2021 Jadi Momentum Pemulihan Ekonomi Nasional

NIKEL.CO.ID – Tahun 2021 diyakini menjadi momentum pemulihan ekonomi nasional. Oleh sebab itu, pemerintah mendorong reformasi struktural guna mendukung pemulihan ekonomi.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menuturkan, pemerintah telah menyiapkan langkah mendasar reformasi struktural awal 2021, seperti memberikan kemudahan berusaha, insentif usaha, dan dukungan kepada usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Tujuannya untuk memberikan kepastian usaha dan menciptakan iklim usaha dan investasi yang lebih baik, sehingga penciptaan lapangan kerja dapat terealisasi.

“Salah satu pendorong utama yang diandalkan adalah UU Cipta Kerja,” ujar Menko Airlangga ketika memberikan keynote speech dalam acara Outlook Perekonomian Indonesia Meraih Peluang Pemulihan Ekonomi 2021 di Jakarta, Selasa (22/12/2020).

Selain itu, dia menerangkan, sejumlah strategi lainnya turut disiapkan, yaitu melanjutkan program Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PCPEN), dukungan kebijakan untuk pemberdayaan UMKM, penyusunan Daftar Prioritas Investasi (DPI), dan pembentukan Lembaga Pengelola Investasi (LPI) atau SWF.

Menko Airlangga menjelaskan, sejumlah peluang kian terlihat, seperti mulai pulihnya ekonomi global dan dalam negeri. Ini terlihat pada penguatan nilai tukar rupiah dan pasar saham.

“IHSG (indeks harga saham gabungan) sudah kembali ke level sebelum Covid-19. Januari 2020, indeks mencapai 5.400, sedangkan akhir tahun ini sudah menyentuh 6.100 dan rupiah pada posisi Rp 14.100 per dolar AS. Bahkan, JP Morgan memprediksi IHSG bisa menyentuh 6.800 pada 2021,” ujar Airlangga.

Beberapa hal yang akan membantu pemulihan ekonomi 2021, kata dia, salah satunya perbaikan harga komoditas utama Indonesia di pasar global, seperti nikel dan CPO. Ini didorong program B30 yang memicu program perekonomian di wilayah Sumatera dan Kalimantan.

“Pulihnya harga komoditas akan memberikan dampak multiplier yang besar terhadap aktivitas ekonomi domestik, sehingga dapat mempercepat pemulihan ekonomi nasional,” kata dia.

Artikel ini telah tayang di Investor.id dengan judul “2021 Jadi Momentum Pemulihan Ekonomi Nasional

Read More

Gagal Penuhi Target Investasi, Kepala BKPM dan Menko Luhut Disentil Presiden Jokowi

NIKEL.CO.ID – Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia dan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan gagal memenuhi target Presiden Joko Widodo. Pada kuartal III/2020, pertumbuhan investasi terkoreksi lebih kurang 6 persen.

Padahal, kata Presiden Joko Widodo, sebelumnya telah mewanti-wanti Kepala BKPM dan Menko Luhut untuk menjaga pertumbuhan investasi agar tidak terkoreksi lebih dari 5 persen.

“Tapi ternyata belum bisa. Oleh sebab itu, agar ini dikejar di kuartal IV dan kuartal I/2021 bulan Januari, Februari, Maret sudah mulai gerak lagi,” kata Jokowi dalam pembukaan sidang kabinet paripurna, Senin (2/11/2020).

Presiden melanjutkan bahwa Indonesia memiliki kesempatan untuk memperbaiki investasi. Pasalnya, Amerika Serikat setuju memperpanjang fasilitas keringanan bea masuk atau Generalized System of Preferences (GSP).

Indonesia menjadi satu-satunya negara di Asia yang mendapatkan fasilitas tersebut. Dengan demikian, harapannya dapat memberikan daya ungkit kepada neraca ekspor.

“Syukur-syukur dipakai sebagai kesempatan menarik investasi karena kita ada fasilitas itu, sehingga orang ingin mendirikan industri, pabrik, perusahaan di Indonesia jadi lebih menarik karena untuk masuk Amerika kita diberikan fasilitas dari Amerika,” kata Presiden.

Adapun, Jokowi juga mengumumkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal ketiga terkoreksi 3 persen dibandingkan dengan triwulan ketiga tahun lalu. Salah satu penyebabnya adalah konsumsi rumah tangga yang lebih kurang minus 4 persen pada periode yang sama.

Dengan demikian, Indonesia telah dua kali mencatat pertumbuhan ekonomi terkoreksi negatif. Pada kuartal II, Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 5,32 persen.

Kendati demikian, Presiden mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga dalam tren positif, karena lebih baik dibandingkan dengan tiga bulan sebelumnya. Selain itu, Presiden juga mengklaim kondisi Indonesia lebih baik dibandingkan dengan negara lain.

“Dan ini memang kalau dibanding negara lain jauh lebih baik, tapi ini patut kita berikan tekanan untuk kuartal keempat,” kata Presiden dalam pembukaan sidang kabinet paripurna, Senin (2/10/2020).

