Selasa, Mei 24
Shadow

Awali Pekan, Harga Nikel Naik Jadi US$ 23.450/T

Ilustrasi (Foto: Ist)
NIKEL.CO.ID – Nikel kembali menembus harga tinggi pada siang hari ini, melalui Bursa Perdagangan Dunia, London Metal Excange (LME), harga nikel dunia pada Senin (7/2/2022) pukul 11:24 menembus dengan harga US$ 23.450/ton. Harga tersebut lebih tinggi dibandingkan penutupan kemarin, Minggu (6/2/2022), yakni US$ 21.550.

Ketersediaan barang yang kurang di tengah tingginya peminat nikel diperkirakan menjadi penyebab utama harga nikel meninggi. Harga ini bisa saja naik lebih tinggi lagi atau menurun secara tiba-tiba tergantung stok barang yang tersedia.

Mengutip CNBC bahwa impor nikel olahan China naik dua kali lipat menjadi 261.000 ton dengan percepatan yang nyata selama paruh kedua tahun lalu. Ketatnya rantai pasokan nikel untuk bahan baku baterai mendorong lonjakan impor yang disebut logam kelas I.

Menguatnya permintaan dari sektor kendaraan listrik juga terlihat dari impor nikel sulfat yang tumbuh pesat, bahan kimia prekursor untuk pembuatan baterai. Volume menjamur dari 5.600 ton pada 2020 menjadi 44.700 pada 2021.

Negeri Tirai Bambu yang pertumbuhan ekonominya melesat pesat itu mengimpor lebih banyak bijih, matte, produk antara, dan lebih banyak feronikel tahun lalu. Hal tersebut membuktikan hasratnya yang besar terhadap nikel di setiap tahapan rantai proses.

Seperti diketahui, Indonesia memang sudah memproduksi dan mengekspor sebagian besar logam nikel, seperti feronikel, nickel pig iron (NPI), dan nickel matte. Pada 2021 negara ini mulai memproduksi sekaligus mengekspor bahan baku komponen baterai, yakni mixed hydroxide precipitate (MHP).

Berdasarkan data Kementerian ESDM, pada 2021, Indonesia tercatat memproduksi feronikel sebesar 1,58 juta ton, NPI 799,6 ribu ton, nickel matte 82,3 ribu ton, dan MHP sebesar 365 ribu ton pertahun. Meski demikian, tetap saja antara kebutuhan dan ketersediaan nikel saat ini masih timpang, sehingga harga nikel bisa melesat tiba-tiba.

Di sisi lain, percepatan penjualan kendaraan listrik, sebagaimana dikutip dari website media ferroaloy, telah memicu perebutan nikel, kobalt, dan litium, sehingga mendorong harga bahan baterai itu ke level tertinggi beberapa tahun belakangan ini. Apalagi, penghapusan mobil dengan mesin pembakaran internal (ICE) beralih ke electric vehicle (EV) secara bertahap mulai berlangsung. Program tersebut merupakan bagian dari transisi energi dan upaya untuk mengurangi emisi karbon.

Tren EV memang terus mengalami peningkatan penjualan. Menurut data Rho Motion, tahun lalu saja lebih dari 6,36 juta EV dibeli secara global. Coba bandingkan dengan tahun 2020 yang hanya laku 3,10 juta unit. China menyumbang setengah dari total tahun lalu dan 40% tahun sebelumnya.

Kebutuhan nikel yang terus meninggi ini, mau tak mau menyebabkan penarikan stok di gudang LME. Sejak April tahun lalu gudang LME telah berkurang stoknya hingga 65% atau sebesar 88.182 t.

Stok briket kantong juga penting mendapat perhatian, yakni tinggal 65.676 t, turun 67% sejak April lalu. Briket ini mudah dihancurkan menjadi partikel kecil dan dilarutkan dalam asam sulfat untuk membuat nikel sulfat untuk baterai.

Menurut analis, sebagian besar briket tersebut dikirim ke China, yang mengontrol rantai pasokan kendaraan listrik. Analis Wood Mackenzie, Andrew Mitchell, memperkirakan, total permintaan nikel 2,8 juta ton tahun lalu. Sebanyak 69% di antaranya digunakan untuk membuat baja nirkarat (stainless steel) dan 11% untuk membuat baterai, dari masing-masing 71% dan 7% pada 2020.

Mitchell mengharapkan pangsa baterai dari permintaan nikel meningkat menjadi 13% tahun ini. “Kami melihat harga rata-rata yang lebih tinggi tahun ini,” katanya.

Nikel mencapai $24 435/t minggu lalu, tertinggi sejak Agustus 2011. Diperkirakan akan turun akhir tahun ini karena pasokan meningkat.

Hal senada juga diungkapkan Jim Lennon dari Macquarie yang memperkirakan pasokan nikel akan naik 14,5% tahun ini menjadi 3 juta ton dan surplus 43.000 t dari defisit 159.000 t pada 2021. (Fia/R)