

NIKEL.CO.ID, JAKARTA – PT Qing Kota Metal, salah satu tenant di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), terus memperkuat komitmennya terhadap praktik industri berkelanjutan. Perusahaan ini mengoperasikan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berkapasitas 380 MW dengan mengadopsi teknologi supercritical boiler untuk meningkatkan efisiensi energi sekaligus menekan emisi.
Teknologi tersebut merupakan pengembangan dari sistem PLTU konvensional. Manajer Departemen Environmental PT IMIP, Yundi Sobur, menjelaskan, sistem supercritical boiler bekerja pada tekanan dan temperatur uap yang melampaui titik kritis air.
“Teknologi ini mampu menghasilkan energi listrik secara lebih efisien karena memanfaatkan panas pembakaran secara optimal tanpa melalui proses pendidihan dan pemisahan antara air dan uap yang berpotensi menimbulkan kehilangan energi,” ujar Yundi, dalam keterangannya, Jumat (3/7/2026).
Menurut dia, penerapan teknologi tersebut mampu meningkatkan efisiensi termal hingga 38%–45%. Sebagai perbandingan, PLTU subkritis konvensional umumnya hanya memiliki efisiensi sekitar 33%–39%. Peningkatan efisiensi ini berdampak pada penghematan konsumsi batu bara sehingga operasional pembangkit menjadi lebih ekonomis sekaligus lebih ramah lingkungan.

Peningkatan efisiensi, sambungnya, juga berkontribusi terhadap penurunan emisi karbon dioksida (CO₂), sulfur dioksida (SO₂), nitrogen oksida (NOx), dan partikulat. Untuk memastikan kepatuhan terhadap standar lingkungan, PLTU PT Qing Kota Metal dilengkapi dengan berbagai sistem pengendalian pencemaran udara modern, seperti flue gas desulfurization (FGD), electrostatic precipitator (ESP), dan bag house filter.
“Untuk memastikan seluruh aktivitas pembangkitan memenuhi standar lingkungan yang berlaku, PLTU PT Qing Kota Metal dilengkapi dengan berbagai sistem pengendalian pencemaran udara modern,” tegasnya.
Hasil pemantauan emisi menunjukkan efektivitas penerapan teknologi tersebut. Pada semester II 2025 hingga semester I 2026, seluruh parameter emisi, mulai dari SO₂, NOx, hingga merkuri, tercatat jauh di bawah ambang batas yang ditetapkan dalam Permen LHK No. 15/2019 tentang Baku Mutu Emisi Listrik Tenaga Termal.
Selain menekan emisi udara, teknologi supercritical boiler juga mampu mengurangi timbulan limbah fly ash and bottom ash (FABA). Menurut dia, proses pembakaran yang lebih sempurna menghasilkan residu yang lebih sedikit dengan kualitas yang lebih baik karena kandungan karbon yang tidak terbakar (unburned carbon) dapat diminimalkan. Ia berharap penerapan teknologi tersebut dapat menjadi rujukan bagi perusahaan lain di kawasan IMIP maupun industri nasional dalam mendorong penggunaan teknologi pembangkit yang lebih bersih dan efisien.
“Dengan kombinasi efisiensi energi, teknologi pengendalian emisi modern, serta pengurangan limbah hasil pembakaran, PLTU PT Qing Kota Metal diharapkan menjadi contoh penerapan teknologi pembangkit listrik yang lebih bersih, efisien, dan berkelanjutan bagi perkembangan industri di Indonesia,” pungkasnya. (Shiddiq)








































