Tembaga London Melorot, Terbebani Penguatan Dolar, Nikel Anjlok 2 Persen

NIKEL.CO.ID – Harga tembaga London melemah, Rabu, karena dolar yang lebih kuat-di tengah kekhawatiran seputar meningkatnya kasus Covid-19 secara global-mengurangi daya tarik logam tersebut.

Harga tembaga untuk kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange turun 0,6% menjadi USD9.277 per ton pada pukul 13.06 WIB, demikian laporan  Reuters,  di Hanoi, Rabu (21/7/2021).

Kontrak tembaga Agustus yang paling aktif diperdagangkan di Shanghai Futures Exchange mengikuti kenaikan di bursa berjangka London, menguat 0,2% menjadi 68.030 yuan (USD10.505,75) per ton.

Dolar bertahan di dekat level tertinggi (year-to-date) terbaru, karena kekhawatiran seputar lonjakan infeksi menopang kenaikan yang dibangun di atas ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi, dengan investor menunggu Bank Sentral Eropa untuk isyarat mereka berikutnya.

Dolar yang kuat membuat logam yang dihargakan dalam  greenback  menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

Namun, ketika harga tembaga jatuh di bawah tekanan dolar, minat beli di sektor hilir China muncul karena biaya yang lebih murah untuk membeli logam tersebut, sehingga mencegah harga dari penurunan tajam, kata Huatai Futures dalam sebuah catatan.

Premi tembaga Yangshan naik menjadi USD40 per ton, level tertinggi sejak 7 Mei, menunjukkan penguatan permintaan logam impor ke China.

Nikel LME anjlok 2% menjadi USD18.310 per ton, aluminium merosot 1,2% menjadi USD2.435,50 per ton dan timah turun 0,9% menjadi USD33.200 per ton.

Nikel ShFE menyusut 1,6% menjadi 136.670 yuan per ton dan seng melorot 1,5% menjadi 22.150 yuan per ton. Timbal melonjak 1,3% menjadi 15.820 yuan per ton.

Pasar seng global kekurangan pasokan sebesar 17.900 ton pada Mei menyusul defisit 13.800 ton pada bulan sebelumnya, data dari Kelompok Studi Timbal dan Seng Internasional menunjukkan.

Sumber: IPOTNEWS

Read More

Begini Prospek Sejumlah Komoditas Mineral Tahun Ini

NIKEL.CO.ID – Sejumlah komoditas mineral masih menunjukkan harga yang solid sepanjang tahun ini. Namun, pergerakan harga sejumlah komoditas diproyeksikan tidak akan seagresif tahun lalu.

Salah satunya adalah emas. Analis Samuel Sekuritas Indonesia Dessy Lapagu mengatakan, potensi kenaikan tingkat suku bunga Amerika Serikat (AS) yang lebih cepat dari rencana awal, yaitu dari 2024 menjadi 2023, menjadi penekan utama harga emas global saat ini. Terlebih lagi, diskusi akan kebijakan tapering juga telah dimulai.

Sementara itu, kekhawatiran atas kenaikan kasus Covid-19 lebih terjadi di pasar domestik, sehingga tidak mempengaruhi  pasar emas global secara signifikan. “Dengan demikian, belum bisa menjadi katalis pendorong harga emas,” terang Dessy kepada Kontan.co.id, Senin (12/7/2021).

Samuel Sekuritas Indonesia memproyeksikan harga emas pada 2021-2022 akan berada pada level US$ 1.800 per ons troi-US$ 2.000 per ons troi.

Untuk komoditas nikel, Head of Research Maybank Kim Eng Sekuritas Isnaputra Iskandar menggunakan asumsi harga nikel sebesar US$ 15.500 per ton untuk tahun 2021. Adapun sejumlah faktor yang bisa mempengaruhi harga nikel antara lain pemulihan ekonomi global, perkembangan teknologi baterai listrik, serta kebijakan pemerintah dari negara-negara utama di industri nikel seperti Indonesia, China, dan Filipina.

Lebih lanjut, permintaan mobil listrik yang meningkat akan menjadi katalis utama untuk harga nikel. Saat ini, permintaan nikel dari sektor baterai kurang dari 5% dari total permintaan nikel.

“Diperkirakan dalam lima tahun ke depan, angka ini dapat meningkat menjadi 15%-20% dari total permintaan,” terang Isnaputra kepada Kontan.co.id, baru-baru ini.

Sementara itu, prospek harga komoditas tembaga diproyeksikan masih cukup cerah. Analis Panin Sekuritas Juan Oktavianus melihat, tren produksi tembaga masih akan lemah, seiring dengan penurunan dari produksi tembaga segmen hulu akibat dari disrupsi operasional pandemi Covid-19.

Suplai tembaga juga masih melemah seiring masih lemahnya aktivitas produksi yang berkaitan dengan aksi mogok kerja di tambang tembaga Escondida. Potensi implementasi peningkatan pajak royalti juga mempengaruhi produksi tembaga.

Namun, dari sisi permintaan, Juan melihat adanya potensi peningkatan seiring dengan meningkatnya aktivitas industri khususnya di China, yang bermuara pada peningkatan permintaan dari smelter tembaga di Negeri Tirai Bambu tersebut. Berdasarkan hal ini, Panin Sekuritas memperkirakan rerata harga tembaga akan  berada di level US$ 9,0 per ton, atau tumbuh 46,4% bila dibandingkan dengan periode 2020.

Seiring dengan kebijakan pemerintah untuk menetapkan transisi energi dari energi  fosil menjadi energi terbarukan, komoditas tembaga bisa mendapatkan peluang dari  sentimen ini. Salah satunya karena tembaga merupakan konduktor listrik dan panas yang saat ini paling efisien.

Adapun penggunaan tembaga pada teknologi energi terbarukan  lebih besar 4 kali sampai 6 kali daripada teknologi bahan bakar fosil atau teknologi nuklir. Dus, perkembangan positif dari industri mobil listrik akan berdampak pada peningkatan permintaan akan tembaga ke depan. “Hal ini didasari pada kebutuhan tembaga yang tinggi pada mobil listrik dibandingkan dengan mobil konvensional,” tulis Juan dalam riset, Kamis (1/7/2021).

Sumber: KONTAN

Read More

Mei 2021, Mayoritas Komoditas Ekspor Indonesia ke Tiongkok Anjlok

NIKEL.CO.ID – Badan Pusat Statistik mencatat nilai ekspor Indonesia ke Tiongkok anjlok paling dalam secara bulanan pada Mei 2021. Padahal, harga komoditas global sedang melonjak cukup tinggi.

