Progres Pembangunan Smelter Baru Mencapai 5%, Menteri ESDM Tegur Freeport

NIKEL.CO.ID – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menyampaikan progres pembangunan smelter atau pemurnian mineral PT Freeport Indonesia. Secara rinci, progress pembangunan smelter yang digarap Freeport baru mencapai 5,86 persen.

Dengan rencana penyelesaian proyek tahun 2023 mendatang, progres ini masih jauh dari harapan. Oleh karenanya, Arifin mengaku pihaknya telah memberikan surat teguran kepada PT FI untuk mempercepat pembangunan smelternya.

“Evaluasi kami terhadap pembangunan smelter PTFI, telah disampaikan surat teguran atas terlambatnya konstruksi pembangunan fasiltias pemurnian PT FI tersebut,” ujar Arifin dalam rapat bersama Komisi VII DPR RI, Senin (23/11/2020).

Surat Teguran tersebut diterbitkan Direktur Jenderal Minerba kepada PT Freeport Indonesia (PTFI) pada tanggal30 September 2020 No. 1197/36/DJB/2020 dengan perihal Surat Teguran Terlambatnya Konstruksi Pembangunan Fasilitas Pemurnian PT Freeport Indonesia.

Adapun isi surat teguran tersebut merujuk agar pelaksanaan pilling test dan pile load test dipercepat dan dapat dilaksanakan paling lambat akhir Oktober 2020. PT FI juga diminta untuk segera menyampaikan time line untuk pelaksanaan kegiatan pilling test dan pile load test.

Atas Surat Teguran tersebut, PT FI memberikan tanggapan melalui surat nomor 508/OPD-PTFI/IX/2020 tanggal 30September 2020 yang menyampaikan bahwa pilling test dan pile load test akan mengalami keterlambatan dari yang semula direncanaan pada akhir bulan September 2020, namun baru dapat dilakukan pada awal November 2020.

Kemudian, PT FI kembali menyampaikan surat nomor 516/OPD-PTFI/XI/2020 tanggal 11 November 2020 perihal jawaban surat teguran terlambatnya kegiatan konstruksi pembangunan fasilitas pemurnian PT FI.

Isinya, PT Freeport Indonesia sudah memberikan Notice to Proceed ke Chiyoda untuk melakukan pekerjaan test pilling. Kemudian, Chiyoda sudah mulai melakukan pengadaan dan mobilisasi peralatan serta pekerja ke Gresik.

“Kegiatan fisik test pile drive di area prioritas pembangunan smelter baru dapat dilakukan pada akhir November 2020,” kata Arifin.

Smelter Freeport di Gresik Bakal Jadi Pengolahan Tembaga Terbesar di Dunia

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita meninjau lokasi pembangunan smelter atau fasilitas pemurnian PT Freeport Indonesia di kawasan industri Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE) Gresik, Jawa Timur.

“Banyak produk hilirisasi yang bisa dikejar, agar nantinya di Indonesia bisa ada pabrik-pabrik yang akan menggunakan hasil pemurnian dari Freeport. Nilai tambahnya bisa terus didorong,” kata Agus, dikutip dari laman Kemenperin.go.id, Minggu (11/10/2020).

Menurutnya, PT Freeport Indonesia merupakan perusahaan tambang afiliasi dari Freeport-McMoran dan holding industri pertambangan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Mining Industry Indonesia (MIND ID).

“Perusahaan tersebut sedang membangun pemurnian tembaga sebagai bahan baku industri otomotif, industri elektronik, kabel, pabrik AC, konstruksi instalasi listrik hingga electric vehicle,” kata Agus.

Proyek smelter PT Freeport Indonesia di kawasan industri JIIPE Gresik, Jawa Timur itu dibangun di lahan 100 hektare, serta supporting area seluas 120 hektare. Fasilitas pemurnian untuk meningkatkan kandungan logam tersebut diproyeksikan akan menjadi tempat pengolahan tembaga terbesar di dunia.

“Namun, saat ini MIND ID sebagai holding industri pertambangan BUMN, menginformasikan bahwa pembangunan smelter tengah mengalami kendala akibat dampak pandemi Covid-19 terhadap mobilitas kontraktor di lapangan,” ujarnya.

Dalam kunjungan ke lokasi smelter tersebut, Menperin diterima langsung oleh dan Direktur Utama PT. Freeport Indonesia Clayton Allen Wenas.

Kawasan Terintegrasi Pertama di Indonesia

Dalam kesempatan yang sama Direktur Utama PT Berkah Kawasan Manyar Sejahtera (BMKS) Bambang Soetiono, mengatakan JIIPE adalah kawasan terintegrasi pertama di Indonesia dengan total area 3.000 hektare, yang terdiri dari kawasan industri, pelabuhan multiguna, area komersial dan perumahan.

