyek investasi di bidang industri sel baterai kendaraan listrik terintegrasi dengan pertambangan, peleburan (smelter), pemurnian (refining), industri prekursor dan katoda. Peristiwa ini ramai dibahas pada awal 2021 di berbagai media massa dan elektronik.

Betapa tidak, penandatanganan MoU senilai Rp143 triliun akan membuat Indonesia sebagai pusat industri sel baterai kendaraan listrik dunia. Nilai kerja sama industri ini konon menjadi yang terbesar sejak Orde Reformasi bergulir. Ini menjadi angin segar awal 2021 di tengah kelesuan ekonomi akibat pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai.

Penandatangan MoU ini menjadi lembaran baru bagi pengambil kebijakan terkait energi terbarukan di Indonesia sekaligus cambuk bagi DPR yang sedang merancang undang-undang energi baru terbarukan (EBT). RUU EBT menjadi Program Legislasi Nasional (Prolegnas) DPR RI pada 2021.0

Dampak Positif

Hemat penulis jika kerja sama industri baterai kendaraan listrik terealisasi maka selain dampak ekonomi, ada dampak budaya, dan lingkungan yang akan terjadi. Dampak ekonomi adalah kenaikan pertumbuhan ekonomi. Potensi pertumbuhan ekonomi didapat dari royalti pertambangan, pengenaan pajak dari proses hulu, hilirisasi produk serta belanja karyawan, smelter dan tambang. Potensi ini akan memperkuat kedaaan fiskal negara. Namun, potensi kenaikan pertumbuhan ekonomi akan terasa hambar apabila tidak diikuti oleh lahirnya pengusaha baru tingkat lokal.

Kita ketahui bersama bahwa jaringan pengusaha China mendominasi ekosistem bisnis tambang dan industri nikel di Indonesia. Bahan baku utama baterai kendaraan listrik adalah nikel. Pengusaha Negeri Tirai Bambu memiliki modal, bahan baku, peralatan, dan tenaga kerja dalam industri tambang nikel. Bahkan, mereka pun menjadi kontraktor pengerjaan smelter.

Sementara itu pengusaha lokal jarang mempunyai posisi dalam rantai bisnis ini. Oleh karenanya, pemerintah harus mampu mengintervensi serta menemukan keunggulan komparatif pelaku usaha lokal dalam rantai bisnis baterai kendaraan listrik dari sektor hulu sampai hilirnya. Tujuannya agar pengusaha lokal dapat mengisi ruang-ruang ekonomi pada rantai bisnis ini.
Kemudian, dampak lingkungan yang terjadi dengan adanya industri ini adalah mengurangi laju pemanasan bumi. Bumi semakin panas akibat kemajuan teknologi yang mempercepat laju peningkatan emisi gas rumah kaca ke atmosfer sehingga menghambat pelepasan hawa panas dari bumi ke luar angkasa.

Saat ini penduduk dunia terus menyuarakan tuntutan pengurangan emisi gas rumah kaca dengan berbagai macam media. Salah satu bentuk tuntutannya adalah penggunaan mobil listrik secara luas sebagai salah satu bentuk langkah untuk mengurangi konsumsi bahan bakar fosil serta emisi Nitrogen Dioksida (NO2) dan Karbon Dioksida (CO2).

Ketika terjadi pandemi Covid-19 diketahui bahwa kualitas udara membaik. Data penurunan kadar NO2 dan CO2 di beberapa kota besar dunia menjadi parameternya. Kota Madrid mengalami penurunan kadar NO2 sebesar 48 % , Milan 47% Paris 54%, dan Roma 49 % (ESA, 2020). Tercatat Di China, emisi CO2 turun sekitar 25% ketika lockdown diterapkan (Carbon Brief, 2020). Tren ini bisa diteruskan pasca pandemi dengan penggunaan kendaraan listrik.

Kehadiran industri baterai kendaraan listrik di Indonesia menjadi bukti konkret komitmen negara dalam mejaga kualitas udara global serta mendukung perkembangan dunia yang ramah lingkungan.

Dampak Negatif

Selain dampak positif yang sudah dijabarkan di atas, pemerintah harus mewaspadai dampak negatif yang dapat timbul akibat adanya industri baterai kendaraan listrik. Dampak negatif yang penulis maksud adalah munculnya bencana alam dan paradoks natural resource curse. Letak astronomis Indonesia menyebabkan negeri ini rawan bencana alam. Banjir, gelombang pasang, tanah longsor, hingga erupsi gunung api seperti yang terjadi di Indonesia di awal 2021 adalah bencana alam tahunan khas Indonesia.

Hasil analisis Lapan (2021) menunjukkan bahwa curah hujan tinggi dan turunnya lahan luas hutan primer menjadi penyebab bencana banjir bandang di Kalimantan Selatan awal tahun ini.Telah terjadi penurunan hutan primer, hutan sekunder, sawah dan semak belukar dalam sepuluh tahun terakhir di Kalimantan sebesar 13.000 hektare, 116.000 hektare, 146.000 hektare, dan 47.000 hektare. Penurunan ini disebabkan oleh alih fungsi hutan menjadi perkebunan dan lahan tambang bahan mineral.
Terkadang tingkah laku manusia yang merusak ekosistem alam memperparah dampak bencana yang terjadi. Berdasarkan pengalaman ini, jangan sampai masifnya penambangan nikel untuk bahan baku industri baterai listrik membuat bencana baru di daerah penambangan nikel.

Dampak negatif selanjutnya adalah paradoks natural resource. Paradoks ini menggambarkan fenomena di mana daerah yang kaya sumber daya alam tidak serta merta menjadi daerah kehidupan masayarakatnya sejahtera. Namun sebaliknya, justru bisa menjadikan masyarakat menjadi lebih miskin.

