MIND ID Usulkan Diskon Royalti & Harga Patokan Nikel. Kenapa?

NIKEL.CO.ID – Dunia tengah gencar melakukan transisi energi dari energi berbasis fosil ke energi terbarukan. Salah satu sektor yang didorong untuk bertransisi adalah transportasi, yakni perpindahan dari kendaraan berbasis bahan bakar minyak (BBM) menjadi kendaraan listrik.

Melihat hal ini, RI sebagai negara yang memiliki sumber daya nikel terbesar dunia berupaya menangkap peluang. Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) membentuk perusahaan Holding baterai bernama Indonesia Battery Corporation (IBC) atau PT Industri Baterai Indonesia.

Holding ini dikerjakan keroyokan oleh empat BUMN RI untuk membangun industri baterai terintegrasi dari hulu sampai hilir. Salah satu anggotanya adalah Holding BUMN Tambang RI, Mining Industry Indonesia (MIND ID).

Indonesia pun memiliki target untuk menjadi pemain baterai dunia pada 2027 mendatang. Demi membentuk ekosistem baterai ini, MIND ID meminta dukungan kebijakan dari pemerintah, termasuk sejumlah insentif.

Dukungan yang diminta salah satunya yaitu diskon royalti untuk bijih nikel limonit (bijih nikel kadar rendah di bawah 1,5%) yang digunakan sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik (EV) atau Energy Storage System (ESS).

Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Hubungan Kelembagaan MIND ID Dany Amrul Ichdan.

“Kami usulkan adanya diskon royalti untuk bijih nikel limonit untuk bahan baku EV battery, tapi ini belum (disetujui),” ucapnya dalam Webinar ‘Mineral for Energy’, Selasa malam (14/09/2021).

Menurutnya, dengan adanya diskon royalti ini, tidak hanya akan menguntungkan BUMN, namun juga pihak swasta seperti Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) yang juga tengah membangun industri komponen baterai.

“Saya yakin tidak hanya BUMN, swasta juga kayak teman-teman Morowali kalau bisa dapat ini juga bagus,” lanjutnya.

Kepada Kementerian ESDM, pihaknya mengusulkan tujuh dukungan kebijakan dan dua diantaranya telah disetujui, antara lain:

Belum disetujui:

1. Diskon royalti untuk bijih nikel limonit untuk bahan baku EV Battery.

2. Diskon Harga Patokan Mineral (HPM) bijih limonit.

3. BUMN tetap dapat mengalihkan sebagian wilayah IUP/IUPK kepada anak usaha yang mayoritas sahamnya milik BUMN.

4. Badan usaha SPKLU selaku pemegang IUPTL dapat bekerjasama dengan pemegang IUJPTL.

5. Penetapan batas atas tarif tenaga listrik agar lebih meningkatkan lagi kelayakan ekonomi bagi pemegang IUPTL/IUJPTL.

Sudah disetujui:

1. Tarif tenaga listrik untuk Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) sesuai tarif untuk penjualan curah.

2. Pelaku usaha swap EV Battery hanya berkewajiban menyediakan, namun tidak wajib memiliki baterai tersebut.

“Dukungan kebijakan kami mohon dengan sangat karena bagaimanapun (Direktorat Jenderal) Minerba ini adalah mitra strategis. MIND ID butuh dukungan kebijakan pemerintah agar ekosistem baterai sukses dan jadi icon pengembangan MIND ID dan kebanggaan kita,” harapnya.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Vale Indonesia Kaji Bijih Limonit untuk Bahan Baku Mobil Listrik

NIKEL.CO.ID – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) terus mendukung pengembangan kendaraan listrik. Bahkan, perseroan sedang mengkaji mineral baru yang bisa digunakan untuk pengembangan industri tersebut.

Presiden Direktur Vale Indonesia Febriany Eddy menjelaskan, sebagai perusahaan tambang nikel, perseroan fokus pada sisi hulu. Begitu juga dalam pengembangan mobil listrik, perseroan akan mendukung penyediaan bahan bakunya.

