Beranda Wawancara KESDM: Prospek Nikel Sangat Bagus, Utamakan Produksi Nikel Limonite

KESDM: Prospek Nikel Sangat Bagus, Utamakan Produksi Nikel Limonite

1218
0

NIKEL.CO.ID, 12 JUNI 2023 – Perkembangan nikel Indonesia saat ini sangat bagus dan menjanjikan bagi para pelaku usaha tambang dari mulai hulu hingga hilir maupun pelaku industri. 

Nikel adalah harta karun yang berharga bagi bangsa Indonesia, yang harus dimanfaatkan untuk kemakmuran rakyat. Besarnya kandungan nikel Indonesia harus didukung dengan tata kelola yang baik oleh berbagai perusahaan pengolah nikel sehingga dapat memberikan nilai ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat.

Direktur Pembinaan Program Mineral dan Batubara, Ditjen Minerba, Kementerian ESDM, Dr. Ing. Tri Winarno, S.T., M.T, mengatakan, terkait perkembangan nikel Indonesia saat ini sangat positif dan cerah.

“Bagus prospeknya. (Dari seluruh perusahaan tambang nikel dan smelter) produksinya tambah terus,” kata Tri kepada nikel.co.id, ketika ditemui di Kantor Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Jakarta, Senin, (12/6/2023). 

Tidak heran bila produksi nikel terus bertambah karena kebutuhan akan bahan baku baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) untuk pabrik baterai EV juga meningkat. 

Apalagi, Indonesia saat ini lebih memilih mengembangkan baterai kendaraan listrik berbasis nikel-mangan-kobalt, atau NMC batteries. 

Saat ini, diperkirakan cadangan nikel yang ada di dunia hampir sebanyak 24% itu ada di Indonesia. Termasuk cadangan mangan yang cukup besar dan juga kobalt. 

Selain itu, menurut pemberitaan, sebanyak 60% hingga 70% baterai cell berbasis nikel yang diproduksi di dunia, bahan bakunya berasal dari Indonesia.

Negara Tiongkok atau China saat ini lebih dominan menguasai pabrik industri pertambangan nikel hingga smelter di Indonesia. Mereka banyak membangun fasilitas produksi pengolahan bijih nikel untuk bahan baku baterai EV. Seperti di PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), yang hasil produksinya dikirim ke produsen baterai litium di China.

Selain itu, perusahaan China yaitu PT Huayue Nickel Cobalt dengan kapasitas produksi 70.000 ton per tahun (Ni-Co), mereka memasok bahan baku katoda baterai EV ke Contemporary Amperex Technology Co (CATL) ke China.

Kemudian, dengan kebijakan pemerintah membangun ekosistem baterai EV dan ekosistem kendaraan listrik membuat produksi nikel juga meningkatkan untuk memenuhi kebutuhan industri tersebut yang saat ini sekitar 14% nikel diproduksi untuk kebutuhan baterai EV. Diprediksi kebutuhan nikel untuk baterai EV pada tahun depan meningkat menjadi 40% . 

Menurut data Kementerian ESDM, pada 2021 saja produksi feronikel yakni 1,6 juta ton dengan penjualan 1,03 juta ton. Sementara nikel pig iron diproduksi 664.746,8 ton dengan penjualan 73.562,2 ton. Adapun nikel matte diproduksi sebanyak 82.564 ton dengan penjualan 69.620,6 ton. 

Untuk mengenal lebih jelas, bijih nikel laterit itu terbagi pada dua jenis, yaitu nikel kadar tinggi dan nikel kadar rendah. 

Nikel kadar tinggi dikenal dengan saprolit yang banyak ditambang dan memiliki pabrik pengolahan yang cukup banyak di Indonesia. Sehingga penjualan saprolit sangat mudah yang umumnya untuk bahan baku stainless steel.

Saprolite merupakan bijih nikel dengan kandungan besi (Fe) yang rendah dan kadar nikel yang lebih tinggi, termasuk elemen lainnya seperti magnesia (MgO), dan kalsium (CaO).

Di Indonesia, nikel kadar tinggi atau saprolite lebih mudah dijual, karena smelter untuk mengolah nikel tersebut sudah tersedia. Sedangkan nikel kadar rendah atau limonite masih jarang terserap dan smelter pengolahannya pun masih sedikit.

Untuk saprolite lebih banyak diolah menggunakan Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) yang nantinya menghasilkan produk berupa Nickel Pig Iron (NPI), Feronikel (FeNi), atau Nickel Matte.

Sehingga, cadangan saprolite yang terus dieksploitasi membuat volume cadangan menyusut dan diperkirakan tinggal 930 juta ton dan tersisa kurang dari tujuh tahun. 

Sementara untuk nikel limonite memiliki kadar nikel 0,8%-1,5% dengan cadangan sebesar 3,6 miliar ton. Limonite diolah melalui sistem High Pressure Acid Leaching (HPAL) untuk menghasilkan produk berbasis nikel sulfida atau sebagai nikel hidroksida, yang biasanya digunakan untuk material logam nickel based, termasuk elemen baterai EV.

HPAL sendiri merupakan proses leaching dengan menggunakan asam sulfat pada tekanan dan temperatur yang tinggi di dalam autoclave, yang nantinya akan menghasilkan produk akhir berupa nikel sulfat dan kobalt sulfat.

Saat ini, pengembangan baterai EV akan memaksimalkan pemanfaatan bijih limonite melalui pengolahan di pabrik HPAL.

Menurut Tri, prospek nikel yang bagus ini kedepan harus diutamakan produksi nikel limonite. Karena cadangannya yang masih melimpah dibandingkan nikel saprolite yang tinggal sedikit. 

“Ya kalau misal limonit kenapa nggak,” ujarnya. (Shiddiq)