Kemiskinan masyarakat setelah adanya eksploitasi sumber daya alam biasanya berbanding lurus dengan masifnya kerusakan alam dan lingkungan. Kerusakan ini berakibat pada menurunnya kualitas lingkungan hidup seperti pencemaran air, tanah, dan udara. Selain dampak terhadap lingkungan, tidak jarang kekayaan sumber daya alam memicu konflik sosial, seperti konflik lahan tambang dengan masyarakat, kesenjangan dan ketimpangan pembangunan ekonomi.

Nikel sebagai bahan baku utama baterai kendaraan listrik yang dieksploitasi, diharapkan memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitar tambang nikel. Kesejahteraan masyarakat di sekitar tambang nikel yang dijadikan bahan baku industri baterai kendaraan listrik harus menjadi salah satu indikator penilaian sukses tidaknya pendirian industri ini di Indonesia.

Terakhir, kembali ke awal tulisan, penulis berharap pemerintah bisa memenangkan pertaruhan kelimpahan sumber daya alam Indonesia ini. Sehingga lahirnya industri baterai kendaraan listrik bisa mewujudkan apa yang termaktub dalam pasal 33 ayat 1, 2, 3 dan 4 Undang-Undang Dasar 1945 bukan menimbulkan bencana alam baru. Semoga.

*) Prima Gandhi adalah Pengajar Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan, Fakultas Ekonomi Manajemen, IPB University

Sumber: SindoNews.com

Read More

Harga Nikel di Shanghai dan LME Melemah

NIKEL.CO.ID – Logam nonferrous di SHFE sebagian besar melemah pada Kamis (28/01/2021) pagi, dan rekan-rekan mereka di LME juga jatuh di seluruh papan, menyusul penurunan yang terjadi di Wall Street semalam. Hal ini menghapus kenaikan S&P 500 pada 2021 dan tetap berada di wilayah negatif untuk tahun ini.

Logam dasar Shanghai sebagian besar ditutup melemah dalam perdagangan semalam (27/01/2021). Tembaga turun tipis 1,48%, seng melemah 1,81%, nikel merosot 1,22%, timbal turun 0,77% dan aluminium turun 0,1%, sedangkan timah naik 0,4%.

Di Kompleks LME dalam perdagangan hari Rabu (27/01/2021) juga jatuh. Seng anjlok 3,13% menjadi penyebab kerugian, tembaga turun 1,9%, aluminium melemah 1,75%, timah turun 0,31%, timbal turun 2,41% dan nikel turun 1,55%.

Tembaga: Tembaga LME tiga bulan turun 1,9% menjadi $ 7,843 / mt pada hari Rabu, (27/01/2021) dan kemungkinan akan diperdagangkan antara $ 7,790-7,870 / mt hari ini.

Kontrak tembaga SHFE 2103 yang paling aktif turun 1,31% menjadi ditutup pada 57.950 yuan (US$ 8.935,87)/ mt dalam perdagangan semalam, dan diperkirakan akan bergerak antara 57.600-58.100 yuan (US$ 8.881,90-US$ 8.959,00)/ mt hari ini, sementara premi spot akan terlihat di 10-90 yuan (US$ 1,54-US$ 13.88)/ mt.

Federal Reserve mempertahankan suku bunga dan rencana pembelian obligasi tidak berubah, dan tidak mengambil langkah-langkah untuk menstimulasi perekonomian. Fed Powell mengatakan bahwa laju pemulihan ekonomi mungkin melambat sebelum pandemi COVID-19 berakhir. Pernyataan Fed memperburuk kekhawatiran pasar tentang prospek pemulihan ekonomi. COVID-19 terus menjadi parah, dan indeks dolar AS didorong oleh pembelian safe-haven.

Aluminium: Aluminium LME tiga bulan turun 1,75% menjadi ditutup pada US$ 1.987,5 / mt pada hari Rabu, dengan open interest jatuh ke 739.000 lot. Diperkirakan akan diperdagangkan antara $ 1.970-2.010 / mt hari ini.

Kontrak aluminium SHFE 2103 yang paling likuid turun 0,1% menjadi menetap di 14.860 yuan / mt pada Rabu malam, dan kemungkinan akan diperdagangkan antara 14.500-14.900 yuan (US$ 2.235,89-2297.57)/ mt hari ini. Permintaan hilir melemah sebelum akhir tahun dan premium spot melemah, yang menekan harga aluminium. Baru-baru ini, jendela arbitrase impor ditutup, yang menghambat arus masuk barang luar negeri. Tekanan dari terlalu banyak menimbun aluminium ingot pada platform tetap untuk persediaan sosial selanjutnya, dan persediaan sosial mungkin terus menumpuk. Menjelang Festival Musim Semi, sentimen penimbunan di hilir lesu. Premi spot untuk kontrak akan terlihat lebih tinggi pada 50-100 yuan (US$ 7,71-15,42)/ mt.

Seng: Seng LME tiga bulan turun 3,13% menjadi ditutup pada $ 2.571,5 / mt pada hari Rabu. Stok seng di gudang yang terdaftar di LME naik 59.475 mt menjadi 294.500 mt. Federal Reserve mempertahankan tingkat suku bunga moneter tidak berubah, laju pemulihan ekonomi dan pekerjaan melambat, dan pandemi memperburuk ketidakpastian pembangunan ekonomi. Kontrak seng LME kemungkinan akan terus melemah. Kontrak tersebut kemungkinan akan diperdagangkan antara $ 2.560-2.610 / mt hari ini.

Kontrak seng SHFE 2103 yang paling likuid turun 1,81% menjadi berakhir pada 19,505 yuan (US$ 3.007,66)/ mt dalam perdagangan semalam. TC di sisi penawaran berhenti turun dan stabil, sementara konsumsi memasuki musim sepi menjelang akhir tahun, dan stok sosial secara bertahap memasuki tahap akumulasi, yang menyeret turun harga seng. Apakah rencana pemeliharaan dan pengurangan produksi smelter dapat mendukung harga seng dalam waktu dekat akan dipantau. Kontrak seng SHFE diperkirakan akan bergerak antara 19.500-20.000 yuan (US$ 3.006,89-3.083,99)/ mt hari ini, sementara premi spot untuk domestik 0 # Shuangyan akan terlihat lebih tinggi pada 170-180 yuan (US$ 26,21-27,76)/ mt.

Nikel: Kontrak nikel SHFE 2103 yang paling aktif turun 1,22% menjadi ditutup pada 132.430 yuan (US$ 20.420,65)/ mt pada hari Rabu. Minat terbuka naik 11.000 lot menjadi 121.000 lot. Kontrak tersebut akan menguji dukungan dari 132.300 yuan (US$ 20.400,61)/ mt hari ini. Pada 27 Januari, Federal Reserve mempertahankan suku bunga semalam, sambil mempertahankan skala pembelian obligasi bulanan tidak berubah. Dolar AS naik tajam didorong oleh pembelian safe-haven. Ini menyegarkan titik tertinggi sejak 18 Januari menjadi 90,89, dan logam dasar jatuh di bawah tekanan.

Timbal: Timbal LME tiga bulan menetap 2,41% lebih rendah pada $ 2.028 / mt pada hari Rabu. Semalam, The Fed berhati-hati tentang pemulihan ekonomi. Dolar AS naik karena penghindaran risiko, dan logam dasar LME jatuh di bawah tekanan.

Kontrak utama SHFE 2103 turun 0,77% menjadi ditutup pada 15.405 yuan (US$ 2.375,44)/ mt pada Rabu malam. Kontrak tersebut akan menguji dukungan dari rata-rata pergerakan lima hari hari ini.

Timah: Timah LME tiga bulan ditutup turun 0,31% pada $ 22.800 / mt pada hari Rabu. Dengan kewaspadaan terhadap kekurangan pasokan, timah LME diperkirakan akan terus mempertahankan tren yang kuat. Tekanan di atas akan terlihat dari $ 23.000 / mt hari ini. Dukungan di bawah ini akan terlihat dari $ 22.000 / mt hari ini.

Kontrak timah SHFE 2103 yang paling likuid naik 0,78% menjadi 172.430 yuan (US$ 26.588,64)/ mt pada Rabu, (27/01/2021) malam. Minimnya pasokan bijih timah di China belum dapat diatasi secara efektif, antusiasme peleburan untuk pengiriman terbatas, dan pasokan di pasar spot terus terbatas. Penurunan dalam sirkulasi domestik baru-baru ini di tempat rilis permintaan penimbunan sebelum hari libur mendukung kontrak. Tekanan di atas akan terlihat dari 175.000 yuan (US$ 26.984,93)/ mt hari ini. Dukungan di bawah akan terlihat dari 167.500 yuan (US$ 25.828,43)/ mt hari ini.

Sumber: SMM News

Read More

Pengamat: Jangan Sampai Investor Asing Hanya Kuras Cadangan Mineral Tapi Negara Tak Dapat Nilai Tambah.

NIKEL.CO.IDBadan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) merilis angka realisasi investasi tahun 2020. Di tahun pandemi itu Indonesia berhasil memperoleh investasi Rp826,3 triliun. Angka tersebut melampaui target sebesar Rp817,2 triliun sekaligus capaian 2019 sebanyak Rp809,6 triliun.

Kontribusi Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) bergeser. Jika pada 2019 komposisi investasi PMDN Rp423,1 triliun (52,3%) sementara PMA Rp423,1 triliun (52,3%), tahun 2020 komposisinya adalah PMDN Rp413,5 triliun (50,1%) dan PMA Rp412,8 triliun (49,9%).

Kepala BKPM Bahlil Lahadalia menjelaskan mengapa PMA hanya turun 2,4 persen padahal prediksi beberapa lembaga keuangan dunia mengatakan bahwa Foreign Direct Investment akan anjlok sampai 30-40 persen. “Artinya kepercayaan ini ada,” kata Bahlil dalam konferensi pers, Senin (25/1/2021).

Bahlil membanggakan capaian kuartal IV-2020 yang kuat, dengan PMA yang lebih mendominasi. Realisasi investasi pada kuartal IV 2020 terdiri dari PMA Rp111,1 triliun (51,7%) dan PMDN Rp103,6 triliun (48,3%).

“Kuartal IV, kasus pandemi sudah ada vaksinasi. Ada rasa percaya diri investor asing. Kedua pengesahan UU Ciptaker [yang] memberikan pengaruh positif untuk kelangsungan investor asing di Indonesia,” ungkap Bahlil.

PMA Global Turun Tajam

Penurunan PMA di Indonesia sejalan dengan tren global. Berdasarkan catatan United Nations (UNCTAD), PMA secara global anjlok 42 persen selama 2020 ke posisi $859 miliar. Angka itu berarti 30 persen lebih rendah ketimbang posisi terparah pada krisis ekonomi 2008-2009.

Cina masih menjadi negara dengan capaian positif, yakni naik 4% menjadi 163 miliar dolar AS. Sebaliknya, PMA ke AS anjlok 49% jadi $134 miliar dolar AS.

Sebagian negara Asia Tenggara juga mengalami penurunan, kecuali Filipina yang malah naik 29% menjadi 6,4 miliar dolar AS. Singapura turun 37% menjadi 58 miliar dolar AS, Vietnam turun 10% menjadi 14 miliar dolar AS, Malaysia turun 68% menjadi 2,5 miliar dolar AS, dan Thailand turun 50% menjadi 1,5 miliar dolar AS. Sementara PMA Indonesia turun 24% menjadi 18 miliar dolar AS (berbeda dengan versi BKPM).

Peneliti dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Andy Satrio Nugroho menjelaskan realisasi yang cukup stabil di masa pandemi memang ditopang oleh keseriusan pemerintah mewujudkan iklim kemudahan izin investasi.

“Pemerintah sudah mulai jemput bola untuk investasi asing,” kata dia, Senin (25/1/2021).

Namun pekerjaan pemerintah belum selesai. Usai berhasil memboyong investor asing, baiknya pemerintah lebih serius untuk menekan angka penularan virus COVID-19 di dalam negeri. Menekan angka COVID-19 penting agar investor asing yang tanam modal di Indonesia mampu melakukan usaha yang berkelanjutan.