“Komoditas yang sedang dikaji untuk mendukung pengembangan industri tersebut adalah bijih limonit,” kata Febriany dalam acara Konferensi Pers Public Expose Live, Rabu (8/9/2021).

Menurut Febriany, bijih limonit atau bijih nikel berkadar rendah ini cocok untuk mendukung mobil listrik. Namun sayangnya, perseroan tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai kajian ini dan akan memberitahukan kelanjutan kajian tersebut tahun depan.

Selain mengkaji bijih limonit, perseroan tengah mempersiapkan pabrik smelter atau fasilitas pengolahan nikel Bahodopi di Sulawesi Tengah dan Pomalaa di Sulawesi Tenggara. Pabrik tersebut akan menghasilkan Mix Hydroxide Precipitate (MHP) dan Mix Sulphide Precipitate (MSP) yang akan menjadi bahan baku komponen baterai dalam mobil listrik.

Sementara itu, Wakil Presiden Direktur Vale Indonesia Ardiansyah Chaniago mengatakan, sejauh ini, perseroan sudah menggandeng dua mitra strategis asal Tiongkok, Taiyuan Iron & Steel (Group) Co Ltd (Taigang) dan Shandong Xinhai Technology Co Ltd, untuk menggarap fasilitas pengolahan nikel Bahodopi. Kemudian, perseroan juga tengah mengurus perizinan terkait analisis dampak lingkungan (Amdal) untuk fasilitas pengolahan Pomalaa.

“Awal tahun depan, kami harapkan izin untuk fasilitas di Pomalaa telah dilengkapi, sehingga bisa masuk ke tahap konstruksi. Begitu juga dengan fasilitas di Bahodopi, diharapkan bisa mendapatkan final investment decision (FID) pada akhir tahun ini atau awal tahun depan,” kata dia.

Chief Financial Officer Vale Indonesia Bernardus Irmanto menambahkan, tahap konstruksi untuk pabrik HPAL (high pressure acid leaching) ini cukup panjang, sehingga pabrik tersebut diperkirakan mulai beroperasi sekitar tahun 2026.

Hingga kuartal II-2021, Vale Indonesia mencatat penjualan US$ 208,4 juta dengan volume 15.845 ton nikel matte. Volume penjualan tersebut meningkat 7% dari kuartal I-2021, di tengah realisasi harga nikel yang lebih rendah pada kuartal II-2021.

EBITDA pada kuartal II-2021 mencapai US$ 72,3 juta, lebih rendah 18,67% dari kuartal I-2021 yang mencapai US$ 88,9 juta. Penurunan ini disebabkan oleh biaya yang lebih tinggi dan realisasi harga rata-rata nikel yang lebih rendah. Akibatnya, laba perseroan pada kuartal II-2021 menurun 25,51% menjadi US$ 25,1 juta dari US$ 33,7 juta pada kuartal I-2021.

Sumber: investor.id

Read More

Andre Rosiade: Bijih Nikel Yang Direject Oleh Smelter, Diekspor Saja Pak Menteri

NIKEL.CO.ID – Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Gerindra, Andre Rosiade, mengapresiasi Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Luthfi yang berkomitmen segera menyelesaikan sengkarut kinerja penyurvei atau surveyor nikel.

Sebagai tindak lanjut, dalam Rapat Kerja Komisi VI DPR dengan Mendag Luthfi, Kamis (26/8/2021), Andre mengusulkan agar Mendag membentuk satgas perdagangan yang nantinya bakal mengawasi kineja surveyor nikel di parbrik-pabrik pemurnian (smelter) milik Tiongkok.

“Alhamdulillah Pak Menteri sudah akan eksekusi dengan Pak Dirjen soal surveyor nikel. Kalau seandainya ternyata dengan segala intervensi akhirnya Anindya selamat, hasil uji kadar logam nikel pengusaha lokal kita oleh Sucofindo dan Surveyor Indonesia 1,8% tetapi Anindya tetap 1,5%, saya usul Pak Menteri, Bapak bentuk saja satgas perdagangan di seluruh smelter milik Tiongkok, taruh satgas di situ,” kata Andre.

