Staf Khusus Menteri ESDM Sebut Ekosistem Hal Penting Pertambangan Dorong Hilirisasi

223

NIKEL.CO.ID, 25 Oktober 2022 – Staf Khusus Percepatan Bidang Tata Kelola Minerba Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Prof. Irwandy Arif menyebut ekosistem merupakan hal yang paling penting dari sektor pertambangan dalam mendorong pertumbuhan industri hilirisasi. Karena memiliki peranan penting dalam mendukung transisi global dari energi bersih.

Dalam dunia pertambangan yang menjadi tantangan bagi lokasi industri pertambangan,yaitu identifikasi, direscovery, eksplorasi, ektrasi metal, recovery, dan logam batuan.

“Jika industri pertambangan tidak segera meningkatkan penemuan dan pengiriman mineral penting. Prospek dari transisi energi dalam skala besar akan melancang. Ini adalah salah satu ekosistem,” ucap Irwandy Arif dalam acara Temu Profesi Tahunan (THT) ke-31 Perhapi di Kendari, Sulawesi Tengah, Selasa (25/10/2022).

Menurut Irwandy Arif, kalau suatu perusahaan pabrik baterai lithium pasti membutuhkan bahan materi NMC (Nikel, Mangan, Cobalt) namun tanpa didukung oleh berbagai elemen yang dibutuhkan pasti akan mengalami kesulitan dalam pengembangan industri.

“Tanpa didukung oleh ekosistem yang ada di bawah, maka kita akan kesulitan dalam pengembangan industri,” ujarnya.

Selain itu, Irwandy Arif menjelaskan bahwa untuk mencapai transisi energi dengan melakukan dekarbonisasi diperlukan banyak miners. Miners yaitu bagi sebutan program penting yang digunakan untuk mengembangkan energi ramah lingkungan seperti Energi Baru dan Energi Terbarukan (EBET) dan kendaraan listrik berbasis baterai.

Baterai lithium ion adalah jenis baterai isi ulang dengan bahan utama adalah lithium metal ore yang dibentuk oleh elemen-elemen utama. Pertama nikel, mangan, cobalt, dan lithium. Material-material ini selanjutnya didukung carbonit, separator, elektrolit, dan lain-lain, serta alumunium foil sebagai konektor.

“Ion pendukung ini masih jarang dikembangkan di Indonesia. Ini suatu peluang bisnis tapi betul-betul harus mengerti ekosistem material,” jelasnya.

Lebih lanjut, Irwandy Arif menuturkan bahwa dalam proses-proses manycultur baterai, isi baterai diperoleh dari proses pertambangan. Kemudian dilakukan smelting atau reviniry untuk menghasilkan nikel sulfat. Kemudian dilakukan proses pembuatan precursor, katoda hingga menjadi battery cell dan battery pack.

“Ini juga belum dikembangkan di Indonesia. Battery pack ini digunakan sebagai komponen dalam mobil listrik dan energy storage,” ujarnya.

Irwandy Arif juga menerangkan mengenai industri stainless steel di Indonesia diproduksi oleh pabrik yang pertahunnya mampu memproduksi tiga juta ton stainless steel, dan inilah yang menaikkan pendapatan negara maupun daerah.

Menurutnya, smelter nikel yang sudah berdiri didorong untuk melakukan hilirisasi lebih lanjut menjadi produk hilirisasi stainless steel. Ada dua bahan yang diproduksi di Sulawesi Tenggara, yang pertama tipe 100 dan kedua tipe 200, dan masih banyak produk yang belum dikembangkan.

“Untuk menumbuhkan industri hilir bagi smelter yang terintegrasi dengan industri hulu diusulkan sekian tax holiday atau tax allowance, sedangkan bagi smelter smelter allowance diusulkan skema tax allowance” paparnya.

Selain itu menurutnya, perlu dilakukan persiapan kawasan industri berbasis stainless steel dalam rangka industri pembuatan modul surya.

“Tahapan industri yang belum ada di Indonesia yaitu pemurnian silikon dan pembuatan silikon. Namun pembuatan modul surya sudah ada di indonesia,” tuturnya.

Irwandy Arif berharap bahwa Indonesia dapat terus mengembangkan dan mengoptimalisasi potensi pembangunan Industri hilir dan mineral batubara untuk menunjang ketahanan energi dan industri nasional.

