Beranda Berita Nasional Ricardo Ferreira Prediksi Produksi Nikel Dunia akan Meningkat Tajam

Ricardo Ferreira Prediksi Produksi Nikel Dunia akan Meningkat Tajam

1687
0
Director of Market Research and Statistics INSG, Ricardo Ferreira (Foto: mni/apni)

NIKEL.CO.ID, 8 JUNI 2023—Ekonomi dunia saat ini, menurut Dana Moneter Internasional/International Monetary Fund (IMF), jika dilihat di permukaan, tampak sejalan dengan kondisi yang secara berangsur-angsur mulai pulih akibat dihantam gelombang pandemi Covid-19 dan konflik Rusia-Ukraina. China kembali membuka ekonominya.

Rantai pasokan nikel juga mulai pulih dari gangguan pasar energi dan makanan karena perang mulai surut. Dalam pada itu, pengetatan kebijakan moneter yang masif dan serentak oleh sebagian besar bank sentral mulai membuahkan hasil dengan inflasi bergerak kembali ke targetnya.

Akan tetapi, di bawah permukaan, turbulensi sedang terjadi dan cukup rapuh, sebagaimana yang dialami perbankan belakangan tidak stabil. Inflasi menempel lebih ketat daripada yang diantisipasi beberapa bulan lalu.

Demikian diungkapkan Director of Market Research and Statistics of International Nickel Study Group (INSG), Ricardo Ferreira, pada Shanghai Metals Market: Indonesia Nickel and Cobalt Industry Chain Conference 2023, di Jakarta, akhir Mei lalu. Ia menambahkan, karena kondisi ekonomi yang demikian itu, di pasar komiditas nikel global pun timbul ketidakpastian.

Ferreira mendeskripsikan, pada 2020 produksi nikel primer sebanyak 2.483.300 ton, konsumsi 2.390.700 ton, sehingga terjadi surplus 92.600 ton.  Tahun 2021, sebaliknya, terjadi defisit. Produksinya 2.609.900 ton, sedangkan konsumsi 2.779.100 ton, sehingga terjadi minus 169.200 ton. Pada 2022, produksi nikel meningkat menjadi 3.060.200 ton, konsumsinya juga naik menjadi 2.955.000 ton, sehingga terjadi surplus 105.200 ton.

“Pada 2023, produksi nikel diperkirakan akan meningkat tajam, meski kenaikannya lebih rendah daripada 2022, yakni 3.373.700 ton. Demikian pula konsumsi naik menjadi 3.134.400, tetapi lebih rendah daripada produksinya, sehingga terjadilah surplus sebesar 239.300 ton. Konsumsi pada 2023 akan sama dengan 2022,” ujarnya.

Setelah defisit pada 2021 dan surplus pada 2022, katanya melanjutkan, pasar nikel dunia diprediksi juga akan surplus pada 2023. Pada 2020, pasar nikel memang surplus, terutama disebabkan pemakaiannya berkurang akibat terpengaruh pandemi Covid-19.

“Namun, tidak sebagaimana konsumsinya yang lebih terdampak perlambatan ekonomi, produksi nikel pada 2022 bertambah. Karena, produksi NPI Indonesia dan nikel sulfat di China meningkat,” simpulnya. 

Awal kuartal pertama 2022, ia melanjutkan, menyiratkan pasar nikel primer surplus 51.000 ton. Ini merupakan surplus selama empat kuartal berturut-turut dan surplus terbesar secara keseluruhan pada 2022.

“Pada 8 Maret 2022, harga nikel di LME mencapai lebih dari US$101.000 per ton, tetapi turun kembali hingga US$21.000. Harga nikel di LME pada setiap akhir tahun sejak 2018 hingga 2022 memperlihatkan tren kenaikan variatif,” ujarnya.

Direktur statistik dan riset pasar organisasi yang bermarkas di Lisbon, Portugal, itu memaparkan, akhir 2018 harga nikel LME bertengger di US$10.595/ton (turun 13,6% dari tahun sebelumnya). Akhir tahun berikutnya, 2019, naik 32,1% dari akhir tahun 2018 menjadi US$14.000/ton; akhir tahun 2020 harganya US$16.540/ton (naik 18,1%); akhir tahun 2021 harga US$20.700/ton (naik 25,2%); dan akhir tahun 2022, US$30.425/ton (naik 47,0%).

“Pada Januari hingga April 2023, harga nikel di LME turun menjadi US$24.000/ton. Naik lagi pada awal Mei menjadi US$25.000/ton, tetapi merosot lagi hingga harganya kurang dari US$21.000/ton,” tuturnya.

Ia juga menyinggung stok gabungan LME dan Shanghai Futures Exchange (SHFE) pada awal 2016 jumlahnya 490.000 ton; akhir 2022 jumlah persediaan sebanyak 58.000 ton; dan akhir April 2023 persediaannya hanya 41.400 ton.

