Nikel & Kedaulatan Minerba

Oleh: Eko Sulistyo *)

Semakin tinggi pohon semakin kencang angin yang menerpanya. Kiasan ini tepat untuk menggambarkam posisi Indonesia dalam sengketa nikel.

SENGKETA antarnegara soal kebijakan dagang biasa terjadi, sehingga tidak perlu cemas menghadapi guga sepertitan Uni Eropa (UE) terkait dengan larangan ekspor nikel. Pada akhir 2019, UE menggugat Indonesia ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) karena dianggap bertindak tidak fair dengan melakukan pembatasan ekspor nikel.

Langkah Indonesia dianggap akan membatasi akses produsen baja UE ke bahan mentah produksi baja tahan karat atau stainless steel bagi pasar di Eropa. Pada 14 Januari lalu, UE kembali mendesak agar gugatannya diproses di WTO dengan meminta pembentukan panel untuk memutuskan legalitas atas tindakan Indonesia.

Semakin tinggi pohon semakin kencang angin yang menerpanya. Kiasan ini tepat untuk menggambarkam posisi Indonesia dalam sengketa nikel. Industri baja tahan karat EU mencapai produksi terendah dalam 10 tahun terakhir. Indonesia ditetapkan menjadi produsen terbesar kedua di dunia setelah China.

Pada situasi lainnya, bangkitnya era mobil listrik berdampak signifikan pada peningkatan kebutuhan nikel dunia. Indonesia sedang menjadi soroton dunia sehubungan cadangan nikel. Sebagai material inti pembentuk (precursor) baterai mobil listrik, nikel semakin banyak dicari pasar dunia.

Bagi yang mengerti logika bisnis, gugatan UE seperti perang urat syaraf pada sebuah turnamen olahraga agar mereka tetap bisa membeli bijih nikel mentah (ore) yang harganya jauh di bawah nikel yang sudah diproses di smelter. Berdasarkan asumsi dan pertimbangan strategis, tentu sikap Indonesia berlawanan dengan kehendak UE.

Indonesia memiliki kepentingan yang lebih strategis dalam pemanfaatan nikel. Selama ini UE sudah banyak menikmati pasokan bijih nikel dari berbagai negara, salah satunya dari Indonesia. Wajar jika UE kemudian terkejut ketika merespon kebijakan moratorium dan peta jalan strategis Indonesia mengenai pemanfaatan nikel.

Moratorium ekspor ini bisa dibaca sebagai wujud kedaulatan negara atas minerba (mineral dan batubara), dalam hal ini nikel, termasuk kobalt. Kobalt juga merupakan komponen pembentuk baterai mobil listrik, senyawa kobalt baru muncul saat pemurnian (smelting) nikel.

Berdasarkan pertimbangan ekonomis, adalah hak Indonesia melakukan moratorium. Momentum telah tiba, kita harus memperoleh manfaat yang lebih besar ketimbang hanya mengekspor bijih nikel mentah. Sudah sejak lama telah muncul kesadaran, ekspor bijih nikel mentah harus berhenti total karena harganya sangat murah.

Bila yang diekspor adalah nikel yang sudah diproses, seperti feronikel atau nickel pig iron (NPI), lebih menguntungkan dari segi harga. Indonesia juga sudah berancang-ancang dengan target yang lebih ambisius, yaitu hilirisasi nikel untuk baterai mobil listrik, yang harganya di pasar dunia sangat kompetitif.

Bahkan seorang Elon Musk, icon mobil listrik dunia, secara terbuka menyatakan ketertarikannya pada produk nikel dari Indonesia. Demikian juga LG Solution dari Korea Selatan, telah menandatangani kesepakatan investasi (MoU) sebesar US$9,8 miliar setara atau Rp142 triliun untuk pengembangan industri nikel terintegrasi di Indonesia.

Tindakan moratorium ekspor nikel memiliki dasar regulasi yang cukup kuat, salah satunya adalah UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Minerba. Pasal 170 menyebutkan, pemurnian di dalam negeri harus dilakukan selambat-lambatnya lima tahun sejak UU Minerba diundangkan pada 12 Januari 2009. Artinya ekspor bijih nikel semestinya sudah distop pada awal 2014.

