Rabu, Desember 1
Shadow

Investasi Smelter Nikel Jangan Dikuasai China

smelter nikelNIKEL.CO.ID – Pemerintah Indonesia gencar mensosilasikan program hilirisasi industri untuk pengolahan hasil tambang mineral atau smelter. Tentu membutuhkan dukungan investasi, baik dari dalam negeri maupun luar negeri untuk pembangunan smelter.

Pengolahan hasil tambang mineral di smelter nantinya untuk meningkatkan produk-produk tambang Indonesia, termasuk nikel. Sehingga akan menambah value produk nikel tersebut.

Namun, menurut Ekonom Senior Faisal Basri,  Indonesia sebaiknya jangan terlalu mengumbar investasi kepada pihak asing, terutama investor dari China untuk pembangunan smelter nikel. Pasalnya, sudah banyak pabrik pemurnian nikel di Indonesia yang merupakan investasi China ternyata memberikan keuntungan terlalu besar kepada China, ungkap Faisal.

Faisal mencontohkan, jika pengusaha China punya smelter di China membeli beli bijih nikelnya US$ 80 per ton. Sebaliknya, jika pengusaha China memiliki smelter di Indonesia beli bijih nikelnya US$ 20 per ton. Maka, terjadi selisih harga pembelian bijih nikel cukup jauh.

Karena itu, Faisal menekankan, “jangan diobral begitu.”

Faisal menduga investor dari China di bidang smelter yang ada di Indonesia  tidak sepenuhnya mendukung industrialisasi di Indonesia. Karena investor China masih melakukan ekspor produk turunan nikel setengah jadi.

Berdasarkan hitung-hitungan Faisal, Indonesia mengalami kerugian sekitar Rp 200 triliun dalam 5 tahun terakhir akibat ulah investor China tersebut.

Ia menjabarkan, bijih nikel diolah di smelter menjadi antara lain nickel pig iron yang tingkat pengolahannya 10-15%. Kemudian feronikel kira-kira 25% pengolahannya. Selevel itu saja hampir 100% diekspor ke China.

“Jadi tidak benar bahwa smelter China itu mendukung industrialisasi di Indonesia, yang betul smelter China mendukung industrialisasi di China. Masa kita diam saja, harusnya itu sudah dipansuskan di DPR,” papar Faisal seperti dikutip detik.com.

Persoalan lain, masih menurut Faisal, beberapa smelter nikel milik investor China di Indonesia ternyata mendatangkan TKA China yang begitu banyak.

“Bahkan untuk posisi terendah sekalipun, yang bisa dikerjakan warga di area smelter,” kata Faisal yang mengklaim, yang diungkapkannya ini berdasarkan data yang dimilikinya. (Fia/Rief)

Open chat