Beranda Nikel Update Harga Nikel: Harga Nikel Diprediksi Tidak Naik 

Update Harga Nikel: Harga Nikel Diprediksi Tidak Naik 

1271
0
Septian Hario Seto
Septian Hario Seto. Dok: MNI/Lili.

NIKEL.CO.ID, JAKARTA–Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Republik Indonesia (Kemenko Marves), Septian Hario Seto, mengatakan, harga nikel tidak akan naik signifikan lagi.

“Kalau dengan harga demand sekarang, saya tidak melihat harga nikelnya bisa naik signifikan lagi, ya. Harganya mungkin akan bergerak di range yang segini-gini aja,” kata Seto.

Menurutnya, harga nikel bergantung pada dinamika supply and demand-nya. Ketika diwawancarai usai acara Economic Outlook pada Kamis (29/2/2024) petang, dia tidak bisa memastikan penurunan harga nikel ini akan berlangsung hingga kapan.

“Tergantung tadi bagaimana ekonomi Tiongkok dan global ekonominya akan ter-cover, ya,” jawabnya. 

Adapun beban produksi yang diduga menjadi salah satu faktor penyebab harga nikel turun, dia menjawab, semua berawal dari demand.

“Kalau dari sisi supply-kan ya segini-gini aja. Kita masih bisa meet supply-nya. Jadi, kalau demand-nya masih segini-gini saja kan balance ya,” tutur Seto.

Kalau demand naik, dimungkinkan akan bisa mengerek harga jadi lebih tinggi lagi. Namun, dia merasa peningkatan supply dari Indonesia masih bisa cukup fleksibel. 

“Di samping nanti negara-negara lain juga yang mungkin tadinya yang tidak kompetitif, bisa jadi kompetitif lagi. Jadi, nantinya harganya juga akan tertahan kenaikannya,” ungkap Seto.

Namun, sejauh ini Seto tidak merasa adanya kekhawatiran dari perusahaan-perusahaan nikel di Indonesia. 

“So far di Indonesia masih ok. Ya mugkin kan yang suffer di luar Indonesia. Tapi, saya rasa di Indonesia masih ok,” katanya.

Dia juga menuturkan, penyebab harga nikel terus turun karena cost of production-nya tidak kompetitif. 

“Jadi, mereka (negara produsen nikel, red)) pikir harga nikelnya bakalan 20 ribu, 25 ribu, mungkin 30 ribu seperti dua tahun terakhir. Tentu tidak. Kan, komoditi itu selalu ada siklusnya. Jadi, ya mereka harus make sure mereka kompetitif,” pungkas Seto. (Aninda)