MoU dengan Hyundai, Menteri Investasi: Rencana Proyek Baterai Kendaraan Listrik Rp141,9 Triliun

NIKEL.CO.ID – Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menandatangani Memorandum of Understanding dengan Konsorsium Hyundai dan PT Industri Baterai Indonesia (IBI).

Penandatangan dilakukan CEO Hyundai Mobis Co. Ltd. Sung Hwan Cho dan CEO LG Energy Solution (LGES) Jonghyun Kim, serta Direktur Utama PT Industri Baterai Indonesia Toto.

Konsorsium Hyundai, yang terdiri atas Hyundai Motor Company, KIA Corporation, Hyundai Mobis, dan LG Energy Solution bekerja sama dengan PT Industri Baterai Indonesia, atau yang dikenal juga dengan nama Indonesia Battery Corporation (IBC), akan membangun pabrik sel baterai kendaraan listrik dengan total nilai investasi kurang lebih USD1,1 miliar dengan rencana penyerapan tenaga kerja sekitar 1.000 orang.

Bahlil mengungkapkan apresiasinya kepada pihak Hyundai, LG maupun PT Industri Baterai Indonesia atas terlaksananya kerjasama ini. Bahlil mengakui bahwa perjanjian kerjasama terealisasi dengan proses dan negosiasi yang panjang sehingga dapat menguntungkan semua pihak.

“Kerjasama investasi ini merupakan salah satu tahap dari keseluruhan rencana proyek baterai kendaraan listrik terintegrasi senilai USD9,8 miliar (setara Rp141,9 triliun, kurs Rp14.482/USD),” kata Bahlil di Jakarta, Kamis (29/7/2021).

Bahlil juga mengingatkan kembali agar dalam implementasi kerja sama ini, perusahaan wajib menggandeng pengusaha dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal. Hal ini merupakan amanat dari Undang-Undang No. 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (UU CK).

“Penandatanganan yang akan disaksikan bersama-sama ini, izinkan saya sampaikan agar dalam implementasinya, sesuai dengan undang-undang, berkolaborasi dengan pengusaha nasional dan UMKM. Hal ini menjadi perhatian khusus bagi pemerintah saat ini. Kami akan kawal dari awal sampai akhir investasi untuk baterai sel ini,” tegas Bahlil dalam sambutannya.

Proyek investasi sel baterai kerja sama Konsorsium Hyundai-LG dan PT Industri Baterai Indonesia ini merupakan salah satu langkah pemerintah untuk mendorong pengembangan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia secara keseluruhan dari hulu sampai dengan hilir.

Dalam kesempatan ini, Duta Besar Republik Korea untuk Indonesia Park Taesung memberikan apresiasi kepada Pemerintah Indonesia, khususnya Menteri Investasi dan Menteri BUMN atas terwujudnya kerja sama ini. Park menambahkan bahwa kerja sama investasi mobil listrik dan baterai ini akan menjadi kontributor yang secara inovatif menjalankan perekonomian yang lebih berorientasi pada lingkungan, teknologi, dan ekspor.

“Saya sebagai Duta Besar Republik Korea untuk Indonesia akan menggerakkan segala dukungan agar kerja sama ini menjadi salah satu kerja sama yang sukses dan terbaik antara Korea dan Indonesia,” ungkap Park.

Sumber: okezone.com

Read More

Industri Baterai Dibangun di Dalan negeri, Peluang Bisnis Nikel Cerah

NIKEL.CO.ID – Pasar komoditas nikel dinilai masih sangat potensial untuk terus tumbuh ke depannya. PT. PAM Mineral Tbk (NICL) optimistis peluang bisnis nikel sangat menjanjikan didukung tingginya permintaan bijih nikel di pasar domestik menyusul langkah pemerintah yang akan mengembangkan industri dan ekosistem kendaraan listrik melalui pembentukan holding BUMN baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC) kerjasama dengan produsen mobil listrik dunia yaitu LG Chem (Korea) dan CATL (China).

Seperti diketahui, pabrik baterai mobil listrik milik PT. Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC) dan Konsorsium LG serta CATL untuk mobil listrik akan mulai melakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking pada akhir Juli 2021 dan diharapkan mulai beroperasi pada 2023. Nikel dengan kadar rendah banyak dibutuhkan untuk kebutuhan campuran dengan jenis logam Cobalt sebagai bahan baku untuk baterai.

Direktur Utama PT. PAM Mineral Tbk, Ruddy Tjanaka, melihat satu peluang yang cukup menjanjikan pada pertambangan nikel berkadar rendah, hal ini sejalan dengan pertumbuhan kebutuhan baterai untuk bahan bakar kendaraan listrik. Disisi lain permintaan bijih nikel berkadar tinggi juga terus mengalami peningkatan, terutama karena adanya industri pengolahan atau smelter yang ada.

Permintaan nikel dengan kadar tinggi juga cukup stabil Sementara permintaan pasar nikel berkadar rendah juga, sudah kembali mulai meningkat.

“Adanya industri baterai nasional seiring tumbuhnya Smelter dgn teknologi Hydrometalurgi akan meningkatkan kinerja perusahaan dengan diserapnya Nikel kadar rendah yg diproduksi perseroan. Ini yang kita harapkan bersama,” kata Ruddy dalam keterangannya, Kamis (15/7/2021).

Ia mengatakan, stabilnya industri pengolahan atau smelter, menjadi peluang yang cukup menjanjikan bagi industri bijih nikel. Dia optimis permintaan bijih nikel dengan kadar tinggi akan meningkat. Apalagi dengan ekspansi di smelter yang ada, terutama di daerah-daerah yang dekat dengan tambang Perseroan.

“Tentu kita optimis perkembangan ke depan itu kebutuhan ore nikel bisa melebihi 7-8 juta ton per bulan,” kata dia.

Sementara itu, dengan eksplorasi yang terus menerus dilakukan, Perseroan berkeyakinan bahwa ke depan Perseroan dan anak perusahaan masih memiliki sumberdaya sekitar 28 juta ton lebih bijih nikel. Dari 28 juta bijih nikel tersebut, lanjut Ruddy, tidak semua memiliki kadar tinggi namun juga terdapat bijih nikel dengan kadar rendah. Perseroan saat ini telah melakukan penjualan bijih nikel kadar rendah ke smelter yang ada.

Untuk jangka menengah dan jangka panjang Perseroan memiliki strategi menambah cadangan dengan melalui akuisisi atau maupun mencari tambang baru, dia berharap dapat mengerek kinerja perseroan dengan growth yang lebih tinggi lagi kedepannya.

Untuk rencana jangka pendek, perseroan akan memenuhi target Rencana Kerja Anggaran Biaya (RKAB) sebanyak 1,8 juta ton bijih nikel. “Tambang nikel ini tergantung cuaca, jadi kita berharap cuaca mulai bersahabat, sehingga kita bisa produksi lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan smelter ke depan,” ujar Ruddy.

