Beranda Asosiasi Pertambangan Nikel Masuk Kategori Mineral Strategis, Ketum APNI: Hulu Mendukung Industri Hilir

Nikel Masuk Kategori Mineral Strategis, Ketum APNI: Hulu Mendukung Industri Hilir

307
0
Ketua Umum APNI, Nanan Soekarna menerima buku Timah Indonesia oleh Dirut PT Timah, Achmad Ardianto.

NIKEL.CO.ID, 2 Desember 2022-Ketua Umum Asosiasi Penambang Nikel Indonesia, Komisaris Jenderal Pol. (P) Drs. Nanan Soekarna mengatakan, APNI mendukung kebijakan pemerintah untuk mengoptimalkan mineral kritis dan strategis untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.

Ketua Umum APNI, Komjen Pol. (P) Drs. Nanan Soekarna menyampaikan hal tersebut seusai mengikuti Seminar Nasional The 1st Indonesia Minerals Mining Industry Conference-Expo 22 bertema: Mineral Kritis dan Strategis untuk Mendukung Industri Nasional, bersama Sekretaris Umum APNI, Meidy Katrin Lengkey, yang diselenggarakan di Bandung, selama dua hari, 29-30 November 2022.

Nanan Soekarna mengatakan, Indonesia dianugerahi Tuhan banyak memiliki sumber daya alam. Namun, SDA Indonesia harus dikelola dengan baik dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat Indonesia.

APNI yang mewadahi pelaku pertambangan nikel di sektor hulu, terus mensosialisasikan penerapan good mining practice (GMP) dengan memperhatikan aspek lingkungan, baik saat dilakukan eksplorasi, eksploitasi, hingga pascapertambangan nikel.

“Pemerintah telah menyusun kajian komoditas mineral yang masuk dalam kategori kritis dan strategis. Komoditas nikel dinyatakan sebagai salah satu dari lima komoditas mineral yang masuk dalam kategori mineral strategis,” kata Nanan Soekarna.

Sebagai Ketua Umum APNI, Nanan Soekarna mengajak semua pelaku pertambangan nikel di Indonesia untuk mendukung program pemerintah untuk memaksimalkan nikel di industri hilir. Sehingga memberikan nilai tambah bagi devisa negara, meningkatkan perekonomian daerah dan kesejahteraan masyarakat.

Dalam kesempatan Seminar Nasional itu, dilangsungkan pula peluncuran dan penyerahan 5 buku secara simbolis diberikan Direktur PT Timah Tbk., Achmad Ardianto kepada Plh Dirjen Minerba, M. Idris F. Sihite. Kelima buku tersebut adalah Grand Strategy Mineral dan Batubara Tahap I, Etalase Mineral, Kebijakan Minerba Nasional, Rencana Pengelolaan Mineral dan Batubara Nasional, dan Pedoman Pengusahaan Mineral dan Batubara Indonesia Tahun 2022. Ketua Umum APNI, Nanan Soekarna juga didaulat naik ke atas podium untuk menerima buku Timah Indonesia dari Achmad Ardianto.

Sebelumnya, Menteri ESDM, Arifin Tasrif dalam pembukaan seminar nasional ini mengatakan, sumber daya mineral merupakan salah satu komoditas yang sangat strategis yang dimiliki Indonesia. Potensinya sangat besar menjadikan komoditas mineral mempunyai peran penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional, serta kemandirian dan ketahanan industri nasional.

Potensi sumber daya mineral tersebar di Indonesia, di antaranya nikel, tembaga, timah, bauksit, dan emas, dan lainnya. Endapan mineral tersebut  membawa beberapa unsur atau mineral ikutan yang keterdapatannya sangat jarang, namun sangat diperlukan dalam industri teknologi maju.

“Peran komoditas mineral kritis sangat strategis dan vital dalam mendukung transisi energi. Antara lain sebagai bahan baku industri, pembuatan panel surya, turbin air, dan industri baterai yang digunakan untuk kendaraan listrik dan storage pembangkit EBT,” jelas Menteri Arifin Tasrif.

Ia menyampaikan, Pemerintah Indonesia saat ini sedang menyusun kajian untuk menentukan kriteria dan mendefinisikan mineral kritis dan strategis, serta menentukan jenis mineral atau unsur yang masuk dalam kategori kritis dan strategis.

Terdapat 50 komoditas, termasuk ke dalam bahan baku industri nasional yang dengan metode analisis kuantitatif yang dikombinasikan metode analisis kualitatif akan menghasilkan 45 komoditas mineral kritis dan 5 mineral strategis.

“Selanjutnya, kita perlu menyepakati pengertian dan kriteria mineral kritis dan strategis tersebut untuk menjadi acuan di dalam tata kelola industri hulu, industri menengah dan industri hilir, untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri, serta menjamin kemandirian dan ketahanan pasokan bahan baku mineral bagi industri nasional,” tuturnya.

Menteri Arifin Tasrif menegaskan, industri hilir akan terus dibangun dan dikembangkan untuk mengoptimalkan manfaat dari eksploitasi mineral. Permasalahan teknologi mineral di dalam negeri  harus terus diupayakan untuk mendukung pengembangan industri hilir ke depan. Kolaborasi bersama dengan industri dalam negeri atau luar negeri yang telah memiliki teknologi maju perlu terus dilakukan sebagai bagian dari upaya penguasaan teknologi.

“Seminar nasional pertama ini akan fokus pada 5 komoditas pilihan, yaitu emas, tembaga, timah, bauksit-aluminium, dan nikel. Lima komoditas ini perlu menjadi prioritas dan perhatian bersama antarpemangku kepentingan,” katanya.

Untuk mengembangkan mineral kritis dan strategis, Menteri Arifin Tasrif menekankan, diperlukan kolaborasi antara pemangku kepentingan terkait, baik yang bergerak di bidang geologi pertambangan hingga industri mineral, serta pihak lainnya, sehingga tercipta sinergisitas dan kerja sama yang saling menguatkan.

Melalui seminar nasional ini, dia berharap dapat diidentifikasikan peluang, tantangan, dan serta strategi, sehingga menghasilkan solusi dan langkah nyata yang diperlukan dalam mengembangkan industri berbasis mineral dengan prioritas peningkatan nilai tambah dalam negeri. (Syalom/Shiddiq/Syarif)

Artikulli paraprakBanyak Tantangan, Isnaini: Masih Ada Peluang Perbankan Indonesia Membiayai Hilirisasi
Artikulli tjetërPertumbuhan Pembiayaan Pertambangan Naik, Dominan dari Sektor Hulu