Begini Prospek Sejumlah Komoditas Mineral Tahun Ini

NIKEL.CO.ID – Sejumlah komoditas mineral masih menunjukkan harga yang solid sepanjang tahun ini. Namun, pergerakan harga sejumlah komoditas diproyeksikan tidak akan seagresif tahun lalu.

Salah satunya adalah emas. Analis Samuel Sekuritas Indonesia Dessy Lapagu mengatakan, potensi kenaikan tingkat suku bunga Amerika Serikat (AS) yang lebih cepat dari rencana awal, yaitu dari 2024 menjadi 2023, menjadi penekan utama harga emas global saat ini. Terlebih lagi, diskusi akan kebijakan tapering juga telah dimulai.

Sementara itu, kekhawatiran atas kenaikan kasus Covid-19 lebih terjadi di pasar domestik, sehingga tidak mempengaruhi  pasar emas global secara signifikan. “Dengan demikian, belum bisa menjadi katalis pendorong harga emas,” terang Dessy kepada Kontan.co.id, Senin (12/7/2021).

Samuel Sekuritas Indonesia memproyeksikan harga emas pada 2021-2022 akan berada pada level US$ 1.800 per ons troi-US$ 2.000 per ons troi.

Untuk komoditas nikel, Head of Research Maybank Kim Eng Sekuritas Isnaputra Iskandar menggunakan asumsi harga nikel sebesar US$ 15.500 per ton untuk tahun 2021. Adapun sejumlah faktor yang bisa mempengaruhi harga nikel antara lain pemulihan ekonomi global, perkembangan teknologi baterai listrik, serta kebijakan pemerintah dari negara-negara utama di industri nikel seperti Indonesia, China, dan Filipina.

Lebih lanjut, permintaan mobil listrik yang meningkat akan menjadi katalis utama untuk harga nikel. Saat ini, permintaan nikel dari sektor baterai kurang dari 5% dari total permintaan nikel.

“Diperkirakan dalam lima tahun ke depan, angka ini dapat meningkat menjadi 15%-20% dari total permintaan,” terang Isnaputra kepada Kontan.co.id, baru-baru ini.

Sementara itu, prospek harga komoditas tembaga diproyeksikan masih cukup cerah. Analis Panin Sekuritas Juan Oktavianus melihat, tren produksi tembaga masih akan lemah, seiring dengan penurunan dari produksi tembaga segmen hulu akibat dari disrupsi operasional pandemi Covid-19.

Suplai tembaga juga masih melemah seiring masih lemahnya aktivitas produksi yang berkaitan dengan aksi mogok kerja di tambang tembaga Escondida. Potensi implementasi peningkatan pajak royalti juga mempengaruhi produksi tembaga.

Namun, dari sisi permintaan, Juan melihat adanya potensi peningkatan seiring dengan meningkatnya aktivitas industri khususnya di China, yang bermuara pada peningkatan permintaan dari smelter tembaga di Negeri Tirai Bambu tersebut. Berdasarkan hal ini, Panin Sekuritas memperkirakan rerata harga tembaga akan  berada di level US$ 9,0 per ton, atau tumbuh 46,4% bila dibandingkan dengan periode 2020.

Seiring dengan kebijakan pemerintah untuk menetapkan transisi energi dari energi  fosil menjadi energi terbarukan, komoditas tembaga bisa mendapatkan peluang dari  sentimen ini. Salah satunya karena tembaga merupakan konduktor listrik dan panas yang saat ini paling efisien.

Adapun penggunaan tembaga pada teknologi energi terbarukan  lebih besar 4 kali sampai 6 kali daripada teknologi bahan bakar fosil atau teknologi nuklir. Dus, perkembangan positif dari industri mobil listrik akan berdampak pada peningkatan permintaan akan tembaga ke depan. “Hal ini didasari pada kebutuhan tembaga yang tinggi pada mobil listrik dibandingkan dengan mobil konvensional,” tulis Juan dalam riset, Kamis (1/7/2021).

Sumber: KONTAN

Read More

Industri Nikel Masih Penuh Sentimen, Simak Rekomendasi Sahamnya

NIKEL.CO.ID – Harga komoditas nikel diproyeksikan masih akan cukup solid di sisa tahun ini. Isnaputra Iskandar, Head of Research Maybank Kim Eng Sekuritas masih menggunakan asumsi harga nikel sebesar US$ 15.500 per ton untuk tahun  ini.

