Nikel Dihajar Sentimen Tsingshan dan Rusia, Prospek Harga Masih Menarik?

Harga nikel global melanjutkan penurunannya pada pekan ini. Sejumlah faktor yang menyebabkan penurunan itu di antaranya datang dari China dan Rusia.

NIKEL.CO.ID – Harga nikel mencatatkan penurunan harian terbesar dalam lebih dari empat tahun terakhir. Hal itu terjadi seiring dengan kemajuan perbaikan pada salah satu tambang terbesar di dunia Nornickel asal Rusia.

Harga komoditas nikel masih dalam tren penurunan. Harga nikel di bursa London Metal Exchange (LME) pada Kamis (18/3/2021) untuk kontrak pengiriman tiga bulan berada di level US$16.047 per ton. Level harga nikel saat ini makin jauh dari harga pada awal perdagangan bulan Maret 2021, yang mencapai level US$18.682 per ton.

Salah satu faktor koreksi harga nikel adalah proses perbaikan pada salah satu tambang milik perusahaan asal Rusia MMC Norilsk Nickel PJSC atau Nornickel.

Sebelumnya, produksi nikel dari tambang perusahaan di Oktyabrsky dan Taimyrsky pada wilayah Arktik terpaksa dihentikan.

Tak hanya itu, perusahaan nikel dari China, Tsingshan Holding Group juga dikabarkan berencana menggenjot produksi untuk menyuplai industri baterai.

Analis dan Founder Traderindo.com Wahyu Laksono mengatakan pemicu khusus penurunan harga nikel saat ini adalah prospek kembalinya produksi nikel dari tambang MMC Norilsk Nickel PJSC atau Nornickel. Hal tersebut dinilai akan mengembalikan sebagian pasokan nikel yang sempat tersendat.

Wahyu mengatakan koreksi harga yang dialami komoditas nikel menjadi hal yang wajar karena telah mencatatkan level tertinggi pada beberapa waktu lalu.

Selain itu, tren penguatan dolar AS juga ikut menekan harga komoditas, termasuk nikel.

Kendati demikian secara fundametal jangka panjang nikel masih potensial.

“Namun memang medium term ini nikel memang sedang koreksi. Level US$15.000 bukan mustahil terjadi jika tekanan koreksi makin menegas. So far memang masih curam koreksi tanpa rebound short term yang signifikan,” katanya kepada Bisnis, Kamis (18/3/2021).

Dia menjelaskan, salah satu faktor pendukung pergerakan harga dan permintaan nikel adalah prospek nikel sebagai salah satu komoditas utama dalam pembuatan kendaraan listrik.

Sejauh ini, kenaikan permintaan nikel telah terlihat. Nikel merupakan salah satu bahan baku untuk membuat baterai sebagai salah satu komponen dalam mobil listrik.

Menurutnya, rencana China yang mengembangkan industri kendaraan listrik akan semakin mengerek permintaan nikel di pasar global. Program Made In China 2025 yang dicanangkan oleh pemerintah setempat dinilai akan mendukung harga nikel untuk kembali naik.

Wahyu menjelaskan, guna merealisasikan mimpi sebagai produsen utama mobil listrik pada 2025 dalam program Made in China 2025, Negeri Panda akan memerlukan pasokan nikel dalam jumlah besar sebagai bahan baku sejumlah komponen seperti baterai, konduktor, dan lainnya.

“Rencana China memiliki dampak yang luas bagi industri nikel, karena mayoritas teknologi yang efisien menggunakan komoditas ini dalam jumlah yang besar,” jelasnya.

Dia menambahkan, dalam jangka waktu menengah, peluang reli harga nikel masih cukup terbuka. Wahyu memprediksi harga nikel akan berada di kisaran US$14.000 hingga US$21.000 per ton.

Terkait fundamental jangka panjang, tren positif produk komoditas masih terbilang bagus. Hal itu salah satunya dipicu ekonomi global yang kian membaik dengan adanya stimulus The Fed dan pemerintahan Presiden Joe Biden. Dengan demikian, meskipun terjadi pelemahan harga, komoditas nikel masih memiliki potensi untuk kategori beli atau buy on weakness.

Jangka Pendek

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Andi Wibowo Gunawan dalam risetnya mengatakan, sentimen kenaikan pasokan nikel akan mempengaruhi pergerakan harga dalam jangka pendek.

Dia memprediksi, jumlah stok nikel di gudang-gudang LME akan naik dari catatan pekan sebelumnya sebanyak 251.130 ton. Selain itu, kenaikan jumlah stok tembaga global juga akan menekan harga nikel. Menurutnya, jumlah stok tembaga LME juga akan naik dari posisi 26 Februari lalu di angka 76.225 ton.

“Naiknya jumlah persediaan tembaga akan menimbulkan risiko downside untuk harga nikel, karena harga kedua komoditas memiliki korelasi yang kuat satu antara satu sama lain,” ujarnya dikutip dari laporan tersebut.

Di sisi lain, jumlah produksi baja tahan karat (stainless steel) yang menggunakan nikel sebagai salah satu bahan bakunya akan membantu menekan sentimen negatif yang membayangi pergerakan harga.

Menurut Andy, meski angka output baja China menurun, jumlah tersebut dinilai masih cukup positif untuk pergerakan harga nikel.

“Kami pikir harga nikel global akan diperdagangkan dua arah minggu ini, mengingat berbagai katalisator,” katanya.

Penurunan harga komoditas nikel tersebut juga menyeret harga saham emiten nikel nasional, meskipun sempat terjadi perbaikan. Misalnya saja PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM), pada perdagangan Kamis (18/3/2021) pada sesi pertama mengalami penurunan 0,43 persen ke level Rp2.290. PT Timah Tbk. (TINS) pada perdagangan kali ini telah mengalami tren peningkatan harga saham ke level Rp1.860 atau mengalami peningkatan 1,92 persen.  Sebelumnya TINS sempat melemah bahkan menyentuh auto rejection bawah (ARB) ke Rp1.900.  Sementara PT Vale Indonesia (INCO), saham INCO berada di zona hijau pada level Rp4.580 atau mengalami pningkatak 1,55 persen dibandingkan dengan perdagangan sebelumnya. Selanjutnya, PT Harum Energy Tbk. (HRUM) juga telah mengalami peningkatan harga saham ke level Rp5.150 atau meningkat 3,21 persen seteah tiga hari perdagangan berturut-turut sempat longsor.

Artikel ini telah tayang di Bisnis.com dengan judul “Nikel Dihajar Sentimen Tsingshan dan Rusia, Prospek Harga Masih Menarik?