Prospek Kenaikan Harga Nikel & Tembaga Jadi Penyokong Utama Emiten Sektor Logam

NIKEL.CO.ID – Harga nikel dan tembaga berpotensi lanjut menguat di sepanjang tahun ini. Emiten sektor logam yang memiliki lebih banyak bisnis di kedua komoditas tersebut akan lebih diuntungkan.

Tahun lalu sektor logam diperkirakan menjadi primadona seiring kenaikan harga komoditas. Namun, pergerakan harga saham emiten di sektor ini tidak kompak menguat. Berdasarkan RTI harga saham PT Aneka Tambang (ANTM) berhasil menguat 23% secara year to date (ytd). Menyusul, kinerja PT Timah (TINS) juga tumbuh 5,39% ytd.

Namun, pergerakan saham PT Vale Indonesia (INCO) menurun 14,71% di periode yang sama. Sementara, saham PT Merdeka Copper Gold (MDKA) stagnan di periode yang sama.

Meski pergerakan harga saham sektor logam saat ini belum kompak menguat, Analis Henan Putihrai Sekuritas Meilki Darmawan mengatakan prospek bisnis sektor logam berpotensi berkinerja positif. Meilki memandang harga saham MDKA stagnan karena pelaku pasar belum merefleksikan potensi kenaikan rata-rata harga jual di 2021, terkhusus di segmen tembaga.

Sementara, Meilki mengatakan harga saham INCO menurun karena terdampak sentimen negatif terkait proses perbaikan furnace smelter nikel. Walaupun proses penyelesaian akan diundur, Meilki tetap melihat proses perbaikan akan tetap dilakukan di tahun ini.

Meilki memandang emiten sektor logam yang memiliki eksposur bisnis  nikel dan tembaga, dalam jangka panjang berpotensi catatkan fundamental kinerja yang positif. Meski, tidak dipungkiri harga nikel berpotensi tertekan dalam jangka pendek karena Tiongkok ingin melakukan pengendalian harga nikel.

Kompak, Analis Samuel Sekuritas Indonesia Dessy Lapagu mengatakan faktor yang menekan pergerakan harga saham sektor logam adalah harga nikel dan emas yang sedang melemah. Tercatat harga nikel dalam London Metal Exchange tiga bulanan, Jumat (16/4/2021) berada di US$ 16.363 per ton. Harga tersebut menurun 16% sejak sentuh level tertinggi di Februari 2021. Sementara, harga emas spot tercatat turun 13% sejak harga sempat sentuh level tertinggi di US$ 2.063 per ons troi pada Juni 2020 menjadi ke US$ 1.776 per ons troi di akhir pekan lalu.

Meilki memproyeksikan harga tembaga tetap lanjut menguat di tahun ini. Dukungan penguatan harga berasal dari konsumsi tembaga di China yang banyak dibutuhkan untuk proyek infrastruktur green energy. Meilki memproyeksikan rata-rata harga nikel tahun ini berada di US$ 17.000 per ton.

Sementara, harga rata-rata tembaga di tahun ini berada di US$ 9.000 per ton. Proyeksi harga tersebut cenderung stabil dari posisi harga tembaga yang berada di US$ 9.211 per ton akhir pekan lalu.

Meilki memproyeksikan harga emas akan cenderung menurun. Penyebabnya, aktivitas bisnis dan ekonomi mulai membaik dan bisa menyeret turun harga emas.

“Emas sulit mendapatkan arus masuk yang berkelanjutan, proyeksi harga emas rata-rata di US$ 1.800 per ons troi di tahun ini,” kata Meilki.

Di antara emiten sektor logam, Meilki melihat MDKA dan ANTM masih menarik untuk dikoleksi di tahun ini.

“Potensi kenaikan laba bersih MDKA sebesar 11% year on year (yoy) sedangkan ANTAM berpotensi tumbuh 22% yoy,” kata Meilki, Jumat (16/4/2021).

Potensi pertumbuhan laba tersebut ditopang dari rata-rata harga jual yang lebih tinggi di 2021. Meilki merekomendasikan beli MDKA dengan target harga Rp 3.000 per saham. Meilki juga merekomendasikan beli ANTM di target harga Rp 2.800 per saham.

Dessy juga optimistis harga komoditas logam akan kembali naik di tahun ini karena permintaan yang masih kuat. Dia cenderung memilih ANTM sebagai emiten yang ia jagokan dari sektor logam.

Menurut Dessy, ANTM memiliki potensi penguatan kinerja dari kenaikan harga nikel dan emas. Selain itu, fokus hilirisasi smelter dan baterai listrik dapat menjadi faktor pendorong fundamental ANTM dalam jangka panjang. Dessy merekomendasikan beli ANTM di target harga Rp 3.230.

Sumber: KONTAN