Perusahaan Tambang Asal Tiongkok Menunggak Pajak Rp26 Miliar

NIKEL.CO.ID – PERUSAHAAN tambang nikel asal Tiongkok, PT Virtue Dragon Nikel Industri, sudah sejak 2017 beroperasi di Desa Morosi, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara.

Namun, seperti diungkapkan Kepala Badan Pendapatan Daerah Sulawesi Tenggara Yusuf Mundu, kemarin, perusahaan itu terus menunggak pembayaran pajak air permukaan.

“Total tunggakan mereka mencapai Rp26 miliar. Sejak beroperasi pada 2017 hingga sekarang, perusahaan itu belum membayar pajak air permukaan,” lanjut Yusuf.

Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara melalui Badan Pendapatan Daerah sudah dua kali melakukan penagihan, namun perusahaan itu tidak memiliki ikhtikad baik.

Sebelumnya Badan Pendapatan Daerah Sulaweswi Tenggara  telah melakukan pertemuan dengan salah satu direktur perusahaan itu. Yang bersangkutan berjanji akan membayar pajak sesuai tagihan, sebesar Rp26 miliar.

“Namun, sampai sekarang PT Virtue belum juga melaksanakan kewajibannya,” tambah Yusuf.

Badan Pendapatan Daerah akan memberikan saksi badan hukum atau penyitaan jika PT Virtue Dragon Nikel Industri tidak melakukan pembayaran pajak air permukaan karena penagihan pajak merupakan paksaan. Saat ini Badan Pendapatan Daerah masih berupaya melakukan penagihan secara persuasif.

“Kami akan segera mengirim surat penagihan kesekian kalinya dalam waktu dekat,” ungkap Yusuf.

PT Virtue Dragon Nikel Industri merupakan  perusahaan asal Tiongkok yang menanamkan investasinya dengan membangun smelter nikel di Desa Morosi.

Selain PT Virtue, kelompok usaha ini juga mendirikan PT Obsidian Stainless Steel yang mengolah bahan tambang stainless, juga di Konawe.

Sumber: mediaindonesia.com

Read More

Smelter Nikel Dibakar, CEO IMIP Khawatir Investor Kabur

NIKEL.CO.ID – Smelter nikel milik PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) di Kecamatan Morosi, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, pada Senin (14/12/2020) lalu diamuk massa, bahkan sejumlah fasilitas dan kendaraan maupun alat berat dibakar.

Hal itu terjadi saat pekerja smelter melakukan aksi unjuk rasa karena menuntut dua hal terkait kejelasan status karyawan yang telah bekerja lebih dari tiga tahun dan kenaikan gaji bagi pekerja yang telah bekerja selama lebih dari satu tahun.

Melihat kejadian ini, pengusaha smelter nikel lainnya pun menyayangkan peristiwa tersebut. Berharap agar kejadian ini tidak berdampak negatif pada iklim investasi Indonesia.

Hal itu disampaikan CEO PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) Alexander Barus kepada CNBC Indonesia.

Alex berharap agar kejadian ini tidak menjadi alasan bagi para investor untuk menilai iklim investasi di Indonesia tidak baik.

“Kita tentu sangat menyayangkan peristiwa tersebut. Semoga kejadian ini tidak menjadi dasar para investor untuk menilai iklim investasi di Indonesia,” tuturnya kepada CNBC Indonesia, Rabu (16/12/2020).

Pihaknya pun berharap agar pihak aparat dapat segera menyelesaikan persoalan ini, sehingga peristiwa ini tidak menjalar ke pabrik lainnya.

“Aparat harus segera menyelesaikan persoalan yang ada agar peristiwa ini tidak menjalar ke pabrik lainnya,” ujarnya.

Sebelumnya, dia sempat mengungkapkan ada salah satu investor stainless steel asal China yang berencana menutup pabriknya di Indonesia karena investor China tersebut akan membangun pabrik stainless steel di China dengan kapasitas 4 juta metric ton.

“Saya mendengar, mudah-mudahan ini tidak benar, bahwa partner kami akan bangun pabrik stainless steel di Wuhan 4 juta metric ton dengan mengharapkan NPI dari Indonesia, artinya apa? Artinya fasilitas stainless steel di Indonesia ini akan ditutup,” tuturnya dalam sebuah diskusi nikel pada Selasa (14/10/2020).

Namun sayangnya dia enggan menuturkan alasan utama rencana hengkangnya investor asal China tersebut, dan perusahaan mana yang dimaksud.

Menurutnya, bila investor tersebut benar akan hengkang dari Indonesia, maka kebanggaan terhadap industri stainless steel di Tanah Air akan memudar.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Raksasa Tambang Nikel Itu Bernama VDNI

Oleh : Erwin Usman *)

PULUHAN video dan foto-foto menyebar luas sejak Senin sore kemarin di jejaring percakapan juga sosial media. Isinya: Terbakarnya sejumlah alat berat dan fasilitas pabrik di kawasan mega industri PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) di Morosi, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara.

Puluhan kendaraan dump truk yang terparkir di sekitar pos pengamanan lokasi aksi demonstrasi terbakar. Selain itu, puluhan kendaraan karyawan dan sejumlah alat berat yang berada di kawasan industrial pertambangan nikel VDNI juga ikut terbakar.

Peristiwa dipicu aksi buruh perusahaan yang telah berlangsung sejak Senin (14/12/2020) dini hari. Yang selanjutnya berubah jadi amuk.

