
NIKEL.CO.ID, JAKARTA – Baru-baru ini Sekretaris Umum (Sekum) Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), Meidy Katrin Lengkey, memberikan jawaban gamblang mengapa Indonesia Nickel Price Index (INPI) yang digagas oleh APNI mengarah pada China.
Sejak tahun 2021, Indonesia adalah produsen nikel terbesar di dunia. Namun, selama ini Indonesia selalu menggunakan acuan harga dari negara lain, seperti Uni Eropa dan China.
“Indonesia seharusnya memiliki harga sendiri. Indonesia price. Pemerintah telah setuju terhadap ide harga nikel Indonesia yang kita gagas sendiri. Namun, mereka belum menetapkan regulasi terkait gagasan ini,” tutur Meidy.
Seperti diketahui, APNI telah mengusulkan penetapan Harga Mineral Acuan (HMA) yang akhirnya diterbitkan oleh Kementerian ESDM dan digunakan oleh para penambang nikel. APNI juga menggagas INPI bekerja sama dengan Shanghai Metals Market (SMM).
Seperti dijelaskan Meidy dalam podcast Go Chambers dengan COO Go Chambers, Francis Michael, penyebab APNI bekerja sama dengan SMM yang berasal dari China tidak lain dan tidak bukan karena selama ini investor nikel banyak yang berasal dari tirai bambu tersebut.
“Seluruh investasi asing langsung untuk program hilirisasi, Anda tahu, investasi tersebut berasal dari China. Yang kedua, seluruh produk nikel yang berasal dari pengolahan nikel di Indonesia masuk ke China,” paparnya.
Itulah sebabnya APNI berkolaborasi dengan SMM, bukan dari Fastmarket atau Argus Media dari London.
“Untuk membuat indeks harga nikel ini tidaklah mudah. Kami harus mengambil data setiap hari yang berasal dari produsen, yang berasal dari pabrik, yang berasal dari penambang. Data datang dari China,” lanjutnya.
Meidy juga mengungkapkan bahwa data yang sulit didapatkan tersebut diperoleh berdasarkan hubungan baik Indonesia–China.
“Itulah sebabnya APNI memilih bekerja sama dengan SMM karena mereka tidak hanya pandai membuat indeks harga untuk bijih nikel, tapi juga mereka juga mau bekerja sama dengan Indonesia,” pungkasnya. (Aninda)
Perkembangan cerita ini
Topik Shanghai Metals Market →
- INPI 28 September: Harga Nikel Akhir September 2026 Mulai Beragam
- INPI 14 September 2026: Bijih Nikel Stabil, HGNM Menguat Tipis, NPI dan MHP Kembali Turun
- APNI Rilis INPI: Stabil di Nickel Ore, Produk Hilir masih Tertekan
- Di Tengah Tarik-Menarik Sentimen Global, Harga Nikel Bertahan US$17.000
- Harga Nikel Bertahan di Kisaran US$16.000-an pada Awal Januari 2026, Pasar Indonesia Tunjukkan Ketahanan
- Kenapa INPI Harus Mengarah pada China? Ini Kata Sekum APNI sedang Anda baca
Istilah di artikel ini
- HMA
- Harga Mineral Acuan
Agenda industri terdekat
- 2Nov
- 2NovKonferensi & Pameran Minerba Convex 20262–3 November 2026 · CXO Convention Center and Theater, Kuningan, Jakarta
- 4NovKonferensi & Pameran The 5th Nickel Producers, Processors & Buyers Conference4–5 November 2026 · Shangri-La Hotel, Jakarta






