Market share untuk industry EV diprediksikan akan meningkat menjadi 28% di tahun 2030 dan 58% di tahun 2040. Pada tahun 2019, konsumsi nikel untuk bahan baku baterai mencapai 7% dari total konsumsi global.

Diperkirakan pada tahun 2022, permintaan nikel akan melebihi pasokan/supply yang ada. “Potensi yang besar bagi Perseroan untuk bertumbuh mengingat saat ini baru sebagian kecil dari area yang sudah dieksploitasi,” pungkasnya.

Sumber: Jawa Pos

Read More

IBC Akan Bangun Pabrik Baterai Kendaraan Listrik 2022

NIKEL.CO.ID – Indonesia Battery Corporation alias IBC menargetkan pembangunan pabrik baterai kendaraan listrik akan dimulai pada tahun depan. Pasalnya studi dengan dua calon mitra asing yang minat berinvestasi pada proyek itu hingga kini masih berlangsung.

SVP Corporate Strategy and Business Development Adhietya Saputra mengatakan pembangunan pabrik baterai masih menanti negosiasi dengan para mitra asing rampung terlebih dulu. Diskusi berkutat pada struktur perusahaan patungan atau joint venture yang akan dibentuk.

Berdasarkan catatan Katadata.co.id, dua perusahaan asing tersebut, yaitu Contemporary Amperex Technology Co Ltd (CATL) asal Tiongkok dengan investasi sebesar US$ 5 miliar (Rp 72 triliun), dan LG Chem Ltd asal Korea Selatan sebesar US$ 13-17 miliar (Rp 187,5-245 triliun).

“Kami studi dulu dengan dua calon mitra itu, karena dua mitra itu membangun dari hulu hingga ke hilir. Harapannya 2022 sudah ada salah satu value chain kita bisa mulai jalan konstruksinya,” ujarnya Kamis, (8/7/2021).

Meski demikian, dia belum dapat membeberkan secara detail mengenai kapan tepatnya pembangunan pabrik baterai terealisasi. Yang pasti perusahaan mengharapkan pembangunan pabrik baterai dapat dimulai di tahun 2022. “Kami masih bicara dengan partner belum bisa kita buka dulu. Karena semua dari mining-nya. Pembangunan smelter, pembangunan prekursor ada hubungannya dengan perkembangan dari tambangnya. Ini kami masih negosiasi dan penyesuaian,” ujarnya.

Sebelumnya, Wakil Menteri BUMN Pahala Mansury mengatakan Indonesia Battery Corporation merupakan konsorsium empat perusahaan pelat merah. Keempatnya adalah PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) atau MIND ID, PT Aneka Tambang Tbk (Antam), PT PLN (Persero), dan PT Pertamina (Persero). Pembentukan ini bertujuan agar kekuatan dari hulu hingga hilir dapat disatukan. Pada 2030 pemerintah menargetkan kapasitas baterai akan ditingkatkan menjadi 140 gigawatt hour (GWh). Sebanyak 50 gigawatt hour dari produksi tersebut rencananya akan diekspor. Sisanya untuk keperluan industri baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) dalam negeri. “Potensi EV ini besar sekali. Ada roda dua, produksinya 10 juta dan roda empat di atas 2 juta unit,” ujarnya.

Pemerintah juga sedang menyusun peta jalan pengembangan baterai listrik dan sistem penyimpan energi (energy storage system/ESS) hingga 2027.

Dalam Indonesia Battery Corporation, MIND ID bersama Antam berperan untuk menyediakan bijih nikel. Pertamina menjalankan bisnis manufaktur produk hilir meliputi pembuatan baterai cell, baterai pack, dan ESS. Sedangkan PLN akan berperan untuk pembuatan sel baterai, penyediaan infrastruktur SPKLU, dan pengintegrasian sistem manajemen energi (energy management system/EMS). Porsi kepemilikan saham masing-masing BUMN ini adalah 25%.

Artikel ini telah tayang di Katadata.co.id dengan judul “Holding BUMN IBC Akan Bangun Pabrik Baterai Kendaraan Listrik 2022“.

Read More

Bahlil Ungkap Pabrik Baterai Mobil Listrik RI Rp 142 T Dibangun Juli

NIKEL.CO.ID – Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia membeberkan pabrik baterai mobil listrik PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC) dan Konsorsium LG asal Korea Selatan (Korsel) dibangun pada Juli 2021.

“LG ini sudah mulai groundbreaking bulan Juli, paling lambat Agustus awal kita sudah kita bangun, ini bukan cerita dongeng, ini sudah kita lakukan,” jelasnya dalam Rakornas dengan HIPMI secara virtual, Sabtu (19/6/2021).

Pabrik baterai mobil listrik ini akan menjadi yang pertama di Asia bahkan di dunia. Nilai investasi diperkirakan mencapai US$ 9,8 miliar atau sekitar Rp 142 triliun. Bahlil juga menyebut investasi ini menjadi yang pertama kali dan terbesar pasca reformasi.

“Kita sudah membangun kerja sama dengan LG sebesar US$ 9,8 billion atau Rp 142 triliun. Ini investasi terbesar pasca reformasi baru kali ini,” katanya.

Bahlil mengungkap bahan-bahan untuk pembuatan baterai mobil listrik 50% ada Indonesia, terutama nikel. Dia tegaskan pemerintah telah melarang ekspor nikel agar bisa menjadi menjadi produsen baterai terbesar di dunia.

“Kenapa Indonesia melarang ekspor nikel? Agar Indonesia menjadi produsen terbesar untuk baterai dunia. Jadi kita tidak boleh hanya menjadi ekspor-ekspor bahan baku terus,” tegasnya.

“50% kompenen dari baterai mobil listrik adalah baterai, dan baterai itu bahan bakunya paling besar itu adalah nikel dan nikel 25% total cadangan dunia itu ada di Indonesia, mangan ini paling banyak di Sulawesi Tenggara, lalu Kobalt yang merupakan produk turunan dari nikel. Hanya litiumnya kita impor dari Australia,” tambahnya.

Bahlil berharap pengusaha tambang nikel yang sudah berizin khususnya di daerah ikut andil dalam proyek besar tersebut. Dia juga tegaskan pengusaha besar dan investor asing harus melibatkan pengusaha daerah.

“Harapannya, teman-teman yang sudah mempunyai Izin Usaha Pertambangan (IUP) nikel di daerah bisa berkolaborasi dengan investor-investor yang masuk di Indonesia maupun pengusaha dalam negeri,” terangnya.

Sistem kolaborasi itu telah tertuang dalam UU Cipta Kerja. Bahlil menyebutkan dalam UU itu dijelaskan setiap investasi yang masuk ke Indonesia wajib melibatkan pengusaha daerah.

“Investasi yang masuk wajib bergandengan dengan pengusaha daerah kalau nggak bisa bagaimana caranya biar bisa dengan cara kita, nggak boleh pengusaha daerah hanya jadi penonton, pengusaha daerah harus ikut, dan harus ikut mengambil bagian,” tandanya.

Sebagai informasi, pabrik baterai mobil listrik PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC) dan Konsorsium LG berada di Kota Deltamas, Karawang, Jawa Barat.

Pembangunan tahap pertama ini memiliki kapasitas produksi baterai mencapai 10 gigawatt hours (GWh), yang akan dipakai untuk kendaraan listrik dari Hyundai.

Sumber: detik.com

Read More

Ada Apa Dibalik Pembentukan Indonesia Battery Corporation?

NIKEL.CO.ID – Diberkati dengan cadangan nikel yang melimpah, pemerintah Indonesia berharap negara bisa memosisikan diri sebagai pusat produksi kendaraan listrik global.

Pemerintah Indonesia telah memberlakukan serangkaian larangan ekspor bijih nikel mentah demi mendorong investasi miliaran dolar ke kapasitas kilang hilir. Nikel olahan merupakan input penting dalam pembuatan baterai lithium-ion, dan tujuan akhir pemerintah Indonesia adalah menjadi pusat global untuk produksi kendaraan listrik dan baterai yang menggerakkannya.

Saat ini, mata rantai yang hilang dalam rantai pasokan adalah produksi massal baterai kendaraan listrik dalam negeri. Hanya sedikit perusahaan di dunia yang membuat baterai ini. Bagaimana Indonesia meyakinkan mereka untuk membuka fasilitas produksi lokal yang dapat menghasilkan baterai dalam skala besar?

Para pemimpin industri global seperti CATL China dan LG Group dari Korea Selatan telah menandatangani perjanjian, di mana mereka bermaksud untuk menginvestasikan dana dalam pembuatan baterai di Indonesia, meskipun laporan media tidak merinci seberapa mengikat atau tegas komitmen ini.

Namun, berdasarkan pengalaman Indonesia di masa lalu dalam mengembangkan bisnis otomotifnya, dapat diketahui beberapa hal tentang apa yang mungkin membuat baterai buatan lokal menjadi pilihan yang menarik bagi perusahaan asing.

Hal utamanya adalah, meskipun industri ini memiliki keunggulan bawaan, yakni akses ke nikel yang dilebur secara lokal, dan deposit bijih nikel mentah yang besar, industri ini masih perlu bersaing secara global, catat James Guild di The Diplomat.

Dalam jangka panjang, CATL tidak akan mau memproduksi baterai secara lokal jika tidak berkualitas tinggi dan lebih mahal untuk dibuat di Indonesia daripada pusat produksi yang sebanding di negara lain.

Oleh karena itu, menurut Guild, pemerintah perlu memastikan adanya lingkungan peraturan yang kondusif, yang menciptakan insentif investasi yang menarik dan memungkinkan kebebasan produsen untuk mendapatkan input yang paling hemat biaya daripada memaksakan penggunaan konten lokal yang mungkin membuat produk jadi tidak efisien atau tidak kompetitif.

Pengalaman Indonesia dengan industri mobil juga menunjukkan bahwa perusahaan asing akan bersedia untuk mentransfer keterampilan dan teknologi penting jika mereka tidak harus tunduk pada aturan kepemilikan yang terbatas. Artinya, jika CATL mendirikan anak perusahaan untuk membuat baterai kendaraan listrik di Indonesia, mereka akan lebih bersedia untuk berbagi teknologi jika tidak dipaksa mengambil peran kepemilikan minoritas.

Namun kepemilikan asing, khususnya dalam industri yang begitu erat kaitannya dengan sumber daya alam, dapat menjadi ladang ranjau politik, Guild memperingatkan. Ada arus kuat nasionalisme ekonomi dan sumber daya di Indonesia yang merasa jika nikel untuk baterai itu keluar dari tanah Indonesia, maka keuntungan yang diperoleh dari sumber daya tersebut harus dimiliki oleh rakyat Indonesia.

Ini adalah kekuatan pendorong di balik Indonesia Battery Corporation (IBC) yang baru dibentuk. IBC adalah kemitraan empat BUMN: PLN, Pertamina, ANTAM, dan Inalum. Karena gagasan IBC masih sangat baru, peran pasti yang akan dimainkannya dalam pembuatan baterai belum jelas. Namun hal itu tentu menunjukkan negara ingin menegaskan dirinya dalam struktur kepemilikan industri dalam kapasitas tertentu.

Guild menerangkan, pembentukan Indonesia Battery Corporation harus dilihat dari sikap Indonesia yang semakin tegas terhadap nasionalisme sumber daya. Seperti yang diungkapkan oleh Eve Warburton dalam disertasinya, Indonesia akhir-akhir ini menekankan slogan “sumber daya kita, aturan kita”.

Dalam hal pengendalian bijih mentah, lebih mudah menggunakan instrumen tumpul seperti larangan ekspor untuk mendapatkan apa yang Anda inginkan. Hal ini terlihat dari cara pemerintah Indonesia baru-baru ini menggunakan pengaruhnya untuk menegosiasikan 20 persen kepemilikan saham di penambang nikel PT Vale.

Namun, seiring Anda bergerak lebih jauh ke atas rantai pasokan (misalnya ke dalam pembuatan baterai lithium-ion), pengaruh dari nasionalisme sumber daya saja menjadi kurang kuat, tulis Guild. Anda harus bergantung pada perusahaan luar, seperti CATL, untuk berbagi teknologi dan pengetahuan manufaktur mereka.

Namun mereka mungkin tidak terlalu ingin bermitra dengan perusahaan baterai milik negara yang peran pastinya dalam industri ini tidak jelas, dan yang belum pernah membuat baterai sebelumnya.

Semua ini berarti bahwa kondisi dasar telah tersedia bagi Indonesia untuk menjadi pusat produksi baterai lithium-ion dan kendaraan listrik, menurut Guild. Terwujudnya cita-cita tersebut akan sangat bergantung pada apakah pembuat kebijakan telah menginternalisasi pelajaran yang dipetik dari industri otomotif selama beberapa dekade terakhir. Peran yang pada akhirnya dimainkan oleh IBC dalam industri baterai Indonesia akan mengungkap itu.

Sumber: matamatapolitik.com

Read More

Menuju Produsen Baterai Kendaraan Listrik Terkuat di Dunia

  1. Oleh: Budiawan Sidik A

Indonesia berpotensi besar menjadi produsen baterai kendaraan listrik terkuat di dunia.  Sejumlah bahan baku utama untuk memproduksi baterai mobil terdapat di negeri ini.

