NIKEL.CO.ID, JAKARTA — PT Ifishdeco Tbk. mulai menata ulang arah pengembangan usahanya. Di tengah dinamika industri pertambangan nikel yang sarat fluktuasi harga dan regulasi, perseroan ini mengambil langkah antisipatif dengan merambah sektor perkebunan kelapa sebagai sumber pendapatan alternatif.
Langkah tersebut menandai upaya perusahaan yang didirikan pada 9 Juni 1971 itu memperkuat fondasi bisnis jangka panjang melalui diversifikasi usaha di luar sektor pertambangan. Rencana pengembangan perkebunan kelapa ini telah mendapatkan persetujuan pemegang saham dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) yang diselenggarakan pada 26 Juni 2025.
Manajemen Ifishdeco mengungkapkan, ekspansi ke sektor perkebunan dilakukan dengan memaksimalkan aset yang telah dimilikinya. Saat ini, korporasi mengantongi izin usaha pertambangan (IUP) seluas kurang lebih 900 hektare serta lahan berstatus hak guna usaha (HGU) sekitar 1.500 hektare yang dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi area perkebunan produktif.
“Pemanfaatan lahan ini diharapkan dapat mendukung program pemerintah, khususnya dalam penguatan ketahanan pangan nasional melalui sektor perkebunan,” tulis manajemen Ifishdeco dalam paparan publik insidental, dikutip Senin (26/1/2026).
Selain pertimbangan optimalisasi aset, manajemen juga menilai komoditas kelapa memiliki prospek pasar yang relatif stabil dan berkelanjutan. Oleh karena itu, sektor ini diharapkan mampu menjadi bantalan kinerja keuangan perseroan di tengah siklus industri tambang yang cenderung volatil.
Perusahaan yang pada 2022 menerima Piagam Penghargaan dari Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan sebagai Wajib Pajak Setoran Terbesar Sektor Pertambangan dan Penggalian itu memproyeksikan kontribusi pendapatan dari perkebunan kelapa baru akan mulai terasa dalam kurun waktu sekitar empat tahun ke depan, seiring dengan masa tanam dan produktivitas tanaman.
Meski membuka lini usaha baru, Ifishdeco menegaskan tidak mengesampingkan bisnis intinya. Sepanjang 2026, perseroan tetap memprioritaskan optimalisasi pemanfaatan IUP melalui penerapan prinsip good mining practice, sekaligus menjalankan kegiatan penanaman kelapa sesuai perizinan dan nomor induk berusaha (NIB) yang telah diperoleh pada 2025.
Di sisi lain, peluang akuisisi tambang juga terus dijajaki untuk memperkuat portofolio usaha. Hingga saat ini, realisasi penjualan nikel Ifishdeco tercatat sekitar 1,3 juta metrik ton atau setara 59% dari target rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) sebesar 2,2 juta metrik ton untuk periode 2024–2026.
Seiring perubahan kebijakan yang mewajibkan penyusunan RKAB secara tahunan, Ifishdeco juga telah menyesuaikan strategi produksi dan penjualannya. Penyesuaian tersebut mempertimbangkan kondisi cuaca serta pergerakan harga nikel sepanjang 2025 agar kinerja operasional tetap adaptif terhadap dinamika pasar. (Lili Handayani)
