Sementara itu, pada pasal 4 UU tersebut dinyatakan, minerba sebagai sumber daya alam tak terbarukan merupakan kekayaan nasional yang dikuasai oleh negara untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat. Jelas negara memiliki kedaulatan penuh mengatur dan memanfaatkan sumber daya mineral, termasuk nikel tanpa ada intervensi dari negara lain.

Moratorium ekspor nikel juga berbasis regulasi internasional, yakni resolusi PBB 1803 (XVII) tentang permanent sovereignty over natural resources (PSNR). Kini yang dibutuhkan adalah keterampilan dalam diplomasi dan negosiasi.

Dari pengalaman sebelumnya, penyelesaian sengketa di WTO umumnya berakhir di tahapan konsultasi atau win-win solution dan WTO selalu memberi ruang perundingan pada pihak yang bersengketa. Penyelesaiannya tidak harus melalui persidangan di pengadilan.

Dalam program besar hilirisasi nikel, kedaulatan negara atas minerba kembali diuji. Pada titik ini kita kembali mengingat diksi yang pernah disampaikan Presiden Jokowi, soal kontrol Indonesia atas nikel. Berdasar fakta di lapangan, Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, setara 24% cadangan nikel dunia menurut catatan Bloomberg (2020). Berdasarkan fakta itu pula, Presiden Jokowi mendorong penguatan industri hilir nikel.

Kepala Negara juga menegaskan tidak akan ada lagi ekspor nikel dalam bentuk bijih yang sudah dilaksanakan dengan moratorium itu. Pernyataan presiden ini sekaligus membuka peluang Indonesia masuk dalam industri mobil listrik sebagai produsen utama baterai litium.

Dalam implementasi di lapangan, kedaulatan atas nikel bisa dimulai atas kontrol negara melalui Kementerian ESDM, dalam pembangunan smelter. Keberadaan smelter demikian krusial dalam hilirisasi nikel. Kita bisa belajar dari pengalaman PT Freeport Indonesia (FI), yang pemurnian tembaganya di luar negeri dan hampir tiga dekade baru dibangun smelter di Gresik pada 1996.

*) Eko Sulistyo adalah Komisaris PT. PLN (Persero), juga tercatat sebagai sejarawan dan juga Deputi IV Kantor Staf Presiden 2015-2019.
Menurut catatan Kantor Staf Presiden, Eko Sulistyo adalah alumnus terbaik Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret (UNS) 1994.

Sumber: bisnis.com

Read More

Manfaat Sumber Daya Alam dalam Bidang Ekonomi

NIKEL.co.id – Sumber daya alam merupakan semua hal yang berasal dari alam yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Indonesia termasuk negara yang memiliki kekayaan alam yang berlimpah dibandingkan negara-negara yang lain. Dengan banyaknya kekayaan alam yang berlimpah, dapat dijadikan sumber penghidupan.

Dalam buku Pengelolaan Sumber Daya Alam dam Lingkungan (2018) karya Sarintan Efratani, pemanfaatan sumber daya alam harus berwawasan lingkungan.

Dalam memanfaatkan sumber daya alam, sebaiknya manusia tidak semua dimanfaatkan. meskipun sumber daya alam ada yang dapat diperbaharui, tetap harus dihemat dalam pemakaiannya.

Sumber daya alam dan lingkungan hidup berperan sangat penting dalam mengamankan serta menjamin seluruh kelangsungan pembangunan secara berkelanjutan.

Hal tersebut tentu untuk menyangga kehidupan manusia dan menjadi tulang punggung sebagai penyedia pangan, energi, air, dan penyangga sistem kehidupan.

Manfaat sumber daya alam

Dilansir dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, sumber daya alam yang ada di dalam bumi merupakan barang tambang. Di mana barang tersebut dapat diolah menjadi bahan baku, kemudian barang jadi.