Kepala BPS Suhariyanto menyebutkan bahwa nilai ekspor ke Tiongkok turun US$ 460 juta dari US$ 4,11 miliar pada April 2021 menjadi US$ 3,71 miliar pada Mei 2021.

“Harga komoditas meningkat tetapi ada penurunan volume atau permintaan,” ujar Suhariyanto dalam Konferensi Pers Kinerja Ekspor Impor, Selasa (15/6/2021).

Berdasarkan data BPS yang diterima Katadata.co.id, hampir seluruh komoditas ekspor ke Tiongkok mengalami penurunan dari segi nilai.

Komoditas yang mengalami penurunan ekspor paling dalam, yakni biji, terak, dan abu logam sebesar 43,17% dari US$ 192,4 juta menjadi US$ 109,4 juta.

Disusul, ekspor karet dan barang dari karet yang turun 40,62% dari US$ 55,5 juta menjadi US$ 33 juta. Ekspor lemak dan minyak hewan/nabati terkontraksi 38,06% dari US$ 571,7 juta menjadi US$ 354,1 juta.

Ekspor berbagai produk kimia turun 31,4% dari US$ 148,1 juta menjadi US$ 101,6 juta. Ekspor besi dan baja turun 27,31% dari US$ 1,16 miliar menjadi US$ 842,5 juta.

Ekspor alas kaki menurun 23,69% dari US$ 70,8 juta menjadi US$ 54 juta. Ekspor barang lainnya terkontraksi 17,25% dari US$ 579 juta menjadi US$ 479,1 juta. Ekspor tembaga dan barang daripadanya minus 5,06% dari US$ 75,9 juta menjadi US$ 72 juta. Demikian pula ekspor kertas, karton, dan barang daripadanya juga yang turun 1,61% dari US$ 105,6 juta menjadi US$ 103, juta.

Sementara itu, ekspor bahan bakar mineral melesat 42,67%, diikuti migas yang naik 36,87%, dan pulp dari kayu 9,96%.

Suhariyanto menyebutkan bahwa harga beberapa komoditas menanjak pada Mei 2021. Jika dibandingkan dengan bulan April 2021, harga minyak mentah di pasar dunia naik 5,7% dari US$ 61,96 per barel menjadi US$ 65,49 per barel.

Kenaikan harga juga terjadi pada komoditas nonmigas, seperti batu bara, minyak kelapa sawit, timah, tembaga, nikel, dan emas. “Batu bara misalnya naik 16,07%, minyak kelapa sawit 7,9%, dan tembaga 8,98%,” ujar dia.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto optimistis lonjakan harga komoditas akan membantu percepatan pemulihan ekonomi domestik. “Lonjakan harga ini membantu kita pulih lebih cepat,” kata Airlangga dalam acara halalbihalal virtual bersama wartawan, pertengahan Mei 2021.

Ia menyebutkan, komoditas yang mengalami lonjakan harga di antaranya yakni nikel, minyak sawit mentah, karet, tembaga, dan emas. Kenaikan tersebut juga seiring meningkatnya permintaan global.

Airlangga pun berharap Indonesia dapat mengoptimalkan tingginya harga komoditas dengan hilirisasi. Indonesia sebelumnya cenderung hanya mengekspor bahan mentah ke luar negeri. Namun, dalam empat hingga lima tahun terakhir, pembangunan industri berbasis nikel di dalam negeri sudah masif sehingga tidak lagi mengekspor bahan baku.

Mantan Menteri Perindustrian tersebut menilai Indonesia mampu mengekspor hasil hilirisasi nikel dan baja senilai US$ 10 miliar.

“Tentu ini merupakan capaian yang sangat baik,” ujarnya.

Selain nikel dan baja, ia pun menyebutkan bahwa lonjakan harga batu bara dan alumunium harus dimanfaatkan dengan hilirisasi untuk mempercepat pemulihan ekonomi. Oleh karen itu, pembangunan smelter di Batang dan Kalimantan Barat terus dipercepat.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai ekspor Indonesia mencapai US$ 16,6 miliar pada Mei 2021. Jumlah itu turun 10,25% dari April 2021, tetapi meningkat hingga 58,75% dibandingkan Mei 2020.
Sumber: katadata.co.id

Read More

Kenaikan Harga Komoditas Diprediksi Hingga Akhir 2021

NIKEL.CO.ID – Lonjakan harga komoditas diprediksi bisa terus berlanjut hingga akhir tahun 2021. Kenaikan harga komoditas dipicu oleh tingginya permintaan negara-negara yang ekonominya mulai pulih, terutama Tiongkok dan Amerika Serikat. Sejumlah komoditas yang harganya masih berpotensi menguat di antaranya minyak mentah, batu bara, mineral logam seperti nikel, timah, aluminium, dan tembaga, serta komoditas pertanian seperti minyak sawit (crudepalm oil/CPO).

Seiring tingginya permintaan, beberapa harga komoditas sudah kembali ke level harga di Januari 2020 atau saat WHO menyatakan Covid-19 sebagai pandemi. Komoditas timah mencatatkan kenaikan 89% sejak Januari 2020 hingga akhir Mei 2021, disusul tembaga (69%), kedelai (66%), batu bara (54%), CPO (44%), aluminium (37%), biji coklat (31%), nikel (30%), dan emas (19%).

Sementara itu, harga minyak mentah Indonesia atau ICP mencatatkan kenaikan sebesar 155% per akhir Mei 2021 dibandingkan periode sama tahun lalu (year on year/yoy) dan naik 37% sepanjang 2021 (year to date/ytd). Lalu, harga minyak WTI naik sebesar 128% yoy dan naik 39% ytd, dan minyak mentah Brent naik 119% yoy dan 36% ytd.

Komoditas lain yang juga mencatatkan kenaikan di atas 100% secara yoy adalah timah (109%), lalu disusul batu bara (104%), dan CPO (102%). Adapun sepanjang tahun ini hingga akhir Mei 2021 (ytd), harga timah naik 63%, disusul minyak mentah WTI sebesar 39%, dan minyak mentah ICP sebesar 37%.

Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal mengatakan, tren kenaikan harga berbagai komoditas, antara lain minyak mentah, batu bara, CPO, dan nikel, dipacu oleh pemulihan ekonomi yang lebih cepat di luar negeri dan global daripada kondisi Indonesia dan sebagian negara lain yang masih bertarung melawan pandemi Covid-19.