Sebut saja nikel, kobalt, alumunium, mangan, tembaga, dan sejumlah unsur mineral penting lain untuk memproduksi baterai berlimpah di perut bumi Indonesia. Terbuka peluang sangat besar bagi Indonesia untuk menjadi bagian penting dalam sejarah peradaban moderen masa depan dunia.

Menurut “The International Renewable Energy Agency” (IRENA), dunia di masa mendatang akan mengalami banyak perubahan menuju energi terbarukan. IRENA memiliki skenario perencanaan pada tahun 2030 nanti sumber pembangkit listrik yang berasal dari energi baru terbarukan (EBT) mencapai 38 persen.

Besaran sumber pembangkitan listrik EBT ini diperkirakan kian meningkat lagi pada tahun 2050 menjadi sekitar 55 persen. Hal ini merupakan lonjakan yang sangat signifikan karena pada tahun 2018 jumlah pembangkit listrik EBT secara global masih berkisar 26 persen.

Meningkatnya jumlah pembangkit listrik EBT tersebut direncanakan akan disertai dengan bertambahnya konsumsi energi final yang berwujud listrik. Konsumsi energi yang berasal dari sumber daya fosil seperti minyak bumi, gas, dan batubara akan kian mengecil. Konsumsi energi final berupa listrik pada tahun 2030 diperkirakan mencapai 24 persen dan pada tahun 2050 bertambah menjadi 30 persen.

Bertambahnya konsumsi listrik di masa depan, salah satunya karena adanya pergeseran sejumlah teknologi secara masif. Salah satu yang paling revolusioner adalah penggunaan mobil bertenaga listrik yang perlahan-lahan menggeser penggunaan mobil berbahan bakar energi fosil.

Pada tahun 2030 nanti direncanakan akan ada sekitar 269 juta unit kendaraan berbasis tenaga listrik di seluruh dunia. Jumlahnya akan terus berlipat-lipat pada dasawarsa berikutnya. Pada tahun 2050, diperkirakan jumlah mobil listrik akan mencapai lebih dari 600 juta unit kendaraan.

Proyeksi jumlah kendaraan bebas emisi karbon di masa depan tersebut sangatlah fantastis karena hingga 2019 lalu, jumlah mobil listrik diperkirakan tidak lebih dari 8 juta unit kendaraan.

Terkait dengan mobil listrik tersebut, Indonesia berpeluang sangat besar untuk turut serta menciptakan komponen terpentingnya, yakni baterai sebagai sumber penampungan energi. Berlimpahnya bahan tambang mineral nikel di Indonesia menyebabkan negeri ini berpeluang untuk menjadi produsen baterai kendaraan listrik ataupun industri perakitan kendaraan listrik terkuat di dunia.

Berdasarkan data dari Kementerian ESDM tahun 2019, produksi bijih nikel Indonesia mencapai kisaran 800 ribu ton. Nominal ini menduduki peringkat satu dunia yang terpaut hampir 400 ribu ton dari produsen kedua dunia yang diduduki oleh Filipina.

Bila dibandingkan oleh produsen ketiga dunia yang diduduki Rusia lebih jauh lagi selisihnya karena negara beruang merah itu hanya mampu memproduksi sekitar 270 ribu ton setahun.

Dari segi cadangan nikelnya, Indonesia diperkirakan memiliki deposit sekitar 72 juta ton. Menurut data USGS dan Badan Geologi, Kementerian ESDM, cadangan ini menempati posisi pertama di dunia dengan porsi hingga 52 persen dari total cadangan dunia saat ini yang berkisar 139 juta ton.

Posisi selanjutnya, ditempati Australia dengan besaran 15 persen dan Rusia sekitar 5 persen dari seluruh cadangan dunia. Cadangan sekitar 72 juta ton di Indonesia itu berada di wilayah tambang yang sudah memiliki ijin usaha produksi operasi pertambangan (IUP OP) dan smelter.

Selain deposit cadangan tersebut, diperkirakan Indonesia masih memiliki potensi cadangan lainnya di luar wilayah IUP atau kontrak karya (KK) yang jumlahnya sangat besar.

Berdasarkan laporan Kementerian ESDM tahun 2020, daerah yang memiliki potensi cadangan nikel di luar wilayah operasi pertambangan di Indonesia itu jumlahnya mencapai kisaran 4,5 miliar ton.

Jumlah ini sangatlah besar karena lebih dari 30 kali lipatnya cadangan nikel dunia saat ini. Dengan jumlah cadangan sebesar itu maka produksi nikel di Indonesia baru akan habis dalam beberapa dekade mendatang. Dengan kata lain Indonesia memiliki komoditas yang sangat penting dan dibutuhkan oleh banyak negara.

Sebagai produsen terbesar dan sekaligus pemilik cadangan nikel terbanyak di dunia membuat Indonesia sangat menarik bagi investor yang ingin menanamkan modalnya di industri baterai kendaraan listrik.

Nikel yang dahulu kala hanya diekspor sebagai komoditas bahan mentah, kini berubah menjadi komponen penting dalam rantai pasok industri baterai kendaraan listrik kelas dunia. Hampir dapat dipastikan semua investor terkait energi baterai skala gobal akan mempertimbangkan untuk menanamkan modalnya di Indonesia.

Untuk terus pengembangkan sumber daya nikel menjadi bernilai ekonomi tinggi guna memperkuat perekonomian bangsa maka sejak tahun 2018, pemerintah mulai membangun ekosistem kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) di Indonesia.

Ada sejumlah agenda kegiatan yang menunjukkan Indonesia bersiap menuju transisi transportasi berbasis listrik. Dimulai dengan meresmikan electric vehicle charging station (EVCS) oleh BPPT; menghadirkan e-taksi jenis mobil listrik dengan bekerja sama dengan Blue Bird; pameran Indonesia Electrik Motor Show (IEMS 2019); serta peresmian stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) oleh PLN di sejumlah lokasi.

Hingga saat ini, setidaknya sudah ada 100-an SPKLU yang tersebar di sejumlah lokasi di Indonesia. Di antaranya di Jakarta, Bandung, Surabaya, Bali, Makasar, dan Sumba, NTT.

Untuk memperkuat ekosistem tersebut, Pada Agustus 2019, pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 Tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) Untuk Transportasi Jalan.

Dengan terbitnya kebijakan ini, pemerintah berupaya akseleratif secepat mungkin agar mampu memproduksi baterai kendaraan listrik dan juga merakit unit kendaraan berbasis baterai listrik (KBL) di Indonesia.

Berpijak pada aturan tersebut, pemerintah selanjutnya membuat roadmap terkait pengembangan industri KBLBB berikut manufakturing baterai listriknya. Dalam pengembangan  KBLBB pemerintah melibatkan segenap stakeholder agar program ini dapat terealisasi secara akseleratif.

