APNI Ajak Perbankan Membuat Kajian Pembiayaan Pertambangan Hulu hingga Hilir

266

NIKEL.CO.ID, 19 Oktober 2022 – Sekretaris Umum Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), Meidy Katrin Lengkey mengungkapkan pentingnya membangun kerja sama antara perbankan Indonesia dengan perusahaan-perusahaan pertambangan mineral, terutama nikel untuk mensuport kemajuan sektor hilirisasi industri nikel dari finansial. Sehingga perusahaan pertambangan nikel dalam negeri baik hulu dan hilir bisa bersaing dengan perusahaan asing.

Hal itu disampaikan oleh Meidy Katrin Lengkey dalam diskusi webinar yang diadakan oleh PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Persero pada Selasa (18/10/2022) kemarin.

“Semoga pada diskusi ini bisa membawa hasil, sehingga dari perusahaan perbankan, terutama perbankan BUMN bisa mengkover industri nikel saat ini, baik hulu dan hilir. Sehingga kita bisa ikut bersaing mengelola komoditas tentang nikel khususnya,” kata Meidy Katrin Lengkey dalam acara tersebut.

Menurut Meidy, selama ini PT BRI Persero bekerja untuk mencari dan mendapat nasabah secara umum, namun belum memperhatikan dukungannya pada perusahaan-perusahaan pertambangan, terutama nikel.

Padahal perusahaan-perusahaan pertambangan saat ini memiliki daya tarik yang besar semenjak kebijakan hilirisasi diberlakukan pemerintah. Banyak investasi asing masuk untuk berproduksi dari berbagai perusahaan besar. Namun dari dunia perbankan dalam negeri sendiri masih minim perhatian dan dukungannya terhadap perusahaan-perusahaan pertambangan dalam negeri dari segi finansial untuk memperkuat perusahaan pertambangan nasional.

Akibatnya, dunia pertambangan dalam negeri lebih dikuasai oleh perusahaan asing yang menginvestasikan dananya secara besar-besaran.

Dari data terkait industri hilirisasi nikel dari komoditas turunan lainnya ada sebanyak 43 pabrik olahan yang sudah berproduksi.

“Apalagi saat ini sedang didatangi oleh negara Eropa maupun Amerika untuk pengelolahan MHP menuju baterai, dan kita juga sudah ada pabrik pengelolahan untuk supply chain ke industri hililirisasi nikel yang mengelola bersama dengan Hyundai,” ujarnya.

Meidy melanjutkan bahwa ini merupakan demand yang luar biasa walaupun dunia secara global sedang resesi. Namun apa yang bisa diolah oleh Indonesia dari sumber daya alam secara maksimal dan mendapatkan penerimaan, baik untuk negara, masyarakat maupun perusahaan dan berkesinambungan, dan pihak perbankan dapat melihat hal ini secara langsung.

Menurutnya, para pengusaha pertambangan selama ini mencari investor untuk mengelola di sektor hulu terlebih dahulu bukan di hilir. Terkadang investor itu bukan berasal dari perbankan yang masuk ke dunia pertambangan yang akhirnya menguasai perusahaan pertambangan.

“Yang ibarat kita sudah bersusah payah dari nol mereka masuk dan mereka mencoba menguasai kondisi pertambangan karena melihat akan adanya kebutuhan,” lanjutnya.
Kajian Pembiayaan untuk Pertambangan

Meidy menegaskan bahwa Bank Indonesia (BI) atau dunia perbankan selama ini tidak melihat secara khusus permasalahan yang dihadapi oleh para pengusaha pertambangan tersebut. Padahal sudah banyak masukan terkait hal itu. Bagaimana perbankan dapat memberikan proses pembiayaan dalam dukungannya terhadap industri mineral di Indonesia. Sehingga dunia pertambangan dalam negeri tidak lagi dikuasai oleh investor asing.

“Dan kita punya sendiri, mungkin dalam konsep memang belum ada. Tetapi, kenapa tidak didiskusikan konsep itu sehingga betul-betul terjalin kerja sama berkesinambungan yang judulnya, dari kita untuk kita dan jangan dari kita untuk mereka,” sarannya.

Kemudian, Meidy menerangkan bahwa di Indonesia saat ini sudah ada 43 pabrik pengelolaan nikel yang telah berproduksi, dan sebanyak 59 pabrik sedang melakukan kontruksi, dan lainnya sedang tahap perencanaan. Sehingga total pabrik pengelolaan nikel yang sudah berdiri ada sebanyak 136 pabrik.