Menurut dia, kenaikan harga komoditas di pasar global yang diperkirakan terus berlanjut hingga akhir tahun 2021 terutama di-trigger oleh negara Tiongkok yang ekonominya sudah kembali bangkit terdepan. Negara raksasa ekonomi dunia ini sekarang membutuhkan banyak komoditas tersebut untuk menopang industrinya yang kembali menggeliat.

“Tren harga komoditas itu akan terus naik setidaknya sampai akhir tahun 2021 karena pemulihan ekonomi dunia, terutama dipicu oleh Tiongkok yang paling pertama berhasil mengatasi pandemi Covid-19.

Harga komoditas global semakin naik signifikan dan sudah di atas harga sebelum pandemi karena pasokannya, di antaranya Indonesia, masih terganggu karena pandemi,” ujar Faisal.

Selain itu, kenaikan harga komoditas ditopang oleh impor Amerika Serikat (AS) yang terus meningkat di tengah keyakinan ekonomi warganya yang semakin membaik Walaupun belum sepenuhnya berhasil mengatasi pandemi Covid-19, AS dinilai pada jalur yang benar untuk memenanginya karena tren vaksinasi Covid-19 paling progresif dan cepat di dunia.

Jika Tiongkok banyak mengimpor komoditas sebagai bahan baku, AS banyak mengimpor barang setengah jadi dan produk jadi. Tindakan AS tersebut dinilai ikut menjadi sentimen positif mendorong kenaikan harga komoditas dunia sebagai penopang dari industri pengolahan produk setengah/jadi.

“Harga komoditas kemungkinan hanya akan menguat hingga akhir tahun 2021 ini dan akan mulai turun pada 2022 seiring dengan prediksi melandainya pandemi dan kembali normalnya pasokan komoditas,” imbuhnya.

Karena itu, Faisal pun mengingatkan pemerintah Indonesia untuk terus menggalakkan hilirasasi komoditas menjadi produk setengah/jadi, terutama pada sektor tambang dan perkebunan. Tujuannya agar nilai tambah jual ekspor komoditas Indonesia meningkat dan menciptakan lapangan kerja baru di Tanah Air.

Dia pun menyebut keberhasilan program hilirasi nikel menjadi bahan baku setengah jadi, sehingga mulai berkontribusi terhadap nilai jual ekspor di tengah pandemi Covid-19.

Pamerintah pun didorongnya terus menjadikan nikel sebagai produk jadi, seperti baterai dan mobil listrik yang memiliki nilai tambah/jual lebih tinggi lagi.

“Saat ini, kontribusi komoditas kita Indonesia terhadap ekspor masih tinggi berkisar 40-60%, sehingga sangat terpengaruh oleh fluktuasi harga. Jika berhasil melakukan hilirarasi, ke depan, fluktuasi harga komoditas pengaruhnya ke nilai ekspor bisa kita tekan,” tutur Faisal.

Sementara itu, CORE Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2021 berkisar 4-5%, lebih rendah dari proyeksi pemerintah yang optimistis 7-8%. Sementara itu, sepanjang tahun 2021, CORE Indonesia memprediksi pertumbuhan ekonomi 3-4%.

Pertumbuhannya ditopang oleh nilai ekspor yang trennya meningkat sejak pandemi Covid-19 tahun 2020 yang juga didukung tren kenaikan harga komoditas tahun 2021.

Selanjutnya, pertumbuhan juga ditopang oleh membaiknya konsumsi rumah tangga di dalam negeri, serta investasi dan belanja pemerintah.

“Kontribusi terbesar kepada pertumbuhan ekonomi kalau untuk Indonesia tetap dari konsumsi rumah tangga yang terus membaik tahun ini. Tapi, kalau dari kontribusi pertumbuhan terbesar ada pada ekspor karena di antaranya tertolong oleh harga komoditas global, selain tentu saja, investasi membaik dan ditunjang belanja pemerintah,” pungkas Faisal.

Senada,Ekonom dan Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, harga komoditas sedang dalam tren naik sepanjang 2021 karena didorong oleh peningkatan permintaan di negara- negara yang ekonominya sudah pulih.

Menurut dia, pemulihan ekonomi bisa dilihat dari indeks keyakinan konsumen dan Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur terutama Tiongkok dan Amerika Serikat yang membaik, bahkan di Tiongkok saat ini dalam posisi ekspansi.

Harga komoditas yang masih berpotensi naik, lanjut Bhima, yakni minyak bumi, batu bara, CPO, dan mineral logam seperti nikel dan timah. Permintaan nikel dan timah akan masih tinggi karena dibutuhkan untuk bahan baku industri baterai mobil listrik.

“Apakah kenaikan harga komoditas bisa sampai tahun 2022? Masih ada sejumlah tantangan yang mesti diantisipasi. Salah satunya adalah kebijakan rebalancing (keseimbangan kembali) ekonomi Tiongkok,” ujar dia.

Selain itu, dia menyebut tantangan lainnya adalah hubungan dagang Tiongkok dengan AS yang memanas lagi juga perlu diantisipasi.

“Kita juga harus antisipasi sekarang ini banyak negara seperti Tiongkok dan AS sedang menggalakkan energy baru terbarukan (EBT) yang ramah lingkungan, sehingga para pelaku usaha komoditas kita perlu mendiversifikasi produknya,” katanya.

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro juga mengatakan saat ini hampir semua komoditas mengalami kenaikan harga. Hal ini tak hanya di Indonesia namun juga di sejumlah negara seperti India, Amerika Serikat, bahkan di Eropa. Menurut dia, harga akan terus merangkak naik hingga akhir tahun. Apalagi, kata dia, jika penanganan pandemi Covid-19 berlangsung baik.

“Secara perlahan harga akan naik terus hingga akhir tahun, bahkan kemungkinan akan terus berlanjut ke 2022,” kata Komaidi.

Untuk minyak dunia, dia memperkirakan bakal berada di kisaran US$ 75-80 per barel, sementara batu bara bisa mencapai US$ 105 per ton hingga akhir 2021.

Namun demikian, Komaidi mengingatkan kenaikan harga terutama minyak mentah, perlu disikapi hati- hati. Hal ini karena kenaikan harga akan berdampak pada meningkatnya subsidi yang harus dikeluarkan pemerintah.

“Ini terjadi karena produksi minyak kita jauh lebih rendah dibanding konsumsi, sehingga kenaikan harga minyak mentah otomatis akan meningkatkan jumlah subsidi yang harus dikeluarkan pemerintah, jika memang pemerintah memutuskan untuk tidak menaikkan harga BBM,” paparnya.

