Harga Nikel Nyaris Tembus US$ 18.600/Ton

NIKEL.CO.IDHarga nikel di London Metal Exchange (LME) terus menguat. Bahkan sekarang sudah semakin mendekati US$ 18.600/ton. Dalam sepekan terakhir harga nikel sudah naik lebih dari 4%. 

Pada perdagangan kemarin, Kamis (11/2/2021) harga nikel sudah menyentuh level US$ 18.599/ton. Ini merupakan harga tertinggi dalam satu tahun terakhir. Meski sempat anjlok akibat Covid-19, harga nikel mulai rebound sejak Mei tahun lalu dan terus uptrend sampai saat ini.

Harga nikel terus naik karena ada tren mobil listrik yang terus berkembang. Di saat penjualan mobil lesu di tahun 2020, penjualan mobil listrik justru mengalami kenaikan pesat. Total volume penjualan mobil listrik global tahun lalu tercatat mencapai 3,24 juta unit atau naik 43,3% dibanding tahun 2019 yang hanya 2,26 juta unit.

Ke depan volume penjualan diperkirakan bakal terus tumbuh. Pangsa pasar mobil listrik terhadap mobil dengan bahan bakar konvensional akan meningkat. Tren penggunaan baterai mobil listrik dari nikel juga semakin semarak.

Hal inilah yang membuat harga nikel terus melesat. Bahkan Goldman Sachs dan DBS memperkirakan harga nikel bisa tembus ke atas US$ 20.000/ton di tahun ini. Ada dua jenis nikel yang dikenal di pasaran.

Ada yang untuk pembuatan stainless steel (kelas II) dan ada yang untuk pembuatan baterai mobil listrik (kelas I). Proyeksi DBS, permintaan nikel kelas I akan tumbuh 5,9% setiap tahunnya sampai 2025. Untuk periode yang sama pasokan nikel kelas I hanya tumbuh 3,3%.

Lebih lanjut DBS memprediksi volume penjualan mobil listrik akan naik 24% per tahun secara compounding (CAGR) ke 22,3 juta unit pada tahun 2030. Kenaikan penjualan mobil listrik tentu akan mengerek permintaan nikel kelas I seiring dengan minat yang tinggi untuk penggunaan baterai yang menggunakan nikel.

Permintaan nikel untuk baterai mobil listrik akan tumbuh sebesar 32% (CAGR ) pada 2019-2030 sehingga meningkatkan konsumsi nikel untuk baterai yang dapat diisi ulang hingga 24% per tahun menjadi 1,27 juta ton pada tahun 2030.

Harga nikel di pasaran yang semakin melonjak juga diakibatkan oleh kebijakan moratorium ekspor nikel oleh Indonesia. Sebagai produsen nikel terbesar di dunia dengan produksi mencapai 27% dari total output global, Indonesia resmi menutup keran ekspor nikel sejak awal tahun 2020.

Kendati memiliki banyak kegunaan terutama untuk industri masa depan (mobil listrik), selama ini Indonesia masih mengekspor nikel dalam bentuk mentah (bijih) yang harganya murah.

Rencana awal pemerintah akan menghentikan ekspor bijih nikel di tahun 2022. Namun pada akhir Agustus 2019, pemerintah resmi melakukan moratorium ekspor bijih nikel yang efektif per 1 Januari 2020, atau dua tahun lebih cepat dari target.

Saat awal pemerintah mengumumkan penghentian ekspor pada Juli 2019 harga nikel di London Metal Exchange (LME) mulai bergeliat. Kemudian saat rumor penghentian ekspor akan dimajukan jadi tahun 2020 pada pertengahan Agustus menyeruak, harga nikel semakin liar.

Hanya dalam kurun waktu dua bulan saja harga nikel di LME naik dari US$ 12.000/ton menjadi US$ 18.000/ton, atau naik 50%. Namun akibat pandemi Covid-19 harga nikel langsung longsor ke bawah US$ 12.000/ton pada April tahun 2020.

Hal ini membuat Eropa tak terima karena dinilai tidak menjunjung tinggi asas fairness dalam perdagangan. Eropa pun membawa permasalahan ini ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Sumber: CNBC Indonesia diolah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *