Wantannas Akan Lapor Ke Presiden Atas Penolakan Kunjungannya Ke PT. OSS dan VDNI

NIKEL.CO.ID – Kunjungan kerja yang dilakukan Dewan Ketahanan Nasional (Wantannas) Republik Indonesia ke Kabupaten Konawe tak hanya bertemu pihak Pemerintah Daerah Konawe, Sulawesi Tenggara, namun mereka bermaksud mengunjungi dua perusahaan mega industri yang ada di Kecamatan Morosi.

Kunjungan Wantannas kali ini bertujuan untuk mengetahui informasi terkait tata kelola nikel di Mega Industri PT Obsidian Stainless Steel (OSS) dan PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) untuk kepentingan rancangan strategis serta kebijakan dan langsung akan dilaporkan kepada Presiden RI.

Namun, bukannya mendapatkan sambutan, rombongan Wantannas malah ditolak masuk ke areal perusahaan.

Pembantu Deputi Bidang Urusan Lingkungan Alam, Dewan Ketahanan Nasional Republik Indonesia, Brigjen TNI Karev Marpaung, S.Sos, MM dalam wawancara dengan awak media merasa kecewa karena tidak diperbolehkan masuk ke dalam areal PT OSS maupun PT VDNI.

“Kunjungan ini untuk mengetahui tata kelola nikel, namun saat akan berkunjung kita tak dibolehkan masuk, entah alasan apa. Menurut informasi, katanya adanya kasus terkonfirmasi positif karyawan yang bekerja di dalam. Tapi kami kan terapkan protokol kesehatan dan jumlah kami juga tidak banyak,” cetusnya, Rabu (25/11/2020).

Ia menambahkan, hasil yang diharapkan dari kunjungan di dua perusahaan ini adalah dalam rangka mewujudkan dan mendorong terwujudnya ketahanan nasional khususnya di bidang ketahanan mineral dan energi.

“Kita tahu nikel itu bisa jadi pengganti baterai lithium. Itu bisa jadi pengganti energi,” ungkapnya.

Terkesan tak menghargai Lembaga Negara yang diketuai Presiden Jokowi itu, pihak Wantannas akan melaporkan penolakan PT OSS dan PT VDNI ke Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo.

Sumber: telisik.id

Read More

Klaster Covid-19 di Kawasan Industri Nikel Konawe Semakin Meluas. Pihak Perusahaan Bungkam

NIKEL.CO.ID –  Klaster penyebaran Covid-19 di kalangan pekerja asing di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, terus meluas. Satu pekan terakhir, jumlah pekerja asing yang diketahui positif sebanyak 12 orang, dengan satu orang meninggal. Meski demikian, perusahaan seakan menutupi data dan tidak melaporkan hal ini ke instansi terkait.

Data Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sulawesi Tenggara, hingga Minggu (22/11/2020), total orang asing positif Covid-19 sebanyak 12 orang. Pekerja yang diketahui positif ini terdata berkala dari Konawe, di mana satu orang di antaranya meninggal.

”Terakhir di data kami itu ada 5 orang (pekerja asing) yang positif Covid-19 pada Kamis (18/11). Rabu sebelumnya ada 2 orang, Senin 3 orang, dan Sabtu pekan lalu itu 2 orang sehingga totalnya 12 orang. Yang hari Sabtu pekan lalu itu satu orang di antaranya meninggal,” kata Jubir GTPP Covid-19 Sultra dr La Ode Rabiul Awal, di Kendari.

Menurut Rabiul, pihaknya baru bisa memastikan lima dari 12 orang ini merupakan warga negara asing. Dalam pemeriksaan di RS Bahteramas Kendari, lima orang yang diperiksa lebih awal tersebut menggunakan nomor paspor dalam identitas, sementara tujuh orang lainnya tidak diketahui pemeriksaannya di mana.

Rabiul menuturkan, kemungkinan tujuh orang itu diperiksa di alat mobile PCR yang ada di perusahaan.

”Kalau lihat namanya, semuanya nama-nama China. Informasi yang kami terima mereka semua bekerja di Morosi,” ujarnya.