Lebih lanjut, Andre juga mendorong Mendag Luthfi mengambil inisiatif untuk mengekspor nikel yang dinilai rendah oleh smelter Tiongkok. Berdasarkan Undang Undang Cipta Kerja Tahun 2021 Pasal 6 dan 9 dan PP Nomor 29 Tahun 2021, dia menyebut Mendag memiliki kewenangan tersebut.

Andre menilai, ekspor biji nikel dapat menyelamatkan para pengusaha nasional dan lebih memberikan nilai tambah kepada negara. Lebih dari itu, keberpihakan kepada NKRI juga harus diutamakan dalam menghadapi sengkarut tata niaga nikel ini.

“Karena mohon maaf Pak Menteri, sudah harga beli mereka murah, lalu pendapatan pajak untuk negara juga sedikit. Kenapa kita tidak bikin bargaining supaya smelter-smelter Tiongkok itu tidak mengatur NKRI. Yang direject sama mereka ekspor saja Pak Menteri. Pasti harganya lebih mahal, lalu pajaknya juga dapat 15% dari harga internasional. Jadi duitnya jauh lebih banyak negara dapat. Jadi saya usul, lebih baik kita ekspor. Supaya ada rasa keadilan dan bargaining kita sama smelter-smelter Tiongkok itu,” tegas Ketua DPD Partai Gerindra Sumatera barat ini.

“Yang saya hidupkan adalah NKRI. Pengusaha nasional kita terselamatkan, lalu sumber daya alam kita benar-benar untuk kepentingan negara,” imbuh dia.

Menanggapi usulan Andre, Mendag Luthfi mengatakan pihaknya akan segera menyelesaikan sengkarut kinerja surveyor dalam waktu dekat. Mendag juga akan menindak tegas setiap surveyor yang melakukan kecurangan.

“Untuk urusan nikel ini konsepnya, kalau terjadi kecurangan apa lagi dengan mengatasnamakan surveyor, itu aturannya ada di Kementerian Perdagangan. Saya berjanji akan saya selesaikan sebeleum akhir bulan depan. Kalau ada yang macem-macem saya bilang Dirjen, stop ijinnya. Jadi saya pastikan tidak ada kecurangan lagi soal smelter ini,” kata Mendag Luthfi.

Sumber: detik.com

Read More

Mengintip Peluang Bisnis Nikel di 2022

NIKEL.CO.ID – Peluang bisnis nikel ke depan di 2022 dinilai cukup menjanjikan, disebabkan oleh tingginya permintaan bijih nikel di pasar domestik.

Di mana hal ini juga didukung oleh pemerintah yang akan mengembangkan industri dan ekosistem kendaraan listrik melalui holding BUMN baterai Indonesia, hasil kerja sama dengan produsen mobil listrik yaitu LG Chem dan CATL.

Karena itu, Direktur Utama PT PAM Mineral Tbk (NICL) Ruddy Tjanaka memperkirakan pada 2022, permintaan nikel akan melebihi pasokan atau supply yang ada.

“Potensi besar untuk bertumbuh. Mengingat, saat ini baru sebagian kecil dari area yang sudah dieksploitasi,” ujarnya, Kamis (15/7/2021).

Seperti diketahui, pabrik baterai mobil listrik milik PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC) dan Konsorsium LG serta CATL untuk mobil listrik akan mulai melakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking akhir Juli 2021.

Selanjutnya, pabrik baterai tersebut diharapkan akan mulai beroperasi pada 2023, di mana nikel dengan kadar rendah banyak dibutuhkan untuk kebutuhan campuran dengan jenis logam cobalt sebagai bahan baku untuk baterai.

