Beranda Berita Nasional Khawatir Indonesia Jatuh Dalam Resesi Global, Bahlil: Jangan Sampai ke Tahun Politik

Khawatir Indonesia Jatuh Dalam Resesi Global, Bahlil: Jangan Sampai ke Tahun Politik

583
0

NIKEL.CO.ID, 20 FEBRUARI 2023 – Menteri Investasi dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengkhawatirkan Indonesia jatuh ke dalam raesesi ekonomi global di tahun 2023 karena pemerintah hanya mampu menghitung seberapa dalam dampak resesi itu dan jangan sampai terjadi di tahun politik. 

Hal itu disampaikan Menteri Investasi/BKPM Bahlil Lahadalia dalam konferensi pers terkait “Investasi Penggerak Pertumbuhan Ekonomi” di kantor Kementerian Investasi/BKPM di Jakarta baru-baru ini.

“Kita di tahun 2023 ini, menurut saya tahun yang tidak main-main. Saya betul-betul nggak bisa membayangkan kalau ekonomi global yang sudah kita dapat datanya, potensi resesi kita tidak bisa hindari cuma dalam resesinya aja yang masih kita hitung dan jangan sampai itu berdampak pada with and see itu di tahun politik,” kata Bahlil dalam keterangan tersebut, Jakarta, Senin (20/2/2023). 

Bahlil meminta kepada seluruh masyarakat dan media agar memiliki persamaan pandangan untuk memberitakan hal-hal yang terukur tentang resesi global.

“Jangan hal yang tidak subtantif seolah-olah kita buat itu menjadi masalah besar. Itu akan merugikan negara kita,” ujarnya. 

Menurutnya, pemerintah tetap konsisten dalam pembangunan ekonomi nasional dengan tetap menjalankan program hilirisasi yang memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

“Investasi kita masih tetap, kita akan mendorong hilirisasi untuk menciptakan lapangan pekerjaan dan kita akan mendorong kepada green energy dan green industry, terus kita galakkan,” serunya. 

Selain itu, dia menegaskan bahwa pemerintah tetap berkomitmen dalam kelanjutan program hilirisasi untuk melakukan larangan komoditas lainnya, seperti bauksit maupun tembaga di tahun 2023 ini.

“Tahun ini bauksit dan tembaga juga akan kita selesaikan secara seksama. Kalau tembaga mungkin bulannya yang harus kita bicarain tapi kalau bauksit kita sudah putusin karena smelter wajib untuk kita lakukan,” tegasnya. 

Bahlil juga mengungkapkan bahwa menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) kuartal lV tahun 2022, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,31 persen. Pertumbuhan ekonomi ini merupakan salah satu pertumbuhan ekonomi terbaik diantara negara-negara G20. 

Selain Indonesia, pertumbuhan ekonomi yang menduduki peringkat terbaik dari negara-negara G20 adalah Arab Saudi yang mencapai 8,7 persen dan Spanyol dengan 5,5 persen. 

Menurut data Kementerian Investasi dan BKPM tahun 2022 total investasi diluar sektor hulu minyak dan gas (migas) dan keuangan sebesar Rp1007 triliun dan dari sektor Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) sebesar Rp318 triliun. 

“Kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi kita adalah PNBP (Pendapatan Negara Bukan Pajak) hampir 30 persen. Ini sebuah angka yang menurut saya luar biasa sekali. Saya senang dan tidak hanya itu distribusi lapangan pekerjaan dari sektor UMKM kita tinggi makanya konsumsi itu diangka 51 sampai 52 persen,” cetusnya. 

Dia menjelaskan bahwa hal ini karena konsumsi masyarakat relatif stabil karena pemerintah mampu menjaga daya beli masyarakat dengan mendorong adanya kepastian pendapatan dengan menyediakan lapangan pekerjaan. 

Meskipun, menurutnya ada Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dibeberapa sektor lapangan pekerjaan namun pemerintah telah menyediakan lapangan pekerjaan dari sektor industri hilirisasi dan sebagainya sebesar 1.300.000 lapangan pekerjaan dan sektor UMKM sebesar 7 juta lapangan pekerjaan. 

“Jadi ada yang pergi dan banyak juga yang datang. Jadi tidak hanya yang keluar saja. Ini yang pertama,” jelasnya. 

Kemudian, ia melanjutkan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional 2022 juga didukung dengan inflasi sebesar 5,3 persen yang paling rendah ditengah kondisi ekonomi global. Sehingga kondisi ekonomi Indonesia masih terbilang aman dan cukup baik. 

“2023 sering dikatakan bahwa ini tahun yang tidak menentu akan terjadi with and see dan kalau kita lihat, ekspor kita di kuartal l ini tidak sebaik di kuartal ke lV 2022 dan tanda-tanda itu sudah mulai turun,” lanjutnya. 

Bahlil tetap optimis dengan perekonomian di tahun 2023 namun harus ada upaya-upaya lebih kuat untuk menjaga dan merawat komponen-komponen ekonomi strategis dan mampu menjaga momentum yang baik tetap stabil. 

“Karena FDI (Foreign Direct Investment/Investasi Asing) juga itu tidak sebaik 2022. Saya baru cek dengan tim saya, itu kecenderungan di kuartal l itu agak tidak sebaik dibandingkan dengan kuartal lV di 2022. Dan beberapa negara yang sudah menyatakan investasi di negara kita maupun di negara lain, ini masih dibutuhkan suatu pergerakan-pergerakan maintenance yang baik,” pungkasnya. (Shiddiq)