Amuk buruh dipicu persoalan tenaga kerja. Di antaranya: puluhan buruh yang sudah bekerja lebih dari 2 tahun masih berstatus PKWT alias belum diangkat jadi karyawan tetap.

Hal lain, pesangon buruh yang di PHK belum dibayar. Serta banyaknya warga lokal yang sudah mengajukan lamaran kerja namun beum diangkat jadi karyawan.

Akis buruh ini tergabung dalam Serikat dan Perlindungan Tenaga Kerja (SPTK) Kabupaten Konawe dan Dewan Pengurus Wilayah Federasi Kesatuan Serikat Pekerja Nasional (DPW F-KSPN) Sultra.

Untuk mengatasi amuk buruh sebanyak tiga Satuan Setingkat Kompi (SSK) Brimob, satu SSK Dalmas Polres Konawe, 100 personel Yonif 725/Woroagi dan 50 anggota Kodim/1417 Kendari dikerahkan untuk membantu pengamanan pasca pembakaran.

***

PT Virtue Dragon Nikel Industry atau VDNI merupakan salah satu pemegang izin usaha pertambangan khusus. Perusahaan ini berinvestasi 1,4 miliar dollar AS atau sekitar Rp 19,6 triliun. Investasi diwujudkan dalam bentuk pabrik dengan 15 tungku berteknologi RKEF (Rotary Kiln-Electric Furnance (RKEF).

Kapasitas produksi smelter sebanyak 600.000 – 800.000 ton nickel pig iron per tahun dengan kadar nikel 10-12 persen, menjadikannya sebagai smelter nikel terbesar di Indonesia. Sampai dengan akhir 2018, PT VDNI telah berkontribusi 142,2 juta dollar AS terhadap ekspor RI.

PT VDNI berdiri sejak tahun 2014 merupakan anak perusahaan Jiangsu Delong Nickel Industry Co., Ltd. Jiangsu Delong Nickel Industry Co., Ltd merupakan perusahaan terkemuka dalam bidang ferronickel.

Di Indonesia, VDNI berkantor di Tower 1 lantai 31, Gedung BEI, Jakarta. Pada tahun 2017, perusahaan melakukan ekspor feronikel pertamanya sebanyak 7733 MT ke Chenjiagang, China.

Perusahaan milik investor asal China itu mulai beroperasi di Morosi sejak tahun 2014 dan memulai membangun smelter sejak 2017 lalu dengan luas lahan 2.253 hektar dan mempekerjakan 10 ribu tenaga kerja.

Peresmian smelter nikel ini dilakukan oleh Airlangga Hartarto Menteri Perindustrian pada tanggal 25 Pebruari 2019.

Kawasan Mega Industri Morosi, Konawe -lokasi VDNI – merupakan bagian dari proyek strategis nasional sebagaimana diamanatkan dalam Perpres Nomor 58 Tahun 2017 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional.

Kawasan Industri Konawe tersebut untuk industri feronikel, serta diperkirakan akan membutuhkan tenaga kerja sebanyak 18.200 tenaga kerja.

Sejak kehadirannya VDNI terus memicu gelombang masalah. Mulai dari persoalan TKA, pengelolaan limbah B3, kecelakaan kerja dan lain sebagainya.

***

LAPORAN Kumparan Bisnis pada 1 Juli 2020 menguraikan, PT VDNI, dengan suntikan awal dari China First Heavy Industries—perusahaan milik pemerintah China—menggelontorkan dana US$ 6 miliar atau Rp 86 triliun untuk berinvestasi di Konawe. Ia menguasai 2.253 hektare lahan di kabupaten itu, dan berambisi membangun smelter—pabrik peleburan bijih tambang—terbesar di Indonesia.

Indonesia sendiri merupakan negara pengekspor nikel terbesar di dunia yang menguasai 20 persen lebih dari total ekspor nikel dunia. Indonesia juga salah satu pemilik cadangan bijih nikel terbesar di dunia. Di Sulawesi, penambangan nikel telah dimulai sejak 1934 oleh pemerintah kolonial Belanda.

Dan kenapa nikel penting? Karena ia jenis logam yang kerap disebut sebagai “the mother of industry” atau tulang punggung bagi berbagai industri lain seperti otomotif, konstruksi, baterai, sampai pembuatan baja antikarat (stainless steel).

Presiden Direktur Virtue Dragon Nickel Industry, Andrew Zhu Mingdong, baru berumur 27 tahun ketika tiba di Indonesia pada 2014. Usia yang amat muda untuk menduduki pucuk jabatan di perusahaan tambang ambisius.

PT Virtue Dragon Nickel Industry ialah cabang perusahaan Jiangsu Delong Nickel Co., Ltd., produsen logam China yang didirikan Dai Guofang, mertua Zhu—pengusaha baja kawakan di China yang pernah dipenjara akibat penggelapan pajak dan pembelian tanah ilegal, yang menurut Zhu lebih karena permainan politik.

Meski sempat dibui, kiprah Dai Guofang di industri nikel dan baja tak redup. Setelah bebas, ia mendirikan Jiangsu Delong Nickel Co., Ltd. pada 2010 dan menggaet menantunya, Andrew Zhu, untuk mengamankan bisnis perusahaan di Indonesia.