Lebih lanjut, Ruddy menjelaskan, jumlah pasokan nikel terbatas saat ini dengan permintaan bijih nikel semakin meningkat, terutama dari industri kendaraan listrik.

Sementara, market share untuk kendaran listrik diproyeksikan meningkat dari 2,5 persen pada 2019 menjadi 10 persen pada 2025.

Kemudian, market share untuk industry kendaraan listrik diprediksikan akan kembali meningkat menjadi 28 persen di 2030 dan 58 persen di 2040.

Dia menambahkan, pada 2019, total konsumsi nikel untuk bahan baku baterai baru mencapai 7 persen dari total keseluruhan global.

Dari data itu, perusahaan melihat satu peluang menjanjikan pada pertambangan nikel berkadar rendah, sejalan dengan pertumbuhan kebutuhan baterai untuk bahan bakar kendaraan listrik.

Di sisi lain, permintaan bijih nikel berkadar tinggi juga terus mengalami peningkatan, terutama karena adanya industri pengolahan atau smelter yang ada.

“Adanya industri baterai nasional seiring tumbuhnya smelter dengan teknologi hydrometalurgi akan meningkatkan kinerja dengan diserapnya nikel kadar rendah perusahaan. Ini yang kita harapkan bersama,” pungkas Ruddy.

Sumber: Warta Kota

Read More

APNI: Pemerintah Harus Batasi Smelter Kelas Dua

NIKEL.CO.ID – Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI)  mendukung pemerintah untuk melakukan pembatasan smelter kelas 2 (NPI/FeNi),tetapi tetap mengundang investor untuk berinvestasi ke end produk nikel seperti stainless steel, baterai dan electric vehicle.

APNI merekomendasikan pemerintah untuk membatasi eksport produk kelas 2 (NPI/FeNi) minimal 30-50% untuk local, sehingga pabrik dalam negeri seperti Krakatau Steel untuk bisa memproduksi olahan nikel yaitu STAINLESS STEEL atau olahan logam lainnya sehingga pabrik Indonesia bisa bersaing untuk industri logam dunia.

“Dalam mendukung industry HILIR nikel, diperlukan ekosistem yang terarah dari HULU ke HILIR, terutama dalam rantai pasok bahan baku dan tata Kelola niaga transaksi bijih nikel yang sesuai dengan aturan/regulasi yang sudah diatur dalam Permen ESDM No 11/2020, Saat ini masih banyak transaksi bijih nikel yang tidak sesuai dengan aturan yang berlaku,”demikian isi siaran pers APNI yang diterima ruangenergi.com,Senin (28/06/2021) di Jakarta.

Pada tanggal 13 agustus 2020 di keluarkan Kepmenko 108/2020, Tentang Tim Satgas HPM, capaian kerja TIM SATGAS HPM:

1. 89% (65) perusahaan telah mematuhi HPM

2. Telah dikeluarkannya Surat Peringatan: Surat Ketua Pelaksana Tim Kerja Pengawasan Pelaksanaan Harga Patokan Mineral Nikel No.102/Deputi 6/Marves/VIII/2020 tanggal 31 Agustus 2020 hal Peringatan Tertulis

3. Telah dikeluarkannya Maklumat Penegakan Hukum HPM: Surat Ketua Pelaksana Tim Kerja Pengawasan Pelaksanaan Harga Patokan Mineral Nikel No.116/Deputi 6/Marves/IX/2020 tanggal 28 September 2020 hal Maklumat Penegakan Hukum Atas Permen ESDM No.11/2020

4. Pengusulan sanksi pembekuan tax holiday dalam revisi PMK No.130/2020

Masukan dan Harapan APNI:

APNI mengusulkan untuk mendukung industri hilir nikel untuk mendorong industry stainless steel dan batterai dalan negeri:

1. Semakin bertambahnya perusahaan smelter HPAL yang beroperasi, maka untuk menjaga ketersediaan cadangan dan optimalisasi bijih nikel kadar rendah, diperlukan pembatasan kadar bijih nikel yang diizinkan untuk diperjual-belikan;