Isnaputra merinci, terdapat sejumlah faktor yang bisa mempengaruhi harga nikel, antara lain pemulihan ekonomi global, perkembangan teknologi baterai listrik, serta kebijakan pemerintah dari Negara-negara utama di industri nikel seperti Indonesia, China, dan Filipina.

Isnaputra menyebut, permintaan mobil listrik yang meningkat akan menjadi katalis utama untuk harga nikel. Saat ini, permintaan nikel dari sektor baterai kurang dari 5% dari total permintaan nikel. “Diperkirakan dalam 5 tahun ke depan, angka ini dapat meningkat menjadi 15-20% dari total permintaan,” terang Isnaputra kepada Kontan.co.id, Sabtu (27/6/2021).

Dalam risetnya yang dipublikasikan Senin (21/6), Analis CLSA Sekuritas Norman Choong dan Chelene Indriani menyebut, rapat Federal Open Market Committee (FOMC) terbaru dan komentar The Fed tentang pengurangan pembelian obligasi (tapering) mendorong penguatan nilai dolar AS. Hal ini terjadi lebih awal dari yang diperkirakan konsensus, dan secara umum menjadi sentimen yang kurang baik bagi komoditas.

Meski demikian, Norman  dan Chelene tetap memasang mode optimis terhadap prospek jangka menengah komoditas logam ini. Mereka juga menegaskan,  ketatnya pasar nikel kelas pertama akan terus menentukan tren harga nikel di London Metal Exchange (LME). Hal ini juga didasarkan dengan asumsi penawaran dan permintaan nikel kelas kedua tidak akan mengalami lonjakan.

“Kami memangkas perkiraan harga nikel 2021-2022 masing-masing sebesar US$ 500, dari semula US$ 18.500 -US$ 19.000 menjadi US$ 18.000 -US$ 18.500 per ton karena menguatnya nilai dolar AS,” tulis Norman dan Chelene.

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menjadi pilihan di sektor ini.

CLSA melihat adanya potensi pertumbuhan yang kuat dalam volume penjualan bijih nikel ANTM sepanjang 2021-2023, pada masa transisi output nickel pig iron (NPI) Indonesia menggantikan produk NPI China. Volume penjualan ANTM juga diperkirakan naik, yang berasal dari penjualan ke pabrik High Pressure Acid Leach (HPAL)  tahun depan.

Sementara itu, saham INCO dinilai atraktif seiring dengan efisiensi biaya yang dilakukan serta adanya potensi pertumbuhan kapasitas yang signifikan pada tahun 2023, sehingga menjadikan eksposur jangka panjang INCO cukup baik.

CLSA Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham ANTM dan INCO namun dengan target harga yang lebih rendah. Target harga INCO berada di level Rp 7.500 (dari sebelumnya Rp8.600) sementara target harga ANTM sebesar Rp3.800 (dari sebelumnya Rp 4.000).

Sementara itu, Isnaputra merekomendasikan beli saham INCO dengan target harga Rp 7.000.

Sumber: KONTAN

Read More

Mei 2021, Mayoritas Komoditas Ekspor Indonesia ke Tiongkok Anjlok

NIKEL.CO.ID – Badan Pusat Statistik mencatat nilai ekspor Indonesia ke Tiongkok anjlok paling dalam secara bulanan pada Mei 2021. Padahal, harga komoditas global sedang melonjak cukup tinggi.

Kepala BPS Suhariyanto menyebutkan bahwa nilai ekspor ke Tiongkok turun US$ 460 juta dari US$ 4,11 miliar pada April 2021 menjadi US$ 3,71 miliar pada Mei 2021.

“Harga komoditas meningkat tetapi ada penurunan volume atau permintaan,” ujar Suhariyanto dalam Konferensi Pers Kinerja Ekspor Impor, Selasa (15/6/2021).

Berdasarkan data BPS yang diterima Katadata.co.id, hampir seluruh komoditas ekspor ke Tiongkok mengalami penurunan dari segi nilai.

Komoditas yang mengalami penurunan ekspor paling dalam, yakni biji, terak, dan abu logam sebesar 43,17% dari US$ 192,4 juta menjadi US$ 109,4 juta.

Disusul, ekspor karet dan barang dari karet yang turun 40,62% dari US$ 55,5 juta menjadi US$ 33 juta. Ekspor lemak dan minyak hewan/nabati terkontraksi 38,06% dari US$ 571,7 juta menjadi US$ 354,1 juta.