Desember 2016, kepada Nikkei Asian Review di Jakarta, Zhu membeberkan targetnya untuk mencapai kapasitas produksi nickel pig iron 600.000 ton di Indonesia pada akhir 2017.

Nickel pig iron (NPI) ialah feronikel (campuran besi dan nikel) berkadar rendah sebagai alternatif lebih murah dari feronikel berkadar tinggi yang biasa digunakan dalam pembuatan stainless steel. NPI pertama kali diproduksi di China pada 2005.

Untuk memproduksi NPI, China mengimpor bijih nikel dalam jumlah besar dari Indonesia. Masalah kemudian muncul pada 2014 ketika Indonesia melarang ekspor bijih mentah kecuali perusahaan terkait bersedia mengolah tambang dalam jumlah tertentu di Indonesia—dan dengan demikian membangun industri manufaktur di dalam negeri.

Larangan ekspor bijih tambang itulah yang membuat Andrew Zhu datang ke Jakarta dengan tergesa-gesa, sebab kebijakan tersebut mengancam keberlangsungan impor nikel oleh Jiangsu Delong Nickel Co., Ltd., perusahaan keluarganya.

Maka, untuk memenuhi syarat yang diberikan pemerintah RI—mengolah tambang dalam jumlah tertentu di Indonesia—Delong mendirikan anak usaha di Indonesia di bawah bendera Virtue Dragon Nickel Industry dan membangun pabrik pengolahan bijih tambang besar di Konawe.

Masih dalam wawancara dengan Nikkei Asian Review, Zhu juga menyinggung rencana perusahaannya menyaingi Tsingshan Holding Group Co., Ltd.—sesama produsen stainless steel asal China—yang berniat memproduksi 900.000 ton NPI pada 2017.

“Kami (Jiangsu Delong Nickel Co., Ltd. dan Tsingshan Holding Group Co., Ltd.) adalah dua pemain besar di pasar nikel China,” kata Zhu.

Delong—atau Virtue Dragon—dan Tsingshan sama-sama membangun smelter di Sulawesi. Virtue Dragon menempati Kawasan Industri Konawe di Sulawesi Tenggara, sementara Tsingshan menempati Kawasan Industri Morowali di Sulawesi Tengah.

Virtue Dragon kemudian mendirikan anak-anak usaha di bumi Celebes. Beberapa di antaranya PT Obsidian Stainless Steel yang mengolah feronikel menjadi stainless steel dan PT Pelabuhan Muara Sampara yang mengelola aktivitas bongkar muat di dermaga kawasan industri—dan sempat bermasalah karena diduga mengeruk pasir laut tanpa izin reklamasi.

Bukan hanya PT Muara Sampara yang tersandung bermasalah, tapi juga PT Obsidian Stainless Steel. Juli 2019, Kompas.com melansir tim penyidik Polda Sulawesi Tenggara dan Mabes Polri menyegel seratusan alat berat PT OSS atas dugaan penambangan di kawasan hutan produksi tanpa mengantongi Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan. PT OSS kemudian menegaskan mendukung penyidikan aparat sambil melakukan penyelidikan internal.

Investasi asing, sehebat apapun, selalu saja memunculkan dua sisi mata uang. Demikianlah yang terjadi di Morosi.

*) Erwin Usman adalah Founder IMES dan Presidium Nasional PENA ’98

Sumber: sultrademo.co

Read More

Dukung Kinerja Smelter Nikel, Menperin Imbau Perusahaan-Karyawan Bangun Dialog

NIKEL.CO.ID – Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyayangkan kejadian pembakaran smelter nikel PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) di Konawe, Sulawesi Utara. Pasalnya, industri nikel sangat penting bagi hilirisasi industri dan penguatan struktur industri.

“Saya sangat menyesalkan terjadinya pembakaran pabrik Virtue Dragon Nickel Industry. Saat ini pemerintah sedang bekerja keras membawa investasi ke Indonesia yang mampu menyediakan lapangan pekerjaan dan lapangan usaha bagi masyarakat,” ujar Menperin di Jakarta, Selasa (15/12/2020) malam.

Menurutnya, pembakaran fasilias industri merupakan tindakan yang tidak perlu dilakukan, karena perusahaan dan karyawan bisa melakukan dialog untuk mencapai jalan keluar dari masalah yang dihadapi. Menperin mengimbau pekerja untuk menahan diri, dan membuka ruang dialog dengan pihak manajemen untuk menyelesaikan segala isu secara transparan agar kejadian ini tidak terulang kembali.

“Sebaliknya, saya juga meminta perusahaan untuk mematuhi seluruh peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia, termasuk memastikan pemenuhan hak para pekerja,” katanya memastikan.

Menperin juga meminta kepada pemerintah Kabupaten Konawe untuk segera memfasilitasi mediasi untuk semua pihak terkait dengan sebaik-baiknya, dan kepada aparat keamanan untuk menindak tegas pihak-pihak yang melakukan tindakan anarkis.

“Sekali lagi, pemerintah meminta kepada semua pihak agar bersama-sama menjaga situasi yang kondusif dan tidak memperburuk keadaan, guna menjaga iklim investasi yang sejuk di Kabupaten Konawe,” tegasnya.

Kemenperin memberikan apresiasi kepada PT VDNI yang telah merealisasikan investasinya sebesar USD1miliar untuk membangun 15 tungku Rotary Kiln-Electric Furnace (RKEF) dengan total kapasitas produksi mencapai 800 ribu metrik ton per tahun untuk menghasilkan Nickel Pig Iron (NPI) yang memiliki kadar nikel 10-12 persen.