“Selain itu pengembangan industri minerba jelas dapat memberikan manfaat bagi Indonesia terutama di sektor ekonomi dan industri,” tutupnya.

Sementara Ketua Umum Perhapi, Rizal Kasli mengatakan bahwa pemerintah sedang mendorong proses percepatan hilirisasi dalam negeri dengan merencanakan penghentian atau pembatasan ekspor material maupun produk antara dengan mendorong penggunaan material di dalam negeri.

“Namun pemerintah seyogyanya harus mempertimbangkan keputusan terjadinya clone secara tiba-tiba dengan pertimbangan kesiapan industri hilir dan industri manufaktur ini, sehingga kebijakan tersebut tidak menjadi kontra produktif dan merugikan perusahaan dan negara terutama dalam hal pendapatan dan juga peningkatan devisa negara,” ucap Rizal Kasli dalam acara tersebut.

Di satu sisi kebutuhan peningkatan mineral tertentu yang strategis semakin menipis meningkat untuk memenuhi pembangunan. Di sisi lain dengan adanya ekploitasi sumber daya mineral dan batubara yang tidak terkendali yang dapat menyebabkan dan menimbulkan potensi kerusakan lingkungan yang tidak terkontrol.

Rizal Kasli menegaskan bahwa akibat tidak menerapkan kaidah pertambangan yang baik ataupun mining praktis yang tidak baik dan tidak benar, hal ini akan menimbulkan dampak bagi masyarakat sekitar dan lingkungan hidup pada umumnya.

“Kami mengharapkan adanya pengawasan serta penegakkan hukum yang baik dari pihak penegak hukum dan konsisten serta dari pemerintahan,” ujarnya.

Sementara Komjen Purn Pol Nanan Soekarna berpendapat bahwa menghadapi permasalahan yang terjadi di lapangan terkait pertambangan hulu maupun hilir adalah persoalan kultur atau budaya. (Shiddiq/Varrel)

Menurutnya, secara struktur, sistem dan strategi menghadapi persoalan pertambangan dari hulu maupun hilir sudah baik.

“Kalau struktur, sistem dan strategi udah luar biasa. (Tapi) bagaimana menerapkan kultur, nilai (dan lainnya) ini selalu menjadi masalah kita,” ucap Ketua APNI Komjen Purn Nanan Soekarna saat pers konferens kepada media. 

Nanan sepakat dengan pers, pengusaha, penguasa dan masyarakat untuk bersama-sama membangun nilai kultur yang baik dan komitmen terhadap hal itu pasti mampu menyelesaikan persoalan-persoalan yang terjadi di lapangan selama ini. 

“Pertama saya sepakat dengan pers, pengusaha, penguasa dan masyarakat. Kalau itu bisa sama dengan komit untuk tetap pada nilai-nilai diri, saya yakin itu bisa,” ujarnya. 

Ketum APNI mengajak untuk bersama-sama merubah kultur yang buruk berpindah kepada kultur yang baik dan ia yakin kalau komitmen itu dilaksanakan maka perubahan yang lebih baik pasti terjadi. 

“Bagaimana kita merubah agar kita komit bersama untuk tujuan ke sana. Merubah itu bukan hanya dengan seminar tapi di hati kita. Menanamkan tadi, nilai, kultur dihati. Kemudian untuk itu semua,” terangnya. 

Selain itu, Nanan juga menegaskan bahwa penegakkan hukum (Gakkum) bukanlah solusi utama untuk menyelesaikan permasalahan pertambangan yang ada di lapangan. Namun pada bidang pengawasan, pembinaan dan pengendalian yang lebih penting dan utama.

“Sebenarnya yang penting itu bukan di gakkum. Tapi bagaimana fungsi pembinaan, pengawasan, pengendalian berfungsi sejak awal, karena kalau gakkum itu diakhir,” tegas mantan orang nomor dua di Polri tersebut. 

Menurutnya, bila mengedepankan hukum maka akan terlalu berbelit-belit karena sudah ada masalah kemudian ditangkap, sementara tambang sudah habis dikeruk, dan keributan lain yang menyertainya.

“Tapi kalau fungsi pengawasan , pengendalian dan pembinaan dari awal berfungsi maka tidak perlu gakkum,” tuturnya. (Shiddiq)