“Ini yang harus diwaspadai. Kalau dia (investor) tetap jalan, business as usual, tapi kondisi pandemi belum selesai saya rasa hanya jadi bom waktu saja. Kondisinya kan kelihatannya ekonomi duluan yang diselamatkan, tapi itu semu,” jelas dia.

Bukan mustahil jika investor asing lebih memilih pindah pabrik jika pandemi tidak lagi tertangani.

“Sekarang urusan health security sudah jadi urusan nomor satu,” lanjutnya.

Waspada Investasi Tambang PMA

Berdasarkan paparan BKPM, proyek-proyek yang didanai PMA selama 2020 didominasi proyek tambang. Dalam tabel ‘Industri logam dasar dan barang logam’, pada 2020 RI menerima 1.669 proyek baru dengan total nilai $5,96 miliar. Disusul listrik, gas, dan air sebanyak 846 proyek dengan nilai $4.61 miliar; serta transportasi, gudang, dan telekomunikasi sebanyak 1.588 proyek dengan nilai $3,58 miliar.

Berdasarkan data BKPM, negara asal aliran modal didominasi oleh Singapura yaitu sebesar $9,77 miliar, kemudian Cina sebesar 4,84 miliar dolar AS, Hong Kong 3,5 miliar dolar AS, Jepang 2,6 miliar dolar AS, dan Korea Selatan 1,8 miliar dolar AS.

Tingginya minat investor asing terutama Cina untuk menggarap hasil tambang perlu diwaspadai, kata peneliti dari Indef Bhima Yudistira. Ada potensi mereka akan menghabiskan cadangan nikel dengan timbal balik yang tidak sepadan. Oleh karena itu menurutnya pencapaian PMA yang hanya turun 2,4 persen bukan prestasi.

“China, kan, ke depan butuh bahan setengah jadi terkait kebutuhan industri baterai industri elektronik. Bisa risiko bencana jadi sebenarnya usaha [dari investor asing]. Enggak berkelanjutan,” kata Bhima, Senin (25/1/2021).

Menurutnya hal ini dapat terjadi karena terutama di luar Jawa “proyek-proyek yang khususnya smelter nikel itu digencarkan sekali.”

“Enggak ada hubungannya sama UU Cipta Kerja. Ada pembatasan WNA, tapi TKA asal Cina itu tetap datang ke Konawe untuk jalankan proyek. Jadi pandemi enggak ngaruh,” tambahnya.

Bhima berharap pemerintah lebih selektif menerima investor. Perlu dipilah mana yang menguntungkan mana yang bikin rugi.

“Harusnya diseleksi, bukan obral murah,” tandas Bhima.

Seleksi lebih mungkin dilakukan ketika pilihan investor beragam. Oleh karena itu menurutnya pemerintah juga perlu melirik negara lain.

“Indonesia harus mulai mengambil langkah keseimbangan untuk menarik investasi dari negara lain di luar Cina, misalnya AS. Jadi ada investasi yang lebih selektif dari banyak pilihan investor,” terangnya.

Oleh karena investor asing sudah kadung masuk, maka pilihan terdekat adalah mengoptimalisasinya, kata Kepala ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual. Caranya dengan memastikan hilirisasi mineral terwujud. Jangan sampai derasnya investasi asing hanya menyebabkan cadangan mineral habis terkuras tapi negara tak mendapat nilai tambah.

“Komoditas mineral arahnya green energy. Bikin kincir listrik, solar sel, baterai, butuh tembaga, nikel, bauksit, aluminium. RI merupakan salah satu pemilik cadangan terbesar dan produsen terbesar juga, jadi kita buat mereka investasi ke hilirisasi, jangan sampai kirim mentahnya saja,” tandas dia.

Sumber: tirto.id

Read More

Prospek Bisnis Pertambangan Nikel

Opini oleh: Aldin Ardian *)

NIKEL.CO.ID – Pemanfaatan nikel sebagai bahan baterai terus meningkat sejak satu dekade terakhir. Popularitasnya semakin meroket pada pertengahan 2020, ketika Elon Musk (CEO Tesla) semakin agresif mengembangkan bisnisnya dalam produksi EV (electric vehicle atau kendaraan listrik). Ditambah, isu perubahan iklim (climate change) agar mengurangi emisi gas karbon, kebijakan green industrial revolution dari perdana menteri Britania Raya, Boris Johnson, melarang penjualan mobil baru berbahan bakar minyak pada tahun 2030, dan wacana Joe Biden, Presiden Amerika Serikat terpilih dalam pilpres AS 2020, untuk mengakselarasi transisi dari kendaraan konvensional ke EV, menjadi sentimen positif pada industri pertambangan nikel.

Tesla, perusahaan industri otomotif dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia saat ini, nampaknya menaruh perhatian yang tinggi kepada Indonesia sebagai lokasi investasi pengembangan bisnisnya. Salah satu alasan kuatnya adalah tingginya kadar rata-rata nikel di Indonesia, yaitu sekitar 1,8% (kadar rata-rata nikel dunia adalah 0,2%). Musk menyatakan bahwa dia bersedia membuat kontrak jangka panjang untuk membeli nikel dari perusahaan yang mampu menambang nikel dengan kapasitas besar dan peduli terhadap efek lingkungannya. Perusahaan-perusahaan nikel di Indonesia seperti PT. Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), PT. Vale Indonesia, Tbk (INCO), PT. Virtue Dragon, PT. Harita Nickel, PT. Aneka Tambang, Tbk (ANTM), dan PT. Central Omega Resource, Tbk (DKFT) dapat melihat ini sebagai peluang kerjasama yang menarik. Musk di lain kesempatan juga menyatakan bahwa industri pertambangan nikel di Kanada juga menarik untuk dipertimbangkan karena regulasi pemerintah terhadap lingkungan yang sangat ketat. Contohnya, Giga Metals corporation memanfaatkan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) untuk supplai listriknya atau Canada Nickel company dengan komitmen zero-carbon production di mana kegiatan penambangan menggunakan shovel dan truk listrik (sumber PLTA) dan penggunaan serpentine (waste rock) sebagai absorbsi gas karbon dioksida (CO2). Namun, kadar rata-rata nikel di Kanada hanya sekitar 0,3%.