Proyek tersebut akan dilanjutkan menjadi industri yang terintegrasi dan menghasilkan stainless steel berkelas dunia. PT VDNI telah memberikan kontribusi cukup signfikan terhadap pertumbuhan nilai ekspor nasional, yang menyumbang sebesar USD142,2 juta hingga akhir tahun 2018 dari pengapalan produk NPI.

Selain itu, proyek ini telah menyerap tenaga kerja sebanyak 6 ribu orang yang sebagian besar merupakan warga asli Sulawesi Tenggara. Perkembangan perusahaan tersebut juga menciptakan multiplier effect yang membuka peluang kerja bagi sekitar 10.000 tenaga kerja tidak langsung.

Fasilitas smelter dengan luas area 700 hektare tersebut menjadi salah satu fasilitas pemurnian bijih nikel terbesar di Indonesia. PT VDNI adalah anak perusahaan Jiangsu Delong Nickel Industry Co., Ltd yang merupakan produsen feronikel terkemuka di dunia.

Bahkan, perusahaan afiliasi PT VDNI, sedang membangun pabrik smelter nikel dengan kapasitas produksi NPI sebanyak 1,2 juta ton per tahun dan pabrik untuk memproduksi stainless steel dengan kapasitas sebanyak 3 juta ton per tahun. Total nilai investasi ini diperkirakan mencapai USD2 miliar. Dengan diproduksinya stainless steel di PT VDNI sangat sesuai dengan program hilirisasi smelter di Indonesia yang sedang di dorong terus oleh Kementerian Perindustrian.

Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) juga mencatat, industri smelter telah membuktikan kontribusinya secara signifikan bagi perekonomian nasional. Sepanjang tahun 2019, ekspornya menembus USD7 miliar. Sedangkan tahun ini diproyeksi menembus USD8-10 miliar. Selain bermanfaat terhadap penerimaan devisa negara, industri nikel di tanah air juga berkontribusi mengurangi defisit neraca perdagangan. Hingga saat ini, investasi di sektor ini mencapai USD15-16 miliar.

Sumber: Siaran Pers Kemenperin

Read More

Petugas Pengamanan Brutal Lempari Aksi Buruh Pabrik Nikel PT. VDNI Dengan Batu, Dibalas Pembakaran Alat Berat

NIKEL.CO.ID – Aksi brutal terjadi di kawasan industri pertambangan PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) Morosi, Konawe, Sulawesi Tenggara. Buruh dengan petugas keamanan pabrik terlibat aksi lempar batu.

Dalam aksi brutal tersebut, dua unit alat berat dan satu dump truk dibakar massa. Pos pengamanan yang ada di depan pintu masuk kawasan industri tersebut juga hancur dirusak massa .

Kemarahan buruh ini dipicu oleh aksi brutal para petugas pengamanan, yang melempari buruh untuk membubarkan aksi mereka. Para buruh menggelar aksi menuntut kenaikan upah, dan menetapkan karyawan kontrak sebagai karyawan tetap.

Kapolres Konawe, AKBP Yudi Kristanto menjelaskan, telah mengupayakan negosiasi kepada para buruh untuk melakukan dialog agar tidak terjadi bentrok , namun upaya itu terkendalan lemahnya data yang dimiliki para buruh.

Proses negoisasi yang menemui jalan buntu tersebut, akhirnya berujung bentrokan antara buruh dengan karyawan dan petugas keamanan kawasan industri yang merasa terganggu oleh adanya aksi demonstrasi para buruh.

“Kami masih bersiaga di kawasan industri ini, untuk mengantisipasi adanya aksi bentrokan susulan. Berbagai upaya negoisasi terus kami lakukan, untuk menghindari terjadinya aksi brutal,” tegasnya.

Sumber: sindonews.com

Read More

Demo Buruh Di Perusahaan Nikel PT VDNI Rusuh, Sejumlah Fasilitas Dibakar

NIKEL.CO.ID – Aksi unjuk rasa buruh perusahaan nikel milik PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) di Kecamatan Morosi, Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra) berujung anarkis, Senin (14/12/2020).

Massa berhasil masuk dalam perusahaan setelah terlibat bentrok dengan petugas keamanan perusahaan.

Akibatnya, pos keamanan perusahaan hancur dilempar para buruh. Tak hanya itu, sejumlah dump truk, excavator dan puluhan motor serta bangunan dibakar massa.

Para buruh yang tergabung dalam Serikat dan Perlindungan Tenaga Kerja (SPTK) Kabupaten Konawe kecewa lantaran tuntutan mereka untuk dinaikkan menjadi karyawan tetap dan kenaikan gaji tak disahut pihak perusahaan.

Aksi berlangsung hingga malam dan belum menemui solusi. Hingga Senin malam massa buruh masih bertahan di pabrik smelter asal China itu.

Ketua SPTK Konawe Kasman Hasbur mengatakan, selama ini karyawan yang bekerja bertahun-tahun tidak diikat dengan perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT).

Bahkan, menurut dia, ada karyawan yang bekerja lebih dari 3 tahun statusnya belum menjadi pegawai tetap.

“Ketika ada yang bekerja dua sampai tiga tahun dicarikan masalah supaya keluar. Misalnya, ada yang sakit tapi keterangan sakitnya tidak dianggap, akhirnya dikeluarkan surat peringatan,” kata Kasman dikonfirmasi lewat telepon, Senin (14/12/2020).