“Selain dilengkapi dengan sarana prasaran utilitas yang cukup, Kawasan Industri JIIPE juga terintegrasi dengan pelabuhan berkedalaman -16 meter di bawah permukaan laut, sehingga kapal besar dengan kapasitas 100.000 DWT (dead weight tonnage) dapat melakukan bongkar muat di Pelabuhan JIIPE,” ujar Bambang.

Sekaligus guna medorong daya saing industri yang berlokasi di JIIPE, pemerintah juga sedang melakukan berbagai upaya, antara lain melakukan kajian usulan kawasan industri JIIPE ditetapkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), dan kajian usulan penurunan harga gas untuk power plant JIIPE, kata Bambang.

Menindaklanjuti kajian tersebut, Kemenperin telah melakukan pembahasan internal usulan penurunan harga gas untuk kawasan industri dengan usulan penurunan harga gas untuk industri yang lain.

Rencananya, di kawasan industri JIIPE sekaligus akan dikembangkan solar panel sebagai alternatif pasokan listrik dengan energi terbarukan. Solar panel akan dibangun secara floating di atas tujuh embung dan di atas atap pabrik. Untuk itu, Kemenperin terus berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga lain dalam rangka pelaksanaan rencana tersebut.

“Kemenperin terus berkoordinasi dengan Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) serta pihak-pihak terkait mengenai perizinan solar panel di JIIPE,” pungkas Agus.

Sumber: Liputan6

Read More

Setelah Nikel dan Batubara, Pemerintah Akan Genjot Hilirisasi Tembaga

Kebutuhan tembaga global saat ini sangat tinggi, terutama untuk produk elektronik dan konstruksi bangunan. Konsumsinya diperkirakan akan meningkat 14% pada 2025.

NIKEL.CO.ID – Pemerintah akan fokus menggenjot hilirisasi tembaga. Hal ini bertujuan untuk memberi nilai tambah komoditas tambang itu dan meningkatkan penerimaan negara.

Staf Khusus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bidang Tata Kelola Mineral dan Batubara, Irwandy Arif, mengatakan jika pertumbuhan pabrik pemurnian atau smelter tembaga di Asia sendiri cukup besar. Namun, hal itu tidak terjadi di Indonesia.

Saat ini baru dua smelter tembaga yang sudah berjalan. Untuk nikel jumlahnya sampai dengan 2018 ada 17 unit. “Konsep nilai tambah akan bergerak ke pengembangan industri hilir dan merangkak ke ketahanan nasional,” kata dia dalam webinar, Rabu (14/10).


Kebutuhan tembaga global saat ini sangat tinggi, terutama untuk produk elektronik dan konstruksi bangunan. Konsumsinya diperkirakan akan meningkat 14% pada 2025. Hal ini pun seiring dengan berkembangnya kendaraan listrik, baterai, dan energi terbarukan yang memakai tembaga.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Eko Budi Lelono menyampaikan rencana hilirisasi dan penambahan smelter akan mendorong pengembangan mobil listrik. Tak hanya nikel, electric vehicle (EV) juga memerlukan tembaga untuk pembuatan kabel.

“Jika dikaitkan dengan hilirisasi, tentunya ketahanan sumber daya dan cadangan tembaga perlu diperkuat,” kata dia.

Total sumberdaya bijih tembaga yang dimiliki Indonesia saat ini mencapai 15,1 miliar ton dengan cadangan bijih tembaga sebesar 2,6 miliar ton. Konsumsi tembaga dalam 15 tahun terakhir meningkat tapi cadangannya menurun. Karena itu, perlu upaya besar untuk meningkatkan cadangannya. Salah satunya dengan meningkatkan kegiatan ekplorasi.

Saat ini terdapat 97 lokasi cebakan atau galian tambang yang berpotensi memiliki sumber daya atau cadangan tembaga yang terletak di 17 provinsi di Indonesia. Cebakan tembaga tersebut berlokasi di hampir semua jalur busur magmatik Sunda Banda, Kalimantan, Sulawesi, Halmahera dan Papua.

Smelter Tembaga Freeport

Salah satu perusahaan yang berencana membangun smelter tembaga adalah PT Freeport Indonesia. Namun, operasional pabrik pemurnian mineral di Gresik, Jawa Timur itu kemungkinan tertunda satu tahun ke 2024 karena terdampak pandemi Covid-19.

Direktur Utama PT Freeport Indonesia Tony Wenas mengatakan, penundaan terpaksa dilakukan karena pandemi corona telah menghambat jalannya proyek.

“Kami belum dapat jawaban dari pemerintah ditolak atau diterima,” ujar dia dalam diskusi secara virtual pada awal September lalu.