Selain Tesla; NIO, Xiaopeng motors (XPeng), Li Auto, dan Kandi Technologies Group merupakan perusahaan asal Tiongkok yang juga memiliki perkembangan signifikan di bidang EV. Perlu disadari pula, perusahaan-perusahaan EV lainnya seperti Workhorse, Nikola, dan Greenpower maupun perusahaan-perusahaan otomotif berkapital besar seperti Toyota, Volkswagen, Daimler, dan General motors tentunya tidak akan tinggal diam menonton pertunjukan Tesla dan NIO menguasai pasar EV. Oleh karena itu, sangat memungkinkan hanya dari industri EV, demand nikel akan mengalami lonjakan di masa depan.

Sebenarnya selain nikel, lithium juga digunakan sebagai bahan pembuatan baterai EV. Seiring berkembangnya tren EV, lithium juga terkena imbasnya secara positif. Namun, mengutip dari nickelinstitute.org, nikel masih digunakan hingga 80% dari total komponen baterai EV, dan baterai dengan bahan nikel tersebut memiliki kapasitas penyimpanan dan densitas energi lebih tinggi. Dengan kata lain, EV dengan baterai berbahan utama nikel lebih efisien dibanding lithium. Dari aspek teknologi, nikel lebih unggul daripada lithium.

Dilihat dari aspek harga, mas depan nikel diprediksi semakin cerah dilihat dari tren peningkatan harga nikel dalam 5 tahun terakhir. Salah satu penyebabnya adalah suplai global yang berkurang karena kebijakan larangan ekspor bijih nikel oleh pemerintah Indonesia dan peraturan ketat penambangan nikel di Filipina, di mana dua negara tersebut merupakan produser nikel terbesar di dunia. Kebijakan pemerintah Indonesia tersebut diapresiasi oleh Mark Selby (CEO Canada Nickel company) dalam interviewnya dengan Crux Investor pada 11 Agustus 2020. Karena selain mendongkrak harga nikel, Selby menyebutkan bahwa kebijakan tersebut dianggap sebagai kebijakan tersukses bagi negara berkembang untuk mendatangkan investasi dalam jumlah besar. Lebih jauh lagi, melihat dari total cadangan dunia pada tahun 2019, yaitu sebesar 89 juta metrik ton dan tingkat produksi pada tahun yang sama, yaitu sebesar 2,7 juta metrik ton, data dari US Geological Survey tersebut terlihat bahwa cadangan nikel dunia akan habis dalam waktu kurang dari 33 tahun untuk nikel dibanding 220 tahun untuk lithium pada tahun perhitungan yang sama. Padahal menurut data historis, laju pertumbuhan kebutuhan atau demand nikel dari tahun 2000 hingga 2016 yaitu sebesar 3,8% per tahun. Terlebih, menurut penelitian Wood MacKenzie, hanya dari sektor EV, demand nikel dari tahun 2019 hingga 2027 akan meningkat 113%. Tidak lupa, pasar industri manufaktur baja tahan karat (stainless steel) yang saat ini menyerap 70% suplai nikel pun diproyeksikan oleh Market Study Report tetap akan berkembang 6,3% per tahun (CAGR) hingga 2027. Kelangkaan suplai nikel tentunya akan berkontribusi pada peningkatan harga nikel di masa depan. Saat artikel ini ditulis, harga nikel masih di kisaran US$16.000/ton, di mana all-time-high terjadi pada tanggal 16 Mei 2007 yaitu sebesar US54.200/ton. Artinya, masih ada ruang peningkatan yang sangat besar.

Dari aspek daur-ulang (recycling), nikel memiliki tingkat efisiensi tinggi. Hingga 68% barang konsumsi (consumer products) berbahan nikel telah didaur-ulang. Salah satu penyebabnya karena nikel merupakan logam non-ferrous, sehingga tahan karat dan dapat digunakan berulang-ulang tanpa mengurangi kualitasnya. Meskipun industri daur-ulang ini dapat menjadi kompetitor industri pertambangan nikel, namun dalam jangka pendek hingga menengah (short- hingga mid-term) justru mampu menjadi katalis positif konsumsi nikel dunia karena memberi pandangan ramah-lingkungan. Oleh karena itu, industri pertambangan akan masih menjadi leader, khususnya untuk memenuhi kebutuhan nikel yang masih dalam tahap bertumbuh.

Dari penjelasan di atas, empat poin dapat ditarik sebagai kesimpulan. Pertama, bahwa peluang usaha pertambangan nikel cukup menjanjikan dilihat dari agresivitas industri EV, teknologi baterai EV berbahan dasar nikel, dan harga komoditas nikel. Kedua, Indonesia memiliki peluang besar mendapatkan investasi pengembangan Tesla (atau bahkan perusahaan EV lainnya) dari segi kualitas nikel, namun perlu diperhatikan bahwa Musk menginginkan rantai-pasok (supply-chain) Tesla didapat dari sumber yang beretika, khususnya secara lingkungan (sumber energi, emisi gas karbon, dan air). ketiga, yaitu dari sisi suplai atau produksi-cadangan. Untuk memenuhi permintaan nikel yang terus meningkat, target produksi penambangan nikel pun harus ditingkatkan. Konsekuensinya, untuk mempertahankan suplai nikel dalam jangka menegah, peningkatan sumber daya menjadi cadangan melalui studi kelayakan sudah menjadi keharusan yang mendesak, atau kegiatan eksplorasi untuk meningkatan sumber daya dapat menjadi strategi selanjutnya. Terakhir, alih-alih sebagai kompetitor yang menghambat, industri daur-ulang nikel dapat menjadi pemicu konsumsi nikel yang lebih tinggi.

