Harganya Turun Drastis, Nikel Tak Lagi Jadi Idola Komoditas

NIKEL.CO.ID – Harga nikel pada perdagangan hari Senin (8/3/2021), kembali melemah 1,43% setelah sempat membaik akhir pekan lalu, penurunan ini mengikuti tren pelemahan yang terus terjadi sejak awal Maret.

Harga nikel kontrak 3 bulan di London Metal Exchange (LME) ditutup dengan harga US$ 16.145/ton pada perdagangan senin, turun 1,43% dari harga US$ 16.379/ton pada perdagangan hari jumat.

Harga ini sendiri merupakan harga terendah nikel selama tahun 2021 di bursa LME.

Penurunan juga terjadi untuk nikel pembelian langsung, yang turun dari US$ 16.349/ton menjadi US$ 16.115/ton.

Pada awal tahun lalu harga nikel sempat turun tajam, merosot hingga US$ 11.142/ton pada perdangan bulan Maret 2020. Akan tetapi memasuki bulan selanjutnya harga nikel perlahan naik terus hingga mencapai puncaknya di angka US$ 19.722/ton pada perdagangan tanggal 22 Februari lalu, tertinggi sejak 2014, yang sempat dihargai US$ 21.150/ton pada bulan Mei tahun tersebut.

Harga Nikel 3 bulan LMEFoto: Harga Nikel 3 bulan LME
Harga Nikel 3 bulan LME

Harga nikel juga mengalami penurunan 1% di bursa Shanghai (kode: SNIcv1) dari US$ 19.099/ton pada senin menjadi US$ 18.891 pada hari ini (9/3), berdasarkan data refinitiv.

Dikutip dari Reuters, produksi nikel murni hasil olahan China bulan Februari naik 5,33% atau mengalami penambahan sebesar 692 mt dari produksi bulan Januari.

Read More

Harga Komoditas Naik, Nikel Bisa Jadi Pilihan

NIKEL.CO.ID – Optimisme pelaku pasar akan prospek pemulihan ekonomi tahun ini menggiring kenaikan harga komoditas. Komoditas yang terkait dengan energi terbarukan diyakini punya ruang lebih besar untuk naik di tahun ini.

Mengutip Bloomberg, indeks spot komoditas yang meliputi pergerakan 23 harga komoditas menunjukkan kenaikan 1,6% pada Senin (22/2/2021) sekaligus menjadi level tertinggi sejak Maret 2013. Bahkan, indeks tersebut telah naik lebih dari 60% dari level terendah empat tahun pada Maret 2020.

Kepala Strategi Komoditas TD Securities Bart Melek mengungkapkan kalau saat ini orang-orang yang mengabaikan komoditas mulai mencari posisi. Sedangkan dari JPMorgan Chase &Co menilai harga komoditas tengah memulai super cycle baru dan memperpanjang trennya.

Sedangkan Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra menjelaskan, prospek pemulihan ekonomi di 2021 pasca kekhawatiran akan dampak pandemi Covid-19 di 2020 berhasil mendorong kenaikan harga komoditas. Pasalnya, potensi kenaikan permintaan pasca pandemi yang mulai terkendali, turut mendorong kenaikan harga komoditas.

“Masalahnya, apakah demand komoditi masih akan menguat ke depannya?” kata Ariston, Rabu (24/2/2021).

Ariston menilai, untuk komoditas yang berhubungan dengan renewable energy atau energi terbarukan, baterai, seperti nikel kemungkinan masih mampu untuk melesat lebih tinggi. Hal tersebut sejalan dengan maraknya upaya global untuk mulai melirik baterai sebagai sumber energi sehingga, tren permintaan nikel diyakini masih akan menanjak. “Saat ini semua komoditas industri mengalami kenaikan, jadi masih bisa masuk ketika harga terkoreksi,” ujar Ariston.

Untuk komoditas yang menjadi bahan baku baterai seperti nikel, Ariston melihat peluang harga tahun ini bisa meningkat ke level US$ 21.000 per ton atau setara level tertinggi di 2014. Sedangkan untuk harga minyak mentah west texas intermediate (WTI) berpotensi menuju kisaran resistance US$ 65 per barel hingga US$ 66 per barel hingga akhir tahun ini.

Sumber: KONTAN

Read More