Morosi adalah kecamatan di Konawe, lokasi pabrik pengolahan dan pemurnian nikel skala besar berdiri.

Terus bertambahnya orang asing yang positif Covid-19 ini, kata Rabiul, menunjukkan adanya kluster penyebaran baru di kawasan industri. Transmisi lokal terjadi di antara pekerja tersebut.

Dengan demikian, penelusuran kasus wajib dilakukan untuk memutus rantai penyebaran virus di antara para pekerja.

Saat ini, ia menambahkan, satu mobil dengan alat tes reaksi berantai polimerase (PCR) telah dikerahkan ke perusahaan tempat pekerja tersebut. Alat tersebut didatangkan untuk membantu pengetesan spesimen terhadap kontak erat pekerja yang positif di wilayah industri tersebut.

Meski telah terdata lebih dari satu pekan dan satu orang meninggal, data pekerja asing yang positif Covid-19 belum diketahui lengkap oleh instansi setempat. Juru Bicara GTPP Covid-19 Konawe dr Dyah Nilasari menuturkan, pihaknya belum mendapatkan data lengkap pekerja asing yang terpapar Covid-19 di kawasan industri Morosi.

”Kami hubungi orang perusahaan jawabnya tidak tahu, tidak tahu. Datanya juga tidak disampaikan ke kami. Jadi, kami juga kesulitan mengakses informasi pekerja asing yang positif Covid-19 di daerah tersebut,” tutur Nila.

Sejauh ini, ia menambahkan, pihaknya baru mengetahui tujuh pekerja asal China yang positif di kawasan industri Morosi. Data itu pun disampaikan oleh tim gugus tugas Provinsi Sultra. Sementara itu, data perusahaan tidak juga disampaikan.

Senin sampai Rabu kemarin mobil tes PCR sudah dikirimkan ke Morosi.

Ia berharap perusahaan bisa terbuka terhadap data pekerja yang positif Covid-19. Dengan demikian, penelusuran kasus bisa lebih mudah dilakukan, baik terhadap pekerja asing lainnya maupun pekerja lokal yang berada di kawasan tersebut.

”Senin sampai Rabu kemarin, mobil tes PCR sudah dikirimkan ke Morosi. Hari ini kembali lagi ke sana. Untuk jumlah yang sudah diambil spesimen dan dites, kami belum dapat informasi lengkapnya,” ujar Nila.

Di kawasan industri Morosi terdapat dua perusahaan pengolahan dan pemurnian nikel, yaitu PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) dan PT Obsidian Stainless Steel (OSS). Dua perusahaan ini sebelumnya mendatangkan 500 pekerja asal China sejak Juni hingga September lalu.

Sementara itu, pihak perusahaan belum berkomentar terkait kluster penyebaran Covid-19 di kawasan industri tersebut. Juru Bicara PT VDNI dan PT OSS Dyah Fadilat tidak membalas pesan dan tidak mengangkat telepon dari Kompas.

Pada Kamis (18/11/2020), Dyah menjelaskan, pihaknya mengetahui hanya ada satu pekerja asing yang positif Covid-19. Pekerja yang bertugas sebagai subkontraktor itu adalah orang yang meninggal setelah dirawat di RSUD Bahteramas Kendari, Sabtu pekan lalu.

”Dari kami hanya mengetahui informasi mengenai satu pekerja asing yang bekerja sebagai subkontraktor di perusahaan kami. Selebihnya bisa dikonfirmasi kembali ke RS ataupun Gugus Tugas,” ucapnya melalui pesan pendek.

Menurut Dyah, pekerja itu berasal dari Shandong, China, dan sudah berada di Kawasan Industri Morosi sejak awal Januari lalu. Ia bekerja di kawasan PLTU dan tidak pernah meninggalkan kawasan pabrik karena tinggal di asrama karyawan milik PT OSS.

Dyah menambahkan, pihak kontraktor yang mempekerjakan tenaga kerja asing untuk PT OSS tersebut berinisiatif memperketat sistem kerja dan melakukan tes massal kepada seluruh pekerjanya sejak 14 November.