Mulai dari institusi yang merancang rekayasa teknologi seperti BPPT; LIPI; perguruan tinggi; kemenristekdikti; PLN; hingga institusi lainnya yang bersifat mendukung. Terdiri dari Kemenkeu, Kemendag, Kemenperin, KLHK, Kemenhub, Polri, Kementerian ESDM, hingga Badan Standarisasi Nasional (BSN).

Demikian juga dalam pengembangan industri baterai listrik, pemerintah juga melibatkan sejumlah stakeholder penting. Mulai dari Batan; BPPT; LIPI; Pertamina; Antam; PLN; hingga industri otomotif seperti Toyota.

Dalam penguatan struktur industri KBLBB itu pemerintah merancangnya dalam beberapa tahapan. Pada tahun 2020, investor KBLBB diperkenankan melaksanakan impor unit kendaraan dalam bentuk completely built up (CBU) dengan jumlah unit dan tempo tertentu.

Pada tahun 2021, investor melakukan perakitan KLB BB secara completely knokn down (CKD) di Indonesia. Investor yang terlibat program KBLBB ini diwajibkan mengikuti komitmen realisasi investasi dengan melakukan perakitan mobil listrik yang di dalam negeri.

Selanjutnya, pada tahun 2022, para investor diperkenankan mendatang investasi baru dengan menggandeng partner lokal perakitan kendaraan listrik. Beberapa komponen KBLBB wajib menggunakan kandungan lokal dalam negeri.

Pada kurun 2023-2025, investor wajib melakukan penguatan dan pendalaman struktur industri komponen kendaraan listrik. Pada fase ini merupakan tahapan penting untuk pembuatan komponen utama dan pendukung untuk memperkuat struktur industri KBLBB dalam negeri.

Industri komponen utama itu terdiri dari baterai listrik (sel, modul, dan pack); serta power train berupa traksi motor dan transmisi. Untuk industri pendukungnya berupa perusahaan platform seperti chasis kendaraan, struktur body eksterior dan interior kendaraan. Selain itu, juga didukung oleh industri produk controller kendaraan.

Terkait baterai kendaraan listrik, pemerintah Indonesia sudah melakukan perancanaan yang relatif baik agar komoditas tersebut dapat memberikan nilai tambah yang besar bagi negara.

Apalagi, Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat produksi dan juga sumber cadangan nikel terbesar di dunia. Jadi, keunggulan absolut ini harus dapat dimanfaatkan sebaik mungkin agar dapat mendorong Indonesia tampil sebagai negara penting bagi kemajuan teknologi kendaraan listrik secara global di masa mendatang.

Menurut Kementerian BUMN, roadmap industri baterai diproyeksikan akan berkembang secara bertahap mulai tahun 2020 hingga 2027. Pada tahun 2020, pemerintah akan memilih partner bisnis dalam konsorsium baterai nasional.

Tahun 2021, membangun energy storage system (ESS) atau penyimpanan energi berskala besar di sejumlah daerah yang diprioritaskan. Tahun 2022, produsen peralatan asli (OEM) diharapkan sudah memulai produksi kendaraan listrik di dalam negeri.

Tahun 2023, pilot project memproduksi cell baterai 200 MWh dalam bentuk pack. Selanjutnya, tahun 2024, pemurnian high pressure acid leaching (HPAL) untuk prekursor dan katoda mulai beroperasi.

Tahun 2025, direncanakan akan menjadi fase pertama produksi cell baterai 8-10 GWh dalam bentuk pack. Tahun berikutnya, 2026, ibu kota negara yang baru ditargetkan menggunakan 100 persen transportasi kendaraan listrik. Terakhir pada tahun 2027, industri daur ulang baterai listrik sudah dioperasikan.

Realisasi Roadmap

Pada tahun 2021 ini, roadmap pengembangan industri KBLBB dan manufakturing baterai listrik tersebut tampaknya menunjukkan realisasi perkembangan yang positif. Terutama yang terkait dengan industrialisasi baterai kendaraan berbasis listrik.

Pada April lalu, Indonesia membentuk perusahaan holding baterai bernama Indonesia Battery Corporation (IBC). IBC ini merupakan perusahaan kerjasama antar-BUMN energi seperti MIND ID, PT Aneka Tambang Tbk (Antam), PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero). Masing-masing institusi ini memiliki besaran saham yang sama, yakni 25 persen.

Keempat BUMN ini memiliki tugas yang beragam. PT Antam bertugas membangun smelter HPAL; PT Pertamina dan MIND ID memproduksi prekursor dan katoda mulai tahun 2024; dan pabrik cell to pack oleh PT Pertamina dan PT PLN yang mulai beroperasi pada tahun 2025.

Keempat BUMN yang tergabung dalam IBC tersebut akan menjadi mitra kerjasama dengan sejumlah perusahan yang berinvestasi di bidang baterai kendaraan berbasis listrik di Indonesia. Hingga saat ini, setidaknya sudah ada dua investor yang berkomitmen membangun industri baterai di Indonesia mulai dari hulu hingga hilir.

Perusahaan itu adalah LG Energy Solution dari Korea Selatan dan China’s Contemporary Amperex Technology (CATL) dari Tiongkok. Investasi yang digelontorkan kedua perusahaan itu mencapai kisaran lebih dari Rp 200 triliun. Terdiri dari Rp 142 triliun yang berasal dari LG Energy Solution dan kisaran Rp 65 triliun dari CATL.

LG Energi Solution merupakan salah satu produsen baterai mobil listrik terbesar di dunia. Investor Korea ini menggandeng investor lainnya seperti LG Chem, LG International, POSCO, dan Huayou Holding membentuk konsorsium untuk berinvestasi di Indonesia terkait industrailisasi baterai kendaraan listrik.

Ada kemungkinan jumlah investor yang tertarik bekerjasama di bidang baterai listrik akan bertambah lagi. Pada Maret lalu, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa perusahaan asal Jerman, “Badische Anilin-und Soda-Fabrik” (BASF) juga dilaporkan sudah siap menanamkan modalnya di Indonesia.

Pun demikian dengan produsen mobil listrik dari Amerika, Tesla, kemungkinan besar akan tetap melangsungkan investasinya di Indonesia pada sektor ESS untuk mendukung penyimpanan energi skala besar.

Para investor tersebut secara tidak langsung akan membuat jalinan utuh yang menghubungkan proses dari hulu hingga hilir industri baterai berbasis listrik. Akan terjalin integrasi seluruh rantai pasok baterai mulai dari pertambangan, smelter, prekursor, katoda, mobil, hingga fasilitas daur ulang yang semuanya dibangun di Indonesia.

Tentu saja, konsorsium LG merupakan investor yang paling lengkap sistem supply chain-nya mulai dari hulu hingga hilir karena investasi yang digelontorkan relatif sangat besar yakni sekitar 9,8 miliar dollar AS atau kisaran Rp 142 triliun. Kabarnya investasi ini merupakan yang terbesar di Indonesia pasca era reformasi.