Selama tahun 2020, saham perusahaan pertambangan nikel ANTM, INCO, dan DKFT telah meningkat 138%, 48%, dan 23%, secara berurutan. Sedangkan di bursa Kanada (TSX dan TSXV) dengan kurun waktu yang sama untuk Giga metals corporation (GIGA) meningkat sekitar 55%, Talon Metals corp. (TLO) sebesar 220%, dan Canada Nickel company (CNC) sebesar 116%.

*) Aldin Ardian adalah Dosen Teknik Pertambangan UPN “Veteran” Yogyakarta.

Sumber: duniatambang.co.id

Read More

Mission Possible Raja Baterai Listrik

NIKEL.CO.ID – Dengan menguasai 25% cadangan nikel dunia, Indonesia berambisi menjadi produsen baterai lithium-ion terbesar di dunia. Hilirisasi bahan bakunya, yaitu nikel, terus digenjot. Begitu pula investasi untuk pembangunan pabriknya.

Deskripsi:

32% Kebutuhan Nikel Baterai Mobil Listrik Pada Tahun 2019-2030

Jenis Baterai Listrik
1. Lithium-ion (Li-ion)
Unsur logam litium dan kobalt sebagai elektroda

2. Nickel Metal Hydride (NiMH)
NiMH memanfaatkan nikel

Cadangan Biji Nikel Dunia 2019

  • Madagaskar = 1,8%
  • Kolombia = 0,5%
  • Indonesia = 23,7%
  • Australia = 21,5%
  • Brazil = 12,4%
  • Rusia = 8,8%
  • Kuba = 5,4%
  • Filipina = 4,2%
  • Afrika Selatan = 3,2%
  • Tiongkok = 3%
  • Kanada = 2%
  • Guatemala = 1,8%
  • Negara Lain = 7,3%

Jenis Nickel
1. Nickel Laterite (Kadar Rendah)
Indonesia, Kuba, Filipina, dan Kaledoneia Baru

2. Nickel Sulphides (Kadar Tinggi)
Amerika Utara, Australia, China, Rusia, dan Greenland

Lima Smelter Teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL) produksi bahan baku komponen baterai ditargetkan bertoperasi pada 2023. Saat ini Smelter HPAL baru ada 2 di dunia, Coral Bay, Filipina dan Moa Bay, Kuba.

Baterai lithium merupakan kunci pengembangan energi terbarukan secara masif, terutama pembangkit listrik tenaga surya.

Potensi Bahan Baku Baterai Listrik 

  • 11.887 Juta Ton
  • 4.346 Juta Ton (cadangan)
  • 930 Juta Ton (Total cadangan biji nikel kadar tinggi)
  • 3,6 Juta Ton (Cadangan biji nikel kadar rendah)

Larangan Ekspor 
1. Mulai 1 Januari 2020 Indonesia larang ekspor biji nikel
2. Membebaskan pajak dan bea masuk impor pembangunan smelter berkonten lokal sebesar 30%

Produksi Biji Nikel 

  • 2018 = 22,14 Juta Ton
  • 2019 = 0,95 Juta Ton
  • 2020 = 15,85 Juta Ton

Didominasi nickel pig iron (NPI) dan feronikel (FeNi)
30 SMELTER NIKEL BEROPERASI 2024 

Progeres :

  • 13 Smelter = 90%
  • 9 Smelter = 30-90%
  • 8 Smelter =

Sumber: RRI.co.id

Read More

Pemerintah Tidak Gentar Hadapi Gugatan Uni Eropa Soal Larangan Ekspor Bijih Nikel

NIKEL.CO.ID – Uni Eropa melayangkan tuntutan kepada pemerintah Indonesia dalam kasus sengketa nikel ke World Trade Organization (WTO). Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi pun menanggapi adanya tuntutan tersebut, dan mengaku siap untuk melanjutkan kasus itu ke persidangan internasional.

Ini merupakan lanjutan dari proses gugatan pihak Uni Eropa atas kebijakan larangan ekspor nikel oleh pemerintah Indonesia. Pada tanggal 14 Januari kemarin, pihak Uni Eropa menginformasikan bahwa kasus tersebut akan mereka lanjutkan. Nantinya, pembahasan kasus tersebut akan dilaksanakan pada tanggal 25 Januari 2021. Dengan senang hati, pemerintah Indonesia akan meladeni tuntutan tersebut.

Awal mula tuntutan pihak Uni Eropa itu dimulai saat pemerintah Indonesia mengumumkan kebijakan baru yang akan melarang ekspor nikel dalam bentuk mentah. Kebijakan itu pun telah tertuang dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 11 Tahun 2019, yang telah disahkan pada 28 Agustus 2019 oleh Menteri Ignasius Jonan yang menjabat saat itu. Pemberlakuan dari kebijakan itu akan dimulai pada tanggal 1 Januari 2020.

Sejumlah asosiasi penambang pun telah mendapatkan penjelasan soal kebijakan itu, dan mereka menyatakan kesepakatan atas kebijakan larangan ekspor biji mentah nikel tersebut. Selanjutnya, mereka akan mulai mengekspor barang jadi. Alasan lain para penambang sepakat adalah demi mendukung program hilirisasi yang dicanangkan pemerintah.

Sebagai tindak lanjut, para penambang pun nantinya harus menjual biji mentah nikel itu ke pabrik smelter yang ada di dalam negeri, untuk kemudian diolah menjadi barang jadi dan boleh untuk diekspor. Selanjutnya, tanggal 12 November 2019, sejumlah asosiasi penambang menyepakati harga jual biji mentah nikel yang dijual ke smelter seharga USD30 per metrik ton. Meski harga tersebut terbilang rendah dari harga yang diusulkan, namun semua pihak akhirnya menemui kesepakatan.

Tanggapan keras justru muncul dari salah satu konsumen nikel yang selama ini membeli biji mentah nikel dari penambang Indonesia. Konsumen tersebut diketahui berasal dari negara-negara Uni Eropa yang kemudian pada tanggal 22 Desember melayangkan gugatan ke Dubes Indonesia yang ada di Jenewa.