2. Dilakukan kegiatan EKSPLORASI DETAIL untuk seluruh wilayah pertambangan, sehingga di dapatkan data SUMBER DAYA & CADANGAN Nikel dan mineral pendukung lainnya yang akurat untuk menunjang kebutuhan bahan baku smelter dan HPAL yang semakin banyak berdiri di Indonesia;

3. Harga Bijih Nikel yang diterapkan sesuai dengan HPM yang tertuang dalam Permen 11/2020, melalui KePmen yang diterbitkan setiap bulan oleh Menteri ESDM dan Dioptimalkan kerja-kerja Satgas HPM dalam pengawasan transaksi bijih nikel di lapangan;

4. Untuk menghindari monopoli, disarankan kepada smelter untuk menggunakan surveyor independent terdaftar SECARA MERATA kepada seluruh surveyor terdaftar, agar hasil analisa lebih cepat dapat diperoleh.;

5. Kebutuhan akan bijih nikel untuk HPAL dengan syarat spesifikasi yang ditentukan oleh pabrik, di khawatirkan tidak akan terakomodir maksimal oleh penambang, dikarenakan syarat MGO. Kondisi yang sama saat ini untuk kebutuhan PIROMETALURGI kebutuhan akan saprolite bijih nikel kadar yang tinggi yaitu diatas 1.8% dengan syarat SiO/MgO maksimum 2,5;

6. Optimalisasi pabrik hilir nikel dengan pembatasan investasi baru, dan mendukung Investasi yang sudah berjalan di Indonesia;

7.  Mengangkat Indonesia dalam kancah industry logam dunia, dengan memacu pabrik dalam negeri untuk industry end produk.

Berdasarkan data APNI industry hilir khusus nikel yang akan dibangun baik smelter pirometalurgy dan hydrometallurgy sebanyak 98 perusahaan, terdiri dari 25 pabrik yang sudah produksi, 41 perusahaan yang sedang melakukan konstruksi dan 32 perusahaan yang sedang berproses perijinan.

Dari data industri hilir nikel ini kebutuhan bahan baku bijih nikel akan terkonsumsi sebesar 255 juta ton per tahun, jika data cadangan terukur bijih nikel hanya 4,6 milyar ton, maka industry hilir nikel hanya bisa bertahan maksimal 18 tahun, itupun dengan kondisi bijih nikel kadar tinggi (diatas 1.6%) hanya 1.7 milyar ton, jika industry pirometalurgy hanya menggunakan bijih nikel kadar tinggi maka umur pabrik ini hanya bertahan 7 tahun.

Sumber: ruangenergi.com

Read More

BPPT Sebut Indonesia Siap Jadi Raja Baterai Dunia

NIKEL.CO.ID – Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza mengungkapkan bahwa Indonesia siap menjadi raja baterai dunia. Hal itu berdasarkan hasil audit teknologi yang sudah dilakukan BPPT sebagai bentuk dukungan dalam upaya mewujudkan pabrik smelter.

“Alhamdulillah, hasil yang didapatkan sesuai dengan harapan semua pihak, bahkan ini memberikan nilai tambah pada komoditas nikel,” kata Hammam dalam keterangan resmi, Selasa (11/5/2021).

BPPT melaporkan hasil audit teknologi yang dilakukan terhadap metode Step Temperature Acid Leach (STAL) yang dikembangkan PT Trinitan Metals and Minerals (PT TMM). Untuk proses pelindian ini mampu me-recovery nikel mulai 89% hingga 91% dan kobalt sebesar 90% hingga 94%. Metode tersebut dinyatakan mampu memberikan nilai tambah komoditas nikel ketika diterapkan dalam smelter skala kecil atau modular.

Hasil audit teknologi menunjukkan metode STAL lebih tinggi dibandingkan dengan penggunaan teknologi atmospheric leaching (AL) yang dapat menghasilkan recovery nikel antara 50% hingga 70%, dan cenderung mendekati teknologi high pressure acid leaching (HPAL) yang dapat mencapai 94% hingga 96%.