Tentu saja langkah bisnis kerja sama tersebut juga disertai dengan MoU yang juga mengedepankan kepentingan nasional Indonesia. Di antaranya, investor tersebut diwajibkan untuk mengolah setidaknya 60 persen nikel yang akan digunakan untuk memproduksi baterai listrik harus diproses di Indonesia. Pemerintah tidak ingin para investor itu membawa nikel keluar wilayah Indonesia dan mengolahnya di luar negeri.

Apabila rencana tersebut terwujud maka Indonesia akan menjadi negara pertama di dunia yang mengintegrasikan industri baterai listrik mulai dari pertambangan hingga memproduksi baterai kendaraan listrik. Bahkan, berlanjut hingga perakitan unit kendaraan listrik berikut proses daur ulang baterainya sehingga tidak mencemari lingkungan.

Proses Industrialisasi

Terbentuknya BUMN holding baterai, IBC dan sudah hadirnya investor dari luar negeri membuat rencana program industrialisasi komponen baterai listrik segera terealisasi dalam waktu dekat.

PT Industri Baterai Indonesia (IBC) dan konsorsium LG akan membangun pabrik baterai kendaraan listrik di Bekasi, Jawa Barat. Pabrik tersebut direncanakan akan menempati lahan seluas 33 hektar dan menyerap sekitar seribu tenaga kerja Indonesia.

Pada pembangunan tahap pertama nanti diperkirakan memiliki kapasitas produksi baterai hingga 10 gigawatt hour (GWH) untuk memenuhi suplai kendaraan listrik Hyundai.

Dengan terbangunnya industri kendaraan listrik tersebut tentu saja akan memberikan konstribusi yang relatif signifikan bagi perekonomian nasional. Bila dibandingkan saat menjual nikel dalam bentuk mentah dengan sudah menjadi battery pack nilainya sangat jauh berbeda.

Berdasarkan laporan kementerian BUMN menunjukkan terjadi pertambahan nilai hingga kisaran 90-160 kali dari harga bahan mentah. Ketika suadah menjadi battery pack diperkirakan harganya berkisar antara 130 ribu-220 ribu dolar AS per ton.

Sangat timpang dengan harga nikel mentah yang hanya berkisar 1.100-1.700 dollar AS per ton. Nilai akan jauh lebih timpang lagi ketika berubah menjadi kendaraan listrik. Diperkirakan nilai tambahnya melonjak menjadi kisaran 470-780 kalinya dari harga nikel mentah.

Dari ilustrasi tersebut dapat dibayangkan betapa besarnya nilai tambah produksi dari perakitan battery pack yang tengah dilakukan IBC dan partner kerjasamanya.

Diperkirakan sekitar 30-40 persen biaya pembuatan mobil listrik diperuntukkan hanya untuk penyediaan baterainya saja. Jadi, dapat dibayangkan betapa besarnya nilai manfaat ekonomi yang diterima holding BUMN baterai dan juga para investornya.

Bila diasumsikan harga keseluruhan mobil listrik senilai Rp 300 juta, maka harga baterainya saja berkisar Rp 100-an juta. Nilai perkiraan ini tentu saja akan berdampak sangat signifikan bagi perekonomian nasional.  Tentu saja, nilai tambah Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia akan semakin meroket.

Bila diasumsikan Indonesia pada tahun 2030 mampu menyuplai sekitar 10 persen kebutuhan baterai kendaraan listrik secara global maka kontribusi bagi perekonomian nasional sangatlah besar.

Mengacu pada proyeksi IRENA yang memperkirakan jumlah kendaraan listrik pada tahun 2030 berkisar 260 juta unit maka ada kemungkinan Indonesia mampu menyuplai sekitar 10 persen atau  26 juta unit baterai kendaraan. Jumlah ini akan menghasilkan kontribusi bagi PDB Indonesia kisaran Rp 2.600 triliun. Nilai ini hampir setara dengan nilai APBN tahun ini yang berkisaran Rp 2.700-an triliun. Luar biasa.

Oleh sebab itu, roadmap yang sudah dibuat oleh pemerintah semaksimal mungkin diupayakan untuk dapat terealisasi. Apabila berhasil melewati sejumlah tahapan rencana itu maka harapannya akan tercipta alih teknologi dari sejumlah investor yang menguasai teknologi kepada SDM dalam negeri. Selain itu, ada peluang terciptanya inovasi teknologi karya anak bangsa dalam proses transisi alih teknologi tersebut.

Riset yang mengarah pada hilirisasi industri baterai kendaraan listrik harus terus diperkuat guna menunjang akselerasi penguasaan teknologi baterai kendaraan listrik itu. Akan lebih maksimal lagi hasilnya apabila juga mengembahkan teknologi penyimpanan energi untuk keperluan energi baru terbarukan (EBT) sehingga manfaatnya lebih luas lagi di masyarakat.

Jadi, riset dan pengembangan dari dalam negeri sangat penting peranannya dalam masa awal kolaborasi industrialisasi baterai kendaraan listrik ini. Semakin cepat menguasai alih teknologi maka akan semakin cepat pula tercipta inovasi karya anak bangsa. Semakin besar inovasi yang dihasilkan maka nilai tambah yang dihasilkan bagi perekonomian nasional akan semakin lebih besar.

Bukan tidak mungkin, di masa yang akan datang akan tercipta baterai kendaraan listrik yang 100 persen adalah buatan Indonesia. Demikian juga dengan unit kendaraan listriknya, Indonesia berpeluang besar memiliki mobil atau kendaraan nasional bertenaga listrik yang membanggakan.

Sangat besar peluangnya, suatu saat nanti mobil bermerek nama-nama khas Indonesia akan berseliweran di seluruh dunia. Jadi, roadmap yang sudah dibuat sebisa mungkin harus terealisasi dan sekaligus menerapkan dengan tegas ketentuan-ketentuan yang sudah diatur oleh pemerintah.

Jangan sampai, potensi sumber daya nikel yang besar ini justru hanya menguntungkan bagi para investor besar yang menguasai teknologi. Sudah saatnya, Indonesia harus bertransisi dan menguasai teknologi peradaban moderen ini. Mimpi menjadi negara besar yang menguasai teknologi bukan angan-angan belaka, tetapi kenyataan yang bakal terwujud beberapa saat lagi. Semoga. (LITBANG KOMPAS)

Sumber: Kompas.id

Read More

Holding BUMN Baterai Cari Mitra Strategis Kembangkan Ekosistem KBL

NIKEL.CO.ID – Indonesia Battery Corporation (IBC) gencar mitra strategis dalam pengembangan ekosistem baterai kendaraan berbasis listrik (KBL) di tanah air.

Asal tahu saja, Holding BUMN baterai yang terdiri dari empat perusahaan pelat merah yakni Mining and Industry Indonesia (MIND ID), PT Pertamina, PT PLN dan PT Aneka Tambang (Antam) itu bakal membentuk, sedikitnya 5 hingga 6 perusahaan patungan atau joint venture.