Mereka menilai, kebijakan pelarangan ekspor biji mentah nikel itu telah melanggar aturan yang ada di World Trade Organization (WTO). Sejumlah produsen baja yang ada di Eropa yang tergabung dalam asosiasi EUROFER juga mendukung adanya gugatan tersebut. Pasalnya, selama ini sebanyak 55 persen bahan baku usaha mereka, dipasok oleh bijih nikel dari Indonesia.

Presiden Jokowi yang mendapatkan kabar gugatan itu pun mengaku tidak akan gentar dengan apa yang dilakukan pihak Uni Eropa. Dia mengatakan bahwa sudah puluhan tahun negara ini hanya bergantung pada ekspor barang mentah, padahal sebenarnya Indonesia cukup mampu untuk mengolahnya dan menghasilkan produk jadi yang lebih bernilai tinggi.

Kebijakan itu pun rupanya tidak berjalan mulus, khususnya pada kondisi di dalam negeri sendiri. Sebab hingga akhir Februari 2020, belum ditemukan kesesuaian harga antar penambang dengan perusahaan smelter. Meski sebelumnya sudah disepakati harganya. Sayangnya, masalah itu terus terjadi berlarut-larut hingga akhir tahun 2020. Dan di saat yang sama, gugatan dari Uni Eropa masih terus berlanjut.

Sumber: duniatambang.co.id

Read More

Nikel Indonesia, Game Changer Mobil Listrik Dunia

Opini oleh: Sihol Manullang *)

NIKEL.CO.ID –  Elon Musk sempat menjadi orang terkaya sejagat, karena saham Tesla Motors selama 2020 naik 743%. Meskipun saham Elon Musk tinggal 20% di Tesla, sudah cukup mengantarkannya menjadi terkaya sedunia.

Persisnya, 8 Januari 2021 pukul 10.16 waktu New York, ketika harga saham Tesla US$ 872,36 per lembar. Kapitalisasi pasar saham Tesla sendirian, bisa mengalahkan kapitalisasi pasar seluruh produsen mobil Jepang. Luar biasa.

Mobil listrik atau electric vehicle (EV) bikinan Tesla menjadi impian baru. EV sesuai dengan arah green energy dunia, energi baru terbarukan (EBT) berkat power yang bersumber dari listrik (disimpan dalam baterai mobil).

Partai Demokrat Amerika Serikat sangat mendukung energi hijau. Maka bisa dipastikan, di masa Presiden Joe Biden sekarang ini, EV akan semakin laku.

Baterai mobil yang berbahan baku nikel, akan menjadi nilai tawar bagi Indonesia. Sebab, 24% cadangan nikel dunia berada di Indonesia.

Hingga tahun 2025 mendatang, porsi baterai dan komponen listrik dalam EV sekitar 35-40% (baterai saja tak kurang dari 25%). Kemudian sekitar 25% di motor listrik. Maka jika kerja sama memproduksi baterai dengan LG Energy Solution (Korea Selatan) berjalan lancar, Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) EV di Indonesia akan besar.

Untuk memastikan TKDN itulah, perjanjian dengan LG, Indonesia diwakili pemerintah sendiri. Ini agar pemerintah benar-benar memegang kendali TKDN. Toh, penghasil utama nikel, PT Aneka Tambang (Persero) Tbk atau ANTM adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Selain ANTM yang menjadi penghasil utama, perusahaan yang juga mempunyai cadangan nikel lumayan besar adalah PT Vale Indonesia Tbk (INCO), di mana pemerintah (Kementerian BUMN) melalui PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Mining Industry Indonesia (MIND ID) menguasai 20% saham INCO.

Selain nikel, bahan baku yang sangat berperan dalam mobil listrik, adalah timah dan tembaga. Indonesia beruntung, karena penghasil Timah yakni PT Timah (Persero) Tbk dengan kode saham TINS, adalah BUMN. Cadangan tembaga terbesar di dunia, ada di Papua, diusahakan PT Freeport Indonesia, di mana MIND ID menguasai 51,23% saham.

Harga saham ANTM, INCO dan TINS yang belakangan ini melesat di Bursa Efek Indonesia (BEI), tak lepas dari rencana hilirisasi nikel. Apalagi jika dalam Februari 2021 tim Tesla Motors datang ke Jakarta membicarakan rencana kerja sama produksi baterai, dunia akan semakin tahu betapa Indonesia berperan dalam pengadaan nikel dan timah dunia.

Elon Musk sempat menjadi orang terkaya sejagat, karena saham Tesla Motors selama 2020 naik 743%. Meskipun saham Elon Musk tinggal 20% di Tesla, sudah cukup mengantarkannya menjadi terkaya sedunia.

Persisnya, 8 Januari 2021 pukul 10.16 waktu New York, ketika harga saham Tesla US$ 872,36 per lembar. Kapitalisasi pasar saham Tesla sendirian, bisa mengalahkan kapitalisasi pasar seluruh produsen mobil Jepang. Luar biasa.

Mobil listrik atau electric vehicle (EV) bikinan Tesla menjadi impian baru. EV sesuai dengan arah green energy dunia, energi baru terbarukan (EBT) berkat power yang bersumber dari listrik (disimpan dalam baterai mobil).

Partai Demokrat Amerika Serikat sangat mendukung energi hijau. Maka bisa dipastikan, di masa Presiden Joe Biden sekarang ini, EV akan semakin laku.

Baterai mobil yang berbahan baku nikel, akan menjadi nilai tawar bagi Indonesia. Sebab, 24% cadangan nikel dunia berada di Indonesia.

Hingga tahun 2025 mendatang, porsi baterai dan komponen listrik dalam EV sekitar 35-40% (baterai saja tak kurang dari 25%). Kemudian sekitar 25% di motor listrik. Maka jika kerja sama memproduksi baterai dengan LG Energy Solution (Korea Selatan) berjalan lancar, Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) EV di Indonesia akan besar.