Ekspor berbagai produk kimia turun 31,4% dari US$ 148,1 juta menjadi US$ 101,6 juta. Ekspor besi dan baja turun 27,31% dari US$ 1,16 miliar menjadi US$ 842,5 juta.

Ekspor alas kaki menurun 23,69% dari US$ 70,8 juta menjadi US$ 54 juta. Ekspor barang lainnya terkontraksi 17,25% dari US$ 579 juta menjadi US$ 479,1 juta. Ekspor tembaga dan barang daripadanya minus 5,06% dari US$ 75,9 juta menjadi US$ 72 juta. Demikian pula ekspor kertas, karton, dan barang daripadanya juga yang turun 1,61% dari US$ 105,6 juta menjadi US$ 103, juta.

Sementara itu, ekspor bahan bakar mineral melesat 42,67%, diikuti migas yang naik 36,87%, dan pulp dari kayu 9,96%.

Suhariyanto menyebutkan bahwa harga beberapa komoditas menanjak pada Mei 2021. Jika dibandingkan dengan bulan April 2021, harga minyak mentah di pasar dunia naik 5,7% dari US$ 61,96 per barel menjadi US$ 65,49 per barel.

Kenaikan harga juga terjadi pada komoditas nonmigas, seperti batu bara, minyak kelapa sawit, timah, tembaga, nikel, dan emas. “Batu bara misalnya naik 16,07%, minyak kelapa sawit 7,9%, dan tembaga 8,98%,” ujar dia.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto optimistis lonjakan harga komoditas akan membantu percepatan pemulihan ekonomi domestik. “Lonjakan harga ini membantu kita pulih lebih cepat,” kata Airlangga dalam acara halalbihalal virtual bersama wartawan, pertengahan Mei 2021.

Ia menyebutkan, komoditas yang mengalami lonjakan harga di antaranya yakni nikel, minyak sawit mentah, karet, tembaga, dan emas. Kenaikan tersebut juga seiring meningkatnya permintaan global.

Airlangga pun berharap Indonesia dapat mengoptimalkan tingginya harga komoditas dengan hilirisasi. Indonesia sebelumnya cenderung hanya mengekspor bahan mentah ke luar negeri. Namun, dalam empat hingga lima tahun terakhir, pembangunan industri berbasis nikel di dalam negeri sudah masif sehingga tidak lagi mengekspor bahan baku.

Mantan Menteri Perindustrian tersebut menilai Indonesia mampu mengekspor hasil hilirisasi nikel dan baja senilai US$ 10 miliar.

“Tentu ini merupakan capaian yang sangat baik,” ujarnya.

Selain nikel dan baja, ia pun menyebutkan bahwa lonjakan harga batu bara dan alumunium harus dimanfaatkan dengan hilirisasi untuk mempercepat pemulihan ekonomi. Oleh karen itu, pembangunan smelter di Batang dan Kalimantan Barat terus dipercepat.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai ekspor Indonesia mencapai US$ 16,6 miliar pada Mei 2021. Jumlah itu turun 10,25% dari April 2021, tetapi meningkat hingga 58,75% dibandingkan Mei 2020.
Sumber: katadata.co.id

Read More

Kenaikan Harga Komoditas Diprediksi Hingga Akhir 2021

NIKEL.CO.ID – Lonjakan harga komoditas diprediksi bisa terus berlanjut hingga akhir tahun 2021. Kenaikan harga komoditas dipicu oleh tingginya permintaan negara-negara yang ekonominya mulai pulih, terutama Tiongkok dan Amerika Serikat. Sejumlah komoditas yang harganya masih berpotensi menguat di antaranya minyak mentah, batu bara, mineral logam seperti nikel, timah, aluminium, dan tembaga, serta komoditas pertanian seperti minyak sawit (crudepalm oil/CPO).

Seiring tingginya permintaan, beberapa harga komoditas sudah kembali ke level harga di Januari 2020 atau saat WHO menyatakan Covid-19 sebagai pandemi. Komoditas timah mencatatkan kenaikan 89% sejak Januari 2020 hingga akhir Mei 2021, disusul tembaga (69%), kedelai (66%), batu bara (54%), CPO (44%), aluminium (37%), biji coklat (31%), nikel (30%), dan emas (19%).