Meidy sangat menyayangkan jika Pemerintah Indonesia hanya mengundang investor untuk produk olahan nikel kelas dua. Meskipun cadangan nikel Indonesia adalah yang terbesar di dunia, namun jika dipakai terus menerus lambat laun akan habis.

“Dalam bahasa kami, nikel itu tidak beranak yang artinya akan habis, dan kalau kebutuhan bijih nikel 400 juta ton per tahun, paling tidak sampai 10 tahun pabrik sudah tutup. Saat ini untuk kita mengundang invetasi yang mengelola produk hilir atau produk barang jadi, misalnya stainless steel dan baterai untuk kendaraan listrik,” terangnya.

Dirinya mengutarakan kebanggaan bahwa Indonesia telah mampu membuat baterai dari produk turunan nikel yang digunakan dalam teknologi electric vehicle (EV). Sehingga Indonesia tidak perlu lagi mendatangkan perusahaan asing, karena perusahaan dalam negeri sudah mampu mengelolanya. Namun hal itu harus diperkuat oleh sektor perbankan untuk mendukung perputaran industri baik hulu maupun hilir.

“Semoga didengar oleh perusahaan perbankan dan betul-betul kita ada kerja sama kesinambungan olahan mineral ini untuk kita dan buat kita,” imbuhnya.

Meidy berharap bahwa hal tersebut bisa menjadi sebuah kajian, sehingga benar-benar bisa terjalin kerja sama perbankan Indonesia dengan para pengusaha pertambangan nikel Indonesia.

“Apakah itu dikelola seperti dana reksa atau apapun itu, tapi mudah-mudahan suara-suara yang kami sudah keluarkan, kita mengundang Bank Indonesia dan juga dengan Bank Mandiri Tbk, serta juga dengan IDX, juga Sinarmas supaya bisa menjadi kajian bersama,” harapnya.

“Dan dilirik dikitlah untuk pertambangan, jangan hanya dibiayai oleh perusahaan sendiri, tapi ke bidangnya langsung terkait hulu atau sampai ke hilirnya,” sambungnya.

Sementara itu, BRI Danareksa Devan mengatakan bahwa kajian tersebut adalah sebuah pengantar dari pihaknya yang telah melakukan kerja sama program di beberapa sektor khususnya pada sektor nikel.

Sehingga pihaknya mengundang APNI untuk mendapatkan informasi dan masukan yang nantinya akan diserahkan kepada pihak BRI. Dari hasil kajian ini dari beberapa sektor apakah layak untuk ditindaklanjuti dan menjadi output case study.

“Dan memang dari kajian ini kita lebih mengupas industri nikel dalam bentuk kajian, dan kami serahkan kepada BI dan pihak BI bisa menilai, apakah industri nikel ini memang secara outlook dan finansial bisa atau bahkan menarik di kredit,” kata Devan dalam diskusi tersebut.

Meidy kembali menyatakan bahwa komoditi nikel sekarang sedang seksi-seksinya meskipun tidak seseksi batubara. Dua bulan terakhir nilai harga nikel mengalami penurunan. Ini disebabkan di antaranya adanya resesi ekonomi global, permintaan dari luar negeri, terutama dari China yang saat ini dalam masa pembatasan.

Tentunya, kata Meidy, hal itu belum bisa berjalan maksimal dan mengakibatkan dampak permintaan olahan-olahan produksi nikel seperti perusahaan konstruksi, properti menurun. Sedangkan perusahaan tersebut membutuhkannya olahan nikel, seperti stainless dari produk pirometalurgi maupun hidrometalurgi.

“Adalah satu teknologi yang mengelola bijih nikel menjadi bahan baterai seperi NMC (Nikel, Mangan, Cobalt), dan teknologi itu dipakai seperti EV kalau dilihat seperi Tesla masih menggunakan baterai LFP, dan lebih maksimal menggunakan NMC,” katanya.

Dia melanjutkan bahwa olahan nikel ini harus diinovasi karena lebih murah, lebih long life, dan lebih cepat di-charge. Berdasarkan kebutuhan dunia, Indonesia sedang menuju ke arah green energy yang mau tidak mau harus beralih ke olahan green energy.

“Salah satunya menganti kendaraan konvensional kita yang menggunakan bahan bakar fosil menuju ke baterai,” lanjut Meidy. (Fia/Shiddiq)