NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Angin segar dan menggembirakan berhembus saat Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) merilis Indeks Harga Nikel Indonesia atau Indonesia Nickel Price Index (INPI), Senin, 26 Januari 2026, kemarin. Dua produk, high-grade nickel matte dan mixed hydroxide precipitate (MHP), naik tajam. Produk lainnya tampak tren penguatan.
Kenaikan harga tersebut mencerminkan semakin kuatnya sentimen pasar terhadap suplai nikel Indonesia yang terus dibutuhkan untuk industri baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Dorongan permintaan dari industri hilir menjadi faktor utama penguatan harga yang terjadi pada periode ini.

Berdasarkan data INPI, 26 Januari 2026, itu harga bijih nikel kadar rendah (1,2%) tercatat stabil di US$21,5/mt. Harga ini sama persis dengan posisi pekan lalu, 19 Januari 2026, yang juga berada di US$21,5/mt, sehingga tidak terjadi perubahan pada komoditas ini.
Bijih nikel kadar 1,6% naik menjadi US$55/mt, sedangkan pekan lalu US$51,9/mt, yang berarti terjadi penguatan US$3,1/mt. Kenaikan ini diperkirakan berkaitan dengan meningkatnya serapan bijih oleh smelter di Sulawesi dan Maluku.

Untuk produk olahan, nickel pig iron (NPI) bertengger di US$132,84/mt. Artinya, naik US$3,24/mt dari harga pekan lalu US$129,6/mt. Kenaikan ini sejalan dengan pulihnya aktivitas produksi stainless steel di Tiongkok.
Penguatan terbesar justru terjadi pada produk hilir bernilai tambah tinggi. High-grade nickel matte tercatat di US$16.368/mt, melonjak dari harga US$16.216/mt pada 19 Januari 2026, sehingga mengalami kenaikan tajam US$152/mt. Kenaikan ini sekaligus menghapus koreksi minus US$10/mt yang terjadi pada pekan sebelumnya.
Produk MHP juga mengalami rebound serupa. Harga MHP pada 26 Januari berada di US$16.027/mt, naik dari US$15.878/mt pada 19 Januari 2026, atau menguat US$149/mt setelah sebelumnya turun US$9/mt.

APNI mencatat bahwa penguatan harga pada periode 26 Januari 2026 ini didorong oleh meningkatnya permintaan global untuk material baterai kendaraan listrik dan optimalisasi produksi smelter dalam negeri yang menyerap lebih banyak bijih nikel. Selain itu, stabilnya pasokan bijih dari sejumlah perusahaan tambang serta penguatan harga komoditas global turut mendukung pemulihan pasar nikel Indonesia.
Dengan perkembangan tersebut, pasar nikel nasional diperkirakan memasuki fase bullish moderat, terutama untuk produk hilir, seperti nickel matte dan MHP. yang menjadi komponen penting dalam rantai pasok baterai EV. Kedua produk ini diperkirakan akan terus menjadi fokus industri nikel dalam beberapa bulan ke depan. (Lilil Handayani)
