Sementara itu, harga minyak mentah Indonesia atau ICP mencatatkan kenaikan sebesar 155% per akhir Mei 2021 dibandingkan periode sama tahun lalu (year on year/yoy) dan naik 37% sepanjang 2021 (year to date/ytd). Lalu, harga minyak WTI naik sebesar 128% yoy dan naik 39% ytd, dan minyak mentah Brent naik 119% yoy dan 36% ytd.

Komoditas lain yang juga mencatatkan kenaikan di atas 100% secara yoy adalah timah (109%), lalu disusul batu bara (104%), dan CPO (102%). Adapun sepanjang tahun ini hingga akhir Mei 2021 (ytd), harga timah naik 63%, disusul minyak mentah WTI sebesar 39%, dan minyak mentah ICP sebesar 37%.

Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal mengatakan, tren kenaikan harga berbagai komoditas, antara lain minyak mentah, batu bara, CPO, dan nikel, dipacu oleh pemulihan ekonomi yang lebih cepat di luar negeri dan global daripada kondisi Indonesia dan sebagian negara lain yang masih bertarung melawan pandemi Covid-19.

Menurut dia, kenaikan harga komoditas di pasar global yang diperkirakan terus berlanjut hingga akhir tahun 2021 terutama di-trigger oleh negara Tiongkok yang ekonominya sudah kembali bangkit terdepan. Negara raksasa ekonomi dunia ini sekarang membutuhkan banyak komoditas tersebut untuk menopang industrinya yang kembali menggeliat.

“Tren harga komoditas itu akan terus naik setidaknya sampai akhir tahun 2021 karena pemulihan ekonomi dunia, terutama dipicu oleh Tiongkok yang paling pertama berhasil mengatasi pandemi Covid-19.

Harga komoditas global semakin naik signifikan dan sudah di atas harga sebelum pandemi karena pasokannya, di antaranya Indonesia, masih terganggu karena pandemi,” ujar Faisal.

Selain itu, kenaikan harga komoditas ditopang oleh impor Amerika Serikat (AS) yang terus meningkat di tengah keyakinan ekonomi warganya yang semakin membaik Walaupun belum sepenuhnya berhasil mengatasi pandemi Covid-19, AS dinilai pada jalur yang benar untuk memenanginya karena tren vaksinasi Covid-19 paling progresif dan cepat di dunia.

Jika Tiongkok banyak mengimpor komoditas sebagai bahan baku, AS banyak mengimpor barang setengah jadi dan produk jadi. Tindakan AS tersebut dinilai ikut menjadi sentimen positif mendorong kenaikan harga komoditas dunia sebagai penopang dari industri pengolahan produk setengah/jadi.

“Harga komoditas kemungkinan hanya akan menguat hingga akhir tahun 2021 ini dan akan mulai turun pada 2022 seiring dengan prediksi melandainya pandemi dan kembali normalnya pasokan komoditas,” imbuhnya.

Karena itu, Faisal pun mengingatkan pemerintah Indonesia untuk terus menggalakkan hilirasasi komoditas menjadi produk setengah/jadi, terutama pada sektor tambang dan perkebunan. Tujuannya agar nilai tambah jual ekspor komoditas Indonesia meningkat dan menciptakan lapangan kerja baru di Tanah Air.

Dia pun menyebut keberhasilan program hilirasi nikel menjadi bahan baku setengah jadi, sehingga mulai berkontribusi terhadap nilai jual ekspor di tengah pandemi Covid-19.

Pamerintah pun didorongnya terus menjadikan nikel sebagai produk jadi, seperti baterai dan mobil listrik yang memiliki nilai tambah/jual lebih tinggi lagi.

“Saat ini, kontribusi komoditas kita Indonesia terhadap ekspor masih tinggi berkisar 40-60%, sehingga sangat terpengaruh oleh fluktuasi harga. Jika berhasil melakukan hilirarasi, ke depan, fluktuasi harga komoditas pengaruhnya ke nilai ekspor bisa kita tekan,” tutur Faisal.

Sementara itu, CORE Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2021 berkisar 4-5%, lebih rendah dari proyeksi pemerintah yang optimistis 7-8%. Sementara itu, sepanjang tahun 2021, CORE Indonesia memprediksi pertumbuhan ekonomi 3-4%.

Pertumbuhannya ditopang oleh nilai ekspor yang trennya meningkat sejak pandemi Covid-19 tahun 2020 yang juga didukung tren kenaikan harga komoditas tahun 2021.

Selanjutnya, pertumbuhan juga ditopang oleh membaiknya konsumsi rumah tangga di dalam negeri, serta investasi dan belanja pemerintah.

