Beranda Berita Nasional Antam Miliki 5% Cadangan Nikel Dunia, Jadi Kekuatan Monetisasi dengan Hilirisasi EV...

Antam Miliki 5% Cadangan Nikel Dunia, Jadi Kekuatan Monetisasi dengan Hilirisasi EV Battery

662
0
Kadiv Sekper ANTAM Syarif Faisal Alkadrie

NIKEL.CO.ID, 30 MARET 2023 – Kepala Divisi Sekretaris Perusahaan PT Aneka Tambang Tbk (Antam), Syarif Faisal Alkadrie mengungkapkan bahwa Antam memiliki 5% cadangan nikel dunia atau sebesar 4,8 juta ton nikel. Bisa dijadikan kekuatan monetisasi melalui hilirisasi electric vehicle (EV) battery. 

Syarif Faisal menyampaikan hal tersebut saat mengisi materi di acara Kementerian Investasi dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) bertajuk: ‘Strategi Mencapai Target Investasi 2023 dengan Mendorong Hilirisasi’, secara online, Rabu (29/3/2023).

“Jadi kami memandang ini sebagai kekuatan kami yang memang harus bisa kami monetisasi dan salah satunya melalui hilirisasi ev baterai ini,” ungkap Syarif Faisal.

Menurutnya, PT Antam akan mewujudkan ekosistem EV battery untuk mendapatkan ekonomi keuangan (monetisasi) sesuai dengan visi Antam tahun 2030 untuk menjadi perusahaan global atau dunia. 

“Kami juga ingin mewujudkan, karena ini juga mandat pemerintah membuat ekosistem EV battery dari hulu sampai hilir,” ujarnya. 

Syarif Faisal menjelaskan bahwa dalam hilirisasi nikel dan EV battery, PT Antam memiliki peran di sektor hulu. Sehingga akan lebih mendominasi di sektor hulu pertambangan. Sedangkan di sektor hilir, Antam membentuk perusahaan patungan (join venture company) dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yaitu PT Pertamina Persero, PT PLN Persero, dan MIND ID dengan nama Indonesia Battery Corporation (IBC). 

“Inilah yang akan terlibat penuh di bagian hilirnya mulai dari preKursor, katode, baterai sel, dan baterai recycling,” jelasnya.

Ia menyadari bahwa Indonesia memang mempunyai kekuatan penelitian, namun tidak bisa dipungkiri masih ada kekurangan di bidang teknologi, kapabilitas, financing, marketing. Sehingga masih dibutuhkan bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. 

“Ini yang menjadi triger kenapa kami ingin mengembangkan bersama partner-partner strategis. Ada dua partner yang saat ini sudah ada bersama kami, yaitu ada CBL (Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co. Ltd) dan LG solution. Inilah perusahaan yang kita lihat memang berada di nomor satu dan dua untuk terkait dengan baterai ini,” sambungnya. 

Menindaklanjuti hal itu, PT Antam telah melakukan perjanjian kerja sama dengan IBC, CBL dan LGs (Solution) dalam produksi ev baterai yang telah ditandatangani dalam Framework Agreement untuk kerja sama Proyek Pengembangan Ekosistem EV Battery (Electric Vehicle Battery) yang terintegrasi di Indonesia yang mencakup kegiatan pertambangan bijih nikel hingga industri daur ulang baterai pada tanggal 14 April 2022.

Untuk operasional pertambangan bijih nikel dalam rangka Proyek Pengembangan Ekosistem EV Battery selanjutnya akan dilaksanakan oleh PT Sumberdaya Arindo (PT SDA), entitas anak usaha Antam yang memiliki wilayah izin usaha pertambangan di Halmahera Timur, Maluku Utara.

“Kita juga sudah menjadi proyek strategi nasional yang merupakan bentuk dukungan pemerintah kepada kami untuk bisa mewujudkan Ekosistem EV Battery ini,” terang Kadiv Sekper PT Antam. 

Syarif Faisal memaparkan bahwa Antam pada 16 Januari 2023 kemarin juga telah menandatangani kesepakatan kerja sama untuk pembangunan tambang yang ada di Maluku Utara.

Hal ini juga sebagai tindak lanjut pelaksanaan Framework Agreement tersebut dan sekaligus penandatanganan Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat atau Conditional Share Purchase Agreement (CSPA) antara Antam dan Hong Kong CBL Limited (HKCBL), anak perusahaan yang dikendalikan oleh CBL, atas sebagian kepemilikan saham Antam dalam PT SDA.

Selain itu, penandatanganan CSPA ini merupakan langkah awal dari realisasi pelaksanaan Proyek Pengembangan Ekosistem EV Battery di Indonesia dan sejalan dengan komitmen Antam dalam mendukung pengembangan proyek tersebut. 

“Harapannya akhir tahun kita akan bisa menyelesaikan poin-poin yang ada didalam perjanjian sehingga pembangunan pabrik ini bisa berjalan dan bisa dilanjutkan,” pungkas Syarif Faisal. (Shiddiq)