Hambatan utamanya adalah kontraktor yang mengerjakan proyek tersebut terkena kebijakan pembatasan wilayah sehingga tidak bisa bekerja maksimal. Freeport memastikan pekerjaan visibility study, early work, dan front end engineering design (FEED) tetap berjalan.

Tony sebelumnya menyebut pembangunan smelter bukanlah proyek yang menguntungkan bagi perusahaan. Pasalnya, nilai tambah harga jual dari konsentrat tembaga menjadi katoda hanya 5%. Namun, pihaknya tetap berkomitmen untuk melanjutkan pembangunan proyek smelter sesuai Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang pertambangan mineral dan batu bara (minerba).

Artikel ini telah tayang di Katadata.co.id dengan judul “Tak Hanya Nikel, Pemerintah Akan Genjot Hilirisasi Tembaga

Read More

Tony Wenas: Masa Nikel Pig Iron Yang Nilai Tambahnya 4%-6% Sudah Dianggap Produk Akhir

Saat ini kata Tony, harga ore nikel untuk kadar 2% harganya US$ 50 per ton. Ongkos produksi masuk smelter US$ 10.000 per ton, sekarang harga produk nikel yang sudah diolah US$ 15.000 per ton.

APNI, Jakarta – PT Freeport Indonesia membeberkan bahwa smelter di Gresik yang sudah dibangun Mitsubishi dan Freeport tak pernah sekalipun memperoleh keuntungan. Saat ini PT Smelting mengolah dan memurnikan 1 juta konsentrat tembaga dari Freeport. Produk yang dihasilkan menjadi katoda tembaga 300.000 ton per tahun.

Asal tahu saja pada tahun 2000, di PT Smelting yang mengelola smelter tembaga Freeport memiliki 25% saham dan 75% saham sisanya dikuasai oleh konsorsium yang terdiri dari Mitsubishi Materials, Mitsubishi Corporation Unimetal Ltd dan Nippon Mining and Metals Co. Ltd.

Direktur Utama Freeport Indonesia Tony Wenas mengatakan, smelter Gresik milik PT Smelting sudah 20 tahun tidak pernah mendapat keuntungan.

“Mereka baru bagi dividen 2 kali dalam 20 tahun itu. Mereka dulu itu berharap demand katoda tembaga bisa naik, tapi nyatanya selama 20 tahun penyerapan industri domestik hanya 150.000 katoda tembaga. Sisanya 150.000 katoda tembaga diekspor,” ungkapnya, 8 September 2020 lalu.

Dia mengatakan berkaca dari itu semua maka tidak ada lagi yang membangun smelter kecuali Indonesia. Bahkan, China membangun smelter tembaga 15 tahun yang lalu.

“Sekarang Indonesia baru mau bangun lagi. Jadi kenapa China untung, ya karena mereka punya perusahaan kabel dan ada pabrik otomotif disana yang besar besar. Terserap produksinya. Kalau China mau bangun smelter di Indonesia, ya monggo, Freeport yang suplai konsentratnya,” terangnya.

Dia menerangkan, banyak orang beranggapan Indonesia bisa membangun smelter seperti di Morowali.

“Di sana itu smelter nikel beda bos sama smelter tembaga,” ungkap dia.

Dia membeberkan, nilai tambah nikel dan tembaga berbeda. Gambarannya, ore atau bijih nikel menjadi ferro nikel itu memiliki nilai tambah 60%-70% dan ore nikel ke nikel matte nilai tambahnya 75%.

“Kalau konsentrat tembaga itu bandingannya sama (ferro nikel dan nikel matte), jangan dibandingkan ore nikel. Konsentrat itu nilai tambahnya sudah 95% kalau masuk smelter jadi 100%. Masa nikel pig iron yang nilai tambahnya 4%-6% sudah dianggap produk akhir,” imbuh dia.

Tony mengungkapkan, membangun smelter nikel lebih untung daripada menjual ore atau bijih nikel.

Saat ini kata Tony, harga ore nikel untuk kadar 2% harganya US$ 50 per ton. Ongkos produksi masuk smelter US$ 10.000 per ton, sekarang harga produk nikel yang sudah diolah US$ 15.000 per ton.

“Kan ada untung US$ 2.500 per ton. Saya mau bangun smelter kalau untungnya sama kayak smelter nikel. Ongkos gali ore nikel cuma US$ 20 per ton. Bandingkan dengan harga konsentrat tembaga sekarang sekitar US$ 2,80 per pound, kalau sudah jadi katoda tembaga harganya US$ 3 per pound. Sedikit marginnya tidak bisa menutup biaya investasi proyek. Harga konsentrat adalah dikurangi biaya pengolahan dan pemurnian. Itu rumusnya,” ungkap dia.

Sumber: KONTAN

Read More