Nikel Olahan Dunia Menurun, Senasib dengan Indonesia

356

Nikel Olahan Dunia Menurun, Senasib dengan Indonesia
NIKEL.CO.ID,20 April 2022-China sebagai negara produsen baja dan stainless steel terbesar nikel di dunia mengalami penurunan stok bahan baku nikel pada minggu. Kondisi yang sama di gudang gudang bursa logam LME, mengalami penurunan stok nikel.

Per Jumat (15 April) persediaan bijih nikel di pelabuhan China turun 163.000 ton basah (wet metrcik ton/wmt) dari pekan sebelumnya menjadi 5,57 juta wmt dengan total kandungan Ni mencapai 1.300 ton.

Total persediaan di tujuh pelabuhan utama di seluruh China mencapai 2,35 juta wmt. Jumlahnya turun 93.000 wmt dari pekan sebelumnya.

Penyebab persediaan di China menurun karena adanya hambatan pengiriman dari Filipina akibat cuaca. Meskipun sudah memasuki penghujung musim hujan, namun pengiriman belum stabil.

Sementara itu di LME harga nikel pada Kamis, (20/4/2022) pukul 10.29 WIB tercatat 33.650 dolar AS per ton, tentunya harga ini lebih tinggi dibandingkan dengan penutupan kemarin 33.200 dolar AS per ton.

Menurut data LME, stok nikel LME turun dari level tertinggi 264.600 mt sejak akhir April tahun lalu, namun rebound pada awal bulan ini. Setelah mencapai level tertinggi dalam setengah bulan pada 7 April, stok nikel LME turun menjadi 72.600 mt, terendah dalam dua tahun terakhir, ditutup ke level terendah sebelumnya di 72.400 mt.

Sedangkan menurut data SHFE, stok nikel SHFE turun pada pekan 15 April, dengan stok mingguan turun 11,96% menjadi 7.668 mt. Catatan: Secara umum, penurunan saham di SHFE dan LME akan mendukung harga berjangka, dan sebaliknya, bearish.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pasokan nikel dunia sedang tertekan. Indonesia sebagai produsen tambang nikel terbesar dunia bisa saja menjadi penyelamat.

Fitch Solution memproyeksikan produksi bijih nikel (ore) Indonesia mencapai 919 juta ton pada tahun 2022. Jumlah ini naik 10% dibandingkan produksi tahun 2021. Ini membuat produksi nikel tambang Indonesia memiliki porsi 30,8% dari total produksi dunia.

Nikel ore adalah bahan baku untuk diolah menjadi beberapa jenis nikel seperti feronikel yang digunakan untuk membuat baja anti karat (stainless steel).

Sayangnya, bijih nikel dari Indonesia dilarang untuk diekspor sehingga tidak bisa memenuhi kebutuhan bijih nikel global. Terutama China sebagai pengolah nikel terbesar nikel terbesar di dunia.

Menurut catatan Fitch Solution, produksi olahan nikel China mencapai 753,58 ribu ton pada tahun 2021.

Larangan ekspor bijih nikel adalah kebijakan dengan tujuan agar nikel mentah tersebut bisa diolah di Indonesia. Sehingga produk ekspor bukanlah produk mentah.

Di dalam negeri, Asosisasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) permintaan nikel ore diperkirakan menjadi 100 juta ton tahun ini. Melonjak 30% dibandingkan dengan tahun 2021. Produksi yang naik seiring dengan empat perusahaan smelter nikel yang akan beroperasi tahun 2022.

China sendiri mendapatkan masalah dari larangan ekspor nikel ore Indonesia dan macetnya impor nikel ore dari Filipina. Meskipun China masih bisa mengolah nikel di Indonesia, tapi kehilangan nikel olahan dari Rusia membebani pasokan dunia.

Nikel olahan yang diproduksi oleh Rusia pada tahun 2021 tercatat 185,2 ribu ton berdasarkan data Fitch Solution. Terbesar nomer dua di dunia setelah China. Sementara itu produksi nikel olahan Indonesia tercatat 65,9 ribu.

Sehingga pasokan nikel dunia terancam tetap menyusut tahun ini di tengah permintaan dari stainless steel dan juga kebutuhan untuk baterai kendaraan listrik (EV).(fia/bbs)