Rencana ini disampaikan oleh Ketua Tim Percepatan Proyek Baterai Kendaraan Listrik atawa Electric Vehicle (EV) Battery Agus Tjahajana Wirakusuma dalam diskusi panel virtual bertajuk ‘Peluang dan Tantangan Pengembangan Ekosistem Battery, Electric Vehicle, dan Solar PV Rooftop di Indonesia’ pada Kamis (20/5).

Ia menjelaskan, setiap tahapan produksi baterai KBL dari tingkat hulu ke hilir perlu dilakukan di pabrik yang berbeda.

“Jadi bisa dibayangkan dari nikel ore ke nikel kobalt sulfat ada 1 pabrik jadinya 1 joint venture. Nanti masuk ke battery precursor, ada 1 joint venture lagi terus ke katoda bisa 1 joint venture. Kemudian untuk battery cell akan 1 joint venture, dan ke pack juga 1 joint venture lagi,” terang Agus, hari ini (20/5/2021).

Setidaknya ada 3 ambisi yang ingin dikejar IBC di tahun 2025 mendatang. Pertama, menjadi produsen nikel sulfat global dengan produksi tahunan 50-100 kton untuk melayani ekspor global dan permintaan lokal.

Kedua,memanfaatkan hulu untuk membangun rantai nilai tengah dan hilir yang kuat serta menjadi produsen prekursor dan katoda global dengan output tahunan 120-240 kton untuk diekspor dan digunakan secara lokal. Ketiga, menjadi pemain regional untuk sel baterai dan pusat manufaktur electric vehicle di Asia Tenggara.

Agus menyadari, ambisi ini bukannya tanpa tantangan, sebab pasar kendaraan listrik masih belum besar.

“Jadi oleh karena itu kalau hilirnya belum, kami akan turun sedikit ke material antara, katoda. Kalau masih kelebihan juga, kami akan main di hulu,” terang Agus.

Perihal pencarian mitra, dia menerangkan bahwa pihaknya telah melakukan penjajakan kerja sama ke sebanyak 11 perusahaan baterai global. Agus bilang, penjajakan ke sebagian perusahaan baterai tersebut berlanjut hingga sekarang.

Sumber: kontan.co.id

Read More

Megaproyek Baterai Kendaraan Listrik RI Segera Dimulai

NIKEL.CO.ID –  PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC) menandatangani Heads of Agreement (HoA) investasi pabrik baterai kendaraan listrik dengan Konsorsium Baterai LG dari Korea Selatan. Penandatanganan HoA menunjukkan proyek pembangunan baterai kendaraan listrik akan segera dimulai.

Adapun konsorsium itu terdiri dari LG Energy Solution, LG Chem, LG International, POSCO dan Huayou Holding.

Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia yang menyaksikan penandatanganan tersebut mengatakan, tahap selanjutnya dari proyek ini adalah melakukan feasibility study (FS). Setelah itu, proyek bisa segera dikerjakan.

“Kami akan terus mendorong, mengawal, dan akan membantu sepenuhnya, selama kerangkanya ada dalam aturan yang ada di Indonesia dan bisnis yang saling menguntungkan. Sekarang setelah HoA ditandatangani, kita bikin FS supaya bisa langsung kerja. Sekarang waktunya kita bekerja. Kita punya komitmen untuk cepat realisasi investasi,” ujar Bahlil dalam keterangan tertulis BKPM yang dikutip detikcom, Kamis (6/5/2021).

Dalam kesempatan yang sama, Menteri BUMN Erick Thohir yang juga turut menyaksikan penandatanganan tersebut mengatakan, pengerjaan proyek pabrik baterai harus dipercepat. Pasalnya, sejumlah pemerintah daerah (Pemda) menginginkan angkutan umum bertenaga listrik bisa dioperasikan di masing-masing daerahnya tahun ini.

“Proyek baterai ini harus berjalan tepat waktu, bila mungkin malah dipercepat. Indonesia sangat serius, terbukti dari beberapa daerah, banyak gubernurnya di Indonesia membuat keputusan bahwa mobil listrik, terutama seperti bus dan kendaraan umum harus dipakai tahun ini,” tutur Erick.

Selain itu, pabrik baterai kendaraan listrik ini juga harus segera dibangun seiringan dengan proyek pembangunan ibukota baru di Kalimantan Timur (Kaltim).

“Bahkan Indonesia akan membangun ibukota baru di Kalimantan yang semuanya juga menggunakan mobil listrik,” jelas Erick.

Sebagai informasi, HoA atau perjanjian pra-kontrak merupakan komitmen para pihak yang dituangkan dalam bentuk tulisan dan tidak dimaksudkan untuk mengikat. HoA yang lazim digunakan dalam proses pendirian bisnis, baik nasional maupun internasional, selama tahap negosiasi berlangsung.

Penandatanganan HoA proyek pabrik baterai kendaraan listrik tersebut merupakan hasil tindak lanjut pertemuan Presiden Moon Jae In dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Busan, Korea Selatan pada tanggal 25 November 2019 lalu.

Begitu juga dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara BKPM dengan LG Group yang ditandatangani oleh Bahlil dan CEO LG Energy Solution tanggal 18 Desember 2020 di Seoul, Korea Selatan. Kerja sama proyek investasi raksasa dan strategis di bidang industri sel baterai kendaraan listrik ini terintegrasi dengan pertambangan, peleburan (smelter), pemurnian (refining) serta industri precursor dan katoda.

Nilai rencana investasinya mencapai US$ 9,8 miliar. HoA adalah titik awal kerja sama yang akan diikuti dengan Joint Study, perjanjian pemegang saham, dan perjanjian pendirian perusahaan.

Sumber: detik.com

Read More

Proyek Konsorsium Baterai LG dan BUMN Segera Terealisasi

Menteri Investasi Bahlil Laadalia menyampaikan, acara penandatanganan tersebut merupakan momentum bersejarah bagi ketiga negara, Indonesia, Korea Selatan, dan China. Hal ini juga merupakan bukti pemerintah dan BUMN serius untuk segera merealisasikan proyek baterai ini dengan cepat.

NIKEL.CO.ID –  PT Industri Baterai Indonesia telah menandangani Head of Agreementt bersama dengan konsorsium Baterai LG dari Korea Selatan pada Kamis, 29 April 2021 lalu di Kantor Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

Acara penandatanganan dihadiri oleh Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia, Menteri BUMN Erick Thohir, Direktur Utama PT Industri Baterai Indonesia Toto Nugroho, serta pimpinan Konsorsium LG yang terdiri dari LG Energy Solution, LG Chem, LG International, POSCO dan Huayou Holding.