Dari catatan pihaknya, ada sekitar 3 ribu karyawan yang kini menunggu kejelasan nasib. Kasman menjelaskan, tuntutan ini sudah pernah disampaikan secara langsung kepada pihak perusahaan pada aksi demonstrasi pertama 27 November 2020, namun perusahaan menolak tuntutan mereka.

“Rencananya, kami akan terus berdemo selama tiga hari ke depan. Jika tuntutan kami belum dipenuhi kami akan melakukan mogok kerja sampai tuntutan dipenuhi,” tegasnya.

Kabid Humas Polda Sultra Kombes Pol Ferry Walintuka mengatakan, untuk mengendalikan situasi keamanan di perusahaan itu, pihaknya telah menurunkan personel Brimob serta kendaraan taktis.

“Ada demo anarkis yang mengakibatkan terjadinya kebakaran untuk unit mobil dan pos jaga. Tapi untuk smelter saya belum dapat infonya,” ungkap Ferry dihubungi via telpon.

Sedangkan untuk kepastian total kerugian dari insiden kebakaran sejumlah fasilitas di lokasi, Ferry mengaku, belum mendapatkan data karena hingga malam tadi dirinya belum berhasil menghubungi Kapolres Konawe.

Bupati Konawe Kerry Konggoasa yang  turun langsung ke lokasi aksi berusaha menenangkan para buruh.

Dalam video yang beredar di media sosial, di hadapan para buruh, Kerry akan mencoba menyampaikan aspirasi para buruh ke pimpinan perusahaan.

Ia juga meminta kepada para buruh untuk membubarkan diri dan menunggu hasil pertemuan dengan pihak perusahaan nanti.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Demo Buruh Perusahaan Nikel PT VDNI di Konawe Rusuh, Sejumlah Fasilitas Dibakar

Read More

Wantannas Akan Lapor Ke Presiden Atas Penolakan Kunjungannya Ke PT. OSS dan VDNI

NIKEL.CO.ID – Kunjungan kerja yang dilakukan Dewan Ketahanan Nasional (Wantannas) Republik Indonesia ke Kabupaten Konawe tak hanya bertemu pihak Pemerintah Daerah Konawe, Sulawesi Tenggara, namun mereka bermaksud mengunjungi dua perusahaan mega industri yang ada di Kecamatan Morosi.

Kunjungan Wantannas kali ini bertujuan untuk mengetahui informasi terkait tata kelola nikel di Mega Industri PT Obsidian Stainless Steel (OSS) dan PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) untuk kepentingan rancangan strategis serta kebijakan dan langsung akan dilaporkan kepada Presiden RI.

Namun, bukannya mendapatkan sambutan, rombongan Wantannas malah ditolak masuk ke areal perusahaan.

Pembantu Deputi Bidang Urusan Lingkungan Alam, Dewan Ketahanan Nasional Republik Indonesia, Brigjen TNI Karev Marpaung, S.Sos, MM dalam wawancara dengan awak media merasa kecewa karena tidak diperbolehkan masuk ke dalam areal PT OSS maupun PT VDNI.

“Kunjungan ini untuk mengetahui tata kelola nikel, namun saat akan berkunjung kita tak dibolehkan masuk, entah alasan apa. Menurut informasi, katanya adanya kasus terkonfirmasi positif karyawan yang bekerja di dalam. Tapi kami kan terapkan protokol kesehatan dan jumlah kami juga tidak banyak,” cetusnya, Rabu (25/11/2020).

Ia menambahkan, hasil yang diharapkan dari kunjungan di dua perusahaan ini adalah dalam rangka mewujudkan dan mendorong terwujudnya ketahanan nasional khususnya di bidang ketahanan mineral dan energi.

“Kita tahu nikel itu bisa jadi pengganti baterai lithium. Itu bisa jadi pengganti energi,” ungkapnya.

Terkesan tak menghargai Lembaga Negara yang diketuai Presiden Jokowi itu, pihak Wantannas akan melaporkan penolakan PT OSS dan PT VDNI ke Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo.

Sumber: telisik.id

Read More

Klaster Covid-19 di Kawasan Industri Nikel Konawe Semakin Meluas. Pihak Perusahaan Bungkam

NIKEL.CO.ID –  Klaster penyebaran Covid-19 di kalangan pekerja asing di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, terus meluas. Satu pekan terakhir, jumlah pekerja asing yang diketahui positif sebanyak 12 orang, dengan satu orang meninggal. Meski demikian, perusahaan seakan menutupi data dan tidak melaporkan hal ini ke instansi terkait.

Data Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sulawesi Tenggara, hingga Minggu (22/11/2020), total orang asing positif Covid-19 sebanyak 12 orang. Pekerja yang diketahui positif ini terdata berkala dari Konawe, di mana satu orang di antaranya meninggal.

”Terakhir di data kami itu ada 5 orang (pekerja asing) yang positif Covid-19 pada Kamis (18/11). Rabu sebelumnya ada 2 orang, Senin 3 orang, dan Sabtu pekan lalu itu 2 orang sehingga totalnya 12 orang. Yang hari Sabtu pekan lalu itu satu orang di antaranya meninggal,” kata Jubir GTPP Covid-19 Sultra dr La Ode Rabiul Awal, di Kendari.