Hal yang sama juga terjadi pada komoditas batu bara yang akan berdampak pada biaya produksi listrik.

Dia mengakui bahwa pemerintah telah mematok harga batu bara untuk PLN sebesar US$ 70 per ton, namun tentunya pelaku usaha batu bara akan meminta insentif kepada pemerintah dalam bentuk lain.

“Utang PLN saja sudah Rp 500 triliun saat harga komoditas masih rendah. Apalagi kalau harga meningkat. Ini juga harus disikapi secara bijaksana,” kata Komaidi.

Secara terpisah, Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia mengungkapkan, pergerakan harga batu bara sulit diprediksi terus menguat hingga akhir tahun. Namun dia berharap harga terus membaik hingga penghujung 2021.

“Wah kalau proyeksi ke depan tentu saja sulit. Tapi kalau ditanya harapannya, ya berharap kondisi harga terus bertahan hingga akhir tahun,” ujarnya.

Hendra mengungkapkan kondisi perekonomian saat ini hampir mirip seperti tahun 2008-2009. Kala itu dunia tengah menghadapi resesi ekonomi. Namun Indonesia mampu bertahan seiring membaiknya harga komoditas antara lain batu bara.

“Batu bara dapat membantu neraca perdagangan dan current account,” ujarnya.

Head of Corporate Communication Adaro Energy Febrianti Nadira menuturkan, pergerakan harga batu bara sulit dikontrol. Oleh sebab itu, pihaknya lebih fokus terhadap keunggulan operasional bisnis inti, meningkatkan efisiensi dan produktivitas operasi, menjaga kas dan mempertahankan posisi keuangan yang solid di tengah situasi sulit yang berdampak terhadap sebagian besar dunia usaha.

“Adaro akan terus mengikuti perkembangan pasar dengan tetap menjalankan kegiatan operasi sesuai rencana di tambang-tambang milik perusahaan dengan terus berfokus untuk mempertahankan marjin yang sehat dan kontinuitas pasokan ke pelanggan,” ujarnya.

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama Kementerian ESDM Agung Pribadi sebelumnya mengatakan, Harga Batu Bara Acuan (HBA) Juni 2021 naik US$ 10,59 per ton dibandingkan bulvan sebelumnya yang berada di posisi US$ 89,74 per ton. HBA Juni ditetapkan sebesar US$ 100,33 per ton.

Agung mengungkapkan tren kenaikan harga batu bara dalam dua bulan terakhir ini utamanya didorong oleh peningkatan permintaan dari Tiongkok akibat periode musim hujan di negara tersebut, serta semakin tingginya harga domestik batu bara setempat.

“Kenaikan permintaan (Tiongkok) untuk keperluan pembangkit listrik yang melampaui kapasitas pasokan batu bara domestik,” ujarnya.

Harga batu bara pada Juni ini merupakan tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Tercatat pada November 2018 HBA mencapai US$ 97,90/ton.

Sumber: investor.id

Read More

Kemendag Tetapkan HPE Komoditas Tambang, Mayoritas Alami Kenaikan

NIKEL.CO.ID – Sejumlah komoditas produk pertambangan mengalami kenaikan harga di tengah wabah pandemi Covid-19 sampai dengan akhir bulan Mei lalu.

Kenaikan harga tersebut juga dicerminkan oleh semakin meningkatnya permintaan komoditas pertambangan di pasar. Pada akhirnya, kondisi ini pun memberikan pengaruh pada kebijakan penetapan Harga Patokan Ekspor (HPE) produk pertambangan yang nantinya akan dikenai Bea Keluar di bulan Juni ini.

Kebijakan penetapan HPE produk pertambangan ini telah ditetapkan lewat Peraturan Menteri Perdagangan No. 33 Tahun 2021 tertanggal 28 Mei 2021.

Dijelaskan oleh pihak Kementerian Perdagangan bahwa kenaikan itu terjadi pada harga komoditas konsentrat tembaga, besi, besi laterit, timbal, seng, pasir besi, ilmenite, rutile dan konsentrat bauksit yang nilainya lebih besar dibandingkan dengan periode bulan sebelumnya.

Adapun alasan pemerintah menetapkan HPE produk pertambangan yang lebih tinggi itu disebabkan oleh faktor permintaan di pasar global yang juga mengalami peningkatan.
Namun hal yang berbeda dialami oleh konsentrat mangan, di mana ditetapkan harganya mengalami penurunan.  Sedangkan untuk pellet konsentrat pasir besi harganya stabil dan tidak mengalami perubahan.

Berikut daftar komoditas pertambangan yang mengalami kenaikan harga di bulan Juni ini:

  • Konsentrat tembaga naik 8,91 persen di kisaran USD3510,35 per WE
  • Konsentrat besi naik 20,44 persen di kisaran USD179,66 per WE
  • Konsentrat besi laterit naik 20,44 persen di kisaran USD91,81 per WE
  • Konsentrat timbal naik 8,69 persen di kisaran USD875,78 per WE
  • Konsentrat seng naik 4,04 persen di kisaran USD818,52 per WE
  • Konsentrat pasir besi naik 6,45 persen di kisaran USD460,89 per WE
  • Konsentrat rutile naik 6,75 persen di kisaran USD1.198,38 per WE
  • Konsentrat bauksit naik 8,06 persen di kisaran USD32,86 per WE

Sementara untuk konsentrat mangan mengalami penurunan harga sebesar 0,82 persen menjadi di kisaran USD217,20 per WE. Sedangkan pellet konsentrat pasir besi harganya tidak mengalami perubahan dan tetap di kisaran USD117,98 per WE.

Sumber: duniatambang.co.id

Read More

Harga Nikel-Tembaga Membubung, Pengusaha Tak Genjot Produksi

NIKEL.CO.ID – Harga sejumlah komoditas tambang sedang membubung tinggi atau mengalami tren super siklus, mulai dari batu bara, emas, nikel, hingga tembaga. Meski harga sedang naik tinggi, namun ternyata tak lantas membuat pengusaha bakal menaikkan produksinya.

Hal tersebut disampaikan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Indonesia (Indonesia Mining Association/IMA) Djoko Widajatno Soewanto.

Menurutnya, sangat sulit menaikkan produksi dalam waktu dekat karena beberapa alasan.

Pertama, pengusaha pertambangan bekerja atas dasar Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) di mana RKAB harus mendapatkan persetujuan dari pemerintah.