”Perusahaan akan terus mengawal kasus ini dan melakukan sterilisasi kawasan industri. Salah satunya mencegah karyawan atau pekerja harian lepas yang tidak tinggal di dalam asrama masuk ke area kawasan industri untuk sementara waktu,” tuturnya.

Sumber: Kompas.id

Read More

Tujuh Pekerja Asing di Smelter Nikel Positif Covid-19, Satu Orang Meninggal

NIKEL.CO.ID – Tujuh tenaga kerja asing di kawasan industri Konawe, Sulawesi Tenggara, positif Covid-19. Seorang di antaranya bahkan meninggal. Pemerintah Kabupaten Konawe mengatakan belum mengetahui kasus positif dan meninggal ini.

Tujuh pekerja itu diketahui bekerja di daerah industri Morosi, Konawe. Seorang pekerja yang meninggal bekerja di industri smelter. Hal ini menambah banyak kasus positif Covid-19 di Sulawesi Tenggara (Sultra). Hingga Rabu (18/11/2020), terdapat total 5.827 kasus positif dan 91 orang meninggal. Sebanyak 1.239 orang masih dalam perawatan, sedangkan 4.497 orang sembuh.

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sulawesi Tenggara La Ode Rabiul Awal menyampaikan, tujuh orang ini masuk ke data tabulasi Covid-19 dalam beberapa waktu yang berbeda. Dua orang tercatat pada Sabtu pekan lalu, sedangkan lima orang lainnya terdata pada pekan ini.

”Semuanya tercatat di Konawe. Berdasarkan penelusuran kami, mereka bekerja di Morosi. Kalau melihat nama, semuanya adalah nama luar, seperti China. Namun, kami tidak memiliki dokumen untuk memastikan domisili tepatnya setiap orang tersebut,” tutur Rabiul, di Kendari, Sultra, Kamis (19/11).

Beberapa dari pekerja asing ini, tutur Rabiul, dirawat di sejumlah rumah sakit. Sebagian dari mereka juga menjalani karantina mandiri karena termasuk pasien tanpa gejala. Tiga orang sebelumnya diketahui dirawat di RSUD Bahteramas Kendari.

Kepala Bidang Pelayanan RSUD Bahteramas dr Alghazali Amirullah menjelaskan, tiga pekerja asal China ini masuk ke rumah sakit pada Jumat (13/11). Seorang terluka dan harus dioperasi, seorang tanpa gejala, dan seorang lainnya harus menjalani perawatan maksimal.

”Kondisi seorang yang menjalani perawatan terus turun. Pasien sesak dan pneumonia. Saturasi oksigennya hanya 50 persen. Setelah beberapa jam perawatan, kondisinya tidak tertolong dan akhirnya meninggal pada Jumat dini hari,” tutur Alghazali.

Setelah dipastikan meninggal, tambahnya, pihak rumah sakit lalu melakukan pemulasaran jenazah dengan protokol kesehatan. Namun, jenazah tidak dimakamkan di Kendari, tetapi diurus kedutaan dari negara yang bersangkutan. ”Setahu saya tidak dimakamkan di sini karena diambil alih kedubes. Kami hanya sampai pemulasaran,” katanya.

Algazali melanjutkan, untuk dua pekerja lainnya yang juga positif Covid-19, seorang masih dalam perawatan di ruang isolasi RS Bahteramas. Kondisi kesehatannya masih dipantau petugas kesehatan, sedangkan seorang pekerja lainnya dipulangkan untuk menjalani isolasi mandiri karena positif Covid-19 dengan kondisi tanpa gejala.

Pekerja asing di Konawe sebagian besar tercatat di dua perusahaan dalam kawasan mega-industri pengolahan nikel di Morosi. Dua perusahaan ini, yaitu PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) dan PT Obsidian Stainless Steel (OSS), adalah perusahaan yang mendatangkan 500 pekerja asal China, beberapa waktu lalu.