Menurut Rabiul, pihaknya baru bisa memastikan lima dari 12 orang ini merupakan warga negara asing. Dalam pemeriksaan di RS Bahteramas Kendari, lima orang yang diperiksa lebih awal tersebut menggunakan nomor paspor dalam identitas, sementara tujuh orang lainnya tidak diketahui pemeriksaannya di mana.

Rabiul menuturkan, kemungkinan tujuh orang itu diperiksa di alat mobile PCR yang ada di perusahaan.

”Kalau lihat namanya, semuanya nama-nama China. Informasi yang kami terima mereka semua bekerja di Morosi,” ujarnya.

Morosi adalah kecamatan di Konawe, lokasi pabrik pengolahan dan pemurnian nikel skala besar berdiri.

Terus bertambahnya orang asing yang positif Covid-19 ini, kata Rabiul, menunjukkan adanya kluster penyebaran baru di kawasan industri. Transmisi lokal terjadi di antara pekerja tersebut.

Dengan demikian, penelusuran kasus wajib dilakukan untuk memutus rantai penyebaran virus di antara para pekerja.

Saat ini, ia menambahkan, satu mobil dengan alat tes reaksi berantai polimerase (PCR) telah dikerahkan ke perusahaan tempat pekerja tersebut. Alat tersebut didatangkan untuk membantu pengetesan spesimen terhadap kontak erat pekerja yang positif di wilayah industri tersebut.

Meski telah terdata lebih dari satu pekan dan satu orang meninggal, data pekerja asing yang positif Covid-19 belum diketahui lengkap oleh instansi setempat. Juru Bicara GTPP Covid-19 Konawe dr Dyah Nilasari menuturkan, pihaknya belum mendapatkan data lengkap pekerja asing yang terpapar Covid-19 di kawasan industri Morosi.

”Kami hubungi orang perusahaan jawabnya tidak tahu, tidak tahu. Datanya juga tidak disampaikan ke kami. Jadi, kami juga kesulitan mengakses informasi pekerja asing yang positif Covid-19 di daerah tersebut,” tutur Nila.

Sejauh ini, ia menambahkan, pihaknya baru mengetahui tujuh pekerja asal China yang positif di kawasan industri Morosi. Data itu pun disampaikan oleh tim gugus tugas Provinsi Sultra. Sementara itu, data perusahaan tidak juga disampaikan.

Senin sampai Rabu kemarin mobil tes PCR sudah dikirimkan ke Morosi.

Ia berharap perusahaan bisa terbuka terhadap data pekerja yang positif Covid-19. Dengan demikian, penelusuran kasus bisa lebih mudah dilakukan, baik terhadap pekerja asing lainnya maupun pekerja lokal yang berada di kawasan tersebut.

”Senin sampai Rabu kemarin, mobil tes PCR sudah dikirimkan ke Morosi. Hari ini kembali lagi ke sana. Untuk jumlah yang sudah diambil spesimen dan dites, kami belum dapat informasi lengkapnya,” ujar Nila.

Di kawasan industri Morosi terdapat dua perusahaan pengolahan dan pemurnian nikel, yaitu PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) dan PT Obsidian Stainless Steel (OSS). Dua perusahaan ini sebelumnya mendatangkan 500 pekerja asal China sejak Juni hingga September lalu.

Sementara itu, pihak perusahaan belum berkomentar terkait kluster penyebaran Covid-19 di kawasan industri tersebut. Juru Bicara PT VDNI dan PT OSS Dyah Fadilat tidak membalas pesan dan tidak mengangkat telepon dari Kompas.

Pada Kamis (18/11/2020), Dyah menjelaskan, pihaknya mengetahui hanya ada satu pekerja asing yang positif Covid-19. Pekerja yang bertugas sebagai subkontraktor itu adalah orang yang meninggal setelah dirawat di RSUD Bahteramas Kendari, Sabtu pekan lalu.

”Dari kami hanya mengetahui informasi mengenai satu pekerja asing yang bekerja sebagai subkontraktor di perusahaan kami. Selebihnya bisa dikonfirmasi kembali ke RS ataupun Gugus Tugas,” ucapnya melalui pesan pendek.

Menurut Dyah, pekerja itu berasal dari Shandong, China, dan sudah berada di Kawasan Industri Morosi sejak awal Januari lalu. Ia bekerja di kawasan PLTU dan tidak pernah meninggalkan kawasan pabrik karena tinggal di asrama karyawan milik PT OSS.

Dyah menambahkan, pihak kontraktor yang mempekerjakan tenaga kerja asing untuk PT OSS tersebut berinisiatif memperketat sistem kerja dan melakukan tes massal kepada seluruh pekerjanya sejak 14 November.

”Perusahaan akan terus mengawal kasus ini dan melakukan sterilisasi kawasan industri. Salah satunya mencegah karyawan atau pekerja harian lepas yang tidak tinggal di dalam asrama masuk ke area kawasan industri untuk sementara waktu,” tuturnya.

Sumber: Kompas.id

Read More

Tujuh Pekerja Asing di Smelter Nikel Positif Covid-19, Satu Orang Meninggal

NIKEL.CO.ID – Tujuh tenaga kerja asing di kawasan industri Konawe, Sulawesi Tenggara, positif Covid-19. Seorang di antaranya bahkan meninggal. Pemerintah Kabupaten Konawe mengatakan belum mengetahui kasus positif dan meninggal ini.

Tujuh pekerja itu diketahui bekerja di daerah industri Morosi, Konawe. Seorang pekerja yang meninggal bekerja di industri smelter. Hal ini menambah banyak kasus positif Covid-19 di Sulawesi Tenggara (Sultra). Hingga Rabu (18/11/2020), terdapat total 5.827 kasus positif dan 91 orang meninggal. Sebanyak 1.239 orang masih dalam perawatan, sedangkan 4.497 orang sembuh.

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sulawesi Tenggara La Ode Rabiul Awal menyampaikan, tujuh orang ini masuk ke data tabulasi Covid-19 dalam beberapa waktu yang berbeda. Dua orang tercatat pada Sabtu pekan lalu, sedangkan lima orang lainnya terdata pada pekan ini.

”Semuanya tercatat di Konawe. Berdasarkan penelusuran kami, mereka bekerja di Morosi. Kalau melihat nama, semuanya adalah nama luar, seperti China. Namun, kami tidak memiliki dokumen untuk memastikan domisili tepatnya setiap orang tersebut,” tutur Rabiul, di Kendari, Sultra, Kamis (19/11).

Beberapa dari pekerja asing ini, tutur Rabiul, dirawat di sejumlah rumah sakit. Sebagian dari mereka juga menjalani karantina mandiri karena termasuk pasien tanpa gejala. Tiga orang sebelumnya diketahui dirawat di RSUD Bahteramas Kendari.

Kepala Bidang Pelayanan RSUD Bahteramas dr Alghazali Amirullah menjelaskan, tiga pekerja asal China ini masuk ke rumah sakit pada Jumat (13/11). Seorang terluka dan harus dioperasi, seorang tanpa gejala, dan seorang lainnya harus menjalani perawatan maksimal.

”Kondisi seorang yang menjalani perawatan terus turun. Pasien sesak dan pneumonia. Saturasi oksigennya hanya 50 persen. Setelah beberapa jam perawatan, kondisinya tidak tertolong dan akhirnya meninggal pada Jumat dini hari,” tutur Alghazali.

Setelah dipastikan meninggal, tambahnya, pihak rumah sakit lalu melakukan pemulasaran jenazah dengan protokol kesehatan. Namun, jenazah tidak dimakamkan di Kendari, tetapi diurus kedutaan dari negara yang bersangkutan. ”Setahu saya tidak dimakamkan di sini karena diambil alih kedubes. Kami hanya sampai pemulasaran,” katanya.

Algazali melanjutkan, untuk dua pekerja lainnya yang juga positif Covid-19, seorang masih dalam perawatan di ruang isolasi RS Bahteramas. Kondisi kesehatannya masih dipantau petugas kesehatan, sedangkan seorang pekerja lainnya dipulangkan untuk menjalani isolasi mandiri karena positif Covid-19 dengan kondisi tanpa gejala.

Pekerja asing di Konawe sebagian besar tercatat di dua perusahaan dalam kawasan mega-industri pengolahan nikel di Morosi. Dua perusahaan ini, yaitu PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) dan PT Obsidian Stainless Steel (OSS), adalah perusahaan yang mendatangkan 500 pekerja asal China, beberapa waktu lalu.

Juru Bicara PT VDNI dan PT OSS Dyah Fadilat menyebutkan, sejauh ini, pihaknya hanya mengetahui seorang pekerja asing positif Covid-19. Pekerja yang bertugas sebagai subkontraktor itu adalah orang yang meninggal setelah dirawat di RSUD Bahteramas Kendari.

Menurut Dyah, pekerja itu berasal dari Shandong, China, dan sudah berada di Kawasan Industri Morosi, Konawe, sejak awal Januari lalu. Ia bekerja di kawasan PLTU dan tidak pernah meninggalkan kawasan pabrik karena tinggal di asrama karyawan milik PT OSS.

Hasil tes PCR-nya diketahui positif virus SARS-CoV-2. Oleh karena itu, penanganan jenazah oleh RS Bahteramas dilakukan mengikuti protokol Covid-19. Jenazah kemudian langsung dikremasi pada 13 November 2020, sore

Dyah mengatakan, pekerja ini sebelumnya merasakan sakit hingga jatuh dari tempat tidur saat berada di asrama perusahaan. Pihak perusahaan lalu membawa pekerja tersebut ke RSAD Ismoyo, Kendari, untuk menjalani perawatan.

Sesuai protokol yang berlaku, perawat melakukan tes uji cepat ke pekerja tersebut. Saat itu, hasilnya nonreaktif. Ia lalu diberikan bantuan oksigen dan pernapasan, hingga dirujuk ke RSUD Bahteramas yang memiliki peralatan lebih lengkap.

Di RSUD Bahteramas, dia lantas dites PCR atau polymerase chain reaction pada Jumat dini hari. Namun, pekerja ini meninggal pada Jumat, sekitar pukul 04.05 Wita. Menurut keterangan dokter, penyebab kematian adalah penyempitan pembuluh darah di otak.

”Hasil tes PCR-nya diketahui positif virus SARS-CoV-2. Oleh karena itu, penanganan jenazah oleh RS Bahteramas dilakukan mengikuti protokol Covid-19. Jenazah kemudian langsung dikremasi pada 13 November 2020, sore,” ucap Dyah.