“Kedua, operasi produksi direncanakan atas dasar cadangan yang tersedia,” ungkapnya kepada CNBC Indonesia, Rabu (19/05/2021).

Kemudian, faktor ketiga adalah mengubah teknik penambangan berarti mengubah rencana kerja jangka pendek dan jangka panjang. Setiap perubahan, imbuhnya, harus terlebih dahulu mengajukan uji kelayakan (Feasibility Study/ FS) dan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Menurutnya, butuh waktu lama untuk bisa mendapatkan persetujuan perubahan tersebut.

“Pada umumnya, akan sangat sukar menambah jumlah peralatan tambang, karena dari proses pemesanannya sampai alat tiba, harga sudah berubah lagi,” ujarnya.

Dan faktor terakhir menurutnya yaitu faktor keekonomian dan teknis harus menjamin tingkat keselamatan yang tinggi dan juga memenuhi persyaratan lingkungan.

Seperti diketahui, harga sejumlah komoditas mineral kini sedang membubung tinggi. Nikel misalnya, Harga nikel sejak akhir tahun lalu hingga kini terus menanjak naik di atas US$ 16.000 per ton. Di awal 2021 harga nikel di London Metal Exchange sebesar US$ 17.344 per ton, lalu terus menanjak hingga akhirnya menembus rekor tertinggi pada 22 Februari 2021 yang mencapai US$ 19.689 per ton.

Meski setelahnya turun kembali, namun rata-rata masih berkisar US$ 16.000-an per ton dan pada Mei ini menunjukkan adanya perbaikan kembali. Pada perdagangan kemarin, Selasa (18/05/2021), harga nikel menyentuh US$ 18.142 per ton, meningkat dari sehari sebelumnya, Senin (17/05/2021) yang sebesar US$ 17.723 per ton.

Begitu juga dengan tembaga, Di awal Mei 2021, tepatnya tanggal 6 Mei 2021, harga tembaga di London Metal Exchange (LME) tembus di level US$ 10.025 per metrik ton (MT).

Tak berhenti di situ, harga tembaga terus saja naik, bahkan pada tanggal 10 Mei pekan lalu sempat menyentuh US$ 10.724,5 per MT, meski pada 14 Mei harus turun ke level US$ 10.212 per MT. Pada perdagangan kemarin, Selasa (18/05/2021), harga tembaga kembali naik menjadi US$ 10.465 per ton.

Dalam jangka panjang harga tembaga digadang-gadang masih akan terus menunjukkan tren positif. Harganya berpotensi menyentuh US$ 20.000 per MT di 2025. Proyeksi ini berdasarkan analisis Bank of America (BofA), seperti dilansir dari CNBC International.

Begitu pun dengan emas, di mana pada perdagangan kemarin, Selasa (18/05/2021), harga emas di LME menyentuh US$ 1.867,5 per troy ons.

Momen kenaikan harga semestinya bisa dimanfaatkan perusahaan untuk berinvestasi di proyek hilirisasi, seperti smelter untuk komoditas mineral, sejalan dengan program hilirisasi pemerintah. Namun nyatanya, hal ini tak langsung dilakukan pengusaha, kenapa?

Saat ditanya apakah ini waktu yang tepat untuk berinvestasi di sisi hilir di tengah kenaikan harga, Djoko mengatakan, ini tidak bisa serta merta dilakukan. Dia beralasan, adanya pendemi Covid-19 sejak 2020 lalu, banyak pengeluaran terkait dengan protokol kesehatan di lapangan.

“Belum dapat diprediksi, sehubungan dengan pandemic Covid-19 banyak pengeluaran untuk protokol kesehatan operasi di lapangan untuk tahun 2020, rata-rata ekstra berkisar 40 million, ini kesempatan untuk menutupi pengeluaran tersebut,” paparnya.

Memang, naiknya harga komoditas tambang menjadi kesempatan bagi RI untuk mendapatkan cuan besar-besaran di sektor tambang. Bagaimana tidak, ratusan juta ton batu bara, jutaan logam nikel, ratusan ribu ton katoda tembaga dan puluhan ton emas ditargetkan diproduksi setiap tahunnya. Bahkan, kebanyakan komoditas tambang tersebut masih diekspor.

Tahun ini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan penerimaan negara dari sektor pertambangan mineral dan batu bara mencapai Rp 39,01 triliun, naik tipis dari realisasi penerimaan negara pada 2020 yang sebesar Rp 34,65 triliun.

Dengan terus membubungnya harga hampir di semua komoditas tambang, baik batu bara, emas, nikel, dan tembaga membuat realisasi penerimaan negara hingga awal Mei ini tercatat sudah mencapai separuh dari target, tepatnya Rp 19,15 triliun atau 48,97% dari target satu tahun ini.

Namun, untuk jangka panjang, keuntungan yang diperoleh dari kenaikan harga saat ini lebih baik jika dioptimalkan untuk berinvestasi hilirisasi, sehingga ketika harga komoditas semakin membubung, nilai tambah dari produk tambang yang dijual juga semakin berlipat-lipat dan tentunya akan memiliki efek berganda bagi perekonomian sekitar tambang dan nasional.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Harga Tembaga Melaju Dekati US$9.500, Sedangkan Nikel Masih Melemah

NIKEL.CO.ID – Harga tembaga terus melanjutkan tren positifnya dan kembali mendekati level harga tertinggi dalam sembilan tahun. Reli harga ditopang oleh lonjakan permintaan dan prospek kenaikan inflasi seiring dengan pemulihan ekonomi.

Berdasarkan data Bloomberg pada Selasa (20/4/2021), harga tembaga pada London Metal Exchange (LME) sempat hingga ke level US$9.436 per ton sebelum kembali ke level US$9.376 atau naik 1,79 persen.

Adapun, pada akhir Februari lalu, harga tembaga mencetak rekor tertinggi dalam sembilan tahun setelah menyentuh US$9.617 per ton. Lonjakan tersebut didorong oleh potensi permintaan dari industri energi terbarukan dan kendaraan listrik.

Pada Maret lalu, harga tembaga mengakhiri rekor kenaikan yang telah berjalan selama 11 bulan beruntun. Komoditas yang dijadikan kompas perekonomian global tersebut terkoreksi seiring dengan musim permintaan yang rendah serta kenaikan imbal hasil obligasi AS.