“Kontribusi terbesar kepada pertumbuhan ekonomi kalau untuk Indonesia tetap dari konsumsi rumah tangga yang terus membaik tahun ini. Tapi, kalau dari kontribusi pertumbuhan terbesar ada pada ekspor karena di antaranya tertolong oleh harga komoditas global, selain tentu saja, investasi membaik dan ditunjang belanja pemerintah,” pungkas Faisal.

Senada,Ekonom dan Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, harga komoditas sedang dalam tren naik sepanjang 2021 karena didorong oleh peningkatan permintaan di negara- negara yang ekonominya sudah pulih.

Menurut dia, pemulihan ekonomi bisa dilihat dari indeks keyakinan konsumen dan Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur terutama Tiongkok dan Amerika Serikat yang membaik, bahkan di Tiongkok saat ini dalam posisi ekspansi.

Harga komoditas yang masih berpotensi naik, lanjut Bhima, yakni minyak bumi, batu bara, CPO, dan mineral logam seperti nikel dan timah. Permintaan nikel dan timah akan masih tinggi karena dibutuhkan untuk bahan baku industri baterai mobil listrik.

“Apakah kenaikan harga komoditas bisa sampai tahun 2022? Masih ada sejumlah tantangan yang mesti diantisipasi. Salah satunya adalah kebijakan rebalancing (keseimbangan kembali) ekonomi Tiongkok,” ujar dia.

Selain itu, dia menyebut tantangan lainnya adalah hubungan dagang Tiongkok dengan AS yang memanas lagi juga perlu diantisipasi.

“Kita juga harus antisipasi sekarang ini banyak negara seperti Tiongkok dan AS sedang menggalakkan energy baru terbarukan (EBT) yang ramah lingkungan, sehingga para pelaku usaha komoditas kita perlu mendiversifikasi produknya,” katanya.

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro juga mengatakan saat ini hampir semua komoditas mengalami kenaikan harga. Hal ini tak hanya di Indonesia namun juga di sejumlah negara seperti India, Amerika Serikat, bahkan di Eropa. Menurut dia, harga akan terus merangkak naik hingga akhir tahun. Apalagi, kata dia, jika penanganan pandemi Covid-19 berlangsung baik.

“Secara perlahan harga akan naik terus hingga akhir tahun, bahkan kemungkinan akan terus berlanjut ke 2022,” kata Komaidi.

Untuk minyak dunia, dia memperkirakan bakal berada di kisaran US$ 75-80 per barel, sementara batu bara bisa mencapai US$ 105 per ton hingga akhir 2021.

Namun demikian, Komaidi mengingatkan kenaikan harga terutama minyak mentah, perlu disikapi hati- hati. Hal ini karena kenaikan harga akan berdampak pada meningkatnya subsidi yang harus dikeluarkan pemerintah.

“Ini terjadi karena produksi minyak kita jauh lebih rendah dibanding konsumsi, sehingga kenaikan harga minyak mentah otomatis akan meningkatkan jumlah subsidi yang harus dikeluarkan pemerintah, jika memang pemerintah memutuskan untuk tidak menaikkan harga BBM,” paparnya.

Hal yang sama juga terjadi pada komoditas batu bara yang akan berdampak pada biaya produksi listrik.

Dia mengakui bahwa pemerintah telah mematok harga batu bara untuk PLN sebesar US$ 70 per ton, namun tentunya pelaku usaha batu bara akan meminta insentif kepada pemerintah dalam bentuk lain.

“Utang PLN saja sudah Rp 500 triliun saat harga komoditas masih rendah. Apalagi kalau harga meningkat. Ini juga harus disikapi secara bijaksana,” kata Komaidi.

Secara terpisah, Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia mengungkapkan, pergerakan harga batu bara sulit diprediksi terus menguat hingga akhir tahun. Namun dia berharap harga terus membaik hingga penghujung 2021.

“Wah kalau proyeksi ke depan tentu saja sulit. Tapi kalau ditanya harapannya, ya berharap kondisi harga terus bertahan hingga akhir tahun,” ujarnya.

Hendra mengungkapkan kondisi perekonomian saat ini hampir mirip seperti tahun 2008-2009. Kala itu dunia tengah menghadapi resesi ekonomi. Namun Indonesia mampu bertahan seiring membaiknya harga komoditas antara lain batu bara.

“Batu bara dapat membantu neraca perdagangan dan current account,” ujarnya.