“Hasil audit teknologi ini bisa dijadikan rekomendasi dalam pembangunan smelter modular atau skala kecil yang bisa langsung dimanfaatkan oleh pertambangan rakyat, terlebih metode ini mengusung konsep zero waste, dimana hasil buang proses pelindian bisa diproduksi lagi,” tuturnya.

Pembangunan smelter modular nikel menurutnya merupakan sebuah kesempatan yang harus segera diambil oleh Indonesia. Lantaran persaingan teknologi energi sudah mulai beralih, dari energi fosil menjadi energi terbarukan, dan baterai diprediksi menjadi komoditas yang dibutuhkan industri di masa yang tidak lama lagi.

Kebutuhan akan baterai menurutnya akan selaras dengan permintaan nikel, dan beruntungnya Indonesia merupakan salah satu yang terbesar di dunia. Hal ini didasari data dari McKinsey, dimana Indonesia merupakan salah satu produsen nikel (Nickel Pig Iron /NPI), Bijih, Konsentrat, Presipitat) terbesar di dunia dengan menyumbang 27% total produksi global.

“Dengan dukungan penuh pemerintah dan ekosistem yang dibangun bersama oleh industri, Indonesia siap menjadi raja baterai dunia,” pungkasnya.

Sumber: Media Indonesia

Read More

Luhut Ungkap Teknologi Pengolahan Nikel Kadar Rendah Karya Anak Bangsa

NIKEL.CO.ID – Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan mengungkapkan adanya pengembangan teknologi pengolahan nikel kadar rendah yang mampu bersaing dan bahkan disebutkan lebih ramah lingkungan.

Teknologi nikel ini disebut Step Temperature Acid Leaching (STAL) yakni memproses bijih nikel dengan tekanan atmosfer (atmospheric pressure). Teknologi ini disebut mampu menghasilkan recovery nikel di atas 90%.

Dia mengatakan, teknologi STAL yang dikembangkan PT Trinitan Metals and Minerals Tbk (PURE) ini juga menghasilkan limbah yang lebih ramah lingkungan. Pasalnya, limbahnya bisa dikelola kembali menjadi produk yang bernilai, dibandingkan teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL).

Menurutnya, limbah STAL menghasilkan residu Fe (besi) dan Al (aluminium) yang bisa diolah menjadi bijih besi atau iron ore dan produk lainnya.

“Selain itu, STAL juga dinilai akan menghasilkan emisi karbon yang lebih rendah dibandingkan teknologi pengolahan nikel lainnya,” kata Luhut dalam keterangan resminya, Kamis (29/04/2021).

Oleh karena itu, Luhut pun mendorong adanya penerapan dari teknologi karya anak bangsa ini.

“Ini ada pengembangan teknologi baru dari anak bangsa, kita dukunglah. Saya ingin produk-produk dalam negeri terus maju,” pintanya.

Selain itu, Luhut juga berpesan kepada semua pihak agar teknologi STAL ini dapat dikembangkan terus dan diharapkan semua pihak bisa bekerja sama dengan baik.

Terkait dengan investasi di bidang ini, Luhut berharap Indonesia dapat menarik investor yang sesuai untuk pengembangan teknologi ini.

“Kita tidak mau main-main. Jadi makanya sekarang orang bicara soal green, jadi jangan ditipu lagi dengan data-data yang tidak benar,” tegasnya.

Lebih lanjut dia mengatakan pengembangan teknologi STAL yang menggunakan metode hidrometalurgi ini dipandang sebagai sebuah terobosan untuk aplikasi teknologi pengolahan nikel dalam skala lebih kecil.

Dibandingkan dengan jenis-jenis teknologi yang digunakan pada industri pengolahan logam dasar, teknologi tersebut dapat berbentuk secara modular dan dipandang cocok untuk diterapkan pada lokasi-lokasi yang dekat dengan wilayah pertambangan nikel (mine mouth).