Presiden melanjutkan bahwa kuartal terakhir tahun ini harus benar-benar dimanfaatkan. Realisasi belanja pemerintah harus berada pada titik yang paling maksimal.

“Hati-hati tolong disampaikan kepada Dirjen, Direktur, dan di seluruh jajaran yang Bapak Ibu pimpin, kuartal keempat bisa maksimal,” kata Presiden.

Sumber: BISNIS.COM

Read More

Presiden Jokowi Perkirakan PDB Q3 -3% dan Investasi -6%

NIKEL CO.ID –  Presiden Joko Widodo (Jokowi) memperkirakan produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada kuartal III-2020 akan kembali mencatatkan minus. Resesi pun semakin di depan mata.

Berbicara di depan jajaran menteri dalam sidang kabinet paripurna, Jokowi mengatakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2020 akan berkisar minus 3%, lebih baik ketimbang realisasi pertumbuhan di kuartal II-2020 minus 5,32%.

“Perkiraan kita di angka minus 3% naik sedikit,” kata Jokowi di Istana Negara, kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (2/11/2020).

Berdasarkan laporan yang diterima kepala negara, komponen konsumsi rumah tangga dan investasi menjadi salah satu ‘biang kerok’ jatuhnya pertumbuhan ekonomi. Konsumsi rumah tangga tercatat minus 4%, sementara investasi bahkan anjlok hingga minus 6%.

“Nanti kita tunggu itung-itungan dari BPS. Mungkin 6 minus. Saya sudah wanti-wanti Kepala BKPM (Bahlil Lahadalia) dan Menko Marimves (Luhut Binsar Pandjaitan) paling tidak kuartal ketiga di bawah minus 5%, tapi ternyata belum bisa,” ujar Jokowi.

Eks Gubernur DKI Jakarta itu meminta para menteri untuk tidak tinggal diam melihat kondisi sekarang. Kepala negara ingin, persoalan serupa tidak terjadi lagi pada kuartal keempat tahun ini.

“Agar ini dikejar lagi di kuartal keempat, dan di kuartal pertama [2021] Januari, Februari, Maret sudah bergerak lagi,” jelasnya.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

RI Resmi Resesi, Ini Pernyataan & Ramalan Lengkap Sri Mulyani

NIKEL.co.id – Indonesia dipastikan masuk ke lubang resesi menyusul negara lainnya. Hal ini terlihat dari ramalan perekonomian Indonesia yang akan masuk ke zona negatif pada kuartal III-2020.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, untuk kuartal III ini, perekonomian diramal akan berada di kisaran minus 2,9% hingga minus 1%. Artinya perekonomian Indonesia kontraksi dua kuartal berturut-turut setelah pada kuartal II-2020 terkontraksi 5,32%.

Sedangkan untuk sepanjang tahun atau full year perekonomian juga diprediksi akan tetap minus 1,7% hingga minus 0,6%. Hal ini lantaran kontraksi akibat pandemi Covid-19 masih akan berlanjut di semester II tahun ini.

“Ini artinya, negatif territory kemungkinan terjadi pada kuartal III dan mungkin juga masih berlangsung untuk kuartal IV yang kita upayakan bisa dekat 0 atau positif,” ujarnya melalui konferensi pers virtual, Selasa (22/9/2020).

Adapun perekonomian kuartal III ini negatif sejalan dengan outlook, sektor penopangnya yang juga masih terkontraksi.

Konsumsi Rumah Tangga minus 3% sampai minus -1,5%

Konsumsi Pemerintah: Positif 9,8%-17%

Investasi : Kontraksi -8,5% sampai -6,6%

Ekspor : Kontraksi -13,9% sampai -8,7%

Impor : Kontraksi -26,8% sampai -16%.

Berikut pernyataan lengkap Sri Mulyani mengenai ramalan perekonomian RI:

“Kementerian Keuangan melakukan revisi forecast pada bulan September ini, yang sebelumnya kita perkirakan untuk tahun ini adalah -1,1% hingga positif 0,2%. Forecast terbaru kita pada September untuk 2020 adalah kisaran -1,7% sampai -0,6%. Ini artinya, negatif territory kemungkinan akan terjadi pada kuartal III dan mungkin juga masih akan berlangsung untuk kuartal ke IV yang kita upayakan bisa dekat 0% atau positif.

Untuk tahun depan, kita tetap menggunakan sesuai yang dibahas dalam RUU APBN 2021 yakni antara 4,5%-5,5% dengan forecast titiknya di 5,0%. Bagi institusi lain, yang melakukan forecast untuk Indonesia mereka rata-rata berkisar antara 5%-6%. OECD tahun depan prediksi tumbuh 5,3%, ADB sama 5,3%, Bloomberg median view 5,4%, IMF 6,1%, Word Bank di 4,8%

“Nah semua forecast ini semua subject to atau sangat tergantung bagaimana perkembangan kasus Covid dan bagaimana ini akan mempengaruhi aktivitas ekonomi.” unar Menkeu.

Read More