Begini Dominasi Indonesia Pada Nikel dan Bauksit Dunia

NIKEL.CO.ID – Nikel dan bauksit menjadi salah satu komoditas mineral andalan Indonesia. Nilai dari kedua komoditas itu bakal semakin strategis seiring dengan prospek baterai dan mobil listrik di masa depan.

Indonesia pun menempati posisi penting dalam penguasaan nikel dan bauksit dunia, baik dari sisi produksi maupun potensi cadangan yang dimiliki. Kajian Badan Geologi Kementerian ESDM dan laporan United States Geological Survey (USGS) mengkonfirmasi potensi besar nikel dan bauksit Indonesia.

Kepala Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi (PSDMP) Kementerian ESDM Iman Sinulingga mengungkapkan, dari seluruh negara yang diidentifikasi memiliki potensi nikel, berdasarkan data USGS 2020 Indonesia mendominasi hampir 24% cadangan nikel dunia.

Angka itu membuat Indonesia menduduki peringat pertama secara global. “Ini memang relevan dengan kondisi negara kita yang memiliki jalur zonasi ofiolit yang tersebar di beberapa lokasi di Sulawesi, Maluku Utara, Papua Barat dan Papua,” jelas Iman kepada Kontan.co.id, Minggu (14/2/2021).

Berdasarkan data dari PSDMP-Badan Geologi Kementerian ESDM, hingga Desember 2020, secara umum total sumber daya bijih sebanyak 14 miliar ton yang didominasi dengan klasifikasi sumber daya tereka. Sedangkan cadangan bijih tercatat sebanyak 4,4 miliar ton yang didominasi  klasifikasi cadangan terkira.

“Untuk sumber daya logam total adalah 204 juta ton, baru sebagian kecil dengan status terukur. Sedangkan total cadangan logam sekitar 69 juta ton didominasi dengan klasifikasi cadangan terkira,” terang Iman.

Dari sisi sebaran, jalur ultrabasa/ofiolit nikel laterit yang sudah dieksplorasi dan memberikan kontribusi sumberdaya-cadangan nasional berada di lengan timur pulau Sulawesi, lengan timur Halmahera, Pulau Obi, Gag, Gebe, Waigeo, Papua Barat dan Papua.

Iman menyampaikan, lima besar provinsi dengan sumber daya besar adalah Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Papua Barat dan Papua.

Adapun dari sisi produksi pertambangan nikel, Indonesia juga menduduki peringkat pertama di dunia, di atas Filipina dan Rusia. Sebagai gambaran pada 2019, produksi nikel dunia tercatat 2.668.000 ton Ni.

Dari jumlah tersebut, sekitar 800.000 ton Ni tercatat diproduksi Indonesia. Di bawahnya ada Filipina dengan produksi pertambangan nikel sekitar 420.000 ton Ni dan Rusia 270.000 ton Ni.

Bergeser ke komoditas bauksit, berdasarkan data USGS tahun 2020, dari seluruh negara yang memiliki potensi, Indonesia memiliki 4% cadangan bauksit. Dengan jumlah tersebut, Indonesia menduduki peringkat keenam di dunia.

Berdasarkan data dari PSDMP-Badan Geologi Kementerian ESDM, per Desember 2020, secara umum total sumber daya bijih sebesar 5,5 miliar ton yang didominasi dengan klasifikasi sumber daya tertunjuk. Sedangkan cadangan bijih tercatat 2,96 miliar ton yang didominasi klasifikasi cadangan terkira.

Sumber daya logam ditaksir sebanyak 2,1 miliar ton, sedangkan total cadangan logam sekitar 1,1 miliar ton yang didominasi dengan klasifikasi cadangan terkira.

Dari sisi sebaran yang sudah dilakukan eksplorasi dan memberikan kontribusi sumber daya-cadangan nasional berada di Kepualauan Riau, Kalimantan Barat,  Kalimantan Tengah, dan ada juga potensi di Bangka Belitung.

Dari sisi produksi, Indonesia menempati posisi kelima secara global pada tahun 2019 dengan produksi 16 juta ton bijih bauksit. Lalu dari produk turunannya, produksi alumina Indonesia berada di posisi 11 dunia dengan 1 juta ton alumina. Selanjutnya produksi aluminium Indonesia sebanyak 253.000 ton atau posisi 27 secara global.

Tiga Komoditas Strategis

Sebelumnya Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kementerian Koordinator Maritim dan Investasi, Septian Hario Seto mengungkapkan tiga komoditas mineral yang ke depan akan berperan strategis. Hal itu didorong oleh pengembangan mobil listrik dan juga energi terbarukan (ET).

Ketiga komoditas itu adalah nikel, tembaga, serta bauksit-aluminium. Nikel, akan berperan besar dalam rantai pasok bahan baku baterai lithium. Sedangkan tembaga dan bauksit akan berperan strategis dalam industri mobil listrik serta komponen pembangkit ET seperti solar panel dan wind power.

“Jadi tembaga, nikel, bauksit, aluminium akan berperan sangat signifikan ke depannya dalam pengembangan renewable energy. Beberapa bulan terakhir pun harganya naik signifikan,” ungkap Septian dalam acara virtual yang digelar, Jumat (5/2/2021).

Oleh sebab itu, pemerintah bakal mendorong investor untuk melakukan hilirisasi dan industrialisasi pada ketiga komoditas tersebut. Tak hanya sampai ke smelter yang menghasilkan produk intermediate saja, namun juga ke produk-produk turunannya.

“Jadi kita nggak mau hanya sekadar bikin (smelter) saja. Mereka (investor) harus bangun hilirisasinya,” pungkas Septian.

Sumber: KONTAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *