Beranda Berita Nasional Pertumbuhan Pembiayaan Pertambangan Naik, Dominan dari Sektor Hulu

Pertumbuhan Pembiayaan Pertambangan Naik, Dominan dari Sektor Hulu

216
0

NIKEL.CO.ID, 2 Desember 2022Pertumbuhan pembiayaan perbankan Indonesia untuk sektor pertambangan mengalami kenaikan. Namun, masih didominasi skema pembiayaan usaha pertambangan di sektor hulu. Skema pembiayaan upstream dan mindstream bisa dijadikan celah untuk membantu pemberian kredit ke sektor industri hilir.

Situasi global saat ini sedang tidak menentu. Geopolitik perang Rusia dan Ukraina memberikan dampak pada berbagai hal sendi-sendi perekonomian negara-negara maju dan berkembang. Misalnya, terjadi gangguan suplai energi dan pangan, muncul  risiko stagflasi dan resesi. Sementara Indonesia yang menganut azas ekonomi terbuka, sudah pasti memberikan dampak kepada kondisi perekonomian dan sistem keuangan domestik.

“Dampak kondisi global yang tidak menentu saat ini, Indonesia juga mengalami risiko. Seperti adanya aliran modal yang keluar akibat nilai tukar rupiah yang melemah, serta terjadi kenaikan inflasi,” kata Direktur Grup Kebijakan dan Koordinasi Departemen Makroprudensial Bank Indonesia, Mal Isnaini SM Yanti dalam seminar nasional di Bandung, baru-baru ini.

Permasalahan ini melatarbelakangi kebijakan moneter BI cenderung melakukan normalisasi. Orang di luar dunia perbankan mengistilahkan dilakukan pengetatan. BI antara lain meningkatkan suku bunga seven days repo rate dan menaikkan kewajiban giro wajib minimum bagi perbankan.

Kendati demikian, disampaikan Isnaini, di tengah kondisi domestik yang penuh ketidakpastian, berdasarkan hasil asesmen Makroprudensial BI kondisi dari sistem keuangan BI relatif masih cukup terjaga. Misalnya dari sisi permodalan minimum hampir mencapai 30%. Sementara threshold minimum berada di kisaran 8%-14%.  Artinya, perbankan Indonesia memiliki ketahanan keuangan yang terjaga.

Dari sisi likuiditas, perbankan Indonesia memiliki likuiditas yang bagus. Artinya, kalau dari sisi ratio hampir mencapai 27% dan threshold minimumnya 10%.

“Artinya likuiditas tidak ada masalah di perbankan Indonesia  secara industri. Pun jika dilihat dari performing loan, kredit macet, berada di angka rendah di bawah 3%,” jelasnya.

Dari sisi sektor riil, lanjutnya, jika dilihat dari korporasi kinerjanya masih cukup bagus. Masih mencatatkan pertumbuhan penjualan, masih ada pengeluaran untuk investasi, sehingga secara operasional masih berjalan dengan baik. Makroprudensial BI telah melakukan asesmen terhadap 500 korborasi yang sifatnya Tbk. Data hasil asesmen tersebut diharapkan mewakili populasi dari korporasi besar di Indonesia.

Kemudian dari sisi rumah tangga, konsumsi rumah tangga di Indonesia masih bagus. Indeks dari keyakinan konsumen masih terus meningkat.  Artinya, kembali dijelaskan Isnaini, sektor rumah tangga masih memandang optimis untuk perekonomian Indonesia ke depan.

Dengan kondisi itu, Makroprudensial BI memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia akan dapat tercapai. BI menetapkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di rentang antara 4,5% sampai 5,3%. Tetapi, berdasarkan data dari triwulan III 2022 yang dirilis BPS menyebutkan angka pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah melampaui target BI, sekitar 5,7%. Menurutnya, ini adalah pencapaian yang sangat baik. Bahkan jika dibandingkan dengan negara-negara G20, pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih tinggi daripada negara-negara maju.

Isnaini melanjutkan penyampaian catatannya dari sisi perbankan. Dia mengatakan bahwa intermediasi di Indonesia pertumbuhannya bagus. Jika dilihat pertumbuhan kredit hingga Oktober 2022 angkanya mencapai 11,95% year of year (yoy).  Sebagian besar pertumbuhan kredit terjadi pada seluruh sektor ekonomi.

“Jika dilihat dari jenis penggunaannya, umumnya kredit itu jenis investasi. Artinya, dunia usaha di Indonesia masih berjalan dengan baik. Kredit investasi dan kredit modal kerja masih menunjukkan peningkatan. Bahkan kredit konsumsi yang merupakan cerminan dari kegiatan ekonomi rumah tangga menunjukkan peningkatan yang bagus,” tuturnya.

Ia kemudian menyoroti pembiayaan berdasarkan sektor usaha. Berdasarkan catatan Makroprudensial BI, pertumbuhan keuangan perbankan dari sektor pertambangan paling tinggi, mencapai 67,17% dan tingkat nonperforming loan-nya (NPL) rendah. Hal ini sejalan dengan indeks prosesing manager yang memperlihatkan indeks tersebut mencerminkan suatu optimisme dari dunia usaha, khususnya manufaktur terhadap prospek ke depan. Indeksnya masih berada di atas level 50%.

“Artinya, dunia manufaktur masih melakukan ekspansi,” imbuhnya.

Namun demikian, sergahnya, kredit perbankan di sektor pertambangan masih didominasi oleh sektor hulu. Artinya, perbankan belum banyak masuk ke sektor hilirisasi.  Kendati demikian, BI melihat ada peluang bagi perbankan menyalurkan kredit untuk industri hilir. Meskipun tidak langsung membiayai proyek hilirisasi secara utuh, namun bisa mengambil dari sisi upstream atau mindstream.

“Jadi, dari sisi penyediaan bahan baku, produk olahan, atau bahkan kegiatan-kegiatan yang mendukung distribusi dari output hilirisasi tersebut,” tutur Isnaini tentang solusi pembiayaan perbankan untuk sektor industri hilir.

Ia menyarankan, bagi salah satu perbankan merasa tidak mampu melakukan pendanaan, ada beberapa mekanisme atau skema yang dapat dilakukan. Umumnya adalah sindikasi kredit bersama-sama dengan perbankan lain, baik secara domestik maupun dengan perbankan asing. (Syalom/Syarif)

Artikulli paraprakNikel Masuk Kategori Mineral Strategis, Ketum APNI: Hulu Mendukung Industri Hilir
Artikulli tjetërYudi Santoso: Total Tiga Tahapan Investasi IWIP US$ 19,1 Juta