Untuk memastikan TKDN itulah, perjanjian dengan LG, Indonesia diwakili pemerintah sendiri. Ini agar pemerintah benar-benar memegang kendali TKDN. Toh, penghasil utama nikel, PT Aneka Tambang (Persero) Tbk atau ANTM adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Selain ANTM yang menjadi penghasil utama, perusahaan yang juga mempunyai cadangan nikel lumayan besar adalah PT Vale Indonesia Tbk (INCO), di mana pemerintah (Kementerian BUMN) melalui PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Mining Industry Indonesia (MIND ID) menguasai 20% saham INCO.

Selain nikel, bahan baku yang sangat berperan dalam mobil listrik, adalah timah dan tembaga. Indonesia beruntung, karena penghasil Timah yakni PT Timah (Persero) Tbk dengan kode saham TINS, adalah BUMN. Cadangan tembaga terbesar di dunia, ada di Papua, diusahakan PT Freeport Indonesia, di mana MIND ID menguasai 51,23% saham.

Harga saham ANTM, INCO dan TINS yang belakangan ini melesat di Bursa Efek Indonesia (BEI), tak lepas dari rencana hilirisasi nikel. Apalagi jika dalam Februari 2021 tim Tesla Motors datang ke Jakarta membicarakan rencana kerja sama produksi baterai, dunia akan semakin tahu betapa Indonesia berperan dalam pengadaan nikel dan timah dunia.

Jokowi Hentikan Ekspor
Jika semua kerja sama produksi baterai harus “selesai” di Indonesia, nilai tawar Indonesia akan semakin besar lagi. Bukan hanya investasi asing yang akan semakin deras, dengan TKDN yang tinggi, harga mobil listrik di negeri kita (kelak) akan semakin bersaing dengan mobil yang menggunakan bahan bakar minyak (BBM).

Oleh karenanya, kebijakan Presiden Jokowi yang menghentikan ekspor nikel sejak 1 Januari 2020, merupakan kebijakan yang jitu. Keran ekspor baru dibuka bagi nikel hasil olahan smelter dalam negeri, dengan kadar yang tinggi. Hingga smelter selesai, tidak boleh ekspor.

Puluhan tahun Indonesia hanya mengekspor bahan baku (nikel kadar rendah), nilai tambah tidak kita nikmati. Sekarang wajib diolah smelter dalam negeri. Jangan sampai cadangan habis, Indonesia tak kebagian nilai tambah.

Kebijakan Jokowi menghentikan ekspor, membuat Uni Eropa meradang. Mereka mengadukan Indonesia ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Mereka ingin tetap memperoleh bahan baku yang murah, mereka yang olah, nilai tambah untuk mereka.

Sekarang, bagi yang membutuhkan tak ada pilihan lain, kecuali datang dan memproduksi baterai di Indonesia. Setelah LG dengan investasi US$ 9,8 miliar, akan menyusul Contemporary Amperex Technology Co Ltd (CATL) asal Tiongkok, dengan investasi US$ 5,2 miliar. Bukan hanya Tesla, BASF (Jerman) juga sangat berminat.

Kebutuhan Nikel
Kebutuhan nikel dunia terus berkembang. Tahun 2017, sekitar 71% nikel dunia diserap oleh industri stainless steel. Baru 3% saja untuk baterai mobil. Namun, tahun 2030, sebanyak 37% nikel dunia akan diserap oleh industri baterai. Kebutuhan untuk stainless steel akan tinggal 46%.

Dalam pembuatan stainless steel, nikel yang dibutuhkan adalah nikel kelas dua. Sedangkan untuk baterai mobil, yang diperlukan adalah nikel ke satu. Nikel Indonesia adalah nikel kelas satu.

Konsumsi nikel dunia yang tahun 2019 sebanyak 2,4 juta ton, tahun 2040 akan menjadi 4 juta ton. Jika jumlah produksi masih tetap seperti sekarang, tahun 2023 akan terjadi defisit. Mau tak mau, produksi harus ditambah. Lagi-lagi, di sinilah peranan Indonesia semakin penting sebagai pemilik cadangan terbesar di dunia.

Di London Metal Exchange (LME), yang merupakan bursa khusus logam terbesar di dunia, pada akhir 2020 harga kontrak 3 bulan baru US$ 16.540. Tanggal 19 Januari 2021 harga naik tinggi menjadi US$ 18.075, atau naik 9,3%. Harga didorong kebutuhan yang meningkat sementara jumlah produksi tetap, malah berkurang, karena Indonesia menghentikan ekspor.

Saat ini, 10 besar negara produsen nikel, adalah Amerika Serikat, produksi 14.000 ton per tahun, Kuba 51.000 ton, Brasil 67.000 ton, Tiongkok 110.000 ton, Kanada 180.000 ton, Australia 180.000 ton, Kaledonia Baru 220.000 ton, Rusia 270.000 ton, Filipina 420.000 ton, dan Indonesia 800.000 ton. Indonesia mempunyai cadangan nikel sedikitnya 21 juta ton.

Sebagai produsen nikel terbesar dan pemilik cadangan nikel terbesar dunia, nikel Indonesia harus menjadi game changer (pengubah permainan) kebutuhan nikel dunia untuk mobil listrik (EV). Sekarang ini saja, ketika Indonesia ingin mengolah sendiri melalui kewajiban membangun smelter, Uni Eropa sudah meradang.

Jika kelak smelter sudah selesai dan keran ekspor sudah dibuka, pemerintah harus tetap ketat mengontrol kualitas nikel yang keluar, supaya kita yang menikmati nilai tambah. Juga agar kapitalisasi pasar perusahaan-perusahaan terkait nikel-tembaga-timah (ANTM-INCO-TINS) juga semakin tinggi, seiring dengan keuntungan mengolah nikel-tembaga-timah hasil kerja sama dengan produsen mobil listrik dunia.

*) Sihol Manullang adalah Wartawan Suara Pembaruan 1987-2000

Read More