Juru Bicara PT VDNI dan PT OSS Dyah Fadilat menyebutkan, sejauh ini, pihaknya hanya mengetahui seorang pekerja asing positif Covid-19. Pekerja yang bertugas sebagai subkontraktor itu adalah orang yang meninggal setelah dirawat di RSUD Bahteramas Kendari.

Menurut Dyah, pekerja itu berasal dari Shandong, China, dan sudah berada di Kawasan Industri Morosi, Konawe, sejak awal Januari lalu. Ia bekerja di kawasan PLTU dan tidak pernah meninggalkan kawasan pabrik karena tinggal di asrama karyawan milik PT OSS.

Hasil tes PCR-nya diketahui positif virus SARS-CoV-2. Oleh karena itu, penanganan jenazah oleh RS Bahteramas dilakukan mengikuti protokol Covid-19. Jenazah kemudian langsung dikremasi pada 13 November 2020, sore

Dyah mengatakan, pekerja ini sebelumnya merasakan sakit hingga jatuh dari tempat tidur saat berada di asrama perusahaan. Pihak perusahaan lalu membawa pekerja tersebut ke RSAD Ismoyo, Kendari, untuk menjalani perawatan.

Sesuai protokol yang berlaku, perawat melakukan tes uji cepat ke pekerja tersebut. Saat itu, hasilnya nonreaktif. Ia lalu diberikan bantuan oksigen dan pernapasan, hingga dirujuk ke RSUD Bahteramas yang memiliki peralatan lebih lengkap.

Di RSUD Bahteramas, dia lantas dites PCR atau polymerase chain reaction pada Jumat dini hari. Namun, pekerja ini meninggal pada Jumat, sekitar pukul 04.05 Wita. Menurut keterangan dokter, penyebab kematian adalah penyempitan pembuluh darah di otak.

”Hasil tes PCR-nya diketahui positif virus SARS-CoV-2. Oleh karena itu, penanganan jenazah oleh RS Bahteramas dilakukan mengikuti protokol Covid-19. Jenazah kemudian langsung dikremasi pada 13 November 2020, sore,” ucap Dyah.

Dyah menambahkan, pihak kontraktor yang mempekerjakan tenaga kerja asing untuk PT OSS tersebut berinisiatif memperketat sistem kerja dan melakukan tes massal kepada seluruh pekerjanya sejak tanggal 14 November 2020.

”Perusahaan akan terus mengawal kasus ini dan melakukan sterilisasi kawasan industri. Salah satunya mencegah karyawan atau pekerja harian lepas yang tidak tinggal di dalam asrama masuk ke area kawasan industri untuk sementara waktu,” ungkap Dyah.

Selain itu, ia menambahkan, perusahaan memutuskan membatasi aktivitas karyawan yang tidak tinggal di dalam asrama. Hal ini akan berlaku hingga tes massal kepada seluruh pekerja selesai dilakukan dan hasilnya dipastikan aman untuk beraktivitas normal kembali.

Keterbukaan

Meski tenaga kerja asing itu telah meninggal lebih dari sCOVIDepekan, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Konawe justru tidak mengetahuinya. Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Konawe dr Dyah Nilasari menyampaikan, pihaknya masih mencari informasi terkait hal ini.

”Sejak kemarin, Pak Sekda (Konawe) juga tanya hal ini. Kami masih mencari informasi karena tidak ada laporan yang masuk dari perusahaan,” ucap Nila, Rabu sore.

Menurut Nila, ia hanya mengetahui sejumlah pekerja lokal yang positif Covid-19 pada Oktober lalu. Namun, para pekerja tersebut diketahui sembuh dan mulai bekerja kembali.

Rabiul menyampaikan, pelaporan dan keterbukaan informasi terkait hal ini penting guna mencegah penyebaran virus semakin meluas. Penelusuran kasus harus segera dilakukan dengan protokol ketat. ”Perusahaan harus segera melaporkan hal ini agar penelusuran bisa dilakukan bersama,” ujarnya.

Sumber: KOMPAS.ID

Read More