Setelah menjadi barang jadi, maka banyak manusia yang membutuhkan hal tersebut. Untuk membuat bahan baku menjadi bahan jadi, tetu memerlukan produsen, distributor, dan konsumen (manusia). Hal ini terjalin dalam bidang ekonomi.

Berikut beberapa contoh bahan baku dan kegunaannya:

  • Asbes = bahan pembuat sumbu kompor dan kaos lampu
  • Batu bara = bahan bakar, pewarna, dan pengawet kayu
  • Belerang = industri obat-obatan dan korek api
  • Batu kapur = industri semen, bangunan, dan car tradisional
  • Besi = industri mesin, jembatan, bangunan, dan alat rumah tangga
  • Bauksit = bahan baku alumunium, pesawat terbang, dan alat rumah tangga
  • Emas = bahan perhiasan bernilai tinggi
  • Gas alam = bahan bakar
  • Minyak bumi = bahan bakar
  • Mangaan = bahan besi baja
  • Nikel = bahan pelapis antri karat pada besi
  • Timah = peralatan rumah tangga
  • Tembaga = peralatan untuk bahan perunggu
Beberapa bahan baku yang ada di bumi dapat cepat habis jika dimanfaatkan secara besar-besaran. Jika hal tersebut terjadi maka, manusia sendiri yang akan dirugikan.

Pelestarian sumber daya alam

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, berikut cara melestarikan sumber daya alam, yaitu:

Penghematan

Bahan galian, seperti barang tambang termasuk bahan yang tidak bisa diperbaharui. Jika sudah habis dimanfaatkan, maka sudah tidak bisa ditemukan lagi. Sehingga dalam menggunakan bahan tersebut harus dilakukan penghematan atau mencari bahan alternatif lain yang serupa.

Perlindungan

Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam perlindungan adalah membentuk suaka margasatwa dan cagar alam. Suaka margasatwa merupakan tempat perlindungan hewan-hewan agar tidak cepat langka dan punah.

Sedangkan cagar alam adalah perlindungan hutan, tumbuhan, dan hewan yang ada di dalamnya. Sehingga hewan-hewan dan tumbuhan masih memiliki tempat yang aman dan nyaman untuk mereka.

Berikut daftar Suaka margasatwa dan cagar alam di Indonesia, di antaranya:

  1. Suaka margasatwa Gunung Leuser di Aceh
  2. Suaka margasatwa Baluran di Jawa Timur
  3. Suaka margasatwa Kutai di Kalimantan Timur
  4. Suaka margasatwa Pulau Mojo di Sumbawa (NTB).
  5. Suaka margasatwa Pulau Komodo di NTT
  6. Suaka alam Sibolangit di Sumatera Utara
  7. Suaka alam Limbo Pantai di Sumatera Barat
  8. Suaka alam Raflesia di Bengkulu
  9. Suaka alam Pulau Dua di Jawa Barat
  10. Suaka alam Arjuno Lalijiwo di Jawa Timur

Pemeliharaan

Sebagai manusia, kita harus turut menjaga kekayaan alam. Beberapa kegiatan untuk menjaga kekayaan alam, di antaranya:

  1. Penebangan pohon harus seimbang dengan penanaman pohon.
  2. Memanfaatkan hutan secara serba guna
  3. Pengambilan hasil hutan dengan perhitungan
  4. Hati-hati dalam menebang pohon agar tidak merusak pohon muda
  5. Memelihara pohon agar tumbuh dengan baik
  6. Mencegah penebangan liar, bahaya kebakaran, dan hama penyakit

Selain menjaga alam dan hutan, kita juga harus menjaga tanah agar tetap subur. Dengan tanah yang subur, maka kita bisa menanam berbagai pohon dan mencegah erosi.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Manfaat Sumber Daya Alam dalam Bidang Ekonomi”, Klik untuk baca: https://www.kompas.com/skola/read/2020/09/23/110000569/manfaat-sumber-daya-alam-dalam-bidang-ekonomi?page=all.
Penulis : Serafica Gischa
Editor : Serafica Gischa

Read More