Beranda Nikel Harga Nikel Bertahan di Kisaran US$16.000-an pada Awal Januari 2026, Pasar Indonesia...

Harga Nikel Bertahan di Kisaran US$16.000-an pada Awal Januari 2026, Pasar Indonesia Tunjukkan Ketahanan

643
0
Mixed hydroxide precipitate (MHP) (Foto: Dok Trinitan)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Memasuki awal Januari 2026 berhembus kabar baik untuk sektor nikel. Harga nikel global relatif stabil di kisaran US$16.205 per ton. Di tengah tekanan oversupply global dan volatilitas pasar internasional, pasar fisik Indonesia justru memperlihatkan ketahanan yang cukup kuat.

Berdasarkan perkembangan terbaru, harga nikel refined Indonesia (FOB) tercatat berada di level sekitar US$16.205 per ton. Meski secara jangka pendek terlihat bergerak fluktuatif, harga ini mencerminkan pemulihan dibandingkan tekanan tajam yang terjadi pada akhir 2025. Bahkan, secara mingguan, harga nikel refined Indonesia masih mencatat kenaikan sekitar 5,9%, menandakan sentimen pasar yang mulai membaik.

Tren harga di Asia turut mengonfirmasi penguatan tersebut. Data Shanghai Metals Market (SMM), Selasa (6/1/2026), mencatat rata-rata harga katode nikel impor di kawasan Asia berada di kisaran Rp2,9 juta hingga Rp3,1 juta per ton atau naik sekitar 3,3%–4,1% dibandingkan pekan sebelumnya. Kenaikan ini menunjukkan aktivitas permintaan yang kembali bergerak, meski belum sepenuhnya pulih.

Di dalam negeri, harga bijih nikel laterit Indonesia dengan kadar 1,2%–1,6% tercatat stabil, disertai biaya pengiriman laut yang relatif tidak berubah. Stabilitas ini memperkuat indikasi bahwa pasar nikel Indonesia memasuki fase konsolidasi setelah volatilitas tinggi sepanjang 2025.

Sementara itu, indeks harga nickel pig iron (NPI) juga mencatat penguatan sekitar 0,8% pada awal Januari 2026, sejalan dengan permintaan dari industri baja tahan karat dan sektor hilir lainnya.

Meski harga kini bertahan di kisaran US$16.000-an, pasar nikel global masih dibayangi tekanan struktural. Sepanjang akhir 2025, harga nikel sempat tertekan hingga sekitar US$14.255 per ton, level terendah dalam lebih dari delapan bulan. Tekanan tersebut dipicu oleh kelebihan pasokan global, meningkatnya stok di gudang LME, serta melemahnya permintaan industri, terutama dari China.

Dalam konteks ini, Indonesia memainkan peran sentral. Peningkatan produksi nikel dalam beberapa tahun terakhir telah menjadikan Indonesia sebagai faktor dominan dalam pembentukan harga global, sekaligus sumber utama tekanan oversupply.

Memasuki 2026, perhatian pasar tertuju pada respons kebijakan pemerintah Indonesia. Wacana pemangkasan kuota produksi nikel dan penyesuaian regulasi perizinan serta ekspor dinilai berpotensi menjadi instrumen penting untuk menjaga keseimbangan pasar dan menahan harga agar tidak kembali tertekan.

Bagi pelaku usaha, kebijakan supply management ini menjadi sinyal penting dalam menentukan strategi produksi dan investasi, khususnya di sektor pengolahan dan pemurnian.

Para analis memperkirakan harga nikel akan bergerak fluktuatif, namun relatif bertahan di kisaran US$16.000-an pada awal 2026. Risiko tekanan masih ada jika surplus global berlanjut, tetapi peluang penguatan tetap terbuka apabila pengendalian pasokan berjalan efektif dan permintaan dari industri baterai kendaraan listrik serta baja nirkarat (stainless steel) terus tumbuh.

Dengan demikian, bertahannya harga nikel di level US$16.000-an pada awal Januari 2026 menjadi sinyal penting bahwa pasar mulai menemukan titik keseimbangan baru di antara tekanan global dan kekuatan fundamental permintaan jangka panjang. (Shiddiq)