Saham-saham Nikel Masih Kuat Nanjak, Ada Apa Gerangan?

NIKEL CO.ID – Setelah mayoritas menguat pada perdagangan Jumat (16/7) pekan lalu, saham emiten tambang nikel bergerak beragam dengan kecenderungan menguat pada perdagangan pagi ini, Senin (19/7/2021).

Pergerakan saham nickel ini terjadi di tengah kenaikan harga komoditas nikel dalam sepekan lalu.

Berikut pergerakan saham nikel, pukul 10.27 WIB:

  • Harum Energy (HRUM), saham +3,08%, ke Rp 5.850, transaksi Rp 29 M
  • Pelat Timah Nusantara (NIKL), +1,39%, ke Rp 1.095, transaksi Rp 152 juta
  • Aneka Tambang (ANTM), +1,15%, ke Rp 2.650, transaksi Rp 74 M
  • Timah (TINS), +0,88%, ke Rp 1.710, transaksi Rp 23 M
  • Central Omega Resources (DKFT), +0,69%, ke Rp 146, transaksi Rp 160 juta
  • Trinitan Metals and Minerals (PURE), 0,00%, ke Rp 96, transaksi Rp 174 juta
  • Vale Indonesia (INCO), -0,47%, ke Rp 5.325, transaksi Rp 29 M
  • PAM Mineral (NICL), -6,76%, ke Rp 276, transaksi Rp 30 M.

Menurut data di atas, dari 8 saham yang diamati, 5 saham menguat, 1 saham stagnan, dan 2 saham anjlok.

Saham emiten milik taipan Kiki Barki, HRUM, memimpin penguatan dengan naik 3,08% ke Rp 5.850/saham, melanjutkan kenaikan pada Jumat pekan lalu yang sebesar 6,57%. Kenaikan saham HRUM diiringi dengan masuknya investor asing dengan catatan beli bersih Rp 3,27 miliar.

Dalam sepekan, saham ini melesat 12,14%, sementara dalam sebulan melejit 14,85%.

Di posisi kedua ada saham NIKL yang naik 1,39%, setelah pada Jumat lalu menguat 4,35%. Kendati naik, dalam sepekan saham NIKL masih minus 1,79%.

Saham emiten pelat merah ANTM berada di posisi ketiga dengan terapresiasi 1,15% ke Rp 2.650/saham. Dengan ini, saham ANTM sudah mencatatkan reli kenaikan selama 4 hari beruntun. Dalam sepekan saham ANTM naik 4,31%, sementara dalam sebulan melonjak 20,91%.

Asing juga tercatat masuk ke saham ANTM dengan nilai net buy Rp 6,36 miliar.

Berbeda, saham INCO malah turun 0,93% setelah Jumat lalu naik 2,39%. Kendati demikian, dalam seminggu saham INCO masih tumbuh 1,92% dan selama sebulan melejit 22,97%.

Di tengah pelemahan saham INCO, asing berbondong-bondong masuk dengan catatan beli bersih Rp 11,84 miliar.

Setali tiga uang, saham ‘anak baru’ NICL kembali menyentuh batas auto rejection bawah (ARB) 6,76%, setelah pada Jumat minggu lalu juga ARB 6,92%. Dua kali ARB yang dialami saham NICL ini mengakhiri reli kenaikan selama 5 hari atau sejak melantai pada 9 Juli lalu. Dalam sepekan saham ini masih melesat 51,65%.

Informasi saja, harga komoditas nikel dengan kontrak pembelian 3 bulan di London Metal Exchange (LME) cenderung naik dalam sepekan lalu. Secara harian, per Jumat (16/7), kenaikan harga nikel sebesar 1,13% ke harga kontrak 3 bulan US$ 18.907/ton. Sementara, dalam sepekan nikel naik 1,19% dan dalam sebulan nikel melesat sebesar 7,92%.

Sentimen terbaru untuk saham-saham emiten nikel adalah terkait PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC) yang mulai menyampaikan rencana investasi pembuatan pabrik baterai kendaraan listrik

Diwartakan sebelumnya, Direktur Utama IBC Toto Nugroho, menyampaikan bahwa RI punya cita-cita menjadi pemain baterai kelas dunia dan optimistis bisa dicapai pada 2025 mendatang.

Dia mengatakan, ada dua alasan kenapa RI harus menjadi pemain baterai kelas dunia. Pertama, karena Indonesia dianugerahi cadangan nikel dan menjadi salah satu yang terbesar di dunia.

Tak hanya nikel, Indonesia juga memiliki cadangan komoditas mineral lainnya yang bisa dijadikan bahan baku baterai hingga kendaraan listrik.

Alasan kedua adalah Indonesia memiliki pasar yang besar. Namun potensi pasar baterai tidak hanya di Indonesia, potensi pasar besar juga ada di Asia Tenggara.

“Kita harus jadi perusahaan baterai kendaraan listrik kelas dunia. Cadangan nikel yang besar dan menjadi salah satu yang terbesar di dunia. Pasar besar di Indonesia dan ASEAN region,” jelasnya dalam Investor Daily Summit 2021, Rabu (14/07/2021).

Kebutuhan baterai untuk kendaraan listrik (electric vehicle/ EV) di Indonesia pada 2030 diperkirakan bakal mencapai sekitar 11-12 Giga Watt hours (GWh) atau ekuivalen dengan 140.000 unit kendaraan roda empat.

“Pasar di Indonesia sendiri hampir 30 GW dan kami sampaikan baterai ini gak hanya four wheel (roda empat), tapi energy solution di mana kita harus menyimpan sumber listrik renewable,” jelasnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, diperlukan investasi yang sangat besar dan pembangunan beberapa fasilitas perlu waktu yang panjang. Menurutnya, saat ini IBC sudah tahap rinci untuk uji kelayakan atau feasibility study (FS) dan mencari sumber pendanaan proyek dengan menggaet dua calon mitra utama.

“Dua calon mitra utama dan kemarin sempat disampaikan Kementerian Investasi, sudah diumumkan 2022 ada satu factory 10 GW break through baterai, di 2024 komponen besar-besar RKEF [Rotary Kiln Electric Furnace], HPAL [High Pressure Acid Leaching] beroperasi, sehingga di 2025 dapatkan baterai skala besar benar-benar produksi di Indonesia,” jelasnya.

Sumber: CNBC Indonesia