Sementara itu, katanya menjelaskan, menurut hasil studi INSG pada April 2023, produksi tambang nikel dunia meningkat 10,9% pada 2021 dan 18,6% pada 2022. Diperkirakan tren kenaikan akan berlanjut dengan kisaran 16,1% pada 2023.

Sebagai negara penambang nikel terbesar, produksi nikel Indonesia kemungkinan akan mencapai 55% dari produksi dunia pada 2023 (sebelumnya 49% pada 2022). Produksi NPI yang didukung China dan proyek HPAL adalah penyebab utama peningkatan produksi Indonesia.

Pertumbuhan produksi tambang nikel dunia dari tahun ke tahun (year-on-year/YOY) meningkat 20%, produksi tambang nikel tumbuh 41%. Wilayah lainnya, Asia naik 33%, Afrika turun 6,2%, Amerika turun 11%, Eropa naik 2,5%, dan wilayah Oseania naik 18%.

“Produksi nikel dunia tampaknya akan terus merangkak naik. Pada 2021 naik 5,1%, tahun 2022 naik lagi 17,3%, dan pada 2023, meski tidak sebesar tahun sebelumnya, produksi meningkat sebesar 10,2%. Indonesia adalah produsen utama dunia sejak 2021 dan akan menguasai 41% pangsa pasar dunia pada 2023. China sekarang berada di urutan kedua. Sebagian besar pertumbuhan terjadi di Asia. Pada 2023, Eropa dan Amerika diperkirakan produksi nikel akan berkurang,” paparnya.

Data awal kuartal pertama tahun 2023 menunjukkan kenaikan produksi nikel primer YOY sebesar 11%, dengan produksi Indonesia tumbuh 19%. Sementara itu, negara-negara lainnya di Asia naik 20%, Afrika turun 13%, Amerika turun 10%, dan Eropa turun 13%. 

Produksi NPI Indonesia meningkat dengan cepat, sebaliknya China akan terus mengurangi atau stabil. Hal tersebut dapat terjadi karena selesainya proyek-proyek pembangunan smelter baru dan lini produksi baru ditambah. Sebaliknya, pasokan bijih nikel menjadi masalah utama bagi smelter di China, sehingga produksi NPI lebih sedikit dibandingkan Indonesia.

Jika produksi NPI Indonesia dan China digabungkan diperkirakan akan mencapai 1,11 juta ton pada 2020 dan 1,29 juta ton pada 2021, dan diperkirakan mendekati 1,54 juta ton pada 2022. Pada 2023 diperkirakan akan mencapai 1,65 juta ton, hampir 50% dari produksi nikel primer dunia!

Indonesia telah melarang ekspor bijih nikel mulai Januari 2020. Negara ini mengolah sebagian dari produksi nikelnya di dalam negeri, seperti NPI untuk produksi baja tahan karat, sedangkan sisanya (NPI, MHP, dan matte) diekspor. Proyek NPI, MHP dan matte baru (konversi dari NPI) akan terus meningkat atau akan dioperasikan dalam jangka pendek. Ekspor nikel Indonesia telah meningkat seiring dengan peningkatan proyek-proyek baru.

Permintaan Naik

Secara global permintaan nikel primer meningkat 16,2% pada 2021 dan 6,3% pada 2022, dan diharapkan naik 6,1% pada 2023. China adalah konsumen terbesar di dunia dan Indonesia nomor dua, masing-masing 61% dan 12% dari pasar global 2023. Hampir semua pertumbuhan akan terjadi di Asia pada tahun ini. Data kuartal pertama tahun 2023 YOY mengindikasikan permintaan nikel primer naik 0,4%, pertumbuhan permintaan nikel China 8,9%.

Secara keseluruhan permintaan nikel di Asia naik 1,7%, sedangkan di Afrika turun 19%, Amerika turun 0,3%, Eropa turun 8,2%, dan Oseania tidak naik maupun turun.

Sektor baja nirkarat (stainless steel) tetap menjadi leader pasar pengguna nikel yang penting, meskipun dalam beberapa tahun belakangan ini relatif menurun. Namun, secara tonase, penggunaan nikel global dalam industri ini selalu meningkat.

Hal menarik lainnya adalah sektor baterai telah menyerap pangsa pasar nikel. Pertumbuhan produksi baterai EV yang mengandung nikel telah meningkat, baik volume maupun pangsa pasar. Hal tersebut terjadi karena penjualan EV meningkat cepat dan diperkirakan akan berlanjut pada 2023.

Penjualan kendaraan ringan secara global menurun 1% pada 2022 (menjadi 80 juta unit) dan kemungkinan akan pulih pada 2023 (menjadi 82 juta unit). Dari jumlah sekian itu, penjualan EV dunia mencapai 6,46 juta unit pada 2021 (kaik 93,6%) dan 10,31 juta unit pada 2022 (naik 59,6%). Pertumbuhan tersebut diprediksi akan terus naik untuk 2023 (sekitar 32%).

Tingkat penetrasi EV (BEV+PHEV) terus meningkat. Pada 2023, kemungkinan BEV dan PHEV masing-masing akan mencapai hampir 12% dan mendekati 5%. (Rusdi)