Beranda April 2024 PT Adhi Kartiko Pratama Catat Laba Perusahaan Anjlok Menjadi Rp61,64 Miliar

PT Adhi Kartiko Pratama Catat Laba Perusahaan Anjlok Menjadi Rp61,64 Miliar

1095
0
Kawasan site PT Adhi Kartiko Pratama Tbk. (Dok. PT Adhi Kartiko Pratama Tbk)
Kawasan site PT Adhi Kartiko Pratama Tbk. (Dok. PT Adhi Kartiko Pratama Tbk)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA- PT Adhi Kartiko Pratama Tbk. (AKP) menyampaikan pertumbuhan angka dalam penjualanan sebesar 3,7% _year on year_ (yoy) di sepanjang tahun lalu.

Sementara itu, dalam pembukuannya pada 2022 menurun dari angka Rp108,86 miliar menjadi Rp61,46 miliar. Hal tersebut terjadi lantaran adanya sejumlah beban yang mengalami kenaikan.

Dikutip melalui laporan keuangan, Selasa (2/4/2024), peningkatan pada sejumlah beban tersebut terjadi pada biaya pencadangan persediaan bijih nikel, biaya reklamasi dan eksplorasi, serta biaya umum dan administrasi. 

Peningkatan biaya pada sejumlah beban juga terjadi dikarenakan adanya pergantian dari manajemen lama ke manajemen baru.

Pada 2023, terjadi kenaikan pada penjualan PT AKP hingga menyentuh angka Rp900,35 miliar dari angka sebelumnya, yaitu Rp867,84 miliar. 

Penjualan tertinggi dilakukan kepada pihak ketiga, yaitu PT Agung Mineral Abadi, senilai Rp768,78 miliar dan PT Kyara Sukses Mandiri senilai Rp102,06 miliar. Selain penjualan nikel, pendapatan AKP diraih dari penyewaan dermaga, ruang, dan rampdoor

Pihak manajemen menyampaikan, AKP akan terus berupaya meningkatkan efisiensi dalam proses produksi melalui pembaruan teknologi tambang.

Anak usaha LX International Corp yang merupakan bagian dari LG Group ini mengantongi Rp27,59 miliar dari hasil sewa dermaga. Jumlah tersebut melonjak lebih dari 2.000 persen yoy di akhir 2023. 

Pendapatan sewa ruang juga melesat 286% yoy menjadi Rp1,65 miliar dan dari hasil sewa rampdoor, perseroan memperoleh Rp264,14 juta hingga pengujung 2023. 

Dari sisi operasional produksi, AKP tercatat kian efisien. Hal ini tercermin dari biaya produksi yang berhasil ditekan dari Rp754,3 miliar menjadi Rp736,13 miliar.

“Dengan masuknya LX International Corp sebagai pemegang saham pengendali, maka pembaruan teknologi tambang bisa direalisasikan secara maksimal. Dengan demikian, biaya produksi berpotensi kian menyusut dan tingkat profitabilitas bisa terdongkrak,” tambahnya. 

Di saat yang sama, perseroan juga tidak lagi menanggung beban penjualan karena bijih nikel tidak lagi dijual melalui perantara (agen). Sebagai perbandiangan, pada 2022, perseroan harus merogoh kocek Rp9,69 miliar untuk membayar pihak agen penjual. (Lili Handayani)