Dengan teknologi modular ini, maka diperkirakan bisa dijangkau oleh industri pertambangan skala kecil yang banyak terdapat di Indonesia.

Desain teknologi STAL yang dikembangkan ini akan membutuhkan bijih nikel sebesar 170 ribu ton bijih nikel per tahunnya atau 600 ton bijih nikel per hari untuk setiap modular STAL.

STAL dapat mengolah bijih nikel dengan kadar rendah sampai 1.1%. Kemudian listrik yang dibutuhkan dalam menggunakan teknologi ini yakni 1,3 mega watt hour untuk menghasilkan 1.800 ton nikel.

Teknologi STAL ini akan mengembangkan aplikasi cloud monitoring dan sistem kontrol untuk semua proses manufaktur dan dapat memberikan informasi yang dapat dipercaya kepada semua pihak.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Sudah Teruji, ESDM Sebut Teknologi STAL Terobosan Strategis Olah Bijih Nikel

NIKEL.CO.ID – Kepala Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi (PSDMBP) Badan Geologi Kementerian ESDM, Iman Sinulingga memaparkan finalisasi pengujian atau validasi teknologi Step Temperature Acid Leach (STAL), pada Selasa (6/4/2021) di Bogor.

Berdasarkan paparan hasil akhir uji validasi tersebut, teknologi STAL terbukti mampu meningkatkan recovery Nikel (Ni) dan Kobalt (Co) hingga mencapai 94% Ni dan 95% Co.

“Kami menyambut baik hasil pengujian validasi teknologi yang sudah dilakukan tim PSDMBP, tim ITB Prof. Zaki (Prof. Zaki Mubarok), dan tim PT TMM (PT Trinitan Metals & Minerals Tbk), dengan hasil recovery nikel dan kobalt yang bisa mencapai 94% nikel dan 95% kobalt. Merupakan hasil yang membanggakan, sehingga teknologi STAL ini dapat dikatakan sudah teruji,” ujar Iman Sinulingga.

Adapun, teknologi STAL merupakan teknologi pengolahan mineral secara hidrometalurgi, yang dikembangkan oleh TMM dan dimiliki oleh PT Hydrotech Metal Indonesia (HMI). Teknologi karya anak bangsa ini disebut mampu mengkonversi bijih nikel laterit berkadar rendah menjadi Pregnant Leach Solution (PLS) dalam waktu 4 jam, serta dapat diolah ke produk lanjutannya seperti Mixed Hydroxide Precipitate (MHP).

Menurut Iman Sinulingga, pengembangan teknologi STAL yang mampu mengolah bijih nikel laterit berkadar rendah merupakan terobosan teknologi yang sangat strategis. Lebih lanjut, Iman juga menegaskan bahwa pihaknya sangat mendukung agar penerapan teknologi STAL dapat segera diwujudkan dalam skala industri, sehingga bahan baku nikel berkadar rendah dapat termanfaatkan.

“Kami juga mengetahui bahwa tim ahli TMM telah melakukan kajian komersialisasi, dimana teknologi STAL pada skala industri sudah dinilai layak secara ekonomi. Sehingga, kami berharap agar TMM dapat segera mewujudkan suatu industri baterai listrik dengan memanfaatkan Ni-Co laterit berkadar rendah,” kata Iman Sinulingga.

Pada kesempatan yang sama, ahli hidrometalurgi dari ITB, Prof. Zaki Mubarok mengatakan bahwa teknologi STAL terbukti mampu mengolah bijih nikel kadar rendah secara efektif. Secara teknis, kata dia, teknologi STAL sudah bisa mengekstraksi nikel dengan recovery yang baik, kemudian konsumsi asam juga bisa diturunkan dibandingkan dengan direct leaching.

