Beranda Asosiasi Pertambangan Presdir Ceria: Nikel Punya Peran Penting Dalam Industri Mobil Listrik

Presdir Ceria: Nikel Punya Peran Penting Dalam Industri Mobil Listrik

1046
0

NIKEL.CO.ID, 9 MARET 2023 – Presiden Direktur PT Ceria Nugraha Indotama, Derian Sakmiwata mengungkapkan bahwa nikel memiliki peran yang sangat penting untuk industri pembuatan kendaraan mobil listrik berbahan bakar baterai electric vehicle (EV).

Hal itu di latarbelakangi oleh perubahan iklim global yang menerapkan energi transisi agar lebih efisien ramah lingkungan sehingga negara-negara di dunia beramai-ramai menerapkan green energi. Transisi energi dari bahan bakar fosil beralih ke energi ramah lingkungan atau baterai electric vehicle berbahan dasar nikel.

“Salah satu contoh dari transisi yang menurut saya sangat nyata dan mungkin sudah kita lihat sehari-hari adalah electric vehicle, mobil listrik. Itu adalah contoh yang sangat nyata. Nikel ini adalah salah satu bahan baku yang mempunyai peran yang sangat penting didalam satu pembuatan mobil baterai,” ungkap Presdir PT CNI, Derian dalam Acara “Mining and Finance Forum” oleh Majalah Tambang dan Marsh di Darmawangsa Hotel, Jakarta, Rabu (8/3/2023) kemarin.

Menurut Presdir Ceria, mobil listrik dengan bahan bakar baterai bisa berjalan dan mampu menempuh jarak yang jauh karena ada nikel didalam baterainya tersebut. Sehingga nikel disini merupakan komponen dari sumber penyimpan daya atau power untuk baterai mobil listrik. 

“Karena itu yang tadinya nikel hanya dimanfaatkan secara mayoritas untuk pengolahan baja anti karat sekarang nikel juga dibutuhkan untuk pembuatan baterai precursor mobil listrik,” ujarnya.

Dia menuturkan bahwa dari peneliti di laboratorium internasional telah melakukan penelitian tentang nikel. Pada tahun 2015 disampaikan bahwa stok nikel global mengalami surplus, namun secara berangsur-angsur stok atau pasokan nikel semakin menuru,  bahkan diprediksi tahun 2027 nikel akan mengalami defisit sementra demand atau permintaan terhadap nikel terus mengalami peningkatan.

Selain itu, peneliti internasional juga mengatakan bahwa selama ini nikel merupakan bahan baku yang diperuntukan untuk feronikel, dan sebanyak 70% nikel global digunakan untuk industri stainless steel atau baja anti karat.

Namun dengan adanya kenaikan atas demand nikel ditingkat global setiap tahunnya dan diprediksi pada tahun 2023 akan mencapai 3,44 juta metrik ton per tahun. Tentunya demand atas nikel ini menjadi meningkat drastis karena adanya perubahan iklim global.

“Dimana pada saat ini negara-negara berbondong-bondong untuk menerapkan energi transisi agar lebih efisien lagi atau lebih bersih atau istilahnya Green Energy,” tuturnya.

Derian juga menjelaskan mengenai jenis nikel, yang menurutnya ada dua jenis yaitu, pertama nikel kelas satu dan nikel kelas dua. Nikel kelas satu dikategorikan memiliki kandungan nikel minimal sebesar 99,8% hampir mendekati nikel murni namun belum sampai 100%. Kedua, nikel kelas dua yaitu, nikel yang memiliki kandungan kurang dari 99,8%.

“Nikel kelas dua diperuntukan untuk pengolahan baja anti karat (stainless steel) dan yang kelas satu biasanya digunakan untuk pembuatan baterai mobil,” jelasnya.

Adapun kondisi nikel kelas satu dan dua, menurutya untuk nikel kelas dua saat ini masih mendominasi market internasional karena banyak permintaan di seluruh dunia untuk mencukupi produksi stainles steel.

Namun seiring perubahan jaman dan perkembangan teknologi nikel kelas satu secara bertahap akan mengalami peningkatan karena dibutuhkan oleh industri kendaraan listrik yaitu mobil ev.

“China merupakan negara penghasil kelas dua terbesar di dunia sedangkan perlahan-lahan Indonesia menyusul China,” cetusnya.

Namun, lanjut dia, Indonesia adalah negara yang memiliki kandungan nikel terbesar di dunia dan merupakan Raja Nikel. Hal ini dibuktikan dari beberapa data, baik eksplorasi sumber daya dan cadangan yang telah masuk dan disubmit oleh data pemerintah dan juga dapat dilihat dari banyaknya pabrik pengolahan nikel kelas dua yang telah terbangun, yang sedang membangun dan yang akan terbangun di Indonesia.

Di prediksi nikel kelas dua di Indonesia ini akan menyentuh angka 1,48 juta ton pada tahun 2025. Selain itu, produk intermediaries yang akan diproduksi di Indonesia juga sebagai bahan baku pembuatan listrik akan menyentuh angka 1,3 juta metrik ton. 

“Jadi Indonesia ini memiliki potensi yang sangat besar sekali dalam nikel,” lanjutnya.

Derian memaparkan bahwa Indonesia yang merupakan negara pemilik kandungan nikel terbesar di dunia, mayoritas sumber daya mineral nikelnya umumnya berada di wilayah Indonesia bagian Timur, seperti di Sulawesi, Maluku dan Papua. Bahkan, kata dia, PT Ceria Nugraha Indotama pun berada di daerah Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.

PT Ceria setelah melakukan eksplorasi dan mendapatkan laporan hasil resources dari research tentang cadangan nikel yang telah terverifikasi mulai melakukan proyek pembangunan empat jalur produksi pengolahan bijih nikel dengan kadar tinggi (Saprolit) dengan menggunakan teknologi Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF).

Nantinya pabrik pengolahan saprolit itu akan menghasilkan out put hingga mencapai 252.000 ton Feni (feronikel) di kadar 22%. Karena kadarnya masih 22% maka feronikel ini diperuntukkan untuk pembuatan baja anti karat.

Sedangkan untuk nikel kadar rendah atau limonit, PT Ceria akan akan membangun duafase pengolahan bijih nikel kadar rendah atau limonit dengan menggunakan teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL).

“Dengan output berupa MHP (Mixed Hydrocide Precipitate)sejumlah 308.000 ton setara dengan 124.000 ton logam nikel dan 12.500 ton logam kobalt (C),” pungkasnya. (Shiddiq)