Dyah menambahkan, pihak kontraktor yang mempekerjakan tenaga kerja asing untuk PT OSS tersebut berinisiatif memperketat sistem kerja dan melakukan tes massal kepada seluruh pekerjanya sejak tanggal 14 November 2020.

”Perusahaan akan terus mengawal kasus ini dan melakukan sterilisasi kawasan industri. Salah satunya mencegah karyawan atau pekerja harian lepas yang tidak tinggal di dalam asrama masuk ke area kawasan industri untuk sementara waktu,” ungkap Dyah.

Selain itu, ia menambahkan, perusahaan memutuskan membatasi aktivitas karyawan yang tidak tinggal di dalam asrama. Hal ini akan berlaku hingga tes massal kepada seluruh pekerja selesai dilakukan dan hasilnya dipastikan aman untuk beraktivitas normal kembali.

Keterbukaan

Meski tenaga kerja asing itu telah meninggal lebih dari sCOVIDepekan, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Konawe justru tidak mengetahuinya. Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Konawe dr Dyah Nilasari menyampaikan, pihaknya masih mencari informasi terkait hal ini.

”Sejak kemarin, Pak Sekda (Konawe) juga tanya hal ini. Kami masih mencari informasi karena tidak ada laporan yang masuk dari perusahaan,” ucap Nila, Rabu sore.

Menurut Nila, ia hanya mengetahui sejumlah pekerja lokal yang positif Covid-19 pada Oktober lalu. Namun, para pekerja tersebut diketahui sembuh dan mulai bekerja kembali.

Rabiul menyampaikan, pelaporan dan keterbukaan informasi terkait hal ini penting guna mencegah penyebaran virus semakin meluas. Penelusuran kasus harus segera dilakukan dengan protokol ketat. ”Perusahaan harus segera melaporkan hal ini agar penelusuran bisa dilakukan bersama,” ujarnya.

Sumber: KOMPAS.ID

Read More

Diduga Edarkan Sabu, Polda Sultra Tangkap Tiga Karyawan VDNI

NIKEL.CO.ID – Tim Operasional Subdit 2 Direktorat Reserse dan Narkoba (Ditresnarkoba) Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tenggara membekuk tiga karyawan tambang nikel PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) Kecamatan Morosi Kabupaten Konawe Sultra, diduga mengedarkan narkotika golongan I jenis sabu-sabu.

Direktur Reserse Narkoba (Dirresnarkoba) Polda Sultra Kombes Pol Muhammad Eka Faturrahman, mengungkapkan ketiga tersangka, yakni FM (34) FP (26) dan A (26). Dari ketiga tersangka dua ditangkap di indekos Desa Puruy dan satu di mess China area pertambangan PT VDNI pada Sabtu (3/10) pukul 14.30 Wita.

“Ketiga tersangka bekerja sebagai driver dump truck PT VDNI. Total barang bukti (yang disita) 11 paket (narkotika jenis sabu) berat 5,03 gram,” kata Kombes Eka melalui rilis Ditresnarkoba Polda Sultra, Ahad.

Kombes Eka menjelaskan, penangkapan ketiga tersangka berawal dari adanya laporan masyarakat, bahwa di TKP sering terjadi transaksi Narkotika jenis Sabu.

“Selanjutnya tim langsung melakukan penangkapan terhadap tersangka FM dan satu orang temannya FP di rumah kostnya Kost 98 Kamar Nomor 32. Sast dilakukan penggeledahan, tim berhasil menemukan dua paket narkotika jenis sabu dalam penguasaan FM,” jelas Kombes Eka.

Kata Kombes Eka, dari keterangan kedua tersangka, mengaku masih menyimpan sabu sebanyak dua paket di rumah indekos tersangka FP. Kemudian tim melakukan penggeledahan, ternyata benar pihaknya berhasil menemukan sabu sebanyak dua paket disimpan dalam dompet tersangka FP.

“Dari hasil interogasi, bahwa tersangka FM juga telah memberikan Narkotika jenis sabu sebanyak 5 gram kepada temannya tersangka A. Kemudian tim melakukan pengembangan dan berhasil melakukan penangkapan terhadap A yang berada di mess Blok 33 Kamar 3, dan berhasil menemukan tujuh paket narkotika jenis sabu,” tutur Kombes Eka.

Dari tiga TKP, aparat berhasil menyita 5,03 gram narkotika jenis sabu dengan rincian TKP pertama di kamar indekos 98 kamar Nomor 32 Desa Puruy dengan BB 1,59 gram, kemudian TKP kedua indekos Hijau Desa Puruy dengan BB 1.28 gram sabu-sabu, selanjutnya TKP ketiga di Mess China Blok 33 Kamar 3 dengan BB tujuh paket narkotika jenis sabu berat brutto 2.16 gram.

“Modus operandi tersangka mengedarkan narkotika jenis sabu dengan cara sebelumnya memperoleh narkotika jenis sabu dari temannya yang merupakan jaringan bandar di Kota Kendari, kemudian melakukan penjualan kepada para pemakai di Kecamatan Morosi,” ujar Kombes Eka.

Saat ini ketiga tersangka dan barang bukti berada di Mako Ditresnarkoba Polda Sultra untuk dilakukan penyidikan dan pengembangan lebih lanjut. Ketiga dijerat pasal 132 juncto pasal 114 ayat 1 subsider Pasal 112 ayat 1 Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman penjara maksimal 20 tahun penjara dan denda paling banyak Rp10 miliar.

Sumber: ANTARA

Read More