Di samping itu, turut disaksikan juga secara daring oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Korea Umar Hadi dan Duta Besar Republik Korea untuk Republik Indonesia Park Taesung.

Bahlil menyampaikan, acara penandatanganan tersebut merupakan momentum bersejarah bagi ketiga negara, Indonesia, Korea Selatan, dan China. Hal ini juga merupakan bukti pemerintah dan BUMN serius untuk segera merealisasikan proyek ini dengan cepat.

“Kami akan terus mendorong, mengawal, dan akan membantu sepenuhnya, selama kerangkanya ada dalam aturan yang ada di Indonesia dan bisnis yang saling menguntungkan. Sekarang setelah HoA ditandatangani, kita bikin FS [Feasibility Study] supaya bisa langsung kerja. Sekarang waktunya kita bekerja” katanya dalam siaran pers, Kamis (6/5/2021).

Pada kesempatan yang sama, Menteri BUMN Erick Thohir juga menyampaikan bahwa proyek ini sangat penting bagi seluruh pihak.

“Proyek baterai ini harus berjalan tepat waktu, bila mungkin malah dipercepat. Indonesia sangat serius, terbukti dari beberapa daerah, banyak gubernurnya di Indonesia membuat keputusan bahwa mobil listrik, terutama seperti bis dan kendaraan umum harus dipakai tahun ini.  Bahkan Indonesia akan membangun ibukota baru di Kalimantan yang semuanya juga menggunakan mobil listrik,” ujarnya.

Di samping itu, Direktur Utama PT Industri Baterai Indonesia Toto Nugroho menyampaikan apresiasinya atas keseriusan pemerintah dalam mendorong keberhasilan proyek industri baterai. Pihaknya akan langsung berkonsolidasi dengan konsorsium Korea untuk menentukan target-target penyelesaian proyek.

“Hari ini, masih awal dari perjalanan IBC dalam mewujudkan ekosistem electric vehicle di Indonesia. Kami ingin Indonesia menjadi pemain utama dalam industri kendaraan listrik. Untuk itu, kami perlu dukungan dari semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat,” katanya.

Artikel ini telah tayang di Bisnis.com dengan judul “Resmi! Proyek Konsorsium Baterai LG dan BUMN Segera Terealisasi“.

Read More

Induk Usaha Baterai Jamin Pasokan Nikel

  • Cadangan nikel Antam cukup untuk kebutuhan proyek baterai mobil listrik selama 20 tahun.
  • Holding harus mengantisipasi perubahan teknologi baterai.
  • Indonesia Battery Corporation mengantongi komitmen kerja sama dengan perusahaan asal Cina.

NIKEL.CO.ID – Indonesia Battery Corporation (IBC) memastikan ketersediaan pasokan nikel dan material penyusun baterai lainnya cukup untuk mendukung industri baterai kendaraan listrik. Ketua Tim Percepatan Proyek Baterai Kendaraan Listrik, Agus Tjahajana Wirakusumah, menyatakan Indonesia merupakan pemilik cadangan nikel terbesar di dunia saat ini.

Menurut Agus, Indonesia memiliki cadangan nikel sebanyak 21 juta ton. Berdasarkan hitungan sementara, kebutuhan nikel untuk mendukung program baterai kendaraan listrik ini akan mencapai 15-16 juta ton hingga 2030. “Menurut penghitungan tim, cadangan yang dimiliki PT Aneka Tambang Tbk saat ini masih mencukupi kebutuhan proyek baterai selama 20 tahun,” katanya, kemarin.

PT Aneka Tambang (Persero) Tbk merupakan salah satu anggota holding baterai. Dari laporan tahunan perusahaan pada 2020, total cadangan bijih nikel perusahaan mencapai 375,52 juta wet metric ton (wmt), yang terdiri atas 328,41 juta wmt bijih nikel saprolit dan 47,11 juta wmt bijih nikel limonit. Jumlahnya sedikit naik dibanding pada tahun sebelumnya yang sebesar 353,74 juta wmt, dengan saprolit sebanyak 254,12 juta wmt dan limonit 99,62 juta wmt.

Terlepas dari masalah cadangan yang aman, Agus menilai tantangannya justru terletak pada perubahan jenis baterai yang digunakan untuk kendaraan listrik. Perusahaan harus mengantisipasi perkembangan teknologi yang akan menggantikan nickel manganese cobalt(NMC) seperti lithium ferrous phospate (LFP).

“Walau masa keemasan teknologi Li-ion battery berbasis nikel NMC masih akan ada dalam 15-20 tahun,” ujar dia.

Tantangan lain yang dihadapi holding adalah ketergantungan teknologi baterai pada pemain global dan produsen peralatan asli (original equipment manufacturer/OEM) sebagai pengguna baterai. Indonesia masih belum memiliki pengalaman memadai di bidang ini. Untuk itu, perusahaan holding tengah menyeleksi calon mitra yang memiliki jaringan dengan OEM.

Agus menuturkan timnya telah menyortir 11 calon mitra yang merupakan pemain di industri baterai dan kendaraan listrik global. Para kandidat didekati sejak tahun lalu. Mereka diseleksi dengan tiga kategori utama, yaitu jejak global dan rencana ekspansi, kekuatan finansial dan investasi, reputasi merek, serta hubungan dengan OEM.

Dari hasil seleksi itu, terjaring tiga kandidat utama. Salah satunya Contemporary Amperex Technology Co, Ltd (CATL). Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir menyatakan telah mengantongi komitmen kerja sama antara perusahaan asal Cina itu dan IBC. Total investasi yang akan dikucurkan mencapai US$ 5 miliar.

Dalam kunjungan kerjanya ke Cina pada 2 April lalu, Erick kembali memastikan komitmen tersebut. “Bila ada kesulitan di lapangan, kami bekerja sama dengan BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal),” katanya.

Dengan bantuan mitra tersebut, IBC menargetkan mampu menjadi produsen baterai kendaraan listrik di level global pada 2030. Kapasitas produksi sel baterai perusahaan pada 2030 nanti diproyeksikan mencapai 140 gigawatt per jam. Pengeluaran modal untuk mencapai tujuan itu diestimasi sebesar US$ 13,4-17,4 miliar.

Sekretaris Umum Gabungan Industri Otomotif Indonesia, Kukuh Kumara, menuturkan keberhasilan IBC memproduksi baterai akan sangat membantu industri mobil listrik. Sebab, sekitar sepertiga dari total harga kendaraan jenis ini berasal dari baterai. Tingginya harga baterai membuat produk ini sulit dijangkau konsumen.

“Kalau komponen baterainya ada dengan harga yang lebih murah dari saat ini, kendaraan baru bisa berkembang,” katanya.

Tentu saja dengan catatan bahwa infrastruktur penunjang lainnya juga tersedia, dari stasiun pengisian listrik hingga fasilitas bengkel mobil listrik.

Sumber: Koran Tempo

Read More