Head of Corporate Communication Adaro Energy Febrianti Nadira menuturkan, pergerakan harga batu bara sulit dikontrol. Oleh sebab itu, pihaknya lebih fokus terhadap keunggulan operasional bisnis inti, meningkatkan efisiensi dan produktivitas operasi, menjaga kas dan mempertahankan posisi keuangan yang solid di tengah situasi sulit yang berdampak terhadap sebagian besar dunia usaha.

“Adaro akan terus mengikuti perkembangan pasar dengan tetap menjalankan kegiatan operasi sesuai rencana di tambang-tambang milik perusahaan dengan terus berfokus untuk mempertahankan marjin yang sehat dan kontinuitas pasokan ke pelanggan,” ujarnya.

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama Kementerian ESDM Agung Pribadi sebelumnya mengatakan, Harga Batu Bara Acuan (HBA) Juni 2021 naik US$ 10,59 per ton dibandingkan bulvan sebelumnya yang berada di posisi US$ 89,74 per ton. HBA Juni ditetapkan sebesar US$ 100,33 per ton.

Agung mengungkapkan tren kenaikan harga batu bara dalam dua bulan terakhir ini utamanya didorong oleh peningkatan permintaan dari Tiongkok akibat periode musim hujan di negara tersebut, serta semakin tingginya harga domestik batu bara setempat.

“Kenaikan permintaan (Tiongkok) untuk keperluan pembangkit listrik yang melampaui kapasitas pasokan batu bara domestik,” ujarnya.

Harga batu bara pada Juni ini merupakan tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Tercatat pada November 2018 HBA mencapai US$ 97,90/ton.

Sumber: investor.id

Read More

Kemendag Tetapkan HPE Komoditas Tambang, Mayoritas Alami Kenaikan

NIKEL.CO.ID – Sejumlah komoditas produk pertambangan mengalami kenaikan harga di tengah wabah pandemi Covid-19 sampai dengan akhir bulan Mei lalu.

Kenaikan harga tersebut juga dicerminkan oleh semakin meningkatnya permintaan komoditas pertambangan di pasar. Pada akhirnya, kondisi ini pun memberikan pengaruh pada kebijakan penetapan Harga Patokan Ekspor (HPE) produk pertambangan yang nantinya akan dikenai Bea Keluar di bulan Juni ini.

Kebijakan penetapan HPE produk pertambangan ini telah ditetapkan lewat Peraturan Menteri Perdagangan No. 33 Tahun 2021 tertanggal 28 Mei 2021.

Dijelaskan oleh pihak Kementerian Perdagangan bahwa kenaikan itu terjadi pada harga komoditas konsentrat tembaga, besi, besi laterit, timbal, seng, pasir besi, ilmenite, rutile dan konsentrat bauksit yang nilainya lebih besar dibandingkan dengan periode bulan sebelumnya.

Adapun alasan pemerintah menetapkan HPE produk pertambangan yang lebih tinggi itu disebabkan oleh faktor permintaan di pasar global yang juga mengalami peningkatan.
Namun hal yang berbeda dialami oleh konsentrat mangan, di mana ditetapkan harganya mengalami penurunan.  Sedangkan untuk pellet konsentrat pasir besi harganya stabil dan tidak mengalami perubahan.

Berikut daftar komoditas pertambangan yang mengalami kenaikan harga di bulan Juni ini:

  • Konsentrat tembaga naik 8,91 persen di kisaran USD3510,35 per WE
  • Konsentrat besi naik 20,44 persen di kisaran USD179,66 per WE
  • Konsentrat besi laterit naik 20,44 persen di kisaran USD91,81 per WE
  • Konsentrat timbal naik 8,69 persen di kisaran USD875,78 per WE
  • Konsentrat seng naik 4,04 persen di kisaran USD818,52 per WE
  • Konsentrat pasir besi naik 6,45 persen di kisaran USD460,89 per WE
  • Konsentrat rutile naik 6,75 persen di kisaran USD1.198,38 per WE
  • Konsentrat bauksit naik 8,06 persen di kisaran USD32,86 per WE

Sementara untuk konsentrat mangan mengalami penurunan harga sebesar 0,82 persen menjadi di kisaran USD217,20 per WE. Sedangkan pellet konsentrat pasir besi harganya tidak mengalami perubahan dan tetap di kisaran USD117,98 per WE.

Sumber: duniatambang.co.id

Read More