“Untuk nikel bervariasi pada rentang 87-94%, sementara untuk kobalt pada rentang 90-95%. Tergantung pada variabel prosesnya. Menurut saya itu sudah positif ya. Jadi, teknologi STAL justru lebih cocok untuk bijih nikel laterit yang kadar rendah,” tutur Prof. Zaki.

Sementara itu, Direktur Utama TMM, Petrus Tjandra mengapresiasi dukungan yang diberikan oleh Bapak Iman Sinulingga dan tim PSDMBP Badan Geologi Kementerian ESDM, maupun Prof. Zaki Mubarok dan tim Kelompok Keahlian Teknik Metalurgi ITB Bandung atas dukungan dan pendampingan yang diberikan dalam melakukan pengujian terhadap teknologi hidrometalurgi STAL.

“Kami berharap agar teknologi STAL yang kami kembangkan ini dapat berkontribusi secara penuh dalam mendukung cita-cita hilirisasi nikel di Indonesia.” pungkas Petrus Tjandra.  (Admin)

Read More

Manfaatkan Bijih Nikel Kadar Rendah, PT IWIP Siap Produksi Bahan Baku Baterai di 2022

NIKEL.CO.ID – Indonesia Weda Bay Industrial Park (PT IWIP) yang sudah ditetapkan sebagai salah satu (Proyek Strategis Nasional) pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2020-2024, saat ini mengoperasikan tiga smelter.

Menggunakan teknologi Rotary Kiln-Electric Furnace (RKEF) dalam pembangunan smelter nikel di Weda, Halmahera Tengah, Maluku Utara, PT IWIP siap untuk memulai konstruksi pabrik pengolahan bahan baku baterai pada 2022.

General Manager External Relations PT IWIP, Wahyu Budi mengatakan bahwa pihaknya akan mengelola nikel dengan kadar rendah yang menjadi cikal bakal dari bahan baku prekursor baterai.

“Mudah-mudahan tahun ini atau tahun depan kita sudah bisa memulai konstruksi pabrik pengolahan bahan baku baterai,” ujar Wahyu Budi dalam keterangannya, Selasa (30/3/2021).

Namun demikian menurut Wahyu, hal tersebut tidak akan terlaksana jika pandemi Covid-19 belum membaik di Indonesia. Pasalnya dengan adanya pandemi ini, perusahaan akan sulit untuk merekrut tenaga kerja guna membangun smelter tersebut.

“Jadi kita akan mengelola nikel-nikel kadar rendah ini menjadi bahan baku prekursor baterai. Oleh karena itu, kita berharap mudah-mudahan dengan ekonomi ini membaik, lalu Covid-19 sudah nggak ada, ya mudah-mudahan tahun ini atau tahun depan kita sudah bisa memulai konstruksi pabrik pengolahan bahan baku baterai,” jelasnya.

Seperti diketahui, PT IWIP sendiri dalam melakukan pengembangan industri di kawasan Weda Bay tersebut mayoritas menggunakan teknologi RKEF yang merupakan salah satu teknologi terbaik di bidangnya.

Wahyu menambahkan setelah pembangunan menggunakan RKEF selesai ke depannya perusahaan akan menambahkan unit-unit untuk pembuatan bahan baku terlebih dahulu dibandingkan dengan yang lainya.

“Jadi untuk mencapai baterai ini harus melewati beberapa fase, mungkin 4-5 fase,” paparnya.

Proses RKEF sendiri banyak digunakan untuk menghasilkan feronikel dan nikel-matte. Proses ini diawali dengan pengeringan kandungan moisture hingga 45% melalui proses pretreatment.

Pada proses tersebut, bijih laterit dikeringkan dengan rotary dryer pada temperatur 250 derajat celcius hingga kandungan moisturenya mencapai 15-20%.

“Produk dari rotary dryer selanjutnya masuk ke-tahap kalsinasi (pre-reduksi) menggunakan rotary kiln pada suhu 800-900 derajat celcius,” pungkasnya.

Sumber: BeritaSatu.com

Read More