Beranda Berita Nasional Baterai LFP pun Butuh Nikel dan Material Turunannya

Baterai LFP pun Butuh Nikel dan Material Turunannya

348
0
Lithium Marketing Director ABC Battery, Hermawan Wijaya. Foto: Chiva/ Nikel.co.id

NIKEL.CO.ID, 15 Februari 2023-Setelah membangun pabrik baterai pertama di Medan, Sumatera Utara, pada 1959, PT International Chemical Industry (Intercallin) membangun pabrik kedua di Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat, pada 1968, sebelum akhirnya membangun pabrik ketiga di Surabaya pada 1982. Beberapa produk yang dihasilkan di antaranya baterai ABC, Alkalin, dan sejak 2019 merambah ke sel baterai lithium untuk kendaraan listrik.

Menurut Lithium Marketing Director ABC Battery, Hermawan Wijaya, seri baterai ABC dan Alkalin yang banyak diterima pasar di Indonesia adalah seri A2 dan A3. Hingga kini Intercallin telah memproduksi miliaran picis baterai ABC dan Alkalin seri A2 dan A3.

Sementara sel baterai lithium yang baru diproduksi tahun 2022 jumlahnya masih di bawah 1 juta picis. Intercallin masih menjajaki pasar rechargeable battery untuk kendaraan listrik (electric vehicle/EV), yang kebanyakan dilakukan secara on the spot. Harga lebih mahal dibandingkan baterai biasa, menjadi salah satu tantangan tersendiri bagi perusahaan dalam memasarkan produk sel baterai lithium di Indonesia.

Di industri baterai electric vehicle (EV), Intercallin bisa dibilang pioneer di Indonesia. Hermawan bisa menjelaskan klaimnya itu. Persis ketika perusahaan memproduksi baterai ABC tahun 1959, sebagai pioneer juga di Indonesia.

“Karena tidak ada yang melakukan investasi memproduksi baterai lithium di Indonesia. Ketika kita daftar ke BPKM, ternyata investasi yang direalisasikan untuk membangun pabrik baterai sel lithium adalah PT International Chemical Industry,” kata Hermawan kepada nikel.co.id.

Untuk mendapatkan material sel baterai lithium pun Intercallin mengalami kendala pemenuhan dari dalam negeri. Bahan tambangnya sebagian besar memang ada di Indonesia, namun belum diproduksi menjadi olahan untuk material sel baterai lithium.

“Mau tidak mau material sel baterai lithium diimpor dari produsen negara lain,” bilang Hermawan.

Ia mengutarakan, kebutuhan material sel baterai lithium mayoritas berkaitan dengan material dari metal, yaitu ada aluminium, copper, dan grafit. Sel baterai lithium yang diproduksi adalah lithium ferro phospate (LFP) untuk bahan baku prekursor. Sementara material anoda di antaranya grafit. Untuk chassing, berdasar material nikel plate steel (NPS).

“Walaupun baterai LFP, tetap butuh komponen nikel. Semua komponen itu dibeli dari produsen di negara lain, kemudian kita mixing di pabrik Intercallin,” terangnya.

Hermawan mengatakan, mayoritas bahan baku tambang sel baterai lithium ada di Indonesia. Yang tidak ada di Indonesia, mungkin, hanya lithium. Di Indonesia ada aluminium, copper, dan grafit. Kemudian ferro atau bijih besi untuk bahan baku prekursor ada  di Indonesia. Termasuk untuk bahan baku tabung NPS, bahan tambang nikelnya banyak di Indonesia.

“Yang jadi masalah, dari semua bahan tambang ini, baik itu nikel, bauksit, copper, iron ore, maupun feronikel, kita hanya punya ore semua. Belum diproduksi menjadi komponen yang dibutuhkan untuk sel baterai lihthium. Karena itu, semua ore ini harus ada produksi lanjutan, entah dalam proses industri kimia atau industri mekanika,” tuturnya.

Untuk aluminium, misalnya, sel baterai membutuhkan material aluminium foil, yang sudah berbentuk lembaran seperti kertas, industri pengolahannya belum ada di Indonesia. Begitu pula copper, sel baterai membutuhkan material dalam bentuk copper foil. Bukan dalam bentuk ingot, karena dijadikan plate juga tidak bisa.

Kapasitas pabrik Intercallin mampu memproduksi 1 juta picis sel baterai lithium per tahun.  Namun dibandingkan produsen di China, menurut Hermawan,  angka ini tidak ada apa-apanya. Karena mereka sudah memproduksi sel baterai sampai ratusan juta atau mungkin miliran picis sel baterai.

Untuk 1 juta picis sel baterai baru sekitaran 100 Megawat Hour (MWh) atau 0,1 Gigawatt Hour (GWh). Sementara daya satu sel baterai lithium ABC sebesar 3,2 volt.

“Mengapa baru memproduksi 1 juta picis? Karena pasar di Indonesia yang menyerap sel baterai lithium baru berkisar 500 sampai 1 jutaan,” ungkapnya.

Ia mengutarakan, kebutuhan daya kendaraan roda dua EV rata-rata 1,5 KWh. Ada juga 2,5 KWh.

Untuk kendaraan roda empat tipe kecil dayanya kisaran 20 sampai 30 KWh. Dayanya 20 kali lipat dari daya kendaraan roda dua EV. Untuk mobil tipe medium dayanya kisaran 50 sampai 60 KWh. Untuk bus bisa mencapai 150 KWh. Bus seperti TransJakarta dayanya sekitar 500 sampai 600 KWh.

Kebutuhan sel baterai lithium disesuaikan dengan daya kendaraan EV, baik roda dua, mobil kecil atau medium, maupun bus. Dari satu sel baterai lithium berdaya 3,2 volt kemudian diparalelkan jumlahnya ke dalam baterai pack sesuai kebutuhan daya masing-masing jenis kendaraan.

Intercallin sendiri terus melakukan inovasi untuk mengembangkan core business-nya. Prinsipnya, kata Hermawan, Intercallin ingin memperbesar bisnis sel baterai lithium di Indonesia.

“Sekarang kita sudah punya satu model, tahun ini rencana menambah satu line produksi lagi untuk model kedua, yaitu model segi empat. Satu sel baterai model kedua ini voltasenya sama, yaitu  3,2 volt,” jelasnya. (Syalom/Syarif)

Artikulli paraprakDirut Pertamina: Transisi Energi Jadi Peran Strategis Wujudkan Net Zero Emission
Artikulli tjetërMenteri Bahlil Lahadalia Mendadak Jadi Dosen