Senior Commodities Strategist ING Bank NV, Wenyu Yao dalam laporannya menjelaskan, konsolidasi harga yang terjadi sepanjang Maret lalu kini telah berbalik menjadi pergerakan bullish. Menurutnya, kondisi inflasi saat ini dan suku bunga riil yang negatif menjadi katalis positif untuk harga komoditas.

“Lonjakan harga tembaga saat ini terjadi berkat kondisi fundamental komoditas tersebut yang mendukung,” jelasnya dikutip dari Bloomberg.

Sementara itu, harga nikel anjlok hingga 2,2 persen ke level US$16.010 per metrik ton seiring dengan sikap investor yang mempertimbangkan potensi penambahan pasokan dari Filipina.

Salah satu katalis negatif untuk pergerakan harga nikel adalah penghapusan moratorium untuk kontrak pertambangan nikel baru. Kebijakan ini disahkan oleh Presiden Filipina, Rodrigo Duterte guna menambah pemasukan negara.

Kebijakan moratorium tersebut diberlakukan oleh pendahulu Duterte, Benigno Aquino pada 2012 lalu. Kini, pemerintah Filipina dapat memberikan izin untuk kontraktor-kontraktor yang tertarik untuk melakukan penambangan nikel di negara tersebut.

Filipina merupakan salah satu negara eksportir bijih nikel utama untuk China. Hal ini terjadi ditengah terbatasnya pasokan akibat terhentinya kegiatan pada sejumlah tambang nikel karena pembatasan terkait dampak lingkungan.

Artikel ini telah tayang di Bisnis.com dengan judul “Harga Tembaga Kembali Melaju Dekati US$9.500“.

Read More

Prospek Kenaikan Harga Nikel & Tembaga Jadi Penyokong Utama Emiten Sektor Logam

NIKEL.CO.ID – Harga nikel dan tembaga berpotensi lanjut menguat di sepanjang tahun ini. Emiten sektor logam yang memiliki lebih banyak bisnis di kedua komoditas tersebut akan lebih diuntungkan.

Tahun lalu sektor logam diperkirakan menjadi primadona seiring kenaikan harga komoditas. Namun, pergerakan harga saham emiten di sektor ini tidak kompak menguat. Berdasarkan RTI harga saham PT Aneka Tambang (ANTM) berhasil menguat 23% secara year to date (ytd). Menyusul, kinerja PT Timah (TINS) juga tumbuh 5,39% ytd.

Namun, pergerakan saham PT Vale Indonesia (INCO) menurun 14,71% di periode yang sama. Sementara, saham PT Merdeka Copper Gold (MDKA) stagnan di periode yang sama.

Meski pergerakan harga saham sektor logam saat ini belum kompak menguat, Analis Henan Putihrai Sekuritas Meilki Darmawan mengatakan prospek bisnis sektor logam berpotensi berkinerja positif. Meilki memandang harga saham MDKA stagnan karena pelaku pasar belum merefleksikan potensi kenaikan rata-rata harga jual di 2021, terkhusus di segmen tembaga.

Sementara, Meilki mengatakan harga saham INCO menurun karena terdampak sentimen negatif terkait proses perbaikan furnace smelter nikel. Walaupun proses penyelesaian akan diundur, Meilki tetap melihat proses perbaikan akan tetap dilakukan di tahun ini.

Meilki memandang emiten sektor logam yang memiliki eksposur bisnis  nikel dan tembaga, dalam jangka panjang berpotensi catatkan fundamental kinerja yang positif. Meski, tidak dipungkiri harga nikel berpotensi tertekan dalam jangka pendek karena Tiongkok ingin melakukan pengendalian harga nikel.

Kompak, Analis Samuel Sekuritas Indonesia Dessy Lapagu mengatakan faktor yang menekan pergerakan harga saham sektor logam adalah harga nikel dan emas yang sedang melemah. Tercatat harga nikel dalam London Metal Exchange tiga bulanan, Jumat (16/4/2021) berada di US$ 16.363 per ton. Harga tersebut menurun 16% sejak sentuh level tertinggi di Februari 2021. Sementara, harga emas spot tercatat turun 13% sejak harga sempat sentuh level tertinggi di US$ 2.063 per ons troi pada Juni 2020 menjadi ke US$ 1.776 per ons troi di akhir pekan lalu.

Meilki memproyeksikan harga tembaga tetap lanjut menguat di tahun ini. Dukungan penguatan harga berasal dari konsumsi tembaga di China yang banyak dibutuhkan untuk proyek infrastruktur green energy. Meilki memproyeksikan rata-rata harga nikel tahun ini berada di US$ 17.000 per ton.

Sementara, harga rata-rata tembaga di tahun ini berada di US$ 9.000 per ton. Proyeksi harga tersebut cenderung stabil dari posisi harga tembaga yang berada di US$ 9.211 per ton akhir pekan lalu.

Meilki memproyeksikan harga emas akan cenderung menurun. Penyebabnya, aktivitas bisnis dan ekonomi mulai membaik dan bisa menyeret turun harga emas.

“Emas sulit mendapatkan arus masuk yang berkelanjutan, proyeksi harga emas rata-rata di US$ 1.800 per ons troi di tahun ini,” kata Meilki.

Di antara emiten sektor logam, Meilki melihat MDKA dan ANTM masih menarik untuk dikoleksi di tahun ini.

“Potensi kenaikan laba bersih MDKA sebesar 11% year on year (yoy) sedangkan ANTAM berpotensi tumbuh 22% yoy,” kata Meilki, Jumat (16/4/2021).

Potensi pertumbuhan laba tersebut ditopang dari rata-rata harga jual yang lebih tinggi di 2021. Meilki merekomendasikan beli MDKA dengan target harga Rp 3.000 per saham. Meilki juga merekomendasikan beli ANTM di target harga Rp 2.800 per saham.

Dessy juga optimistis harga komoditas logam akan kembali naik di tahun ini karena permintaan yang masih kuat. Dia cenderung memilih ANTM sebagai emiten yang ia jagokan dari sektor logam.

Menurut Dessy, ANTM memiliki potensi penguatan kinerja dari kenaikan harga nikel dan emas. Selain itu, fokus hilirisasi smelter dan baterai listrik dapat menjadi faktor pendorong fundamental ANTM dalam jangka panjang. Dessy merekomendasikan beli ANTM di target harga Rp 3.230.

Sumber: KONTAN

Read More

Sinyal Negatif dari China untuk Emiten Nikel

Harga nikel diprediksi masih akan mengalami pelemahan selama beberapa pekan ke depan.

NIKEL.CO.ID – Tekanan tambahan datang untuk emiten nikel seiring dengan upaya China menekan inflasi komoditas dan prospek penambahan pasokan.

Perdana Menteri China Li Keqiang menekankan pentingnya perbaikan regulasi di pasar bahan mentah untuk menekan biaya yang ditanggung perusahaan di tengah reli harga komoditas.

Wakil Perdana Menteri China Liu He yang mengepalai Komisi Pengembangan dan Stabilitas Finansial juga mengatakan hal serupa. Liu He mengingatkan pentingnya menjaga level harga setelah inflasi harga produsen naik 4 persen atau laju inflasi tercepat dalam hampir 3 tahun terakhir.

Dilansir dari Bloomberg, harga nikel turun 2,8 persen menjadi US$16.134 per ton di London Metal Exchange, Selasa (13/4). Harga komoditas logam itu sempat terkoreksi hingga 3,1 persen ke posisi US$16.087 per ton. Nikel mencetak penurunan berturut-turut selama 5 hari perdagangan.

Pada saat yang sama, harga nikel kontrak Juni 2021 di bursa Shanghai terkoreksi 3,6 persen ke level US$18.658 per ton. Koreksi harga ini terjadi setelah nikel sempat mendekati kisaran US$20.000 per ton akhir Februari.

Broker Komoditas Anna Stablum menjelaskan komentar kedua Li Keqiang mengenai pengendalian biaya memunculkan tekanan tambahan bagi harga nikel.

Sementara itu, laporan BMO menyebut komentar Liu He merupakan indikasi kekhawatiran kenaikan inflasi yang menjadi perhatian pemerintah China, terutama setelah kenaikan terjadi pada konsumen di sisi hilir.

Laporan itu menjelaskan Pemerintah China kemungkinan akan meningkatkan kemampuan swasembada logam-logam dasar. Pengembangan ini juga mencakup akuisisi nikel dari luar negeri pada harga yang lebih rendah.

“Pemerintah China kemungkinan tidak akan melepas cadangan logamnya secara signifikan. Namun, sentimen ini diprediksi tetap bergaung untuk mengirimkan sinyal ke pasar,” tulis laporan BMO.

Sentimen lain yang menekan harga nikel adalah prospek pemulihan produksi MMC Norilsk Nickel PJSC atau Nornickel. Perusahaan asal Rusia tersebut melaporkan kegiatan produksi di tambang Oktyabrsky telah berjalan normal setelah sempat terhambat banjir.

Manajemen Nornickel menjelaskan jumlah output tambang Oktyabrsky akan pulih ke level normal pada April. Sementara itu, tambang lain yang terdampak masalah banjir, Taimyrsky, akan beroperasi penuh pada Juni.

“Kapasitas tambang di Oktyabrsky saat ini sudah mencapai 60 persen dari target,” kata manajemen Nornickel dalam siaran pers yang dikutip dari Bloomberg.

Tahun lalu, Nornickel juga menghadapi masalah pada tambangnya. Nornickel yang merupakan penghasil paladium dan nikel terbesar di dunia harus membayar kompensasi US$2 miliar akibat tumpahan diesel pada salah satu tangki bahan bakarnya di wilayah Arktik. Bulan lalu, tiga orang pekerja tewas akibat atap salah satu fasilitas pemrosesan milik perusahaan runtuh saat sedang diperbaiki.

Pemulihan AS

Sementara itu, Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan harga nikel dipicu oleh tren positif yang dinikmati dolar Amerika Serikat seiring dengan laju pemulihan ekonomi Negeri Paman Sam yang berada di atas ekspektasi.

Selain itu, penguatan imbal hasil US Treasury juga ikut menekan pergerakan harga komoditas, termasuk nikel. Hal ini membuat daya tarik komoditas sebagai lawan dari mata uang dolar AS menurun di mata para investor.

“Sentimen perbaikan ekonomi AS pascastimulus sebesar US$1,9 triliun dimanfaatkan oleh pelaku pasar untuk melakukan profit taking,” jelasnya saat dihubungi.

Menurutnya, tren koreksi harga nikel saat ini terbilang wajar. Dia menilai level harga nikel saat ini sudah terlalu tinggi sehingga koreksi akan terjadi agar pasar dapat mengambil posisi beli pada harga yang lebih rendah.

Ibrahim memperkirakan harga nikel masih akan mengalami pelemahan selama beberapa pekan ke depan. Harga nikel berpotensi menyentuh US$15.600 per ton dengan level tertinggi di kisaran US$17.000 per ton.

Kendati tengah melemah, Ibrahim meyakini peluang penguatan harga nikel masih terbuka seiring dengan rencana paket stimulus sektor infrastruktur yang tengah dibahas AS. Saat ini, perdebatan tentang stimulus Biden tengah berlangsung antara Partai Demokrat dan Partai Republik. Partai Republik menolak rencana kenaikan pajak korporasi untuk menopang stimulus itu.

Rencana paket stimulus senilai US$2,25 triliun itu mencakup sejumlah program, mulai dari pembangunan infrastruktur, investasi energi terbarukan, hingga pajak korporasi.

“Apabila stimulus infrastruktur ini berhasil direalisasi, harga nikel berpotensi kembali menguat. Saat ini pasar nikel memang belum memiliki sentimen positif yang signifikan,” jelasnya.

Faktor pendukung prospek harga nikel lainnya adalah kenaikan permintaan baterai dan baja tahan karat yang berbahan dasar nikel. Permintaan ini seiring dengan pengembangan mobil listrik di sejumlah negara.

Ibrahim memprediksi harga nikel akan bergerak di kisaran US$13.000-US$19.000 per ton hingga paruh pertama tahun ini.

Senada, Founder Traderindo.com Wahyu Laksono mengatakan koreksi harga nikel terbilang wajar mengingat pergerakannya yang telah mencapai level tertinggi beberapa waktu lalu. Selain itu, tren apresiasi dolar AS juga ikut menekan harga komoditas, termasuk nikel.

“Sejumlah sentimen, seperti refationary trade, isu vaksin virus corona, dan stimulus Pemerintah AS sudah diperhitungkan [priced-in] oleh pasar. Harga nikel sebelumnya menguat didorong oleh berbagai ekspektasi yang sudah berlangsung sejak kuartal II/2020,” katanya.

Wahyu melanjutkan, saat ini pasar nikel berada pada fase tarik-menarik antarsentimen. Di satu sisi, penguatan dolar AS yang didukung oleh prospek pemulihan ekonomi serta kekhawatiran akselerasi inflasi menjadi faktor penurun harga. Di sisi lain, rebound ekonomi global akan memicu pemulihan permintaan nikel.

Wahyu melihat peluang penguatan harga nikel sepanjang 2021 masih cukup terbuka. Meskipun demikian, level harga nikel yang tinggi dan sentimen pasar yang didera kecemasan inflasi berpotensi memicu koreksi cukup dalam.

“Untuk jangka menengah, harga nikel akan berada di level US$14.000-US$18.000 per ton. Sementara itu, untuk 2021, kisaran harganya di US$13.000-US$21.000 per ton,” katanya.

Di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI), pergerakan emiten produsen nikel seperti PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) dan PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) tengah kurang bertenaga. Laju saham ANTM serta INCO telah terkoreksi 12,69 persen dan 32,77 persen dalam 3 bulan terakhir.

Manajemen Aneka Tambang (Antam) menyatakan akan fokus ekspansi di bisnis penghiliran mineral seperti tecermin dari upaya perseroan untuk terus mengejar penyelesaian proyek smelter feronikel dan SGAR agar dapat segera berkontribusi terhadap kinerja perseroan di tengah outlook nikel yang semakin positif.

Hingga akhir 2020, smelter Feronikel Haltim mencapai kemajuan konstruksi sebesar 98 persen. Pabrik Feronikel Haltim line-1 nantinya memiliki kapasitas 13.500 ton nikel dalam feronikel (TNi).

Setelah rampung, smelter itu akan menambah portofolio kapasitas produksi total Antam menjadi 40.500 TNi per tahun dari kapasitas saat ini 27.000 TNi.

Di sisi lain, ANTM telah resmi tergabung dalam Indonesia Battery Corporation yang merupakan holding BUMN yang menaungi industri baterai kendaraan listrik mulai dari hulu hingga hilir bersama dengan MIND ID, PT Pertamina (Persero) dan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero). Dalam rantai industri tersebut, ANTM berkomitmen untuk memasok bahan baku baterai kendaraan listrik, yaitu nikel.

Sejalan dengan itu, perseroan juga mematok target produksi dan penjualan bijih nikel secara agresif pada tahun ini. Padahal, pada 2020 perolehan produksi bijih nikel ANTM hanya sebesar 4,6 juta wmt dengan penjualan 3,3 juta wmt.

Sumber: bisnis.com

Read More

China Kendalikan Inflasi Komoditas, Harga Nikel Terkoreksi

Salah satu penyebab penurunan harga nikel adalah rencana China untuk menekan inflasi komoditas. Perdana Menteri China, Li Keqiang menekankan pentingnya perbaikan regulasi pada pasar bahan mentah.

NIKEL.CO.ID – Harga nikel kembali melemah menyusul prospek penambahan pasokan dan upaya China untuk menekan inflasi komoditas.

Dilansir dari Bloomberg pada Selasa (13/4/2021) harga nikel sempat terkoreksi hingga 3,1 persen ke posisi US$16.087 per ton pada London Metal Exchange (LME). Dalam lima hari perdagangan terakhir, harga komoditas ini masih terkoreksi sebesar 0,49 persen.

Sementara itu, harga nikel kontrak bulan Juni 2021 di bursa Shanghai terkoreksi 3,6 persen pada level US$18.658 per ton. Koreksi harga ini terjadi setelah nikel sempat mendekati kisaran US$20.000 per ton di akhir Februari lalu.

Salah satu penyebab penurunan harga nikel adalah rencana China untuk menekan inflasi komoditas. Perdana Menteri China, Li Keqiang menekankan pentingnya perbaikan regulasi pada pasar bahan mentah. Hal ini dilakukan guna menekan biaya yang ditanggung perusahaan ditengah reli harga komoditas.

Broker Komoditas Anna Stablum menjelaskan, komentar dari Li Keqiang memunculkan tekanan tambahan bagi harga nikel. Komentar tersebut merupakan ungkapan terkait pengendalian biaya dari pemerintah China yang kedua.

Wakil Perdana Menteri China Liu He yang mengepalai Komisi Pengembangan dan Stabilitas Finansial mengatakan hal serupa pada pekan lalu. Liu He mengingatkan pentingnya menjaga level harga setelah producer price inflation naik 4 persen, atau laju inflasi tercepat dalam hampir tiga tahun terakhir.

Sementara itu, laporan dari BMO mengatakan, komentar Liu He merupakan indikasi kekhawatiran kenaikan inflasi telah menjadi perhatian pemerintah China. Hal tersebut terutama setelah kenaikan terjadi pada konsumen di sisi hilir.

Laporan tersebut menjelaskan, pemerintah China kemungkinan akan meningkatkan kemampuan swasembada logam-logam dasar. Pengembangan ini juga mncakup akuisisi nikel dari luar negeri pada harga yang lebih rendah.

“Pemerintah China kemungkinan tidak akan melepas cadangan logamnya secara signifikan. Namun, sentimen ini diprediksi tetap bergaung untuk mengirimkan sinyal ke pasar,” demikian kutipan laporan tersebut.

Sentimen lain yang menekan harga nikel adalah prospek pemulihan produksi dari MMC Norilsk Nickel PJSC atau Nornickel. Perusahaan asal Rusia tersebut melaporkan kegiatan produksi di tambang Oktyabrsky telah berjalan normal setelah sempat terhambat akibat banjir.

Manajemen Nornickel menjelaskan, jumlah output tambang Oktyabrsky akan pulih ke level normal pada bulan April 2021. Sementara itu, tambang lain yang terdampak masalah banjir, Taimyrsky, akan beroperasi penuh pada Juni mendatang.

“Kapasitas tambang d Oktyabrsky saat ini sudah mencapai 60 persen dari target,” demikian pernyataan manajemen Nornickel dikutip dari Bloomberg.

Pada tahun lalu, Nornickel juga menghadapi masalah pada tambangnya. Nornickel yang merupakan penghasil palladium dan nikel terbesar di dunia harus membayar kompensasi US$2 miliar akibat tumpahan diesel pada salah satu tangki bahan bakarnya di wilayah Arktik.

Bulan lalu, tiga orang pekerja terbunuh akibat atap dari salah satu fasilitas pemrosesan milik perusahaan runtuh saat sedang diperbaiki.

Artikel ini telah tayang di Bisnis.com dengan judul “China Kendalikan Inflasi Komoditas, Harga Nikel Terkoreksi“.

Read More